Geopark Toba dan Energi PON 2024
Geopark Danau Toba dan Energi PON 2024
Oleh: M. Anwar Siregar
GUBERNUR Sumatera Utara yang baru akan menghadapi
berbagai persoalan dalam kurun lima tahun ke depan, perlu sebuah visi
dan misi dalam membangun Sumatera Utara yang menyentuh segala aspek
kehidupan masyarakat dan industri guna menjaga kesinambungan
pembangunan. Apapun latar belakang gubernur baru mereka akan menghadapi
berbagai permasalahan mulai dari kondisi lingkungan, bencana banjir,
tata ruang, energi dan kondisi existing demografis dan sosial ekonomi serta pariwisata strategis maupun sarana pembangunan infrastruktur.
Melihat kondisi Sumatera Utara saat ini, maka gubernur sekarang akan menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah.
Gambar : Peta Kawasan Danau Toba (Sumber : dari berbgai sumber)
Ada beberapa tantangan yang akan di hadapi gubernur terpilih sekarang
dalam membangun Sumatera Utara antara lain: lingkungan alam dan tatanan
struktur kebencanaan geologi provinsi Sumatera Utara yaitu terdapat
tujuh gunung api dan rangkaian pegunungan Bukit Barisan sebagi tulang
punggung Pulau Sumatera yang banyak membentang di Provinsi Sumatera
Utara dengan gunung api di bagian tengahnya. Tata letak gunung api
disertai curah hujan cukup tinggi tersebut dalam jangka ribuan tahun
telah menghadirkan dataran rendah di bagian timur yang cukup luas
serta terbentuk oleh endapan sungai dan teluk.
Bagian barat berupa perbukitan yang memiliki banyak patahan dan
curam, sehingga di kawasan Barat ini sering terjadi gerakan tanah yang
dapat menjadi bencana. Selain itu dataran sempit di barat menuju ke
tengah berhadapan dengan tunjaman lempeng Indo Australia yang bergerak
ke utara dan sewaktu-waktu menimbulkan gempa, yang di beberapa segmen
garis pantai berpotensi tsunami. Oleh kondisinya tersebut bagian barat
dari Provinsi Sumatera Utara tidak banyak dihuni dan walaupun demikian
sering dipandang sebagai wilayah tertinggal yang selayaknya mendapat
perhatian pembangunan.
Tantangan selanjutnya adalah pintu gerbang investasi industri.
Posisi Sumatera Utara sebagai pintu gerbang pelayaran di pantai timur
yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka seharusnya mampu menerima
banyak investasi pembangunan dari negara tetangga di wilayah barat
Indonesia. Dengan terbangunnya bandara internasional Kualanamu dan
adanya Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei seharusnya Sumatera Utara
sudah melejit ke depan sebagai provinsi terbesar di luar Jawa atau
terbesar ketiga di Indonesia dan harus dijadikan sebagai tantangan
bagi gubernur Sumatera Utara di era sekarang sebagai Provinsi
penerima industri manufaktur dan pembangunan kawasan industri yang
terbesar di luar Jawa dan terbesar ketiga di Indonesia harus
ditingkatkan dan harus siap juga menghadapi perubahan lingkungan
(RTRW) yang akan terjadi dampak dari kemajuan industri yang berkaitan
dengan pertumbuhan demografis kota sedang berkembang di beberapa
wilayah di Sumatera Utara, serta sosial ekonomi yang berhubungan
dengan investasi geopark Danau Toba dan perkembangan laju
infrastruktur yang berhubungan dengan prasarana Pekan Olah Raga Nasional
tahun 2024 dimana Sumatera Utara sebagai tuan rumah bersama Provinsi
Aceh.
Gambaran tantangan yang lebih jelas dapat dibagi dua, yaitu daya
saing infrastruktur dengan prioritas energi PON 2024 dan daya saing
investasi pariwisata Danau Toba agar menjadi salah satu geopark global dunia.
Geopark Danau Toba
Alasan pemerintah memprioritaskan Danau Toba kawasan strategis
nasional itu, karena kunjungan wisatawannya cukup tinggi sehingga
sangat potensial menjadi sumber besar penerimaan negara. Bahkan Danau
Toba ditargetkan menjaring satu juta wisatawan asing pada 2019
mendatang.
Poin-poin tantangan bagi gubernur dalam investasi geopark Danau Toba dapat di lihat dari beberapa kritikan yang membangun antara lain: Satu,
geopark kaldera Toba dan ketidaksiapan kita dapat dilihat dari daya
saing pemasaran dan konsep promosi yang berskala internasional. Dan ini
sering merupakan kelemahan tantangan yang dihadapi gubernur untuk
menjadikan geopark Danau Toba menjadi sebuah investasi yang besar agar geopark Danau Toba semakin dikenal masyarakat dunia.
