Medan Memang Benar Kota Banjir
Medan Memang Benar Kota Banjir?
ilustrasi Sumber Analisa Medan, Tanggal 01 Oktober 2016
Oleh: M. Anwar Siregar.
Di masa modern seperti sekarang ini, kenapa Medan masih juga banjir walau hujan cuma 10 menit? Dan kota Medan seharusnya mampu mengatasi bencana musiman seperti banjir. Bukankah Medan sudah berumur lebih 100 tahun dan memiliki kanal banjir? Kenapa para perencana pembangunannya masih juga kewalahan mengatasi banjir .
Kebetulan penulis terjebak banjir di simpang Brimod ke dan menuju ke kampus USU Medan, dan ketika pulang penulis pun juga melihat banjir ke arah Marelan terus menuju ke Belawan dan masuk menuju ke pintu gerbang tol Belawan. Penulis melihat disepanjang rute ke arah Tanjung Morawa ada beberapa lahan mengalami banjir diatas 50 cm dan uniknya lahan hijaunya seperti tidak jelas dimana posisi persisnya.
Seharusnya proses pembangunan di seluruh wilayah kota Medan harus bertumpuh pada kajian geologi lingkungan dan perencanaan wilayah yang tepat dengan mengusung tujuh konsep dasar geologi yang juga merupakan bagian konsep perencanaan pembangunan fisik wilayah. Seharusnya dijalankan sejak diawal suatu awal perencanaan pembangunan fisik yang akan menjadi titik acuan bagi tata ruang dalam pembangunan sekarang ini.
Faktor Dasar
Faktor dasar dari penyebab kompleksitas banjir yang melanda kota besar di Indonesia adalah banyak tata ruang tidak bertumpuh pada kajian geologi lingkungan. Sebabnya, karena bumi pada dasarnya adalah sistem yang tertutup dan merupakan konsep utama yang harus diingat untuk perencanaan wilayah. Faktor ini berhubungan dengan elastic rebound, dimana jika terjadi bencana akan selalu ada wilayah yang terobekkan, dan hubungan banjir dan longsor ataupun banjir bandang (kombinasi banjir dan longsor) akibat adanya tekanan pada kerak bumi.
Sehingga kota yang berdiri diatas harus memiliki sistim sabuk pengaman. Bumi itu tidak mekar, harus ada ruang untuk ruang baru, dan tekanan diatas permukaan bumi dapat juga mempercepat tekanan bagi di dalam bumi terutama jika dilihat dari tatanan perubahan iklim global.
Dan perlu ditekankan lagi bahwa bumi memiliki kemampuan yang terbatas atau sumber daya yang terbatas dan merupakan konsep kedua yang harus diperhitungkan. Sebab, kita sudah mengetahui kemampuan ruang dalam menerima beban tertentu akan ada batasnya, atau dengan kata lainnya daya tampung lingkungan harus sebanding dengan daya dukung lingkungan dalam suatu tata ruang wilayah dengan menekan dan menimalkan terserabutnya lahan-lahan yang mendukung kapasitas daya tampung lingkungan.
Dari amatan penulis yang sempat terjebak banjir itu selama perjalanan ke arah Tanjung Morawa di jalur tol Belmera. Banjir berada di daerah pemukiman padat yang memang sudah semakin jenuh lahan hijaunya dan diperparah sistim drainase lingkungan yang sangat buruk.
Kondisi ini akan mempengaruhi fisik bumi atau fisik lingkungan dalam tata ruang kota akan mengalami perubahan yang seharusnya sudah diperhitungkan sebagai pemikiran ketiga, karena berhubungan dengan kondisi fisik yang mengalami perubahan atau adanya perubahan hasil pembangunan atau man made dengan berhubungan dengan bahaya geologi dari dalam bumi yang patuh diketahui frekuanesi yang terkirim dalam bentuk kerusakan sistim ekologi lingkungan.
Faktor buatan atau pembangunan fisik masih akan berhubungan pada landasan proses relaksasi gerak bumi atau pergerakan lempeng bumi, proses dinamika bumi itu kadang dapat membahayakan manusia, yang harus dikenal sebagai peringatan bahaya sekaligus konsep keempat perencanaan pembangunan lingkungan geologi untuk mengantisipasi bahaya geologi.
