Pers Informasi : Geologi Mitigasi
PERS DALAM PENYEBARAN INFORMASI BENCANA
Oleh M. Anwar Siregar
Dalam usia
Bumi yang semakin tua, dan bencana alam hadir yang tidak teratur serta semakin sulit
diramalkan, maka disini peranan informasi bencana melalui media massa untuk
memberikan peringatan dini sangat vital. Jika proses sosialisasi informasi
geologi tentang bencana alam seperti gempa, tsunami, letusan gunung api gerakan
tanah dan banjir dilakukan secara berkelanjutan, masyarakat akan terus-menerus
diingatkan, mengenal, mempersiapkan diri dalam menghadapi ancaman bencana akan
lebih sigap dalam memberikan respons.
Salah satu
untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kebencanaan di bumi adalah melalui
peran media massa, baik dalam bentuk opini, karikatur pendidikan dan
visualisasi atau media gambar bergerak. Komunikasi yang efektif sangat penting dalam
proses pembelajaran dan kedisiplinan dalam menghadapi bencana, maka komunikasi media
pers sangat diperlukan dan harus diupayakan secara berkala, yaitu memberikan
ruang khusus atau kolom yang memuat berita dan pengetahuan tentang pemahaman serta
informasi daerah rawan bencana geologi, klimatologi dan hidrometerologi.
Komunikasi
dalam bentuk ruang opini ataupun kolom khusus akan memiliki efek yang lebih
baik daripada menerima isu-isu yang tidak bertanggung jawab, dapat
direfleksikan melalui pemahaman pembelajaran pendidikan dari sekolah dasar,
masyarakat bawah, pelatihan mitigasi dan edukasi terhadap wanita dan anak-anak.
Namun budaya mitigasi melalui penyebaran informasi rawan bencana secara rutin
dalam suatu ruang media massa masih terbatas dan kadang tidak ada, dan hal seperti
ini belum membumi di Indonesia terutama kesadaran dari Pemerintahan untuk
membangun pola mitigasi komprehensif dengan medai massa, hanya ada jika terjadi
bencana begitu juga sebaliknya.
Seperangkat peralatan media komunikasi pers (sumber Foto Wartawan ANTARA)
KOMUNIKASI BENCANA
Sosialisasi bencana merupakan salah satu upaya untuk menyampaikan pendidikan kebencanaan kepada masyarakat, yang merupakan bagian dari sistim pendidikan komunikasi massa, mengenai gambaran keadaan lingkungan yang dilengkapi berbagai argumentasi ilmiah, argumentasi legal dan argumentasi moral.
Sosialisasi bencana merupakan salah satu upaya untuk menyampaikan pendidikan kebencanaan kepada masyarakat, yang merupakan bagian dari sistim pendidikan komunikasi massa, mengenai gambaran keadaan lingkungan yang dilengkapi berbagai argumentasi ilmiah, argumentasi legal dan argumentasi moral.
Komunikasi sosialisasi bencana melalui media pers merupakan
bagian yang sangat penting dalam meperkenalkan sistim manajemen bencana geologi
dan pendidikan kebencanaan kebumian agar dapat memberikan motivasi lahirrnya
ruang partisipasi publik dalam menekuni pendidikan kebencanaan kebumian.
Komunikasi
pengetahuan kebencanaan bagi Indonesia masih jauh dari harapan untuk
terciptanya masyarakat sadar bencana. Kesadaran
masyarakat terhadap bahaya dapat digambarkan melalui pengetahuan kearifan
terhadap keadaan alam tempat mereka beraktivitas hidup dipermukaan bumi. Pertama,
gempa itu tidak membunuh, akan tetapi yang menimbulkan korban adalah akibat
dari gempa tersebut, misalnya karena tertimpa beton atau tertimbun tanah
longsor. Sehingga dalam hal ini, pengetahuan masyarakat dalam hal bangunan
antara lain tentang tata cara membuat bangunan dianggap masih sangat minim.
Sebagian besar bangunan yang roboh karena tidak menggunakan
kaidah-kaidah keteknikan yang baku atau tidak memenuhi persyaratan.
Sedangkan yang kedua adalah faktor kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap
lingkungan sekitarnya, artinya dalam membuat bangunan seharusnya menggunakan
material yang tahan gempa karena lokasinya berada di daerah potensial gempa.
PERAN SOSIALISASI MEDIA
Dari gambaran tersebut diatas, maka sosialisasi
bidang geologi dalam media pers sangat penting, baik cetak maupun elektronik
dimaksudkan untuk mensosialisasikan data-data geologi termasuk kebijakan
tentang perencanaan nasional kebencanaan geologi dan juga mengenai
pendayagunaan sumber daya alam dalam pencegahan akibat ditimbulkan oleh bencana
geologi pada daerah rawan bencana serta bertujuan agar pemerintah daerah lebih
awal memahami data dan informasi serta kebijakan dari Pemerintah Pusat untuk
mengidentifikasi kegiatan yang diperlukan atau difokuskan untuk mempersiapkan
diri dalam pengelolaaan, pemberdayaan dan penyerbarluasan kegiatan informasi
daerah rawan bencana geologi serta penentuan tata ruang lingkungan geologi yang
komprehensif.
