GEMPA MEGATHRUST NEPAL, BERIKUTNYA KEMANA? : Geologi Gempa
GEMPA MEGATHRUST NEPAL, BERIKUTNYA KEMANA?
Oleh : M. Anwar Siregar
Setelah
hampir 10
tahun gempa Kahsmir-Pakistan dengan magnitudo gempa mencapai 7.8 Skala
Richter,
terjadi lagi gempa di kaki Himalaya, kali ini yang mendapat hantaman
gempa di
wilayah Nepal, kekuatan mencapai 7.9 SR. Kekuatan terasa sampai ke India
Utara dan Tibet yang masih berada dalam cengkeraman kaki pegunungan
Himalaya.
Gempa sekarang
ini, terjadi di wilayah Pokhara dengan kedalaman 31 km dengan jarak gelombang
sesimik ke wilayah Kathmandu mencapai 50 mil, sehingga guncangan yang
diakibatkan dapat merusak bangunan gedung yang tidak dirancang berketahanan
gempa seperti yang ada negara tangguh gempa seperti Jepang.
Wilayah gempa
megathrust Himalaya meliputi areal yang sangat luas, dan kadang mendesak
wilayah zona patahan gempa di negara rawan gempa seperti Tiongkok, Burma atau
pun wilayah diperbatasan lempeng Eurasia dengan Indo-Australia.
Gempa megathrust
Asia merupakan wilayah paling rawan di muka bumi, diwilayah terpisah-pisah oleh
zona tumbukan lempeng, setiap lempeng memiliki kompleksitas pergerakan, gempa
di Nepal masuk dalam wilayah megathrust Himalaya bersama gempa yang sering
berlangsung di India, Afghanistan, Burma, Pakistan, Bangladesh serta Tiongkok.
Ada beberapa megathrust
yang mengancam warga Nepal dan Asia setiap detik bisa meledak lebih dahsyat
dibandingkan perang yang berkecamuk, antara lain megathrust Sunda atau
megathrust Arab-Himalaya. Perlu sebagai warning tata ruang kehidupan.
MEGATHRUST
SUNDA
Megathrust Sunda
sudah melepaskan tahapan energi mega gempa yang terjadi pada tahun 2004 di
Pantai Barat Sumatera sekaligus awal rentetan gempa besar
berlangsung di Asia di abad ke 21, Gempa 2004 itu meliputi areal lempengan yang
pecah mencapai radius 600 km persegi sehingga menyebabkan deformasi kerak bumi
di perbatasan lempengan dan menyambungkan patahan lempengan yang sudah ada
menjadi ribuan kilometer menuju ke daratan Benua Asia oleh kompleksitas anomali
relaksasi pergerakan lempengan semakin tidak beraturan, dapat memicu zona-zona
subduksi terdekat di Semenanjung Asia, seperti yang diperlihatkan pada gempa
Jepang tahun 2011, gempa Longsmen shan Tiongkok 2013, Gempa Iran 2014, lalu
gempa Nepal 2015.
Lempeng Sunda
adalah sebuah lempeng tektonik kecil yang berlokasi di Asia Tenggara dan
umumnya dianggap sebagai bagian dari Lempeng Eurasia, Lempeng Sunda berbatasan
di Timur dengan Sabuk Bergerak Filipina, di selatan dan Barat dengan Lempeng
Australia dan di Utara dengan Lempeng Burma, Lempeng Eurasia dan Lempeng
Yangtze.
Warga Asia khusus Indonesia harus memahami bahwa gempa besar sering berlangsung di Lempeng
Sunda, dari Sumatera menerus ke Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan ke subduksi Banda
di Laut Banda, menerus ke zona tumbukan Maluku dan Papua. Sehingga wilayah
lempeng Sunda merupakan penghasil megathrust di Asia Tenggara hingga ke Asia
Selatan dan Asia Pasifik karena
wilayah Indonesia di kepung beberapa lempeng besar seperti Lempeng Australia,
Lempeng India, Lempeng Pasifik dan lempeng kecil Philipina dan Burma, menghasil
seismik yang sangat aktif dan menimbulkan kegempaan besar. Bukti abad 21
adalah gempa Aceh-Nikobar 2004, Nias-Simeulue 2005 dan Sumatera Barat 2009.
Gempa Nepal kadang bisa memberi stimulus responsibilitas seismik ke patahan
terdekat, dan gambarannya bisa dilihat pada kejadian gempa Aceh yang menerus ke
Andaman-Nikobar
CosmosPatahan Mahendra Highway dan segmen-segmennya
(Sumber : Cosmos dan berbagai sumber)
MEGATHRUST HIMALAYA
Gempa yang sering berlangsung di Himalaya disebabkan oleh
tekanan kuat dari gerak Lempeng India menekan ke Utara, sehingga membuat tubuh
tinggi Himalaya terus mengalami longsoran, mencengkeram wilayah enam negara besar umumnya bagian dari Himalaya, sedang disebelah Baratnya terjadi tekanan
kuat Lempeng Arab ke tubuh Lempeng
Eurasia, desakan ini perlu dicermati kearah mana berikutnya gempa “bekerja”,
mengingat pengalaman gempa Pakistan yang terjadi Oktober 2015 itu terjadi
setelah gempa kuat di megathrust Sunda di subduksi Aceh-Nikobar Desember 2004.
Di megathrust
Himalaya banyak di temukan zona patahan subduksi daratan yang dapat menghancurkan wilayah daratan beberapa
negara seperti patahan Longmen Shan di lembah Sichuan Tiongkok, Patahan Sagaing
di Burma, Patahan Postdam di India serta Bhuj Gujarat di daratan tinggi Tibet
dan Mongolia.
