Kabut Asap Lagi
KABUT ASAP LAGI
Oleh : M. Anwar
Siregar
”waduh, panas sekali Medan
ini” keluh seorang pengendara motor perempuan ketika melintas ke wilayah Amplas
pagi hari jelang sekitar jam 8-an (26-27/7), penulis juga merasakan panas
pada hari itu bukan jaket penulis tetapi memang panas, panas yang lebih terik dari
hari biasanya jika penulis melewati fly over amplas menuju Tanjung Sari atau
Padang Bulan. Panas kota Medan benar-benar membuat saya harus menguras tiga
botol aqua disebabkan kondisi jalan di Medan sudah hampir botak pohonnya bukan akibat kebakaran.
”ya, begitulah medan rumah
kita” celetuk kawannya bercanda mengutip jargon yang kebetulan ada pamplef yang
masih tersisa di sebuah pohon, dan penulis mendengar lalu menimpali ”koq, bu,
bisa botak ya?” sembari menunjukkan jalan-jalan yang sedang dibangun itu tidak
ada peneduh yang menyejukan. ”ya, namanya juga ini medan, bung” jawabnya
bercanda rupanya menghilangkan rasa sebal melihat jalan yang semakin macet
menambah injeksi panas dan itu belum cukup
Fenomena panas di Medan itu
walau masih pagi rupanya diperparah oleh bencana asap dari propinsi tetangga
yang rupanya sudah tersirat diantara hujan menghasilkan banjir dengan kebakaran
lahan dan hutan yang menghasilkan kabut asap. Fenomena antara banjir dan kabut
asap sudah ditakdirkan untuk dihadapi setiap tahun selama semangat mental pelaku,
pemilik lahan dan penegak hukum masih menggunakan metode persuasif.
”Bah, bukan itu dik, tetapi
kabut asap importir asap tetangga kita” sahut kawan saya dan bersiaplah menghadapi
kabut asap bersamaan dengan panas terik di Medan Rumah Kita.
MUNCUL TITIK API
Belum selesai musim hujan
menghasilkan banjir datang lagi kabut asap. Meskipun masih musim hujan sebagian daerah di Indonesia,
kabut asap di Sumatra sudah mulai muncul. Badan Meteorologi Klimatologi dan
Geofisika (BMKG) mendeteksi 19 titik api di Sumatera sejak 20 Juli sebanyak 12
titik api di Riau, lalu ditemukan 9 titik api di lahan gambut dekat pembangunan
tol di Sumatera Selatan, 12 titik api di Jambi dan peningkatan deteksi api
berlanjut diwilayah Aceh sejumlah titik api (hotspot) sebanyak 19 titik
api pada munggu ke empat juli lalu ditemukan lagi 11 titik api menjelang akhir
bulan juli 2017 yang terpantau aktif dengan terbakarnya lahan gambut mencapai
puluhan hektar.
Dikhawatirkan, titik-titik api
itu berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, terutama di sebagian
Sumatera, dengan muncul kabut asap menyelimuti kawasan Mebidang yang terlihat
jelas di wilayah Amplas hingga ke Tanjung Morawa. Apakah ini berulang
kembali kejadian kabut asap yang berkepanjangan? Sedang musim hujan belum juga
tuntas dengan efek banjir yang ditinggalkan akan menambah beban hidup yang
semakin berat di negeri ini.
Ironisnya, seperangkat aturan
dan sanksi hukum belum juga memberikan efek bagi pelaku dan perusahaan pemilik
lahan untuk mencegah karhutla, sehingga kita terus menghadapi efek kabut asap
menahun.
Apakah sudah mengetahui kalau
Indonesia sudah menghasilkan 6 juta ton ekspor asap ke atmosfir? Kenapa juga
menghasilkan bencana kabut asap lagi? Bencana kebakaran gambut di lima Propinsi
di Sumatera edisi 2017 telah memberi efek kabut asap disebagian Mebidang, apalagi
sudah beberapa hari tidak hujan dan cenderung mengalami musim kering dan curah
hujan yang terbatas menyebabkan lahan mudah terbakar maka bersiaplah menghadapi
musim kabut asap berulang.
ULAH MANUSIA
Bencana kabut asap yang
terjadi di Sumatera akibat ulah manusia yang tidak menjaga keseimbangan alam,
membakar lahan gambut sembarangan dapat menghasilkan bencana kebodohan SDM,
kabut asap dapat menyebabkan penurunan indeks prestasi belajar, karena
dipastikan akan ada ”libur asap panjang”.
Hasil pembakaran hutan hanya
dinikmati segelintir orang, lantas kenapa masyarakat masih ada mau menjadi
bemper kepanjangan tangan oknum untuk melakukan pembakaran hutan? Bahwa kabut
asap dibeberapa Provinsi di Sumatera dapat menimbulkan kerugian bukan saja
untuk Indonesia tetapi juga masyarakat Dunia, kondisi Bumi serta masyarakat itu
sendiri karena tidak dijaganya keseimbangan alam, bahkan dirusak dengan cara
membakar, membuang limbah di hutan serta buang sampah B3 kadang juga di hutan..
