Dewata Tak Kuasa Agung Meletus (Erupsi)
DEWATA TAK KUASA AGUNG MELETUS
Oleh : M. Anwar Siregar
Saya jadi tersentak mendengar lirik lagu “Kembalikan Baliku” yang di putar dari rumah
tetangga kawan saya yang kebetulan orang Bali, kalau tidak salah ingat saya,
lagu yang pernah populer dan memenangkan lomba musik tingkat Asia Tenggara di
era 90-an terdengar menghentak, dan jadi teringat dengan kondisi level awas
Gunung Agung dan sepertinya Dewata mungkin tak kuasa menahan Gunung Agung meletus
dan kondisi ini juga mengingatkan saya kepada Gunung Sinabung yang baru
beberapa hari lalu menyeburkan asapnya ke angkasa raya dan dipastikan salah
satu “gunung yang harus bertanggung jawab” atas perubahan iklim di kawasan
Sumatera bagian Utara.
Gambar : Gunung Agung (Sumber foto Geomagz.geologi esdm.go.id)
Belum pulih beberapa letusan gunung berapi di
Indonesia dan kini dunia menanti letusan Gunung Agung yang mungkin “maha agung”
letusan yang akan di muntahkannya ke angkasa raya, lalu berlanjut dimanakah
gunung berapi berikutnya yang akan meletus lebih dahsyat lagi agar para ahli
geologi dan vulkanologis semakin sibuk dan mungkin juga dapat memberi pekerjaan
bagi yang masih menganggur? Atau adakah gunung berapi yang akan naik kelas lagi
setelah sekian lama “malas meledak” hingga nilai rapor tetap sama (status tipe)
seperti yang sering dilaporkan oleh para petugas “vulkanologis” dan mengikuti
jejak gunung berapi Sinabung?
Suatu pertanyaan sangat memusingkan dan menakutkan
karena peristiwa gunung berapi dan gempa bumi disepanjang ring of fire yang
“membungkus” wilayah Indonesia dari Utara di Pantai Barat Sumatera hingga ke
Utara Maluku dan Sulawesi Utara sudah sering terjadi “arisan” bencana geologis.
Gempa dan letusan gunung berapi sudah harus dijadikan renungan bagi Bangsa Indonesia
bahwa bencana geologis dapat terjadi kapan dan dimana saja untuk dijadikan
peningkatan kewaspadaan mitigasi dini.
KHARISMA AGUNG BALI
Menyebut Bali, maka terbayang sebuah potongan
keindahan surga dunia yang terlahir di Bumi Nusantara, Bali sebuah pulau yang
eksotis, menyihir masyarakat dunia untuk datang berkunjung ke Pulau Dewata,
sebuah sebutan nama lain untuk Pulau Bali karena kaya budaya yang melingkupi
kehidupan mereka. Bali memang identik dengan fenomena keindahan alam dan
budayanya yang sudah lama melekap sejak zaman dahulu sejak era Majapahit untuk
menguasai Nusantara Raya.
Saat ini Bali semakin menjadi pusat perhatian
dunia, bukan lagi karena pesona alamnya, melainkan sebuah ancaman yang akan
mengguncang Bali. Karena dibalik keindahan Pulau Dewata ini, juga menyimpan
potensi ancaman bencana geologis maha dahsyat. Bencana geologis ini merupakan
salah satu faktor yang membentuk keindahan alam Bali, dan jika ditelusuri jejak
pembentukan pulau Dewata maka akan ada jejak geologis di masa silam yang terlihat
pada keindahan geopark pertama Indonesia, berada di kawasan Geopark Gunung
Batur yang membentang luas di Pulau Bali.
Gunung Agung sendiri tampak terlihat di sisi Timur
Pulau Bali yang menjulang dengan ketinggian 3.142 meter diatas permukaan laut.
Gunung Agung adalah gunung berapi yang telah meledak sejak tahun 1800-an, mulai
tahun 1808, lalu meledak lagi di tahun 1821 dan menyusul di era ketika mitigasi
global mulai modern dan merenggut nyawa sebanyak 1.000 jiwa lebih pada tahun
1963. Semua ledakan yang dihasilkan oleh Gunung Agung sangat dahsyat dan hingga
terjadi perubahan iklim global.
Kharisma Gunung Agung nampak jelas pada setiap
ledakannya, Gunung Agung memang merupakan salah satu gunung berapi yang menjadi
salah ritual kepercayaan masyarakat Hindu Bali yang kental dengan pendewaan
terhadap alam termasuk Gunung Agung sebagai tempat suci karena dianggap tempat
bersemayam Dewa Siwa, seperti halnya gunung Rinjani di Lombok, masyarakat Hindu
Jawa mendewakan Gunung Semeru dan Gunung Bromo, semua kharisma gunung tersebut
dianggap suci dan selama melakukan peribadatan masyarakat selalu berusahan mendekatkan
diri dengan alam.
