MERETAS KESENJANGAN MITIGASI BENCANA DI PESISIR
Oleh : M. Anwar Siregar
Secara geologis, Indonesia berada dalam jaringan tanah yang tidak stabil, berada dalam tatanan geologi lingkaran api atau ring of fire, lingkaran yang membentuk rangkaian pegunungan api. Faktor oleh sebuah pertemuaan lempeng-lempeng bumi, rangkaian pegunungan api itu berada di ujung atau pinggir pertemuan lempeng, berada dipinggiran kontinen samudera pasifik sehingga sangat rawan akan terjadi bencana geologi dan hidrometeorologi.
Pertemuan lempeng dan gunungapi yang terbentang dan membentuk tapal kuda sekitar 40.000 km yang menjadi penyebab utama lebih dari 90 persen sumber gempa bumi terbesar di dunia.
Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia, memiliki lebih dari 128 gunung berapi aktif dan sekitar 150 sungai, baik yang besar maupun kecil yang melintasi wilayah padat, sungai-sungai ini sekitar 60 persen berhubung langsung ke laut.
Karakteristik geografis menjadi alasan rasional kenapa sering terjadi bencana alam di beberapa wilayah Indonesia. Bencana dapat disebabkan oleh kondisi alam ataupun kesalahan oleh manusia. Bencana yang disebabkan oleh kondisi alam cenderung tidak dapat di prediksi, meskipun perkembangan teknologi semakin canggih. Belajar dari pengalaman Negara menghadapi tsunami, sistem peringatan dini terhadap munculnya tsunami sudah dapat aktif hanya dalam waktu 20 menit setelah gempa terjadi. Sistem ini sangat membantu mengurangi jumlah korban tsunami, meskipun belum dapat mencapai zero victim.
PERSPEKTIF PROAKTIF
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan pada pola masyarakat dalam menghadapi bencana, keikutsertaan masyarakat lokal dalam penanganan perspektif-proaktif menjadi sangat penting. Pola-pola yang tidak melibatkan masyarakat dalam perancangan preventif hanya akan menimbulkan inefisiensi intervensi. Pelibatan masyarakat setempat dalam pemasangan sistem peringatan dini tsunami di daerah yang mudah di terpa ancaman tsunami akan mengurangi inefisiensi program prevensi yang dilakukan oleh pemerintah. Pelibatan masyarakat hendaknya dilakukan secara langsung serta melimpahkan seluruh tanggung jawab, termasuk perawatannya kepada masyarakat setempat, harus dilibatkan sejak awal.
Pembangunan berkelanjutan di Indonesia memerlukan pemahaman ancaman bencana hidrometerologi seperti bencana pemanasan global dengan menipisnya lapisan ozon, jika panas bumi di Indonesia terjadi di permukaan air laut di wilayah maritim Indonesia semakin meninggi maka sebagian besar kota-kota di Indonesia yang menghadap pantai akan tergenang, ribuan rumah dan tambak rakyat di tepi pantai akan terendam, ratusan sumber daya ketahanan pangan seperti daerah persawahan akan mengalami gagal panen dampak pasang surut ketinggian air laut, maka perlu usaha perspektif proaktif masyarakat untuk menjaga laut Indonesia dari ancaman bencana pemanasan global. Sebab suhu laut terus meningkat akan mempengaruhi stabilitas batuan yang mengandung radioaktif, akan mempengaruhi kestabilan lempeng yang berdampak pada gempa bumi di bawah laut.
Maka pembangunan berkelanjutan di Indonesia harus memperhitungkan mitigasi kawasan pesisir yang berwawasan lingkungan prekpektif proaktrif serta berbasis udara bersih untuk menekan kerusakan dikawasan pesisir sehingga meretas bahaya kiriman banjir ke daratan rendah di wilayah Indonesia..
MERETAS KESENJANGAN
Seharusnya pemerintah daerah sudah menetapkan rencana dan langkah strategis dalam upaya meretas kesenjangan mitigasi dalam menghadapi bencana banjir dan bencana banjir tsunami yang terjadi di pesisir dan langkah koordinatif jika terjadi bencana banjir tsunami dan ancaman bencana longsor yang menyebabkan tsunami di berbagai kawasan pesisir pantai Indonesia.
Jangan sibuk setelah terjadi bencana tsunami dan termasuk bencana ikutan seperti bencana tanah longsor, jangan menganggap bencana longsor Gunung Anak Krakatau itu adalah peristiwa alamiah atau banjir tsunami merupakan bencana alam yang harus diterima sebagai nasib atau suratan takdir.
Bencana alam di pesisir dapat dikendalikan dengan membangun sistem informasi bencana tsunami dan gempa serta banjir maupun longsor, antisipasi bulan-bulan gempa dalam sejarah gempa dan tsunami yang harus dijadikan patokan untuk menghadapi bahaya bencana alam yang mungkin terjadi dan tiba-tiba di seluruh wilayah pesisir Indonesia, merupakan bagian dalam meretas kesenjangan tsunami di pantai Indonesia.
