Waspada, Giliran Jawa Barat Arisan Gempa
WASPADA, GILIRAN JAWA BARAT “ARISAN GEMPA”
Oleh : M. Anwar Siregar
Bencana alam seakan tidak pernah berhenti menimpa
wilayah Indonesia, gempa bumi, gerakan tanah (longsoran), tsunami dan banjir
sering kerap datang bergantian bagaikan “ibu-ibu yang sedang arisan bulanan”.
Gempa yang terjadi lagi di Jawa Barat merupakan akumulasi dari berbagai tekanan
dari gerak relaksasi bumi yang belum seimbang, karena tekanan gempa akibat
tumbukan lempeng di Samudera Hindia-Mentawai sepanjang tahun ini dari Aceh
hingga selatan Jawa telah mengalami tekanan dan mengalihkan responsibilitas
energi seismik kearah selatan Pulau Jawa bagi Barat terutama kearah tekanan
sesar-sesar di Jawa Barat. Dimana pantai Selatan Jawa terdapat Patahan yang
membelah Pulau Jawa menjadi tiga bagian utama zona blok batuan yang melingkupi
Jawa bagian Barat, Jawa bagian Tengah dan Jawa bagian Timur dengan kompleksitas
probabilitas energi gempa yang sangat rumit dan saling berlawanan.
Gambar : gempa Jawa Barat di selatan Jawa
Pulau Jawa
merupakan bagian dari suatu busur kepulauan yang dikenal sebagai busur Sunda
(Sunda Arc) yang terletak di tepi Asia Tenggara dan terbentang mulai dari
kepulauan Andaman-Nicobar di barat sampai busur Banda (Timor) di timur. Busur
Sunda merupakan busur kepulauan hasil dari interaksi lempeng samudera (disini
lempeng India-Australia yang bergerak ke utara dengan kecepatan 7 cm pertahun)
yang menunjam di bawah lempeng benua (Lempeng Eurasia). Penunjaman lempeng
terjadi di selatan busur Sunda berupa palung (trench) yang dikenal sebagai
palung Jawa. Disamping itu, penunjaman lempeng juga menghasilkan sepasang busur
volkanik dan non-volkanik. Busur volkanik terdiri dari rangkaian gunung berapi
yang menjadi tulang punggung pulau-pulau busur Sunda, sedangkan busur
nonvolkanik merupakan rangkaian pulau-pulau yang terletak di sisi samudera
busur volkaniknya.Seperti Nias dan Kepulauan Mentawai, Simeulue hingga ke
Pulau-pulau NTT.
Berdasarkan posisinya diatas, Pulau Jawa termasuk
daerah kerentanan gempa yang sangat tinggi dan ini merupakan daerah berikutnya
setelah Sumatera yang akan mudah mengalami perobekan (rupture) dan penghancuran
blok-blok batuan yang menyusun bentangalamnya di bandingkan Kepulauan Maluku
dan Halmahera yang tiap bulan mengalami guncangan diatas 6.0 Skala Richter.
Hal ini disebabkan percepatan gelombang dasar
batuan umumnya maksimun 300 tahun sekali, tersusun oleh 90 persen batuan
vulkanik berumur kuarter, siklus energi kegempaan di Pulau Jawa tidak pernah
mencapai 50 tahun sekali melepaskan energi kegempaan dengan intensitas
magnitude maksimun 7 SR. Dan disebelah Selatan Jawa itu terdapat palung yang
sangat dalam mencapai 2500 km, penekanan efek lempeng ke sesar-sesar daratan
Jawa Barat merupakan jawaban kenapa gempa masih berlangsung di Provinsi Jawa
Barat.
PALUNG JAWA
Sebelumnya kita sudah mengetahui bahwa Jawa Barat
pada tahun 2007 telah mengalami gempa di pantai
Pangadaran disertai tsunami. Kekuatan gempa Pangadaran itu mencapai
kekuatan 6,9 SR dengan tekukan yang menunjam zona patahan di Palung Jawa
sehingga akan ada cermin peringatan sebenarnya bahwa Jawa Barat masih akan
berlangsung gempa-gempa besar seperti yang dialami Provinsi Aceh. Dan gempa
Tasikmalaya 2017 dengan kekuatan mencapai 6.9 SR itu semakin memberikan
informasi kuat bagi daerah sekitarnya untuk mempersiapkan tata ruang berketanan
bencana gempa bumi dan gunungapi, sebab Jawa Barat memiliki potensi kedua
bencana geologis tersebut.
Data citra geologi yang penulis gunakan yaitu
melalui satelit google dan Satelit Lansat-NOAA tampak jelas mencerminkan hal
itu, karena Gempa Yogyakarta telah memberikan suatu penjalaran energi ke
sesar-sesar yang telah lama tidur dan adanya perubahan batimetri kelautan di
pantai Selatan Jawa pasca gempa Yogyakarta yang akan memudahkan penekanan pada
sungai-sungai purba yang menutup sesar-sesar di tiga zona blok patahan Jawa.