Namun sekarang, geliat Gunung Agung mulai menunjukkan
gejala erupsi setelah “bertapa” di Pulau Dewata selama 54 tahun. Adakah
hubungan dengan gejala tingkah laku manusia? Karena sesungguhnya gunung
memiliki hak untuk mengatur atau mendaur ulang diri serta menegur manusia yang
telah melebihi batasan merusak lingkungan. Bali saat ini dalam pandangan
masyarakat sarat dengan beban “moral” manusia, karena banyak mengalami
perubahan lingkungan akibat pembangunan fisik terutama di kawasan sanggahan
hijau yang umumnya berada di kawasan Gunung Agung dan juga mendekati kawasan
warisan taman bumi Gunung Batur yang telah menghancurkan zona sanggahan hijau,
dan inikah penyebab Gunung Agung menggeliat karena merasakan adanya “paku
beton” menancap tajam di tubuhnya? Dan ini juga mengingatkan saya pada Gunung Sinabung
karena telah banyak penduduk tinggal di kawasan buffer zone Sinabung hingga dia
bangun dari tidur panjangnya.
Tidak salah, lagu “Kembalikan Baliku” mulai sering
terdengar lagi, karena memang Dewata wajahnya tidak “setampan (seindah)” dulu
karena sudah banyak tergadai, dan ini juga mirip dengan kawasan wisata Brastagi
hingga ke Gunung Sinabung berlanjut juga ke kawasan Danau Toba. dan kadang saya
dengar juga lagu “cintamu telah berlalu” karena engkau tak seperti yang dulu.
Apa hubungannya? Cari tahu saja.
ANTARA AGUNG-SINABUNG
Hingga tulisan ini dibuat, Gunung Agung belum
meletus, dan Dewata tinggal menghitung hari “dinamit agung” meledak. Dewata
sepertinya tidak sanggup menahan “kemarahan” Agung untuk melampiaskan rasa
“sakit tubuhnya” akibat perbuatan manusia terhadap dirinya, dan mendadak lagu
berganti, kali ini terdengar lagu “Sakit tuh disini”, mungkin cocok juga dengan
kondisi Gunung Agung tersakiti oleh perbuatan manusia pada salah satu tubuhnya
sehingga lagunya Citata terdengar.
Gambar 2 : Gunung Agung berstatus Awas (Sumber : Ridho Robby,/Kumparan)
Kondisi ini juga mengingatkan pada gambaran
letusan Gunung Sinabung di Karo, ketika itu Gunung Sinabung membutuhkan waktu
lama menyemburkan muntahan dalam tubuhnya akibat geliat pembangunan fisik yang
berada di kaki Gunung Sinabung, letusan Gunung Sinabung merupakan sebuah
pembelajaran bagi kita yang telah diberi nikmat, kebetulan juga antara Gunung
Agung dan Gunung Sinabung merupakan lokasi objek wisata utama di Indonesia yang
telah memberikan penghidupan namun manusia melebihi “batas” yang diberikan. Keduanya
seperti menegur dan mengingatkan karena Bali dan Sinabung tidak seapik dan tidak
seindah dulu, tatanan lingkungan hijau yang selalu selaras kini berganti dengan
lingkungan beton raksasa, daerah elok berubah menjadi perhotelan.
Tidak salah lagi, jika dibandingkan di era
sekarang, Bali bagaikan permata yang (mulai) hilang, dan jadilah saya menikmati
lagunya Yuni Shara “permataku yang hilang” dari alunan seorang pengamen ketika
saya sedang menuju Sibolangit, untuk melihat aktivitas semburan Gunung
Sinabung.
DEWATA TAK KUASA
Prediksi letusan yang akurat dalam meminimalisasi
jumlah korban jiwa yang tepat dan akurat sangat berguna untuk menyelamatkan
banyak nyawa dan di era Gunung Agung yang lagi menggeliat, kemampuan mitigasi
telah semakin modern dan maju dan tidak ada cerita tidak mampu “menekan” jumlah
kerugian dan jumlah korban yang berjatuhan.
Gunung Agung bukan tidak bisa di prediksi, yang
perlu dipahami saat ini adalah bagaimana upaya relokasi masyarakat yang berada
di Kawasan Rawan Bencana (KRB) plat merah, karena gejala erupsi Gunung Agung
itu sedang menuju ke puncak, dengan beberapa fakta antara lain telah terjadi
lebih 330 kali gempa vulkanik dangkal dan berulangkali gempa tektonik lokal dan
gempa tektonik jauh, dan posisi aliran blok lava panas sedang menekan lereng-lereng
di puncak dengan ditemukannya oleh retak-retak baru dari jalur ledakan tahun
1963-1964 yang telah tertimbun lahar dan lava. Sebuah jalan untuk keluarkan
“muntahan 54 tahun” ke udara dan kondisi retak ini merupakan gambaran efek ke
depan yang perlu diwaspadai yaitu efek gempa tektonik dan vulkaniknya hingga
akan menggoyang dapur magma lebih keras karena akan mengakumulasi energi
tekanan fluida kearah samping ataukah ke puncak. Sangguhkah Dewata menahannya?
Mari kita tunggu tanggal “nobarnya”.
Kapankah kepastian nonton bareng letusan ini akan
berlalu? Sedangkan Sinabung belum juga “tidur?” Sabarlah dan dengarkan lagu
“badai pasti berlalu” dan semoga “kemesraan” tererat kembali setelah manusia
bertobat.
M. Anwar Siregar
Pemerhati Tata Ruang Lingkungan dan Energi Geosfer Tulisan ini sudah dipublikasi di HARIAN ANALISA MEDAN,
Komentar
Posting Komentar