Hari Lapisan Ozon, Kembalikan Hutan ke Lingkungan Hijau
HARI LAPISAN OZON, KEMBALIKAN HUTAN KE LINGKUNGAN
HIJAU
Oleh M. Anwar Siregar
Hutan Indonesia sampai saat ini masih mengalami
tingkat kerusakan yang sangat tinggi, serta penurunan daya dukung habitat yang
semakin luas, yang di kuras secara terus menerus sehingga menimbulkan berbagai
efek bencana ekologis dan geologis. Sudah banyak usaha aksi yang dilakukan oleh
berbagai elemen masyarakat dan lembaga survey untuk menata dan mendata terhadap
luasan hutan Indonesia dengan berbagai laporan yang memperingatkan kepada
pemerintah daerah agar menelaah usaha kelestarian lingkungan hutan dalam
mencegah berbagai jenis bencana ikutan.
Dalam rangka memperingati hari mempertahankan
Lapisan Ozon bulan September, perlu diingatkan terus menerus kepada kita agar
subtansi kehidupan hutan benar-benar harus dijaga, karena kondisinya saat ini
telah diambang kritis, hutan Indonesia merupakan hutan berperan penting sebagai
paru-paru dunia, yang berperan penting dalam pengendalian kerusakan lapisan
ozon yang luasannya telah mencapai sepanjang luas Benua Eropa, hutan Indonesia
merupakan gambaran kekuatan alam yang ada dikhatulistiwa sehingga wilayah
Indonesia dapat dianggap gambaran Zamrud Khatulistiwa yang membentang indah di
bumi wajib dipertahankan agar kesinambungan sumber daya alam tetap lestari.
HUTAN MANGROVE
Sampah merupakan sisa buangan yang tidak terpakai
oleh aktivitas manusia, industri dan kendaraan dalam bentuk benda padat. Sisa
buangan sampah yang semakin meningkat akan menambah volume sampah yang
dihasilkan akan menambah masalah, bau tak sedap, tempat sumber berbagai
penyakit dan mengurangi nilai estika di lingkungan, hasil penghancuran hutan
salah satu sumber petaka yang terbawa dalam bencana lingkungan hutan, yang
banyak tersebar di sungai-sungai hingga ke muara laut serta pemukiman penduduk,
ingat bencana banjir Bahorok salah satu bencana banjir maut akibat kebusukan
hati nurani yang memanfaatkan sumber daya hutan secara membabi buta.
Berbagai jenis sumber daya hutan yang dapat di
daur ulang untuk mempertahankan lapisan ozon yang memiliki nilai ekonomis dan
budidaya hutan-hutan di pantai dapat mengendalikan bencana abrasi dan tsunami,
misalnya distribusi hutan mangrove dan nilai ekonominya bagi masyarakat. Hasil
penelitian Pieter van Eijk dan Femke Tonneijck dari Wi-HQ (sumber dari berbagai
Media) menyebutkan kelestarian hutan mangrove berjalan seiring dengan pendapatan
masyarakat. Alasannya adalah karena mangrove dapat menjaga kelestarian alam dan
keanekaragaman hayati. Maka, dengan menjaga hutan mangrove masyarakat dapat
memanfaatkan hasil alamnya berupa pembibitan ikan, pengakaran rumput dan
lain-lain secara maksimal.
Selain itu, mangrove dapat mereduksi resiko
bencana, menyerap karbon dan zat beracun dari air, meningkatkan salinitas air.
Ini mengapa mangrove krusial bagi pembangunan berkelanjutan. Lebih lanjut hasil
penelitian tersebut, Mangrove sebagai natural water purification syatem yang
mempresentasikan hanya 1 % dari total hutan tropis dan lahan basah, tetapi juga
menyerap 25 % karbon dunia. Pengembangan ekonomi mangrove sangat luas bagi daur
ulang oksigen, mulai dari mempertahankan konservasi hutan menjadi daerah tujuan
ekoturisme, sumber alam, produk farmasi dan bioteknologi. Mangrove juga
melindungi pesisir alami melalui tiga proses, yaitu redaman gelombang, kenaikan
elevasi dan reduksi erosi pesisir. Maka mari menjaga kelestarian Hutan mangrove
yang tersebar di pesisir Pantai Indonesia.
HUTAN-OZON
Kerusakan hutan di Aceh, Riau dan Kalimantan
karena kurangnya perhatian serius dari penyelenggara kelestarian hutan terutama
Pemerintah Daerah yang seharusnya bertanggung jawab atas kelestarian hutan
serta lingkungan hidup.
Kondisi kerusakan hutan di Indonesia sudah sangat
tinggi dalam hal ini pemerintah harus lebih ekstra untuk memastikan ada upaya
rehabilitasi karena kawasan hutan, produksi dan budidaya serta kawasan-kawasan
hijau di hutan harus ditelaah kembali penataannya, peruntukkan serta
pemanfaatan izin HPH yang ada agar kondisi hutan yang semakin parah laju
kerusakan dapat terpelihara dengan baik, sehingga dapat mempertahankan
ketahanan lapisan ozon di atas garis khatulistiwa di wilayah darat dan laut
serta udara/atmosfir Indonesia.