Palung Jawa merupakan tempat menunjamnya lempeng
samudera. Selama penunjaman berlangsung, lempeng samudera bergesekan dengan
lempeng yang menumpang diatasnya. Gesekan antar lempeng ini menimbulkan
aktifitas seismik atau gempa tektonik yang bersumber di permukaan lempeng yang
menunjam. Kedalaman sumber gempa tergantung jarak horisontalnya terhadap sumbu
palung, makin menjauhi palung ke arah daratan sumber gempa akan semakin dalam
(deep earthquke) dan sebaliknya mendekat ke palung gempanya merupakan gempa
dangkal (shallow earthquake). Oleh karena itu distribusi aktifitas seismik
secara spasial dan temporal di suatu wilayah mencerminkan dinamika palungnya.
Jadi gempa di Jawa Barat sebenarnya sudah ada
bukti yang jelas karena posisi gempa di daratan pulau Jawa lebih sering
mengalami gempa dangkal. Dua faktor penyebabnya kemungkinan adalah: Pertama, sumber gempa dangkal di
Sumatra lebih berasosiasi dengan aktifitas sesar-mendatar Sumatra; sedangkan di
Jawa tidak terdapatnya suatu sistem sesar utama mengakibatkan gempa dangkal
yang terjadi berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng di palung sehingga
lebih mungkin ditransmisikan ke seluruh pulaunya. Kedua, jarak palung ke daratan di Sumatra lebih jauh dibandingkan
dengan yang di Jawa. Sementara itu jalur gunung-api aktif (yang biasanya
berkaitan dengan kedalaman zona subduksi sekitar 100 km) di pulau Jawa terutama
Jawa barat terletak di bagian tengahnya, sedangkan di Sumatra jalur gunung-api
aktifnya terletak di sisi barat dekat dengan pantai Samudera India. Hal ini
menyebabkan aktifitas seismik di bagian kontinen yang dangkal lebih besar di
Jawa daripada di Sumatra.
PERIODE GEMPA JAWA BARAT
Gempa sudah pernah terjadi di Tasikmalaya
pada tahun 2000 dengan intensitas sama, yang menelan 26 korban yang tewas,
seharusnya pengamatan periode kegempaan didaerah ini dan juga diseluruh
Indonesia sudah memiliki standar perhitungan matematis, walau prediksi gempa
masih susah diramalkan namun sudah harus memperhitungkan faktor sejarah gempa
yang pernah berlangsung. Kerusakan bangunan yang ada lebih disebabkan kekuatan
bangunan banyak tidak memenuhi zonasi percepatan gelombang batuan dasar, tidak
jauh berbeda pada kejadian gempa Yogya tahun 2006 dan genpa Aceh Pidie 2016.
Sebagai contoh,
gempa Bengkulu yang sama kekuatannya dengan gempa pada 4 Juni 2000 di Bengkulu
pernah terjadi dua kali pada 1833, 1914. Sehingga banyak yang setuju dengan
teori peramalan (forcasting) gempa dengan metode perioda ulang berkisar 80
tahun. Disamping itu terdapat juga gempa yang ukurannya lebih kecil dengan
periode ulang lebih pendek. Perhitungan matematis periode ulang gempa bumi di
Sumatra oleh peneliti BMG (Rasyidi Sulaiman dan Robert Pasaribu, 2000)
menunjukkan bahwa periode ulang di Sumatra Selatan berkisar antara 8-34 tahun
dengan nilai tengah 21 tahun. Gempa pada tahun 1979 di Bengkulu yang cukup
besar dengan M=5.8, MMI=VIII, sedangkan gempa berikutnya adalah Juni 2000
(1979+21tahun). (Sumber Fauzi MSc, PhD, Pusat Gempa Nasional-Badan Meteorologi
dan Geofisika).
Demikian juga gempa berkekuatan 7,3 SR
di Tasikmalaya, Jawa Barat, 2 September 2009 lalu. Menurut para pakar,
banyaknya korban dan kerusakan dalam peristiwa itu akibat struktur tanah.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono
mengatakan, struktur tanah di wilayah Jawa Barat bagian Selatan dan struktur
bangunan yang dibuat masyarakat menjadi penyebab banyaknya korban jiwa. Dan
berulang pada kejadian gempa 2017 dengan kekuatan mencapai 6.9 SR yang terasa
hingga ke batas Jakarta.
Dengan demikian
dapat diupayakan mitigasi keseluruhan wilayah untuk mengurangi dampak yang
terjadi pada periode ulang gempa berikutnya. Dan tingkatkan kewaspadaan dini
karena sesungguhnya Jawa Barat itu dalam kepenatan gempa bagi kota di
sekitarnya.
M. Anwar Siregar
Pemerhati Tata
Ruang Lingkungan dan Energi Geofer
Dipublikasi Harian ANALISA MEDAN, 23 DESEMBER 2017
Komentar
Posting Komentar