REFLEKSI BENCANA LINGKUNGAN
REFLEKSI
BENCANA LINGKUNGAN
Oleh M.
Anwar Siregar
Masyarakat diingatkan agar tidak mengandalkan perkiraan cuaca atau perubahan iklim
saja sebagai bahan untuk memprediksi potensi bencana yang harus
diwaspadai. Tetapi juga harus memahami data penting dari para Ahli geologi,
sudah berulangkali memberikan pendapat ilmiah dari sisi ilrnu kegeologian dan
cabang ilmu geologi yang terkait, bahwa pertama, bencana kebumian saling
terkait satu dengan yang lain. Material erupsi gunungapi menjadi sumber
material lahar dingin. Getaran gempa mampu merekahkan tanah yang mudah terpicu
rnenjadi longsor. Kedua, bencana kebumian tidak hanya dipicu oleh kegiatan dari
dalam bumi, bencana sering terjadi kali juga dipicu oleh kondisi meteorologis
dan aktifitas manusia (anthropogenic) Ketiga, perubahan iklim global telah
mernpengaruhi terbentuknya cuaca ekstrim yang akan lebih cepat memicu bencana
longsor dan banjir. Keempat, dengan perubahan iklim global ini menyebabkan
prakiraan serta prediksi bencana yang terpicu oleh kondisi meteorologis menjadi
semakin sulit. Kelima, aktifitas
manusia mampu menyebabkan, meningkatkan potensi bahkan memicu terjadinya
bencana kebumian. Termasuk didalamnya penyebab turunnya muka tanah
(subsidence). Keenam. peran konstruksi rekayasa sangat diperlukan untuk
meningkatkan daya dukung tanah.
Untuk itu
Ikatan Ahli Geologi Indonesia kembali mengingatkan bahwa 1. Lokasi-Iokasi
bencana yang sudah dianggap aman harus terus dipantau. Termasuk diantaranya
lokasi sekitar letusan gunungapi, lokasi pasca gempa, lokasi daerah terdampak
Lumpur Sidorjo, serta lokasi-lokasi pasca bencana lainnya. 2. Kepada seluruh
masyarakat untuk terus mengenali kondisi lingkungan sekitarnya, ikut mengamati
bila dijumpai gejala-gejala awal bencana. Termasuk didalamnya retakan,
kebocoran tanggul (bendung), serta tetap terus mewaspadai bencana yang dipicu
kondisi meteorologis hingga akhir musim hujan ini. 3. Kepada instansi
pemerintah yang terkait dengan kebencanaan (BMKG, BNPB serta Badan Geologi)
untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Terus menerus memperbaharui prakiraan
model kebencanaanyang akan dan telah terjadi sebagai dasar koordinasi dalam
penanganan. 4. Pentingnya fungsi ibukota bagi negara, serta berpotongannya
batas-batas wilayahnya dengan batas DAS (Daerah Aliran Sungai) menunjukkan
keharusan peran Pemerintah Pusat dalam menangani banjir. Banjir harus
dievaluasi dan ditangani secara nasional dan dikoordinasikan dengan pemerintah
daerah.5. Jebolnya tanggul dan bangunan-bangunan air lainnya merupakan peringatan akan pentingnya perawatan serta pemeliharaan konstruksi-konstruksi bangunan hasil rekayasa penanganan banjir ini.
BENCANA
GLOBAL
Bencana lingkungan di era global banyak terjadi
karena karena kelalaian Pemerintah, disalahkan karena mudah tergiur
mengalihfungsikan lahan sehingga daerah resapan air semakin minim. Masyarakat
juga disalahkan karena membuang sampah sembarangan hingga hidup di bantaran
kali. Pengusaha pun tidak luput dari tudingan karena dengan caranya yang
"licik" bisa membangun bisnis atau perumahan di lahan yang tidak
sesuai peruntukannya.
Sebagai contoh, bencana banjir, tanah longsor, dan
kekeringan akan silih berganti menjadi bencana yang melanda negeri ini akibat
daya dukung lingkungan yang tak mampu lagi menahannya. Bencana lingkungan yang
terjadi hingga saat ini bahkan dirasakan lebih sering dan parah, tidak
serta-merta terjadi begitu saja
Sepanjang tahun 2016 diera global ini, kerusakan
sumber daya alam dan pencemaran lingkungan di Indonesia boleh dikatakan terjadi
begitu cepat, melampaui kemampuan kita untuk mencegah dan mengendalikan
degradasi sumber daya alam dan lingkungan.
Yang paling kentara adalah kerusakan tata ruang
air serta pencemaran air tanah di berbagai daerah dan bencana ekologi lainnya sepanjang
2016, yang memperparah kondisi tata ruang antara lain terjadi kontaminasi air
bersih dengan sumber daya pangan dengan perubahan iklim global pada lahan
pertanian, yang telah mniembulkan dampak kekeringan yang panjang di berbagai
kota di Jawa, namun terjadi luapan kelebihan air yang terbuang percuma dan
telah mengalami kekotoran di berbagai daerah di Sumatera dan sebagian Jawa
serta Kalimantan.
