Mebidang Karo Tidak Aman Gempa
MEBIDANG-KARO TIDAK AMAN GEMPA
Oleh : M. Anwar Siregar
Anda merasakan gempa diwilayah Deli Serdang dalam
selang hampir empat bulan ini? Dengan intensitas kekuatan gempa terus
meningkat? Penulis merasakan dua kali gempa di wilayah Deli Serdang dan gempa yang
terjadi pada malam hari senin tanggal 16 januari 2016 terasa lebih kuat lagi
dengan kekuatan mencapai 5.6 SR. Guncangan itu dinikmati saat penulis lagi
makan malam dan merasakan meja makan bergoyang ke kanan ke kiri beberapa detik
sehingga penulis tersadar cepat untuk memberitahu keluarga dalam hitungan detik
harus segera terburu-buru ke halaman depan rumah. Guncangan itu juga di rasakan
warga Medan, Sergai dan Tebing Tinggi setelah penulis kontak kolega dan
merasakan gempa intensitas IV MMI atau kita merasakan meja bergoyang kuat,
lampu yang tergantung pada platfon ikut menari-nari dan tiang listrik terasa
mau tumbang.
Mengapa guncangan gempa di Deli Serdang terasa kuat? Wilayah Deli Serdang menyimpan energi kuat
gempa dan meningkat pada kejadian sekarang setelah gempa berkuatan 4.3 SR yang
lalu. Tekanan gempa meningkat karena beberapa fakta geologi yang
membelah wilayah Deli Serdang berada dalam zona kegempaan Karo dan Patahan
melingkar di Wilayah Langkat yang telah tercacatkan oleh beberapa patahan yang
memotong geomorfologi daerah tersebut, guncangan memang berlangsung dua atau
tiga detik namun sudah cukup membuat masyarakat panik, Gempa terasa di Medan
itu mencerminkan satu ke satuan hubungan blok batuan yang membentuk pola tata
ruang.
Perhatian pembangunan yang berbasis bencana gempa
penting untuk diimplementasikan sehingga dapat mengurangi bencana. Apalagi
diwilayah Deli Serdang terdapat Bandara Internasional Kuala Namu, ketika gempa
Deli Serdang yang berpusat disekitar Sibolangit-Tiga Juhar ini menunjukan betapa
vitalnya lokasi sarana perhubungan agar mobilitas bantuan dapat terakomodasi ke
daerah rawan bencana.
PATAHAN
DELI SERDANG
Konstelasi
kerentanan gempa di wilayah Deli Serdang merupakan bagian dari satu ke satuan
daerah rawan gempa di wilayah Mebidang, yang berkaitan dengan kondisi dinamika tatanan
geologinya yang memang sudah rawan bencana. Terlihat dari gempa Januari 2017
areal guncangannya mencapai lebih 45 km yang terletak di barat daya Kabupaten
Deli Serdang sejauh 28 km dan 31 km barat daya Binjai serta 33 km timur laut Kabupaten
Karo dan 37 km barat daya ke kota Medan dengan kedalaman 10 km. Gempa dangkal
yang cukup kuat untuk menghancurkan bangunan yang tidak dirancang tahan gempa
atau minimal bangunan tidak dirancang gempa berkekuatan 6.0 Skala Richter. Dan
gempa ini merupakan kelanjutan periode gempa 2016, ada peningkatan skala
kekuatan gempa, diprediksi pergeseran lempeng di Bumi Deli Serdang terus
semakin tertekan dengan adanya akumulasi energi di ruas patahan Renun yang
melintasi Tanah Karo.
Zona rawan
gempa di wilayah Deli Serdang masih berkorelasi dengan zona patahan di wilayah
Tanah Karo, patahan di wilayah Deli Serdang yang terdekat ke inti ibukota
Kabupaten yaitu Kota Lubuk Pakam berada dalam radius 35 km di Patahan Tiga
Juhar di kecamatan STM Hulu yang melintasi kecamatan STM Hilir dan Tanjung
Morawa. Patahan Sibayak yang membelah sebagian daratan Tinggi Karo ke
Sibolangit akan memberikan respon tekanan ke Daratan Deli Serdang dalam hal ini
ke zona patahan Sibolangit.
Patahan
Sibolangit yang melingkar menuju kecamatan Pancur Batu dan langsung tenggelam atau
tertimbun di bawah tanah di wilayah Medan Tuntungan. Patahan di Sibolangit itu
masih bersentuhan dengan kondisi patahan yang membelah Brastagi dan Sibayak dan
ke Patahan Tiga Juhar yang menurun ke arah tenggara menuju kecamatan Tanjung
Morawa dan Deli Tua, dan Patahan Deli Tua membelah daratan rendah ke arah barat
daya Kota Medan. Semua guncangan gempa yang terjadi di wilayah Deli Serdang
akan terasa kuat di Kota Medan dan Binjai.
Patahan
Brastagi-Sibolangit-Tiga Juhar-Pancur Batu dan Deli Tua di belah oleh rangkaian
pegunungan Bukit Barisan dengan geomorfologi jurang terjal, air terjun dengan
ketinggian di atas 10 meter serta gawir-gawir sesar atau cermin sesar (bekas
longsoran yang berdimensi panjang mencapai 5 km) yang membentuk triangular face
itu sangat rentang longsor di sepanjang jalinsum ke lokasi wisata di Brastagi-Sibolangit.
