Disintegrasi Dan Euforia Demokrasi Pilkada
DISINTEGRASI DAN EUFORIA DEMOKRASI
PILKADA
Oleh : M. Anwar Siregar
Zaman berganti,
begitu juga periode perjuangan demokrasi di Indonesia terus diperjuangkan,
muncullah apa yang dinamakan beragam partai politik dengan semangat
masing-masing yang tercetus namun bermuara kepada kepentingan rakyat dan
Negara. Perkembangan partai politik demokrasi di Indonesia, baik dari orba
hingga sekarang tidak jauh berbeda dalam menyambut hari “berdemokrasi”, ykni
ramai dan panas serta silih berganti kabinet. Mosi kepercayaan kadang-kadang
mampu menurunkan seorang tokoh sekaliber apapun ia miliki, dimulai dari era
orde lama, orde baru dan berlanjut ke orde reformasi silih berganti model
demokrasi di Indonesia.
Euforia
demokrasi berlangsung lagi dalam lingkup local yakni pemilihan gubernur, bupati
dan walikota untuk tingkat Propinsi, Kabupaten dan Kotamadya. Pesta berpolitik
ditanah air sekarang telah berubah total, orang sekarang berani melontarkan
kritikan tajam sampai membuat kuping panas dan menimbulkan pro dan kontra, dapat
juga menguraikan kebanggaan kolektif Negara yang mengalami kemorosotan tajam,
disertai anarkis. Dan kerusuhan dapat terjadi disebabkan oleh kondisi
sebelumnya telah mengalami penyumbatan karena sistim-sistim lembaga tak
terpakai. Namun sekarang ini, sistim ketatanegaraan mulai lebih baik dan
demokratik karena pola pemerintah tidak lagi dominant di pusat tetapi berada di
daerah dengan sistim otonomi, telah mengajarkan Negara ini berdemokrasi lebih
baik daripada bertumpuk pada satu orang pengambilan keputusan yang dominant.
VISI KEKUASAAN
Tujuh tahun seudah berlalu dengan tumbangnya junta orde baru, ketika
pergerakan demokrasi oleh mahasiswa telah memberikan masa kehidupan demokrasi
terbaru bagi bangsa terbesar ketiga dalam demokrasi di dunia. Namun kenyataan
ini, demokrasi di era reformasi ini belum menghasilkan pemerintahan yang
berwujud ideal dan bersih, karena masih ada penyelewengan dan perebutan
kekuasaan antara sisa-sisa orba dan reformis. Selain itu, terjadinya kesalahan
bangsa dari visi demokrasi yang pernah dipegang oleh pemegang kekuasaan, karena
banyak persoalan bangsa belum terselesaikan terutama dibidang ekonomi, HAM dan
penegakan supremasi hokum, yang menyebabkan visi kekuasaan mengalami “goyangan”
oleh runtuhnya integritas antara elite politik dengan diperparah oleh sikap
yang tidak simpatik oleh beberapa kalangan pemegang jabatan dengan melakukan
korupsi. Menumbuh suburkan rasa ketidaksenangan rakyat akibat keadaan Negara
dari hari ke hari semakin krisis, demo-demo di Indonesia tidak pernah “berlibur”,
yang menimbulkan kerugian dan waktu berakhir dengan kekerasan.
Maka visi kekuasaan sangat ini tidak lagi bersifat mutlak, karena
kekuasaan itu bersifat relative dan terikat pertanggung jwaban kepada rakyat.
Perubahan politik terjadi di Indonesia
selalu muncul dan berkembang serta menguap selaras dengan munculnya masalah
baru. perseteruan kekuasaan terus berkembang dan sangat membahayakan
Negara/rakyat, karena telah berubah menjadi isu nasional. Rakyat kini telah
lelah menyaksikan show of force yang dilakukan oleh para elite untuk menggiring
rakyat memberikan dukungan, karena isu yang lebih dominan dibahas mengakibatkan
persoalan yang krusial terlupakan. Masalah subsidi BBM, batas-batas Negara,
HAM, dan sekarang kumpulan penipu ulung yang ada di komisi pemilihan umum,
korupsi di Bank Mandiri dengan kredit macet turut mencuat sebagai isu nasional
dengan menimbul tenggelamkan masalah bencana.
karena itu, para elite yang maju ke Pilkada, harus mengubah paradigma
ini, terutama dalam memandang kekuasaan adalah amanah yang diberikan oleh
rakyat dan harus dijalanakan sebaik-baiknya. Mengasah kepakatan nurani terhadap
kondisi rakyat didaerahnya agar terhindar dari preseden buruk yang dapat
membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa. Agar krisis kepercayaan rakyat
terhadap pemerintah dapat direbut kembali, agar sesuai dengan semboyan
demokrasi.