”woh, lebih panas dari tadi
pagi dibanding siang ini” gerutu seorang kakek yang melintas di bahu badan
jalan simpang Deli Tua ke Asrama Haji. ”debu beterbangan dan belum lagi macet,
bah” kesal seorang kawan yang sedang menunggu lampu hijau
”nyesel aq, bah! kenapa gak
make masker tadi kalau tahu Medan akan sepanas ini dan macet parah” sungut
kawan saya itu. Dan saya cuma sibuk mencatat omelan mereka. Ini hanya protes
kecil warga.
Ironisnya, pencegahan
kebakaran gambut belum memberikan efek jera bagi pelaku dan upaya penyelesaian
yang signifikan terhadap kasus pembakaran hutan yang lalu, dimana sudah
ditetapkan tersangka pembakaran dan dibebaskan oleh pengadilan ternyata
justrunya dapat memberikan efek jera bagi kota Medan oleh peningkatan suhu
panas yang tinggi menjelang sore, sehingga warganya menjadi ”kepanasan” yang
bukan hasil kerja mereka.
Bencana kabut asap berulang
kembali merupakan salah satu contoh pengelolaan lingkungan hidup yang tidak
tepat. Terjadinya alih fungsi hutan secara serampangan tanpa ada upaya
pencegahan dan penegakan hukum karena belum terbangunnya pemahaman yang sama
antara pemerintah, penegak hukum dan masyarakat dalam menangani kasus kebakaran
hutan, penggundulan, pencemaran dan illegal logging serta berjalan dengan
pemahaman masing-masing.
Tidak terbentuknya kemitraan
yang baik antara pemerintah, penegakan hukum dan masyarakat penyebab utama
berulangnya kembali kabut asap di Sumatera.
KEMANA ANTISIPASI
Kenapa antisipasi penanganan
musibah kabut asap selalu lambat, bukankah pola musim hujan di Riau sudah
terpantau teratur? Yang seharusnya di manfaatkan untuk menyimpan air di lahan
gambut? Begitu juga di Aceh dan Jambi. Ironisnya, terjadi banjir beberapa bulan
lalu di Kampar tidak memberikan hikmat pelajaran karena air bandang itu
sebenarnya dapat juga di simpan sebagai kantong parkir air dengan menyesuaikan
faktor geologis air sehingga dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan dan
lahan namun tidak dimaksimalkan sebelum terjadinya musibah banjir bandang.
Di Kampar dan Bengkalis banyak
terdapat sungai yang seharusnya dapat dibangun sekat kanal, kantong air dengan memahami
geologis pembentuk gambut agar intensitas air di lahan gambut tidak terbuang ke
laut.
Lebih ironis lagi, pemerintah
tidak berkonsentrasi untuk benar-benar mencegah lolos air hujan yang terbuang
percuma dari hilir, pemimpin di negeri penghasil asap ini lebih fokus mencegah
permukaannya saja dan rehabilitasi serta reboisasi daerah yang mengalami
pembakaran sangat lambat sehingga banjir tak dapat dikendalikan. Pembangunan
sekat kanal merupakan solusi hilir dari kebakaran hutan dan lahan. Namun yang
lebih penting, kenapa pemerintah dan swasta tidak secara intensif melakukan
perbaikan kubah gambut yang selama ini hilang akibat kanalisasi sehingga tidak
mampu lagi menyimpan air. Alhasil, hutan gambut jadi mudah terbakar.
Kala musim hujan adalah waktu
yang tepat dalam mengantisipasi sumber kebakaran atau dapat digunakan sebagai
gudang air untuk menghadapi musim panas sehingga tidak kewalahan dalam menghadapi
amukan sijago merah setelah pola musim hujan lewat sehingga gambut memiliki
cadangan air dapat mengurangi dampak kekeringan.
Target penurunan emisi versi
era SBY tahun 2020 rasanya sudah terlambat. Target versi Jokowi emisi turun
sebelum 2025 masih ada waktu namun tetap lambat dengan munculnya kabut asap sejak
periode mereka memimpin negeri ini hingga ke tahun 2017. Sebenarnya pemerintah
selama ini dinilai sebagai sumber masalah kehutanan dengan kebijakan perijinan
yang dikeluarkan menyebabkan banyak dampak bencana dan mungkin sebagai pembunuh
utama kota-kota di Indonesia dan tidak mengherankan kalau banyak warga di Medan
mengeluh dan saya harus banyak membawa botol air putih dari biasanya sebotol
aqua.
M. Anwar
Siregar
Geologist. Pemerhati
Masalah Tata Ruang Lingkungan dan Energi-Geosfer
Dipublikasi HARIAN ANALISA MEDAN, 3 Agustus 2017
Komentar
Posting Komentar