TATA RUANG YANG BELUM TANGGUH GEMPA
TAJUK PALUEMAS GEOLOG 16
TATA RUANG YANG
BELUM TANGGUH GEMPA
Oleh : M. Anwar
Siregar
Menjelang
pergantian tahun 2016 ke tahun 2017. negeri kita mengalami musibah bencana
gempa dengan kekuatan 6.5 Skala Richter di wilayah Pidie Jaya-Aceh, memilik
dari kekuatan gempa tersebut sebenarnya belum sekeras bencana gempa yang pernah
terjadi di Aceh pada tahun 2004 yang memicu rangkaian gempa pada zona hunjaman
aktivitas gempa dikawasan Pantai Barat Sumatera hingga ke Pantai Timur Afrika
yang menjangkau permukaan bumi lebih 1.000 km. Lantas apa penyebabnya? Etika
konstruksi bangunan terutama kaidah penerapan Building Code di daerah rawan
gempa.
PETA TATA
RUANG
Banjir dan
longsor melanda nyaris seluruh wilayah Jawa dan Sumatera dampak dari perubahan
tata ruang yang sebenarnya sudah diidentifikasi sebagai daerah rawan bencana
geologi dan membuktikan bahwa masyarakat dan tata ruang belum berbasis bencana dengan
mengabaikan data detail ruang yang telah disusun. Sampai saat ini
belum semua produk pengaturan tata ruang selesai dikerjakan. Banyak
kabupaten/kota belum menyelesaikan rencana detail tata ruang sehingga proses
mitigasi bencana belum efektif.
Peta risiko bencana bahkan peta rawan bencana belum
dijadikan pedoman melek bencana dalam penyusunan tata ruang. Tata ruang yang
disusun tidak berjalan seperti yang diharapkan karena ada kekuatan eksternal
seperti politik lokal dan desakan ekonomi sehingga daerah rawan bencana tetap
dijadikan permukiman tanpa ada upaya mitigasi. Akibatnya
ketika terjadi bencana timbul juga korban jiwa dan kerugian harta ekonomi.
Tata ruang kota di Indonesia tidak berjiwa bencana,
nampak pada penyusunan yang tidak mengacu pada data-data geologis dan standart
building code untuk menekan bencana lingkungan sebagai syarat mutlak dalam
upaya pengurangan resiko bencana dan adaptasi perubahan iklim di tingkat lokal
seperti bencana banjir dan longsor serta gempa.
TIDAK TANGGUH GEMPA
Indonesia benar-benar belum melek bencana gempa, pola
tata ruang dan pendidikan mitigasi bencana dalam rangka pengurangan resiko
bencana gempa belum diimplementasi dalam budaya hidup akrab bersama bencana
gempa, yang ada adalah hidup menikmati bencana gempa seperti sekarang, standart
penerapan building code masih diabaikan.
Budaya bencana gempa di Indonesia lebih dikenal sebagai
pameo bagi tata ruang adalah ”bencana dulu, jatuh korban dan kerugian ekonomi
baru siapkan mitigasi”. Selain diperparah juga dengan lemahnya dukungan politik
lokal dalam membangun masyarakat yang tangguh bencana. Dukungan politik lokal
hanya sebatas retorika, implementasinya dalam bentuk tata ruang belum
memuaskan, hanya baru menekan pada aspek prinsip-prinsip kelayakan saja dalam
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan tanpa data dasar geologi yang detail
sehingga kita melihat di beberapa kota banyak dibangun dekat zona berbahaya,
dekat zona pembenturan lempeng.
Sebagai contoh kota Jakarta dan Bandung, Padang serta
Banda Aceh termasuk gempa kota Pidie Jaya berada dalam radius 10-15 kilometer
dari zona patahan gempa yang menyimpan energi seismik tinggi. Yang paling jelas
adalah kota Bandung dan Banda Aceh. Bandung dibentuk diatas sesar/patahan
Lembang dan Cimandiri berjarak 15 km dan termasuk zona gempa kelas dunia karena
daerah yang paling padat. Begitu juga tata ruang Banda Aceh yang berada di
bawah ancaman empat patahan lokal segment Semangko yang berada sekitar 15-20 km
dengan kondisi tanah dengan tingkat kematangan yang rendah. Semua kota tersebut
terbukti tata ruangnya belum melek bencana gempa dan akan selalu ada kehancuran
fisik yang dahsyat.
Semakin membuktikan Indonesia belum melek bencana gempa adalah
lemahnya sosialisasi potensi gempa dari zona patahan bagi tata ruang kota,
karena kebanyakan kota di Indonesia di bangun diatas patahan dan menjadi pusat
ekonomi masyarakat seperti kota di Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, Maluku
dan NTT serta Jawa Barat, Yogyakarta atau juga Bengkulu dan Sulawesi Utara.
Untuk melihat gambaran tata ruang kota yang tidak melek
bencana gempa lebih jelas ada di Patahan Semangko, yang memanjang dari Aceh
sampai Lampung sepanjang 1.650 km, berarti hampir semua kota di Sumatera rawan
gempa. Kota-kota yang dilintasi Patahan Lembang di Bandung dan Cimandiri yang
membelah Sukabumi dan Beribis membelah beberapa kota di Jawa Barat, kota yang
berada dekat Patahan Ciputat menuju Jakarta dan Bekasi dan Patahan Opak yang
membelah sebagiam Jateng.Yogyakarta hingga ke Jawa Timur, kota yang dibelah
oleh patahan Flores di NTT-NTB serta patahan Palu-Koro-Gorontalo dan Matano
yang membelah seluruh kota di Pulau Sulawesi-Maluku serta patahan Tarera Audina
yang memanjang dari Kepala Burung hingga membelah Pegunungan Jayawijaya di
Pulau Papua.
Dengan melihat kondisi ini, seharusnya Indonesia sudah
melek bencana, agar lebih waspada untuk mengatur tata ruang wilayahnya dengan
tidak membangun bangunan dengan spesifikasi yang sangat buruk.
Kota yang tangguh adalah kota yang mempersiapkan diri
terhadap dampak iklim di masa kini dan masa mendatang dengan membatasi kekuatan
dan keparahan tata ruang serta memiliki tata ruang lahan untuk rehabilitasi sebagai
investasi jangka tertentu, sehingga dapat bergerak cepat, efektif serta tepat
efisien untuk kembali membangun kota jika mengalami dampak bencana gempa maupun
perubahan iklim global seperti ancaman bencana banjir daratan dan banjir dari
lautan serta harus menjadi prioritas utama dalam membangun kota dengan
memperhitungkan posisi zona patahan, sejarah bencana alam masa lalu kota,
kaidah building code untuk rancang bangunan, amdal yang profesional serta
pemetaan seismotektonik yang berbasis bencana geologi gempa dan dinamika budaya
siaga bencana sebagai mitigasi untuk membentuk masyarakat dan kota yang melek
bencana.
M. Anwar Siregar
Enviromentalist
Geologist
Komentar
Posting Komentar