Banjir yang sering melanda Medan dan Jakarta merupakan ancaman karena ada kondisi fisik lingkungan yang mengalami gangguan keseimbangan perubahan. Untuk mengenalinya dapat diketahui dengan faktor kerentanan gerakan tanah yang mengalami dinamika dalam bumi melalui frekuensi gempa bumi. Tidak adanya lapisan penyerap yang membiarkan air permukaan melaju dengan cepat (run off), dan melihat gambaran fisik kota Medan yang sangat terbatas daerah sabuk hijaunya dan tergantikan oleh keseimbangan hutan beton, daerah pinggiran seharusnya berfungsi sebagai titik tangkap air karena daerah tetangganya yaitu Deli Serdang merupakan daerah dengan lingkungan geomorfologi Terjal dan Medan sebagai zona perangkap rendah air.
Untuk menekan kerusakan daerah hijau di hulu perlu penyesuaian tata guna lahan dan air dengan menciptakan keseimbangan sebagai konsep perencanaan kelima, menciptakan keseimbangan antara perekonomian berbasis hijau dengan variabel lainnya seperti estetika lingkungan.
Pembangunan berkelanjutan akan selalu memikirkan adanya kegiatan pengelolaan keseimbangan sumber daya alam dalam peningkatan ekonomi dan keseimbangan lingkungan hidup yang selalu menghargai fungsi kelestarian alam yang mempunyai kemampuan terbatas, agar tidak memicu terjadinya bencana alam seperti banjir saat ini dialami beberapa kota di Indonesia. Lokasi pembangunan harus ada dan berada pada daerah yang aman dari bencana.
Keselarasan alam lingkungan menekan dampak penggunan lahan agar tidak cenderung kumulatif. Oleh karena itu perlu mempunyai kewajiban dalam menekan pengrusakan lingkungan dan harus menanggung segala perubahan melalui perwujudan keberlanjutan pembangunan dengan melalui rekomendasi suatu lokasi penggunaan lahan yang sesuai dengan kondisi (daya dukung) lingkungan geologi dan agar terhindar dari bencana. Pemikiran ini sebagai konsep keenam untuk keselarasan penggunaan lingkungan yang sesuai dengan fisik bumi atau daya dukung bumi.
Pembangunan fisik Medan sebenarnya sudah ada yang tidak benar, daerah penempatan dan perorganisasian ruang kegiatan kini tidak jelas. Di suatu daerah utara sebenarnya untuk tata ruang apa? Dan di daerah selatan untuk daerah ruang apa? Apa sudah disesuaikan dengan kemantapan tanah untuk pondasi karena mengingat daerah ini termasuk rawan longsor berbatas dengan daerah tetangganya yaitu Deli Serdang.
Ketersediaan air merupakan kendala saat ini bagi warga Medan dalam mendapatkan air minum karena fungsi lokasi lahan telah berubah, serta ketersedian lahan di bagian timur dan barat yang telah mengubah titik keseimbangan di Tenggara Medan di mana wilayah ini sebagai pusat pengendali air yang melingkar searah posisi sungai-sungai yang membelah tata ruang Mebidang (Medan, Binjai dan Deli Serdang).
Dari gambaran banjir Medan yang menjadi faktor dasar penyebab sering terjadinya banjir di kota besar Medan adalah faktor sumber daya ruang geologi sebagai konsep ke tujuh, disebabkan juga semakin terbatasnya sumber daya alam dan rendahnya pemahaman terhadap lingkungan.
Seharusnya menjadi landasan secara komperhensif dan yang pada dasarnya harus diterapkan sebagai ujung tombak informasi pembangunan fisik di kota Medan yang banyak belum dikaji secara bijaksana karena sering berbenturan dengan kebijakan ekonomi secara umum. Dan perlu diingat bahwa tatanan geologi wilayah kota Medan masih berkaitan dengan geologi wilayah Indonesia yang sangat labil.
Timbal balik proses geologi lingkungan akan mempengaruhi kondisi manusia, kondisi tata guna lahan dengan potensi sumber daya dan kendala sumber daya alam yang di butuhkan suatu tata ruang lingkungan kota yang perlu diperhatikan selain faktor sosial budaya, faktor ekonomi dan bahaya-bahaya geologi agar menjadi rujukan untuk penanggulangan bencana banjir.
Terlintas suatu pertanyaan berkecamuk, dimana fungsi kanal banjir Medan? Apa sudah tepat penempatannya karena penulis lihat kanal itu tetap saja tidak mampu mengendalikan banjir yang terjadi tidak jauh dari pintu gerbang tol Amplas ke Marindal? Sepertinya kurang berfungsi.***
Penulis Enviroment Geologist. Pemerhati Tata Ruang Lingkungan dan Energi Geosfer, bertugas di Padangsidimpuan-Tapsel. Sudah dipublikasi Tgl 01 Oktober 2016
Komentar
Posting Komentar