Indonesia perlu belajar dalam membangun model pembangunan mitigasi di pesisir yang sesuai dengan karakter yang didasarkan nilai-nilai kearifan lokal bangsa dan dibutuhkan komitmen untuk menjalankan visi misi agar sesuai target mitigasi yang telah di sepakati, Indonesia tak perlu meniru sistem model mitigasi negara barat, lebih baik disesuaikan dengan model karakter Indonesia dan Asia.
Indonesia harus banyak belajar lebih banyak di Negara-negara Asia yang telah maju sistem mitigasinya dalam mengawasi pesisir pantai dari ancaman tsunami dan memanfaatkan juga kekuatan kearifan lokal sebagai benteng budaya mitigasi agar mampu menekan kerusakan tata ruang lingkungan.
Membangun kota dengan sistem mitigasi yang komprehensif merupakan investasi dimasa mendatang. Sistem mitigasi di desa pesisir dan kota pesisir perlu mengintegrasikan tata ruang berbagai aktivitas masyarakat, pelaku ekonomi, bisnis dan pemerintahan serta kepekaan terhadap lingkungan hidup untuk meretas kesenjangan mitigasi dengan meningkatkan kualitas hidup penduduk serta dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia.
Meretas kesenjangan mitigasi di kawasan pesisir merupakan rangkaian upaya mengurangi risiko bencana baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran untuk perawatan dan pendayagunaan peralatan mitigasi di kawasan pesisir serta peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana. Upaya mitigasi harus lebih baik dibandingkan tindakan penanggulangan bencana. Membangun mitigasi di pesisir harus memperkuat kemampuan adaptasi masyarakat dalam mengurangi resiko ancaman akibat bencana.
Prioritas ancaman bencana di kawasan pesisir untuk menguraikan kesenjangan mitigasi harus di mulai dari pesisir, desa baru kemudian ke dalam inti kota. Sebab selama ini sistim mitigasi lebih banyak di perkotaan sehingga wilayah Desa-pesisir pantai lebih banyak mengalami kerugian besar. Perlu di catat dan diingat, bahwa terdapat 71.234 jumlah Desa di Indonesia berada di daerah rawan bencana (data dari berbagai sumber).
Rata-rata kemampuan mitigasi di Desa-Kota pesisir tersebut belum terintegrasi secara merata dan kemampuan kapasitas mitigasi masyarakat di kawasan pesisir belum merata, belum banyak mengetahui cara mencegah, menyelamatkan diri dari serangan kilat bencana bila terjadi.
Meretas kesenjangan mitigasi kawasan pesisir sangat penting untuk mengamankan objek wisata sekaligus juga mengamankan investasi tata ruang pulau di Indonesia di masa mendatang, sehingga mitigasi pesisir akan banyak memberikan keuntungan bagi Indonesia antara lain mencegah kehancuran pulau-pulau terdepan sebagai batas terluar perairan teritorial Indonesia, mencegah kehancuran ekosistem terumbu karang sebagai salah satu pengendali perubahan iklim global dan mencegah kehancuran investasi pariwisata.
INDEKS TARGET MITIGASI
Pemerintah harus mengupayakan mitigasi di kawasan pesisir Indonesia karena kawasan pesisir Indonesia masih dalam ancaman dua megathrust gempa tsunami yaitu megathrust Mentawai-Sunda dan Megathrust Maluku. Maka di sini pentingnya memotong kesenjangan mitigasi dengan berpedoman dengan data sejarah indeks bencana untuk menjadi indeks target mitigasi, bertujuan untuk meretas kehancuran kawasan pesisir dari ancaman megathrust gempa tsunami.
Data sejarah bencana sangat penting dalam membangunan kesenjangan mitigasi di kawasan pesisir dalam menganalisis indeks resiko bencana yang akan terjadi, memberikan informasi perencanaan pembangunan sistem mitigasi, indeks resiko mitigasi bencana akan membantu pemerintah di kawasan pesisir untuk menyusun target mitigasi berbasis zero victim dan zero lost generation serta memperkuat zero mitigasi untuk menyusun perencanaan tata ruang kawasan pesisir.
Kawasan pesisir Indonesia sangat memerlukan pembangunan mitigasi yang komprehensif, maka penataan kawasan pesisir harus bertumpuk pada kajian tata lingkungan geologi atas dasar pembuatan peta geologi kelautan, peta geodesi atau peta geospasial yang mengacu ke berbagai aspek ilmu kebumian.
M. Anwar Siregar
Geolog, Pemerhati Tata Ruang Lingkungan dan Energi Geosfer
