Gempa Bali
BALI MENANTI GEMPA BESAR
Oleh M. Anwar Siregar
Kawasan aktivitas gempa di Indonesia
teraktif di dunia yang terbentang disepanjang Jawa-Sunda, merambat ke bagian
barat dan selatan Indonesia sampai ke Pulau Papua Nugini. Luas kawasan ini mencapai
sepertiga daerah rawan gempa di dunia, dan Bali merupakan daerah yang diapit
oleh semua daerah subduksi, memang sangat berpotensi akan terjadi gempa maut,
dan hal inilah mengapa terjadi gempa kuat yang sering terjadi dikawasan selatan
dan utara Bali, termasuk gempa Flores tahun 2016 dan Gempa Lombok 2018 yang
berulang terjadi tiga kali dalam tiga pekan dengan kekuatan 6,4 SR, 7,0 SR dan
6,5 SR sebagai pembuka jalan ke Bali, dan Bali sepertinya menunggu hitungan
waktu kapan gempa besar terjadi.
Gambar : Pulau Bali dikelilingi Zona Subduksi Yang Mematikan
Gempa yang terjadi di Bali dengan
kekuatan 6,4 SR 2017 lalu sebelum erupsi Gunung Agung bukan pertama kali
terjadi, tetapi sudah berulangkali, namun demikian, tetap saja masyarakat dan
pemerintah tidak pernah memperhitungkan kondisi dimana mereka berada, banyak
bangunan hotel dan hunian tidak dirancang tahan gempa, dan terbukti ketika
gempa Lombok terjadi, masyarakat Bali merasakan “tari pendek gempa”, beberapa
hotel dan mal serta tempat beribadah mengalami kerusakan kelas “berat ringan”.
Dan fakta ini, membuktikan Bali belum siap menghadapi gempa baik secara
langsung (dari zona wilayah patahan Bali) maupun tidak langsung, kena serangan
seismik dari daerah luar seperti gempa Lombok berkekuatan 7,0 SR.
Apalagi dalam catatan sejarah, bahwa
wilayah Bali dikelilingi oleh beberapa daerah tetangga berlangganan bencana
gempa maut seperti Banyuwangi, Sumbawa, Flores, dan Lombok yang pernah
mengalami kejadian tsunami sehingga Bali rentan mengalami kiriman maut air bah
raksasa, sebab kondisi geologi Pulau
Dewata memang berada dalam radius strategis tsunami dari berbagai arah lingkup
tata ruangnya yang dikelilingi oleh lautan dan zona sesar geser naik di
cekungan belakang busur Flores serta sesar turun akibat subduksi di pantai
barat sumatera yang melintas ke NTT dan melingkar ke parit Seram sepanjang 100
km didasar laut yang masih berkorelasi langsung dengan lautan di Teluk Bali.
(Bila anda ingin memahami lihat saja peta atlas dengan warna biru kedalaman
laut).
Dan kabar dari tulisan ini, bukan
untuk menyebarkan hoax, tetapi memang kenyataan kita setiap saat akan mengalami
serangan kilat “seismik”, dan terlihat gempa Lombok dapat berulang kali dengan
kekuatan gempa kuat, terasa getarannya ke Bali. Perlu kewaspadaan dini dan
tingkatkan kesiapsiagaan personel tim penyelamat.
GEMPA BALI
Wilayah fisiografis Bali yang indah
dan molek itu masih bersentuhan dengan “tarian pendek” gempa yang sering
berlangsung dengan tiga daerah tetangganya disebabkan berbatas langsung dengan
kondisi geologi gempa di Jawa Timur yang merupakan pusat zona ruas terkunci bagi
pergerakan lempeng sehingga sering memunculkan tsunami dan gempa dangkal yang
terasa guncangannya didaratan Pulau Bali, Nusa Tenggara, dan Jawa Timur. Zona
segitiga bencana gempa ini merupakan kawasan dengan karakteristik geologi gempa
yang rumit dengan masing-masing memiliki zonasi pertemuan pembenturan antara
lempeng gempa, maka
gempa-gempa akibat subduksi lempeng ini memiliki kedalaman lebih dari 300
kilometer di bawah Bali.