BUKTI
TIDAK AMAN
Untuk
memastikan bukti bahwa Mebidang sekitarnya tidak aman dari bahaya gempa dapat
kita lihat dari kondisi geologi daerah di ruas patahan Renun yang membelah tata
ruang bumi Sumatera Utara yang membentang dari Aceh Tenggara membelah dan
melintasi salah satu wilayah pasangan Mebidang yaitu Kabupaten Karo dan Deli
Serdang, merupakan ruas terpanjang patahan yang berada di wilayah Sumatera
Utara. Satu segmen lainnya yang mengancam wilayah Mebidang adalah gugusan
patahan yang menerus ke pantai timur Sumatera Utara di wilayah Kabupaten Langkat
atau Patahan Bahorok.
Energi
patahan yang terjadi di wilayah ini akan merambat secara melingkar sesuai
dengan arah patahan di wilayah masing-masing dengan menjauhi titik pusat gempa.
Gempa di wilayah Deli Serdang itu menjauhi dengan mendekati wilayah-wilayah
Mebidang dimana terasa getaran gempa mencapai wilayah Medan sejauh 37 km,
wilayah Tebing Tinggi dan Sergai mencapai 40 km dan wilayah Binjai mencapai 31
km serta wilayah Karo mencapai 33 km dari pusat gempa. Intensitas gempa akan
meningkat jika merambat ke wilayah patahan gempa Karo akan ada penggandaan
kekuatan seismik yang berbahaya akibat massa batuan yang tidak kompak sehingga
menimbulkan kerusakan yang masif bagi bangunan.
Wilayah
tata ruang Mebidang itu tidak dirancang berbasis gempa. Jika gempa bumi
berulang dengan peningkatan intensitas gempa berlipat dipastikan ada kehancuran
yang lebih luas karena beberapa fakta antara lain pertama kondisi batuan, bahwa
lebih 50 persen wilayah Karo dan Medan tersusun oleh batuan yang tidak kompak
dan telah mengalami pencacahan akibat gempa-gempa terdahulu, tatanana geologi
batuan wilayah Deli Serdang lebih 60 persen tersusun oleh tanah-tanah rawa dan
sebagian batuan endapan letusan gunungapi yang telah mengalami ubahan sehingga
kecepatan gelombang gempa terus meningkat, peningkatan energi seismik gempa
telah mencapai 5.6 SR.
Jadi
faktor bencana yang paling utama mengancam wilayah Mebidang adalah jenis
bencana geologis gempa dan erupsi gunungapi.
Kedua, terdapat
pergerakan a-seismik pada lokasi di sekitar daerah rawan longsor dengan getaran
gempa kecil dari erupsi Sinabung. dan di bawah bumi Deli Serdang dan Tanah Karo
ada struktur pergeseran lempeng yang saling memotong atau bersilangan hingga ke
wilayah Langkat. Merupakan fakta kedua merupakan faktor jenis bencana kedua
yang mengancam wilayah Mebidang adalah bencana klimatologis
Ketiga,
sebagian besar bangunan di wilayah Mebidang tidak di rancanag gempa, beberapa
mal telah mengalami robohan platfon, belum lagi dinding banyak mengalami retak,
bangunan rumah dan toko juga banyak tidak mengikuti kaidah konstruksi yang
berbasis gempa, serta infrastruktur jalan mudah mengalami peretakan yang lebih
dalam, sebagian wilayh jalan di Medan dan Binjai merupakan daerah tanah yang
labil dan bekas zona endapan kelanjutan patahan tidak aktif di wilayah Medan
Tuntungan dan Pancur Batu.
Jadi fakta
ke tiga merupakan faktor jenis bencana ketiga adalah man made disaster
Keempat,
kepadatan penduduk yang terus meningkat di daerah rawan bencana sehingga akan
memberikan tambahan beban tekanan tanah dan mitigasi yang belum membudaya dalam
membangun tata ruang bencana. Terlihat banyak penggundulan hutan di hulu
wilayah Brastagi dan Sibolangit hingga akan memberikan akumulasi penggandaan
bencana alam bagi tata ruang Mebidang., dan merupakan fakta keempat dari jenis
bencana Eko-Sosial.
Belajar
dari kondisi ini, seharusnya paradigama pembangunan konstruksi sudah harus
berlandasan pada informasi geologi, dan sebagian besar kepadatan penduduk
berada di pinggiran antar kota dalam Mebidang dan jangkauan areal eripsi
gunungapi, getaran gempa dan kiriman maut banjir bandang. Dan tata ruang Medan,
Deli Serdang, Binjai dan Karo seharusnya ada sinergitas dalam mengurangi dampak
bencana baik dalam bentuk bencana gempa bumi, maupun dalam bentuk bencana
banjir serta banjir bandang.
M. Anwar
Siregar
Enviroment Geologist, bekerja sebagai ASNTulisan ini sudah dipublikasi di HARIAN ANALISA MEDAN, Tgl 20 Januari 2017
Komentar
Posting Komentar