Hormat Sinabung, Pembelajaran Siaga Mitigasi
Hormat Sinabung, Pembelajaran Siaga Mitigasi
(Analisa/ferdy)
MITIGASI SINABUNG : Erupsi yang berkepanjangan Gunung Sinabung di
Kabupaten Karo, Sumut, membuat warganya harus siap akan pembelajaran
akan siaga mitigasi. Mitigasi adalah serangkaian upaya guna memperkecil
dampak atau resiko atas terjadinya bencana alam Gunung Sinabung.
Oleh: M. Anwar Siregar.
Kita harus mengakui, bahwa Gunung Sinabung sebuah fenomena alam yang
telah memberikan pembelajaran agar melek siaga mitigasi. Gejala alam
yang mengagumkan di era modern ini selain bencana gempa bumi di
Sumatera pada tahun 2004 dan 2005 yang memberikan sebuah pembelajaran
berharga agar selalu siaga mitigsi.
Gunung Sinabung berada di jalur rangkaian gunung api
tak sempurna atau pegunungan lipatan muda. Bagian memanjang dari
rangkaian gunung api aktif di Indonesia dan gunung api tipe B yang
pertama meletus di era modern di Indonesia dan Asia serta merupakan
sejarah baru bagi kegunungapian di Indonesia.
Saat ini posisi serta kondisi Gunung Sinabung yang belum memberikan
pesan “istirahat”, merupakan sumber ilmu dari gejala alam yang perlu
dipelajari bagi peningkatan pengetahuan untuk berbagai disiplin ilmu.
Gunung Sinabung meletus di era modern ketika ilmu dan teknologi
manusia telah berkembang hebat.
Untuk itu perlu dipelajari secara cermat, karena menyangkut
ke3selamatan ribuan nyawa manusia yang semakin padat di sekitarnya.
Mereka berada dalam jangkauan erupsi Gunung Sinabung, dan akan
menimbulkan efek bagi kesinambungan iklim global di atas langit bumi
Sumatera bagian Utara ke Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Pembelajaran
Gunung api meletus adalah kejadian alam yang tidak dapat dicegah.
Mitigasi kerentanan adalah salah satu cara untuk mengurangi dampak
yang ditimbulkan. Kemudian memantau dan memberikan arahan serta saran
bagi penduduk agar mereka tidak terlanda bencana berkelanjutan.
Pengamatan harus ditingkatkan, baik secara visual daratan maupun visual
dari langit melalui satelit cuaca dan observasi bumi. Dengan demikian
akan menyajikan gambaran citra letusan gunung, dampak letusan, skala
dan sebaran luas debu vulkanik dan dinamika letusan di berbagai kawasan
dalam suatu tata ruang kota.
Ada tiga faktor mendasar dalam pembelajaran mitigasi letusan Gunung
Sinabung untuk membangun tatanan masyarakat tangguh bencana, yaitu:
Pertama, infrastruktur kawasan rawan bencana berbasis mitigasi
terdiri dari tata ruang, tata kelola pertanian, tata ruang daerah
resapan air dan tata ruang rehabilitasi untuk masa jeda bencana serta
tata ruang relokasi hunian tetap.
Dalam tata ruang mitigasi Kawasan Rawan Bencana (KRB), masyarakat
wajib mengikuti kebijakan kontigensi dari pemerintah. Terlihat pada
waktu bencana letusan Gunung Sinabung, pemerintah “repot” dalam
menjalanlan program manajemen mitigasi. Dari kejadian ini, kita harus
introspeksi bagi daerah-daerah yang lain, bahwa gunung api tipe B
suatu saat akan naik kelas, sehingga perlu mempersiapkan dan
mengantisipasi pembangunan di KRB di gunung api tipe B. Ketika terjadi
status naik kelas ke A maka pemerintah yang memiliki gunungapi tipe B
tidak perlu lagi bagai “orang kebingungan”.
Kedua budaya mitigasi, kita jadikan sejarah bencana, lalu sebagai
cermin untuk hidup selaras dengan kondisi lingkungan tempat masyarakat
beraktivitas di KRB dari berbagai tipe gunungapi di Indonesia agar
menjadi budaya hidup sehari-hari, tujuannya untuk menimalisasi
kerentanan dan kerawanan terhadap ancaman bahaya/bencana dengan
mempertimbangkan aspek zona rawan bencana maka masyarakat bisa
membangun kapasitas diri dan memulihkan kehidupan kembali setelah
menghadapi bencana. Budaya mitigasi adalah penyadaran masyarakat agar
dapat mengurangi pejanan di daerah KRB gunungapi.
Ini tidak terlihat pada tata ruang Gunung Sinabung, banyak desa
tidak tangguh dalam menghadapi bencana letusan Gunung Sinabung yang
belum juga menunjukkan gejala istirahat, sebuah pembelajaran yang
berharga bagi pemda lain untuk belajar tata ruang dari Tanah Karo dan
Sinabung.