DISINTEGRASI POLITIKUS
Terjadinya disingrasi suatu bangsa dapat disebabkan oleh salah satunya
adalah akibat tuntuhnya integritas anta relit politik itu sendiri. Mereka bicara
atas nama rakyat, namun ini untuk “berdagang” politik. Apabila ada perbedaan
pendapat akan berlanjut dengan perdebatan sampai konfrontasi politik disertai
intimidasi. Pengerahkan massa dan
kekerasan politik didalam Pilkada dapat menimbulkan kekerasan konflik
horizontzl. Hal ini telah terjadi di Maluku Utara akibat perbedaan persepsi
sekaligus menimbulkan ”pemanasan” sebelum dimulainya Pilkada (pemilihan
langsung kepala daerah).
Yang harus dihindari dalam
euforia Pilkada adalah konspirasi politik yang sangat mengancam keselamatan
bangsa, yang dapat menjalar dan mengganggu kestabilan ekonomi, hankam, dan
penegakkan hukum. Yang berkaitan erat
bagi kelangsungan demokrasi karena semuanya tidak dapat dipisahkan.
Yang harus diperhatikan juga
dalam Pilkada adalah disintegrasi politikus, yang dapat membawa keberlangsungan
demokrasi semakin pelik jika ditegakkan dalam waktu yang bersamaan, karena
dapat menunjukkan kegagalan pemerintah mengartikulasikan stabilitas dan
demokrasi politik dalam konsep kehidupan berbangsa dan bernegara, karena
stabilitas dianggap sebagai indikator dalam proses demokralisasi akhir.
Selain itu, untuk menghindari
disintegrasi politik dalam pelaksanaan Pilkada, calon gubernur, bupati dan
walikota harus menghindarkan diri untuk kepentingan sesaat, harus mampu
mengakomodasi kepentingan rakyat, bersikap simpatik atas nasib rakyat terutama
kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan, tidak memberatkan ekonomi rakyat.
Disintegrasi antara elite dalam Pilkada dapat juga dikendalikan bila ada kemauan
kompromi, adanya rasa persatuan dan kesatuan dari seluruh komponen masyarakat
agar bersatu bahu membahu mempererat persatuan dan kesatuan, bukannya dengan
melakukan kepentingan pribadi yang sesaat yang tidak ada artinya.
HINDARI
KONFLIK
Sejarah kekerasan hampir sama
umurnya dengan kehidupan manusia dimuka bumi, sampai sekarang masih berlangsung
tanpa ada tahun yang terlewat dengan kekerasan. Pertikaian antara etnis sangat
rawan dalam era demokrasi Pilkada di Sumatera Utara, seperti kita ketahui
Sumatera Utara terdiri beberapa etnis (heterogen) dengan karakteristik yang
berbeda memiliki kadar resolusi konflik yang tinggi.
Suasana panas telah melannda beberapa daerah di Indonesia
yang akan menggelarkan Pilkada, beberapa kabupaten telah mengalami ketegangan
dengan KPUD (komisi pemilihan umum daerah) karena calon mereka yang ada tidak
lolos verfikasi awal dan merasa dirugikan hingga berakhir dengan bentrok fisik,
seperti yang terjadi di Maluku Utara, juga terjadi di Tapanuli Selatan
(TapSel). Mengerahkan massa untuk memprotes keputusan KPUD Tapsel atas salah
satu calon yang dinyatakan tidak lulus verfikasi.
Masalah utama sebelum konflik
terjadi adalah para pemimpin politik ikut larut dalam ”perkelahian” untuk
mengejar kepentingan sendiri. Perbedaan yang terjadi justru dipertajam dan
dikondisikan dalam dialektika yang terus menerus, maka terjadilah sebuah
konflik yang tidak habisnya, terimbaskan kebawah dengan konflik horizontal.
Apalagi kondisi yang belum tertib di Indonesia, maka para elite bersikap arif
dan bijaksana dalam pelaksanaan Pilkada nanti.