Sebab, dalam menghadapi perubahan iklim di
Indonesia, kondisi hutan saat ini jauh dari tingkat yang kadar kesehatan
lingkungan yang baik, karena Indonesia merupakan penghasil emisi gas rumah kaca
terbesar ketiga di dunia, semakin buruk oleh dampak suplai asap, CO2 ke udara
yang dapat mencapai 1 milyar ton kubik. Maka jelaslah Indonesia menghadapi
berbagai dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim global, peningkatan panas
global, peningkatan suhu panas bumi di lautan berdampak pada ketinggian beberapa
pulau-pulau vulkanik dan non vulkanik di pesisir samudera Indonesia karena
diperkirakan dapat mencapai 100 cm pada tahun 2100 (sumber WWF Indonesia).
Jika kondisi hutan terpelihara dengan optimal,
dapat memberi efek domino yang positif bagi perkembangan kesehatan lingkungan
di Indonesia, mengendalikan tingkat kerusakan lapisan ozon, mensuplai kebutuhan
oksigen serta menyerap CO2 dari atmosfir guna mengurangi hujan asam, karena itu
pelestarian hutan sangat penting dalam menyelamatkan hutan yang semakin rusak
oleh elemen sistimatis.
Disisi lain, Hutan-hutan di Indonesia memiliki
bermacam isu yang berbeda-beda serta berhubungan dengan lingkungan hutan
terhadap pemanasan global, yang sangat dipengaruhi oleh pengadaan pembangunan
infrastruktur serta kegiatan manusia yang memuculkan krisis lingkungan terutama
dalam aspek untuk mempertahankan laju kerusakan ozon. Perubahan iklim di
Indonesia sudah sangat kentara dengan meningkatnya temperatur udara dalam lima
tahun terakhir akibat laju deforestasi saat ini telah mengancam luas Tutupan
Hutan di Pulau Sumatera diperkirakan sekitar ± 13 Juta ha atau 30 % dengan luas
kerusakan mencapai 48 %, oleh perubahan peruntukan pembukaan lahan perkebunan.
Di Kalimantan, luas Tutupan Hutan mencapai sekitar
21 Ha atau 36 persen dengan laju kerusakan mencapai 32 persen akibat perubahan
peruntukan perkebunan dan pertambangan. Akumulasi isu kerusakan hutan telah
mempengaruhi kondisi dinamika cuaca di pesisir pantai kedua Pulau Besar
Indonesia, yang diperlihatkan oleh kemampuan daya serap oksigen laut Indonesia
semakin merosot untuk mendaur ulang efek radikal pembakaran hutan dengan
memperpendek musim hujan di semua jenis hutan tropis yang ada di Indonesia
serta meningkatkan intensitas curah hujan terbatas di beberapa wilayah darat
dan pendalaman. Kondisi ini juga mempengaruhi distabilisasi kekuatan tanah
terutama banyak terjadi longsoran di daerah yang dikategori stabil, telah
mengubah kondisi air, daerah resapan air serta kelembaban tanah yang akhirnya
mempengaruhi ketersedian air di sektor pertanian.
PROGRAM EFEK OZON
Menjaga lapisan ozon berarti menjaga investasi
lingkungan hutan dalam mencegah bencana universal, mencegah potensi kerugian
kesehatan diri dan lingkungan, infrastruktur dan terutama mencegah berkurangnya
potensi sumber daya pangan.
Penulis membagai Program menjaga lapisan ozon
dapat dibagi tiga yaitu Pertama, Program Pelestarian Laut, yang terdiri
pelestarian hutan mangrove, pelestarian Terumbu Karang dan Pelestarian sumber
daya pesisir pantai-laut dipulau-pulau kecil di Samudera Indonesia dari
berbagai bencana limbah beracun seperti B3 dan Radiasi Nuklir. Kedua, Program
Lestarikan Air-Hutan dan Tanah dari ancaman Efek Rumah Kaca, CO2, Hujan Asam
dan Penggundulan Hutan, dibagi tiga yaitu Berdayakan Sumber Pangan Lestari di
Pekarangan dan hidupkan lahan hijau, Berdayakan Konservasi Taman Hutan Kota dan
Perumahan serta Berdayakan Efektivitas Biopori Air untuk mengendalikan
kerusakan tata ruang air dalam mencegah berkurangnya daerah resapan air serta
dapat mencegah terbuangnya air secara percuma di permukaan bumi dan juga
mengendalikan bencana banjir tahunan.
Ketiga, Program Manajemen Ketahanan Sumber Daya di
Geosfer yang dapat disesuai dengan kondisi tata ruang udara dan lingkungan
berupa Ketahanan Ekosistem Berkelanjutan terhadap anomali iklim global, dan Manajemen
Ketahanan Sumber Daya Manusia dalam mempersiapkan ketahanan teknologi dan
pengetahuan untuk mengurangi dampak lapisan ozon bagi kehidupan manusia serta Manajemen
Tata Ruang Berwawasan Lingkungan dalam menghadapi perkembangan dinamika alam di
bumi.
M. Anwar Siregar
Enviromental Geologist, Pemerhati Masalah Tata
Ruang Lingkungan dan Energi-Geosfer
Komentar
Posting Komentar