Kedua, kondisi infrastruktur di Sumut ikut juga membuat
ongkos distribusi logistik barang menjadi sangat mahal ketimbang
sejumlah provinsi lain. Semua itu membuat citra Sumut menjadi negatif
di kalangan pengusaha. Mereka tertekan biaya operasional yang sangat
tinggi di sini sehingga sulit menghasilkan barang berdaya saing dari
segi harga.
Tiga, harus diakui berbagai masalah mendasar yang terjadi di
kawasan Danau Toba sampai saat ini belum juga tuntas. Misalnya soal
pencemaran limbah yang masuk ke Danau Toba. Baik limbah rumah tangga,
industri maupun dari kerambah-kerambah perusahaan dan masyarakat. Bahkan
baru-baru ini, hasil penelitian Pusat Riset Perikanan Badan Riset dan
Sumber Daya Manusia (SDM) Kelautan dan Perikanan, membuat kita semakin
pesimis.
Dalam riset itu, disebutkan ada beberapa sungai yang menjadi jalur limbah (fospor) ke Danau Toba
Keempat, selama ini memang ada kekhawatiran di masyarakat
bahwa Sumatera Utara (Sumut) sulit bersaing dalam Masyarakat Ekonomi
Asean yang sudah berlaku sejak awal 2016. Alasan kekhawatiran itu
adalah kelemahan dalam infrastruktur, birokrasi perizinan berbelit,
defisit energi seperti listrik yang kerap padam alias gelap gulita,
pasokan gas yang kadang langka dan membuat harganya menjadi sangat
mahal dibandingkan provinsi lain, bahkan lebih mahal dari Singapura,
Malaysia serta Vietnam. Alasan lain adalah seringkali pejabat, seperti
walikota dan gubernur tersandung kasus korupsi sehingga mengganggu
kepercayaan investor terhadap daerah ini.
Tantangan Energi PON
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei yang sudah diresmikan oleh
Presiden Joko Widodo terpaksa menunda investasi bernilai triliunan
rupiah karena ketiadaan listrik. Hal ini pernah dialami beberapa
investor yang mengalami kendala infrastruktur pasokan energi listrik
dan harus dijadikan pengalaman berharga bagi pembangunan sarana PON
2024 dan sarana infrastruktur Danau Toba tanpa ketersediaan listrik
tetap percuma dan membuat investor akan menunda usaha mereka. Begitu
pula segala kemudahan perizinan dan insentif akan menjadi sia-sia jika
tidak didukung oleh jaminan pasokan listrik, energi seperti gas, serta
infrastruktur fisik jalan ke kawasan strategis pembangunan seperti geopark Danau Toba.
Dampaknya dapat menjadi resiko yang sangat besar jika berinvestasi di
daerah yang listriknya sering mengalami byar pett. Dan jika ini terjadi
ketika berlangsungnya PON akan sangat memalukan dan mendorong para
investor memindahkan usaha ke daerah lainnya. Makanya, para investor
cenderung memilih membangun pabrik di Pulau Jawa ketimbang di
daerah-daerah di Sumatera Utara karena pasokan listriknya lebih
terjamin.
Tantangan energi sangat berat bagi Gubernur Sumatera Utara karena
ini merupakan kendala utama bagi kalangan industri karena sulit
beroperasi disebabkan oleh harga gas sebagai sumber energi sangat
mahal, mencapai US$ 12,76/mmbtu padahal di Jawa hanya US$6-US$8 per
mmbtu, bahkan di negeri seberang hanya US$4-US$7 per mmbtu meski
komoditas itu diimpor dari negeri kita. Pasokan listrik pun masih
defisit sekira 300-600 MW sehinga seringkali industri terkena
pemadaman (disari dari berbagai sumber).
Kelemahan ini merupakan gambaran tantangan gubernur Sumatera Utara,
harus bergerak cepat agar kelemahan daya saing Sumut dapat ditingkatkan
dengan memangkas jalur distribusi dan harga gas, membangun sejumlah
pembangkit listrik, menekan dwelling time di Pelabuhan
Belawan, dan membangun sejumlah proyek jalan tol, selain mendorong
transparansi dalam transaksi di pemerintahan guna menekan korupsi.
Semua langkah itu cukup positif bagi Sumut agar bisa mengangkat daya
saing Sumatera Utara ke depan. ***
* Penulis Pemerhati Tata Ruang Lingkungan dan Energi Geosfer
Komentar
Posting Komentar