Gempa Iran dan Building Code Gempa
Gempa Iran dan Building Code Gempa
Oleh M. Anwar Siregar
Terjadi lagi gempa, kini giliran Iran-Irak dengan
kekuatan 7.3 SR, gempa yang cukup kuat dan renungan bagi Indonesia
untuk selalu mempersiapkan kewaspadaan dini terhadap bencana
geologis, sebab tatanan geografis gempa lebih mendominasi ancaman
bagi kehancuran tata ruang kota yang ada di Indonesia, terbukti
Aceh, Nias, Padang, Yogyakarta dan beberapa kota lainnya di
Indonesia telah merasakan dampak dahsyat gempa bumi dengan kerugian
mencapai ratusan milyar dan berakibat dengan menurunnya kualitas
tata ruang lingkungan.
ilustrasi
Tatanan Gempa Iran
Gempa Iran-Irak dengan kekuatan 7.3 SR dan terasa getaran mencapai
wilayah Mediterania, merupakan indikasi masih ada kekuatan gempa yang
masih mengancam wilayah Iran-Irak dan Turki serta beberapa kawasan
di Arab, dan Asia Selatan.
Gempa Iran tidak ada hubungannya dengan banyaknya terjadi gempa di
Eropa terutama di wilayah Italia yang berada di titik jantung gempa
Eropa, namun sesungguhnya di sebabkan oleh pergerakkan Lempeng Eurasia
dan Lempeng Arab yang mendekati Lempeng Asia dan dimana Patahan
Pegunungan Zagros dan Patahan Anatolia yang membelah kawasan Iran-Irak,
Patahan Pegunungan Zagros adalah pegunungan dengan panjang patahan
mencapai 1.500 km, dari Iran barat laut dengan berbatas dengan Irak
sekaligus membelah kedua negara tersebut, dan merupakan daratan tinggi
Iran yang berakhir di Selat Hormuz
Iran termasuk negara dengan kerentanan gempa yang tinggi karena
setting geologinya dikeliling pembentukan rangkaian sabuk pegunungan
yang banyak mengalami pelipatan (fold trust belt), dibentuk oleh dua
tumbukan lempeng tektonik yaitu, Lempeng Eurasia dan Lempeng Arab. Dari
beberapa literatur menyebutkan pembenturan lempeng ini sangat aktif
sehingga tidak mengherankan mengapa kota Bam akhir bisa mengalami
gempa setelah 1000 tahun tidak merasakan gempa dan wilayah Iran telah
banyak mengalami deformasi kerak bumi dengan berevolusi hingga sekarang
dan di distribusi merata di wilayah Iran-Irak, Iran-India-Pakistan dan
Iran-Turki, dimana Patahan Zagros sebagai titik sentral pusat gempa
daratan Iran dan yang membagi dua setting deformasi sabuk kebencanaan
gempa di Selatan Timur Iran yang bergerak 10 mm per tahun dan sabuk
deformasi di Barat-Utara yang bergerak pendek 5 mm per tahun, miring ke
arah Patahan Anatolia di Utara Turki sepanjang semanjung jazirah Arab.
Gerak tumbukan yang berlangsung secara evolusi itu tidak membuat
kondisi gerak Lempeng Arab bisa menyusup namun telah mengalami ruas
terkunci yang pada akhirnya menimbulkan pengangkatan kulit bumi
sebagai puncak ketinggian yang membelah wilayah Iran yang kini di kenal
sebagai rangkaian pegunungan Zagros dan merupakan bagian dari
rangkaian pegunungan yang merentang dari Turki sampai Himalaya melalui
Iran. Dibagian barat Iran, rangkaian pegunungan mengarah ke barat
laut-tenggara. Dibagian timur, arah membelok ke timur laut dan menuju
ke perbatasan dengan Afganistan dan ke arah barat daya-timur laut ke
Pakistan,
Proses tekanan pada bagian dalam mengakibatkan adanya pertemuan
antar kulit bumi sebagai bidang tumbukan antar lempeng, merupakan titik
tempat akumulasi energi stress batuan dan berpotensi menjadi mesin
gempa bumi pada daerah tumbukan (collisiaon zone) yang membentuk busur
yang membelah kawasan Iran-Irak dengan Arab Saudi dan Turki hingga ke
India ke perbatasan daerah Assam-Pakistan dan Afganistan.
Kompleksitas gempa Iran dapat diperlihatkan lagi oleh penekanan
gerak lempeng, misalnya di sebelah Barat, Benua Afrika membentur
Lempeng Eurasia bagian baratnya dan membentuk rangkaian pegunungan di
Turki dan Balkan, jadi tidak mengherankan mengapa warga yang berada
diwilayah Arab yang meliputi Iran-Irak, Arab Saudi-Turki serta Suriah
dan sebagian Yordania maupun Kota di Mediterania di sepanjang jalur ini
merasakan gempa Iran berkekuatan 7.3 Skala Richter. Hal ini juga terjadi
pada sebelah Timur, diwilayah ini subkontinen India (Lempeng India)
akan selalu bergerak ke Utara Benua Asia untuk membentur Lempeng
Eurasia dibagian Timurnya dan membentuk Pegunungan Himalaya yang
menjulang tinggi dan juga merasakan efek gempa Iran yang berada di India
dan sebagian Pakistan karena kedua jalur tersebut berada dalam satu
kesatuan blok batuan yang bergerak bersamaan, mengayun berirama.