Ketiga sinergitas antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun
siaga dan budaya hidup menghadapi bencana, dan perlu di ketahui di Sumut
masih terdapat beberapa gunungapi yang bertipe B yang setiap saat
naik kelas. Pelajaran yang berharga bagi Indonesia sehingga harus
masuk dalam kurikulum sejarah yang wajib dipelajari.
Budaya Hidup
Gunungapi Sinabung juga memberikan pesan sumbangan ilmu untuk
memikirkan mengapa bisa terjadi gunung api tipe B bisa bangkit meletus.
Ada tiga pesan khusus yang dikirim oleh letusan Sinabung kepada putra-putri daerah di Indonesia, yakni:
Pertama, gunungapi seperti nadi manusia, bahwa jangan terlena
dengan “kawanku” yang masih mendengkur alias tidur, alias gunung yang
belum bangkit meletus lagi, karena sesungguhnya gunung yang tidur itu
masih hidup dengan denyut bergerak pelan seperti nadi dan jantung
manusia berdenyut lembut dan akan memuncratkan darat jika ada gangguan
luar, jika dianalogikan bagi gunung, gangguan itu berupa pembangunan
fisik di kawasan hijau, jumlah penduduk semakin padat, tidak adanya
ruang khusus tanpa bangunan dan hal ini sudah cukup mengusik ketenangan
alam di sebuah gunungapi karena tubuhnya “merasa ditusuk benda tajam”
dari kaki sampai ke puncak.
Kedua, Pesan Sinabung berikutnya adalah perencanaan tata ruang
kota bertipe gunung api, bahwa masih banyak yang perlu dipelajari
bagi sebuah kota dan perencana pembangunan, karena letusan sebuah
gunungapi sebuah ujian bagi tata ruang kota, bahwa infrastruktur
fisik sebuah kota harus selalu mempelajari karakter lingkungan di mana
bangunan dan kota yang akan dibangun di daerah gunungapi.
Ketiga, budaya kearifan lokal, dalam sudut sosial budaya manyangkut
kemampuan pembelajaran budaya hidup harmonis bersama alam, budaya
kearifan lokal tentang gunung dan bencana lainnya, serta keteladanan
dalam memahami alam.di muka bumi dimana manusia harus hormat kepada
alam, atau hormat kepada gunung dan gunungapi Sinabung telah memberikan
peringatan agar manusia melek terhadap budaya hidup selaras dengan
gunungapi, karena wilayah Indonesia berada dalam tatanan ring of
fire. Jangan merusak tubuh gunung dengan segala yang mendewakan
hedoisme dan akhlak yang merusak alam.
Siaga Mitigasi
Sungguh Gunung Sinabung sebuah fenomena alam yang memberikan
pelajaran berharga, masih adanya aktivitas luncuran awan panas di atas
udara Sumatera Utara memberikan tegoran bagi pemerintah untuk
mempersiapkan sistem mitigasi yang tangguh dalam menghadapi bencana
Gunung Sinabung telah memberikan banyak sumbangan ilmu untuk
peningkatan siaga mitigasi, meletus di era modern, kemampuan ilmu
mitigasi letusan gunung api sudah meningkat luar biasa, maka tidak ada
cerita kalau kemampuan untuk mengurangi jumlah korban akibat letusan
gunung api tidak bisa.
Sebuah pekerjaan rumah untuk membangun siaga mitigasi letusan
gunungapi bagi sektor khusus dari berbagai aspek bidang antara lain
seperti TNI-Polri, bidang tata ruang dan pekerjaan umum, bidang SAR
penanggulangan dan bencana lingkungan hidup, bidang riset geologi dan
sumber daya mineral, bidang klimatologi dan geofisika-geodesi, bidang
kesehatan dan pendidikan, bidang ketahanan pangan dan sosial,
kebudayaan serta pariwisata untuk membangun tata ruang kota dan
masyarakat siaga bencana, atau sebelum bencana terjadi.
Hormat Sinabung
Banyak penduduk yang bermukim di wilayah rawan letusan gunungapi
mengindikasikan perlunya penguatan kapasitas dalam mengantisipasi dan
mitigasi letusan yang akan datang. Di sinilah dibutuhkan peran ahli
gunung api dan ahli terkait lainnya untuk menjembatani keinginan alam
(gunungapi) terhadap masyarakat melalui riset, peringatan dini dan
pendidikan untuk menguatkan kesadaran publik. Masyarakat harus
mendapatkan informasi yang benar sebelum terjadi letusan gunung api.
Kita harus berterimakasih dan memberikan penghormatan kepada
Sinabung yang telah memberikan pelajaran berharga untuk peningkatan dan
pengembangan kualitas kurikulum mitigasi bencana gunungapi agar bangsa
ini semakin melek di dalam menghadapi berbagai macam bencana
geologis.terutama bencana letusan gunungapi.
Dipublikasi di HARIAN ANALISA MEDAN. Tgl 21 Januari 2018
Komentar
Posting Komentar