Sosialisasi penyebaran informasi geologi rawan
bencana juga merupakan bagian penting untuk disampaikan oleh media pers yaitu
bagian dari pengembangan potensi sumber daya masyarakat di daerah masing-masing
untuk mengusahakan forum kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan media
massa. Pemahaman antara ketiganya akan meningkatkan kepercayaan diri dalam
menghadapi permasalahan kebencanaan geologi yang harus berangkat dari pribadi
dan komunitas media dan tidak mengandalkan isu-isu tidak benar, yakni pemahaman
pentingnya penyampaian pengembangan akal budi daya dan bersikap waspada hidup
di daerah rawan bencana.
Informasi penyebaran bencana dalam bentuk opini di
suatu media massa merupakan suatu bentuk peringatan dini sebelum terjadinya
bencana bagi masyarakat, sosialisasi penyebaran informasi dan penanggulangan
bencana dapat dilakukan dalam berbagai aksi, salah satunya dalam bentuk opini
pengetahuan argumentatif. Dalam konteks ini peran media sangat diperlukan bukan
saja ketika terjadi dan pasca bencana tetapi juga sebelum terjadinya suatu
bencana alam, masyarakat dapat diingatkan terus menerus menghadapi dan
meningkatkan kewaspadaan dan harus bersiaga menghadapi segala kemungkinan
menghadapi bencana alam, dan ini juga merupakan sebagai upaya pembelajaran bencana
alam dalam bentuk komunikasi yaitu menfasilitasi diskusi pengetahuan publik/masyarakat
mengenai mitigasi penanggulangan bencana alam, dan bagaimana upaya-upaya atau
langkah yang diperlukan dalam mengurangi jumlah korban jiwa dan kerugian akibat
bencana dan pembangunan manusia.
KEBERLANJUTAN PENGETAHUAN
Media massa memainkan sebuah perangkat instrumen
penting dalam menghadirkan berita-berita tentang bencana alam kepada
pembacanya, baik dalam bentuk kajian berita proses pemulihan setelah peristiwa
bencana maupun ketika dalam kondisi darurat.
Media massa di Indonesia khususnya di Medan/Sumut
seharusnya lebih aktif lagi dalam menyampaikan pembelajaran pengetahuan tentang
informasi kebencanaan yang berlangsung di Indonesia terutama di wilayah Sumut
yang telah diidentifkasi memiliki sumber-sumber bencana universal hampir
disetiap lingkungan tata ruangnya memiliki tingkat kerawanan dan kerentanan
dari ancaman bencana alam yang sangat tinggi, memerlukan upaya kenberlanjutan publikasi
argumentatif sebagai salah sumber pengetahuan yang paling aktual sekaligus sarana
pusat diskusi perencanaan pembangunan mitigasi bencana yang sangat dibutuhkan
berbagai kalangan sebagai peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia baik
dari SDM aparatur maupun dari SDM masyarakat.
Ada baiknya media massa di Sumut terus
mengupayakan dan menyisipkan ruang untuk menampung berbagai kritikan, gagasan
atau ide aktualitas yang membangun untuk mendorong masyarakat agar dapat terus
mengikuti perkembangan penyebaran informasi kebencanaan lingkungan baik sebelum
terjadinya bencana atau fase pra bencana, fase saat terjadi bencana dan pasca
bencana terjadi.
Kelemahan dalam media massa di Sumut dalam
memberikan penyebaran informasi daerah rawan bencana geologi adalah lebih di
fokuskan pada kejadian pasca bencana, sedangkan pra bencana masih terpinggirkan,
begitu juga dalam kemajuan pemulihan, hanya terekspose ketika telah selesai. Sedangkan
perkembangan kehidupan setalah lebih dari setahun tidak atau jarang dipublikasi
secara luas. Kasus-kasus kejadian bencana sebelum bencana gempa dahsyat Aceh
2004 adalah contoh gambaran bagaimana tingkat pemahaman masyarakat dalam
menghadapi tsunami sehingga menimbulkan korban yang luar biasa karena referensi
yang ada sangat terbatas.
Harapan masyarakat di masa mendatang, media di
Sumut dapat terus memberikan dan menampung opini yang terbaik, baik ketika
tidak terjadi bencana maupun ketika ada bencana, dan sekaligus sebagai benteng
mitigasi yang terbaik dalam menjaga kualitas SDM Sumut untuk menghadapi
tantangan kehidupan di masa mendatang. Selamat hari pers.
M. Anwar
Siregar
Pemerhati Masalah Tata Ruang Lingkungan dan Energi-Geosfer. Tulisan ini sudah dipublikasikan pada harian ANALISA MEDAN, Tgl 29 Pebruari 2013
Komentar
Posting Komentar