Sumber Gempa Iran
Sebagian besar sumber gempa Iran dan Irak maupun sebagian Turki
berada di jalur patahan gempa bumi sepanjang 1.500 km di Pegunungan
Zagros yang terletak dibagian selatan Iran, energi ketegangan sering
terakumulasi di wilayah Pegunungan ini. Perbandingan ini bisa kita lihat
juga ke patahan besar Sumatera yang membelah Pulau Sumatera sepanjang
1.600 km dari utara Aceh hingga ke selatan Lampung yang berakhir di
Selat Sunda. Kedua zona patahan ini (Patahan Pegunungan Zagros dan
Patahan Sumatera/Semangko) sering tertekan oleh pembenturan dua lempeng
besar yaitu Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia dengan sub
lempeng masing-masing Lempeng Arab dan Lempeng Sunda/Sumatera yang terus
mengubah deformasi geodinamis kerak bumi sehingga selalu ada
pengangkatan atau ketinggian permukaan dari pegunungan Zagros di
Iran-Irak dan Pegunungan Bukit Barisan yang menjadi tulang punggung
Pulau Sumatera di Indonesia.
Tumbukan antara Lempeng Arab dan Lempeng Eurasia akan mendorong
ketinggian kulit bumi di pegunungan Zagros sehingga akan selalu ada efek
deformasi kulit bumi dan menimbulkan energi medan stress sistem
pembenturan lempeng di wilayah Iran dan Iran termasuk negara yang
penulis catat sebagai salah satu diantara 20 negara sangat rawan gempa
dan mengubah posisi tatanan geologi disekitarnya
Karena posisi tatanan sumber geologi gempa Iran seperti tersebut
diatas, maka gempa bumi di Pegunungan Zagros selain episenternya
dangkal, juga akan disertai tanah dan bergeser permukaan bumi, dan
pergeseran permukaan bumi ini menambah amplikasi kerusakan pada
bangunan, lihat juga gambaran pada gempa di Sumatera, karena
sesungguhnya gempa sering berlangsung baik di patahan daratan
Sumatera, patahan daratan di pegunungan Zagros dan patahan Sagaing
maupun patahan Longmen Shan hampir sama, yang membedakan posisi
geografis kota dan kepadatan tanah.
Mengapa Iran sering mengalami gempa? Pertanyaan ini juga sama kenapa
Indonesia sering mengalami gempa? Bisa dilihat dari mekanime sumber
gempa yang menyebab gempa dan kebanyakan diakibatkan oleh posisi
pergerakan lempeng yang selalu menghasilkan deformasi bumi, karena
bumi tidak membesar, tetap dan perlu ruang untuk menekan energi
terkunci dan menghasilkan gempa dan sebuah tantangan untuk selalu
memperhatikan aturan rancangan bangunan atau building code.
Abainya Building Code
Faktor kekuatan konstruksi bangunan yang tidak berketahanan gempa
penyebab jumlah korban telah mencapai diatas 450 jiwa dan harus menjadi
introspeksi etika ilmiah untuk rancang bangunan dan tata ruang kota.
Karena kenyataan saat ini sama dengan kita di Indonesia, maupun
masyarakat di negara Tiongkok, Afganistan, Turki ataupun India,
Pakistan dan Iran-Irak umumnya bangunan mengalami kehancuran sebab
satu, yaitu terabaikannya building code sebagai bencana sekunder,
penyebab banyaknya korban jiwa dan mengalami luka berat, menyalahi
aturan tersebut serta tidak mematuhi aturan Undang-Undang Tata Ruang
(UUTR). Introspeksi etika zonasi tata ruang dan bangunan merupakan
salah satu faktor untuk mengendalikan kerakusan manusia dalam merusak
lingkungan.
Harus disesuaikan peruntukkannya dan konstruksi bangunan yang
menjadi tempat masyarakat beraktivitas yang dibangun secara permanen
dari bahan tanah mentah yang belum memenuhi kaidah rancang bangunan
seperti bata belum dibakar atau mentah, tidak diplaster, tidak saling
bersambung terikat antar kolom akan sangat rawan terhadap guncangan
gempa bumi. Semua negara rawan gempa harus memenuhi persyaratan
konstruksi tahan gempa.
Sesungguhnya gempa bumi dimana saja terjadi di suatu negara yang ada
di bumi bisa ditekan jumlah korban jiwa dan kerusakan bangunan apabila
mematuhi dua aturan yaitu building code dan UUTR.***
Penulis adalah Pemerhati Tata Ruang Lingkungan dan Energi Geosfer. Sudah dipublikasi di HARIAN ANALISA MEDAN, 18 NOVEMBER 2017
Komentar
Posting Komentar