Wilayah Nepal terdapat patahan Mahendra Highway yang dibagi
menjadi tiga segmen patahan, yaitu Timur dari Kathmandu, Tengah Kathmandu dan
Barat Kathmandu, semua segmen memiliki durasi kegempaan mencapai 80 tahun lebih,
gempa tahun 1255 ke tahun 1344 berlangsung 89 tahun dan gempa 1934 ke 2015
berlangsung 81 tahun.
Dikawasan ini,
masih berkorelasi dengan patahan yang ada di daratan Asia Tenggara dan sebagian
Asia Timur, difaktorkan oleh elastic rebound bagi daerah yang kulitnya telah
hancur maka akan ada zona perlu ditambal sulam sehingga mendekatkan antar
lembah dan membentuk pegunungan tinggi namun rawan longsoran maut yang
menghasilkan tsunami rombakan tanah daratan bercampur dengan sungai-sungai
besar yang membelah beberapa patahan yang berdekatan serta merupakan zona
terkunci.
MEGATHRUST PASIFIK
Struktur
megathtrust gempa di wilayah Jepang dan Philipina juga sebagai pusat perhatian,
karena antara keduanya merupakan lempeng yang berbeda dan berbatas dengan
lempeng besar namun wilayah energi seismik mereka berada dijalur kawasan Pasifik,
selain itu terdapat pusat patahan dan palung raksasa yang terdapat diwilayah
Mindanao, yang dapat memberikan hantaran seismik lebih super kencang. Palung
Mindanao memiliki kedalamanan lebih 10 ribu km itu tempat berkumpulnya energi
seismik gap.
Megathrust Pasifik
terdapat di wilayah Jepang dengan bukti gempa 2011, yang mengguncang wilayah
Pasifik dan memberikan stimulus perubahan sumbu bumi yang bergeser 2.5
cm dari pusat rotasi. Philipina
dapat memberikan tekanan ganda bagi wilayah Indonesia jika megathrust yang
menekan Lempeng Philipina
dari tekanan Lempeng Pasifik, wilayah Utara kepulauan Maluku adalah ruang terbuka bagi serangan gempa Philipina
di selatan dan tekanan palung Pasifik
di Tonga ke arah barat Papua.
Hal ini dapat menimbulkan efek domino dan pergeseran lantai
samudara mencapai 1000 km dan mengangkatnya ke permukaan bumi.
Sumber CNN : Peta
lokasi episenter dan gempa susulan Gempa Nepal
MEGATHRUST ARAB
Megathrust Arab
sering terjadi di dua negara berlanggangan gempa dan sering bergejolak perang
kekerasan yaitu Iran dan Turki. Hal ini bisa terjadi karena kedua negara ini
berada dalam satu lempeng yaitu Lempeng Arab yang bergerak ke Utara ke tubuh
Lempeng Eurasia sehingga menimbulkan kompleksitas segmen patahan yang berjumlah
puluhan, merupakan zona seismik gap serta rangkaian pegunungan tinggi dari
Eropa Selatan hingga Himalaya serta Pegunungan Jayawijaya di Indonesia.
Megathrust Arab
dapat terjadi disebabkan oleh adanya sesar transform fault di Laut Mati yang
terletak di Barat dengan Lempeng Afrika, lalu tekanan kuat dibatas divergen
dengan Afrika yang membentuk Lembah Patahan Jordan yang membentang sepanjang Laut Merah di Utara
serta dipisahkan batas konvergen dengan patahan Anatolia Timur dan Utara di
Turki dan bersambung dengan Lempeng Eurasia. Tekanan Lempeng Arab mendorong
terbentuknya pegunungan Zagros di Iran di Timur dan Selatan, seperti halnya
gerakan takanan Lempeng India
ke Eurasia yang membentuk tinggian Himalaya menyebabkan sering
terjadinya longsoran dan gempa vulkanik,
Evolusi megathrust
lempeng Arab inilah penyebab sering terjadinya gempa kuat merusak di wilayah
Iran dan Turki setiap tahun seperti juga halnya yang terjadi di lembah Sichuan
di Tiongkok. Maka kemanakah gempa berikutnya dari lempeng Arab dan Pasifik?
BERIKUTNYA
Megathrust yang
perlu diwaspadai antara lain dari megathrus Sunda, yang di takuti saat ini
adalah megathrust Mentawai, merupakan salah satu gempa yang ditunggu “tanggal
mainnya” anak manusia di muka bumi, lokasi berikutnya adalah megathrust Maluku, dapat menghancurkan
pulau-pulau kecil di Pasifik, mempercepat perubahan patahan besar di Amerika
Utara. Atau mungkin juga patahan daratan Burma ke patahan Mergui ke Semananjung Asia Tenggara di Selat Malaka.
Ataukah gerak Lempeng Philipina ke kawasan Asia Timur dan
gerak Lempeng Arab yang
berjalan dalam 100 juta tahun ke era
sekarang menekan serta
mengubah kondisi Semenanjung
Arab dan Patahan Anatolia, sering memunculkan kekuatan gempa di atas 7.0 SR
dalam lima tahun terakhir di Turki dan Iran. Ada yang lain? Kemana? Tetaplah waspada.
M. Anwar Siregar
Enviromentalist
Geologist, Pemerhati Masalah Tata Ruang Lingkungan dan Energi Geosfer, Dipublikasi di HARIAN ANALISA MEDAN, Mei 2015
http://analisadaily.com/opini/news/gempa-megathrust-nepal-berikutnya-kemana/129677/2015/05/02
http://analisadaily.com/opini/news/gempa-megathrust-nepal-berikutnya-kemana/129677/2015/05/02
Komentar
Posting Komentar