EUFORIA SPANDUK DUKUNGAN
Persolan lain yang dapat
membuka perang konflik adalah perang pedukung yang membawa simbol kebanggan
yang belebihan, apalagi menggunakan bahasa kekerasan. Karena bersikap euforia
(bersikap gembira sekali tanpa mau dikontrol) yang dapat menjerumuskan rakyat
dalam konflik. Bentrokan pendukung dalam Pilkada sangat membahayakan kondisi
keamanan. Bentrokan akan dimulai dari demonstran anti korupsi, kepada calon
yang terindikasi korupsi. Calon Bupati, walikota dan gubernur yang gagal
verfikasi dengan KPUD dengan mengerahkan massa serta aparat keamanan bila tak
mendapat respon dari salah satu pihak tersebut diatas akan berlanjut dengan
benturan fisik.
Dan puncak kekerasan akan bertambah apabila
pihak/massa yang kalah tidak memahami arti kekalahan dalam Pilkada. Bila massa
tidak memahami arti kekalahan akan berakibat terjadinya kerusuhan lokal antar
pendukung, perang terbuka antar etnis karena kedekatan psikologis massa dengan
”jagoan”nya. Ini bisa terjadi dibeberapa daerah yang pluralitas politiknya
sangat tinggi seperti Sumut, Malut, NTT, Sulbar, Sulteng, dan Sulut. Telah
berlangsung sebelum dimulai pilkada karena tidak bisa menerima kekalahan awal,
apalagi bila telah berlangsungnya pilkada sehingga melakukan gerakan yang
mengganggu stabilitas lokal, akan berdampak pada kerugian material karena
dipastikan prasarana umum akan ada yang menjadi ”korban” sebagai ciri khas
demonstrasi di Indonesia.
Dan hal ini tidak dibenarkan
dan bembahayakan kelangsungan demokrasi dan keutuhan integritas bangsa, elite
sudah harus mempersiapkan diri dan berjiwa besar dari semua pihak untuk
memahami dan menerima kekalahan.
PEMBELAJARAN DEMOKRASI
Indonesia membutuhkan waktu
yang lama untuk membentuk tatanan kenegaraan dan etika berpolitik yang baik,
mantap dan bersih. Karena proses pembejaran demokrasi membutuhkan kesabaran dan
tinkat budaya yang tinggi untuk menimbulkan rasa menghormati perbedaan agar
dapat dicegah. Sebab Indonesia adalah negara pluralis sangat rentan benturan
budaya, agama dan sosial, sangat membutuhkan pembangunan yang adil, merata
untuk segala bidang pembangunan. Dengan pola emosional konfrontatif dan
pemaksaan kehendak tidak akan menghasilkan demokrasi yang dewasa. Pembelajaran
demokrasi harus mementingkan kepentingan rakyar agar tidak menghasilkan
kontraproduktif karena akan menimbulkan korban kepada rakyat. Hanya dengan
proses konstitusi, damai, demokratik, bisa mengendalikan konflik.
KETELADANAN
Untuk menghindari kekerasa
didalam pelaksanaan Pilkada adalah bersedia berkampanye secara damai dan
menghindari saling menghujat, serta harus menunjukkan suatu keteladanan sebagai
orang terpilih, tidak menciptakan ketegangan tetapi menciptakan suasana
harmonis bagi iklim demokrasi yang sehat. Menyelesaikan masalah dengan semangat
demokrasi politik.
Untuk ini, diperlukan
pembelajaran demokrasi yang arif, bijaksana dalam pilkada agar terbentuknya
etika politik yang baik, mantap dan bersih. Maka sloga Bhinneka Tunggal Ika
atau berbeda tetap satu tidak lagi hanya menjadi ”slogan” tetapi menjadi saksi
sejarah perjalanan kebesaran demokrasi di Indonesia, akan tetap terjaga dan
berlanjut dengan aman.
M. Anwar Siregar
Karyawan Swasta Konstruksi Site Civil and Geologi Engineering (dulu). Sekarang bekerja sebagai ASN di Padangsidimpuan Tapsel.
Dipublikasi di Harian Analisa Medan tgl 3
juni 2005.
Dipublikasi ulang kembali di blog ini karena sebentar lagi beberapa elite daerah mengobral janji manis namun banyak beracun. Tulisan ini masih relevan sesuai perkembangan zaman demokrasi Indonesia
Dipublikasi ulang kembali di blog ini karena sebentar lagi beberapa elite daerah mengobral janji manis namun banyak beracun. Tulisan ini masih relevan sesuai perkembangan zaman demokrasi Indonesia
Komentar
Posting Komentar