BENCANA
GEOLOGI
Sebagian besar bencana alam merupakan bencana geologi. Bencana geologi
meliputi semua bencana yang timbul akibat atau mengikuti suatu proses geologi.
Proses-proses geologi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu proses eksogenik (eksternal)
berasal dari luar bumi, dan proses endogenik (internal) yang berasal dari dalam
bumi. Proses eksogenik antara lain: pelapukan dan erosi. Proses endogenik,
antara lain: orogenesis, epirogenesis, pengangkatan, vulkanisme, dan
tektonisasi.
Gempa bumi dihasilkan oleh proses-proses magmatisme dan tektonisasi,
letusan gunung api dihasilkan oleh proses magmatisme (vulkanisme), tanah
longsor dihasilkan oleh proses-proses erosi, pelapukan, hidrologis, dan
tektonik, serta banjir lebih diakibatkan oleh proses erosi dan hasil kerja
manusia.
Sebagaimana diketahui, litosfer terpecah-pecah menjadi beberapa lempeng
besar dan banyak lempeng kecil yang relatif saling bergerak satu sama lain.
Pada saat dua atau lebih lempeng saling bertemu atau berpapasan, maka mereka akan
saling berdesakan atau bergesekan. Apabila pada saat berdesakan atau
bergesekan, tegangan yang diderita batuan melebihi kekuatan/ketahanannya, maka
batuan tersebut akan patah. Pada saat dua lapisan litosfer saling bergesekan atau
yang satu menggerus yang lain pada suatu sesar (patahan), karena adanya tekanan
(stress) dari kedua belah pihak, maka akan terjadi akumulasi energi di
sepanjang batas
sesar tersebut. Bila suatu saat kekuatan batuan tidak mampu lagi menahan
akumulasi energi, bagian-bagian yang lemah akan bergeser, dan energi yang
terlepas pada saat batuan
Ketika pijakan bumi bergeser dapat menimbulkan gelombang seismik yang
dikenal sebagai gempa. Berdasarkan pusat kejadiannya, gempa dapat
diklasifikasikan sebagai gempa dalam, sedang, dan dangkal. Yang paling sering
menelan korban justru gempa dangkal, seperti yang terjadi di Liwa, Bengkulu,
Bantul Yogyakarta, dan Nusa Dua Bali.
REFLEKSI ADAPTASI BENCANA
Letak geografis Indonesia merupakan kondisi yang
sangat rentan terhadap perubahan iklim. Refleksi adaptasi bencana dalam
penataan ruang strategis mitigasi ruang terhadap bencana perlu tindakan kuat
untuk mendorong perwujudan minimal 30% dari luas DAS
untuk kawasan hutan ataupun tata ruang hijau terbuka di berbagai provinsi dan
kabupaten/ kota dalam meningkatkan carbon sink dalam era global saat ini.
Mengarusutamakan konsep ekonomi rendah
karbon dalam penyelenggaraan penataan ruang daripada konsep ekonomi coklat yang
telah banyak merusak lingkungan di era global dengan terbukti meningkatnya
perubahan iklim secara ekstrim. Carbon sink dalam bentuk peningkatan lahan
hutan dengan membatasi pembakaran dan diarahkan pada upaya pemeliharaan hutan
berkelanjutan pencegahan deforestasi dan degradasi hutan, pencegahan illegal logging,
pencegahan kebakaran hutan serta rehabilitasi hutan dan lahan yang sudah lama
berlangsung di wilayah Sumatera dan Kalimantan dan kini mulai merajalela di
kawasan hutan Papua dan Sulawesi. Dan pengembangan ecological dalam pengurangan
emisi karbon GRK dalam penyelenggaraan Penataan Ruang di berbagai daerah di
Indonesia dalam mencegah bencana lingkungan geologi di era global saat ini.
Karena
itu, jika selama ini konsep pembangunan berkelanjutan diyakini sebagai suatu
prinsip yang memperhatikan daya dukung lingkungan, dan menjamin masa depan
kehidupan manusia, maka penerapan prinsip-prinsip keterbukaan, partisipasi, dan
akuntabilitas menjadi sangat penting untuk adaptasi bencana pada tahun 2017.
Selama ini aktualisasi dari prinsip-prinsip tersebut secara efektif memang
belum mampu menjawab permasalahan tingginya laju degradasi lingkungan.
Karenanya negara selaku pelaku mesti bertanggungjawab atas terjadinya bencana
ekologi yang kian massif.
Jaminan negara atas hak lingkungan yang baik dan
sehat, seharusnya memberi kesadaran pada pemerintah dalam pengelolaan SDA yang
harus mempertimbangkan aspek lingkungan. Ini yang sering dilupakan para
pemegang kekuasaan dan kewenangan pemerintah daerah sehingga terjadinya
berbagai bencana ekologi dan geologi di Indonesia. Refleksi bencana tahun 2016
harus menjadi pembelajaran adaptasi bencana keruangan tahun 2017.
M. Anwar
Siregar
Geolog, Pemerhati Masalah Tata Ruang Lingkungan dan Energi Geosfer,
bertugas di Medan
Komentar
Posting Komentar