Tapsel-Padang Sidimpuan diatas Patahan Gempa Maut
TAPSEL-PADANG SIDIMPUAN DIATAS PATAHAN GEMPA MAUT
Oleh : M. Anwar Siregar
Dalam
selang dua hari berturut wilayah Propinsi Sumatera Utara terus
mengalami gempa cukup kuat, di mulai dari gempa Samosir dengan kekuatan
5.2 Skala Richter dengan kedalaman 8 km hingga ke gempa
Padangsidimpuan-Tapsel dengan kekuatan gempa 5.5 SR, dengan kedalaman
10 km yang berada tepat diatas patahan Angkola dan terlihat ada
peningkatan kekuatan gempa di wilayah Propinsi Sumatera Utara, dan
diketahui selama ini pusat gempa biasanya berlangsung diwilayah
Mandailing Natal ke batas wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.
Namun pada kejadian gempa yang terjadi Jumat 14 Juli 2017, gempa
berlangsung pada zona Patahan Angkola Padang Sidimpuan-Sipirok, yang
tepatnya pada jalur lanjutan patahan Aek Latong ke barat daya Angkola
Barat (Tapsel) melengkung menyudut tajam ke Angkola Julu yang secara
kasat mata, dapat tergambarkan oleh zona patahan geologi berupa
graben-graben kecil dengan jurang tajam, di zona itu terdapat timbunan
zona patahan tidak aktif melajur memanjang beberapa meter yang membelah
tata ruang Kota Sipirok dan Kota Padang Sidimpuan yang perlu diwaspadai
saat ini, apalagi data menyebutkan kejadian gempa tersebut berlangsung
selama 20 detik (Sumber BMKG) dan terasa goncangannya hingga Provinsi
Riau.
Di zona mematikan
Wilayah tata ruang Kota Padang Sidimpuan dan Sipirok dilintasi zona
gempa yang mematikan, dari zona patahan ini masing-masing memiliki
sebaran yang mengancam kawasan yang terdekatnya serta memiliki dimensi
sesar yang cukup panjang untuk membangkitkan responsibilitas seismik
yang berkelanjutan. Dan wilayah Tabagsel (Tapanuli bagian Selatan yang
meliputi Madina, Tapsel, Padangsidimpuan, Palas dan Paluta) serta
sebagian wilayah Rohil dan Pasaman Sumatera Barat memiliki lajur yang
sama dalam tata ruang pergerakan seismik batuan yang mengalami
pergeseran kerak bumi. Lajur patahan yang memanjang itu memiliki
ruas-ruas yang membahayakan tata ruang kota-kota tersebut.
Sebabnya, Kota Sipirok dan sekitarnya tepat di atas zona patahan
Renun-Toru-Angkola lajur panjang sesuai dengan lekukan tubuh Pulau
Sumatera, jejak longsoran purba yang telah tertimbun oleh material tufa
Toba Purba dan material tanah endapan alluvial serta pelemparan
material vulkanik dari letusan gunungapi Sibual-buali, menerus ke titik
hunjaman patahan Renun dan Toru berada tepat di kawasan Aek Latong
sekitarnya. Daerah ini terlihat sebuah lembah daratan yang mengalami
penurunan, sedang pusat kota berada dalam jalur-koridor sesar/patahan
yang tidak aktif akibat penimbunan material gunungapi purba
Sibual-buali dan Toba Purba.
Di masa depan, beban pikul massa batuan dan percepatan puncak dasar
batuan akan mengalami pergeseran jika terus ada beban tambahan karena
mengingat lapisan batuan telah mengalami penguraian massif sehingga
sering kita lihat ada longsoran kecil, ada undakan akibat tekanan dalam
bumi dan pelengkung sarana infrastruktur secara tiba-tiba, penulis sudah
mengamati perkembangan ini sejak Aek Latong baru di bangun dan bukti
itu terlihat pada undakan dan longsoran hingga menuju daerah
Simanguban-Tapanuli Utara.
Ke arah selatan Kota Padangsidimpuan, lajur patahan dari Sipirok
terlihat melengkung ke arah tinggian Sitinjak di Kecamatan Angkola
Barat-Tapsel, melajur terus memasuki wilayah kota Padangsidimpuan
terutama di Angkola Julu yang merupakan sebagian lanjutan Graben
Padangsidimpuan-Sayur Matinggi. Pusat gempa darat yang terjadi
disekitaran ini.
Lanjutan Patahan Angkola dari wilayah Angkola Barat dan Angkola Julu
jelas kentara berada tepat di wilayah Kota Padang Sidimpuan yang
memanjang melewati Padang Matinggi hingga ke batas Lubuk Sikaping di
Sumatera Barat dan sebagian melengkung lagi ke wilayah Palas hingga
Rokan Hulu dan Rokan Hilir di Riau. Getaran gempa yang terjadi pada ruas
patahan Angkola di barat daya dan barat laut sekitar 9 km dari kota
Padangsidimpuan dan 11 km dari wilayah Angkola Timur-Tapsel memang
terasa kuat karena tatanan geologi di daerah tersebut serta merupakan
sumber bencana di masa mendatang karena sebelum kejadian gempa, terjadi
bencana longsor dan banjir bandang di wilayah Angkola Julu beberapa
bulan lalu.