Secara tektonik, distribusi pusat
gempa di daerah Bali dan Nusa Tenggara menggambarkan ciri-ciri adanya busur kepulauan yang aktif. Umumnya gempa dangkal terjadi berada tidak jauh
dari lokasi pesisir Teluk Bali yang mengintari wilayah perbatasan Bali di Selat
Lombok dan sekitar Banyuwangi, berjarak 150 km dari batas pembenturan Lempeng
Eurasia dengan Indo-Australia di selatan yang membentuk zonasi parit melingkar/melengkung
di kepulauan Seram akibat pola struktur geologi tunjaman balik lempeng Eurasia
terhadap Lempeng Samudera Indo-Australia sehingga gempa dangkal sering terasa di
darat dan disekitar pesisir Pantai Utara Bali dan Nusa Tenggara
Struktur geologi tersebut adalah
patahan belakang busur Bali-Flores di Utara Bali. Patahan ini yang menyebabkan
terjadinya gempa bumi yang mengguncang daerah-daerah Pesisir Utara Bali, Selat
Lombok, NTB dan NTT hingga ke Jawa Timur dan dekat zona kegempaan Sulawesi-Maluku yang sekarang
dalam kondisi berotasi. Dan zona subduksi diwilayah gempa Sulawesi terdapat
zona patahan memanjang dan melintas ke Papua dan sebelumnya ada melengkung
tajam mendekati Flores Trust Fault disekitar Selat Lombok.
BERHITUNG HARI
Aktivitas gempa dangkal di pesisir selatan Pulau Timor dan Lombok ini lebih
banyak berkaitan dengan aktivitas subduksi lempeng, sedangkan gempa dangkal
yang terjadi di kawasan Kepulauan Pantar, Alor, dan Wetar Lombok serta di
sekitar Nusa Penida lebih banyak dikendalikan oleh aktivitas sesar aktif. Sesar segmen timur dikenal sebagai Sesar Naik Flores
(Flores Thrust Fault) yang membujur dari timur laut Bali sampai dengan utara Flores.
Flores Thrust yang dekat patahan pulau Seram dikenal sebagai generator gempa-gempa
merusak yang akan terus-menerus mengancam untuk mengguncang busur kepulauan.
Risiko mungkin sedang berinkubasi dan
tinggal menunggu waktu saja kapan terjadi lagi bencana dalam bentuk gempa,
tsunami atau sekarang letusan gunung Agung. Karena kawasan itu terbentuk
patahan-patahan lokal berdimensi panjang dan berkorelasi dengan Florest Trust
Fault dan proses geologis pembentuk gunungapi di masa lalu. Kita perlu
bersiap-siap diri “menyambut” siklus alam tersebut, bukan dengan kepanikan tapi
dengan pemahaman yang lebih baik dari 35 tahun lalu yakni tentang uraian detail
dari risiko bencana maupun malapetaka dalam lensa pengetahuan.
Menilik dari sejarah gempa yang pernah
berlangsung di Pulau Dewata, diprediksi Bali hanya berhitung tahun mendapat
serangan fajar gempa maut, faktor dari prediksi itu dapat diketahui dari
kondisi geologi yang melingkupi tata ruang bumi Pulau Bali tersebut.
Peningkatan energi gempa diatas 7.0 SR hanya menunggu waktu, dan Bali
dipastikan belum siap baik dari segi mentalitas masyarakatnya, tata ruang
bangunan dan teknologi peringatan dini yang komprehensif, negeri wisata ini
seharusnya telah memiliki pusat pengelolaan sistim peringatan dini secara real
time, sebab wilayah ini padat penduduk dan wisatawan manca negara.
Dan Pulau Bali memang termasuk daerah
yang “ideal bagi terjadinya tsunami’ dan mengingatkan kita pada kondisi geologi
kota Banda Aceh. Jadi Bali memang sedang berhitung hari menghadapi gempa besar,
tinggal bagaimana mempersiapkan diri, karena dengan gempa yang baru-baru
terjadi ini telah menimbulkan banyak kerusakan bangunan,
Gambaran bukti yang cukup jelas adalah
bahwa seolah daerah ini hampir-hampir tidak akan pernah aman dari bencana
kebumian, seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan letusan gunung api.
Bali dan sekitarnya sepertinya berhitung tahun dilanda gempa maut.
Daerah-daerah tersebut, sampai tulisan
ini dibuat belum memiliki tata ruang yang berketahanan bencana gempa, masih
akan terimbaskan bencana kerentanan infrastruktural yang mahal.
M. Anwar Siregar
Pemerhati Masalah Tata Ruang Lingkungan-Energi Geosfer (WM)
Komentar
Posting Komentar