Getaran kuat sangat terasa walau skala pada kisaran 5.5 SR karena
pusat gempat yang sering terjadi pada patahan Angkola adalah kedalaman
10 klm termasuk gempa dangkal, Segmen Angkola adalah bagian ruas
patahan besar Sumatera dan sejarah mencatat kalau terjadi gempa pada
segmen Angkola sering pada kedalaman dangkal, dan pusat tata ruang kota
di Tabagsel berada dalam jangkauan gempa dangkal dan ini penyebabnya
kenapa masyarakat begitu mudah panik dan goyangan terasa lama berhenti
hingga kadang mencapai lebih 20 detik walau kekuatan gempa tidak kuat.
Aktivitas gempa pada zona sesar Sumatera sering membangkitkan
seismik pada patahan Angkola adalah mekanisme sesar mendatar atau strike
slip faul dan sesar-sesar kecil yang tercacah-cacah itu membelah semua
tata ruang Tapsel dan Padang Sidimpuan dapat terbangkitkan untuk
menghasilkan gempa yang mematikan. Dan perlu kita ketahui bahwa lajur
panjang Segmen Angkola mencapai 214 km hingga masuk wilayah Sumatera
Barat.
Intropeksi tata ruang
Perlu pemetaan zonasi tata ruang sebagai bagian introspeksi tata
ruang yang selama ini beberapa daerah di Tabagsel belum mewujudkan tata
ruang tahan bencana dengan melibatkan unsur dasar informasi geologi
fisik secara mendalam sehingga menelan korban jiwa yang besar jika gempa
terjadi, terabaikannya data geologi terutama data bawah permukaan
dimana wilayah Sipirok dan Padangsidimpuan telah diidentifikasi
memiliki kerentanan bencana gempa yang tinggi.
Peta seismotektonik selama ini belum digunakan secara detail yang
mencakup segala jenis level kerentanan zona gempa dan mencatat sejarah
kegempaan yang berulangkali terjadi gempa bumi di wilayah yang sama.
Bertitik tolak dari fakta tersebut ada beberapa poin ilmiah yang
mesti menjadi pembelajaran dan harus menjadi PR serta pemikiran yang
sungguh-sungguh bagi segenap pelaku bisnis, masyarakat dan pemerintah
atau stake holder untuk melakukan introspeksi etika tata ruang antara
lain pertama, Indonesia mungkin belum dapat menciptakan teknologi
mutakhir seperti Jepang yang telah menciptakan berbagai teknologi untuk
mengantisipasi terjadinya bencana. Akan tetapi apa yang telah
diterapkan Jepang, dapat dijadikan contoh dan referensi bagi Indonesia
untuk langkah penyelamatan daerah rawan bencana seperti di Tapanuli
bagian Selatan, Samosir, Aceh, Sumatera Barat dan Gorontalo Sulawesi.
Kedua, sebaiknya kita merenung dan mengimplementasikan secepatnya
paradigma pembangunan yang berwawasan lingkungan dengan mengendalikan
hawa nafsu untuk merusak lingkungan, menegakkan konsistensi
aturan-aturan zonasi yang telah dibuat, menjaga etika aturan tata ruang,
belajar untuk selalu mengembangkan diri dengan menggunakan SOP
(standar operation prosedure) yang cepat dan bermanfaat serta
manajemen mitigasi bencana yang tepat, cepat dan akurat kepada
masyarakat
Contoh ini dapat dilihat pada kejadian gempa Pidie yang baru terjadi
bulan Desember 2016 lalu itu karena faktor batuannya yang tidak kompak
dan terbentuk usia kuater atau batuan yang masih mudah sehingga rambatan
gelombang berlipat ganda dan melipat gandakan kerusakan bangunan yang
ada diatasnya walau kekuatan gempa tidak kuat.
Implementasi pada kejadian yang lewat belum “terpraktekan” pada
kota-kota yang mengalami gempa kemudian, gempa Padang Sidimpuan dan
Tapsel banyak rumah mengalami kerusakan dan aktivitas tata ruang utama
kota berada di atas lajur patahan mematikan dengan jumlah penduduk yang
mulai padat.
Ketiga, etika kewaspadaan dalam bentuk pendidikan ilmiah, masyarakat
dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, memahami literatur kota
tempat mereka berada, peta-peta, UU Tata Ruang dan pemerintah wajib
terus mensosialisasikan peta ilmiah tata ruang, meningkatkan mitigasi
tata ruang dan pendidikan kebencanaan di daerah rawan gempa.
Sesungguhnya Tapsel dan Padangsidimpuan memang berada diatas
patahan yang mematikan, perlu introspeksi untuk mengendalikan jumlah
korban dan kerugian materi karena bencana yang sekarang merupakan
gambaran ke masa depan.***
Telah dipublikasi di Harian ANALISA MEDAN. 27 Juli 2017
Penulis adalah Pemerhati Masalah Tata Ruang Lingkungan dan Energi Geosfer.
Komentar
Posting Komentar