18 Nov 2015

Sedimentasi Karbonat P. Seribu

Jumat, 30 Mei 2014


SEDIMENTASI KARBONAT PADA UMUR HOLOSEN, PULAU SERIBU, LAUT JAWA

1. Pendahuluan
Paper yang ditulis oleh penulis ini membahas tentang fisiografi dan keadaan bawah permukaan dari perkembangan sistem terumbu karang di Pulau Seribu. Sistem Pulau Seribu terletak di sebelah tenggara Laut Jawa, yang terdiri dari sebuah pulau terumbu karang yang panjangnya dari sekitar beberapa puluh meter hingga lebih dari satu kilometer. Para geologist dengan minatnya terhadap perkembangan reservoir karbonat di Indonesia mempunyai catatan pasti tentang endapan karbonat pada umur Holosen. Alasan mengenai studi ini sangat sederhana.
Kebanyakan setengah dari produksi kumulatif dan proporsi yang cukup dari sisa cadangan migas di lepas pantai Sumatera Selatan dan lepas pantai barat daya Pulau Jawa, berasal dari karbonat Miosen dari Formasi Parigi dan Baturaja. Lebih banyak yang kita ketahui mengenai bagaimana, mengapa, dan dimana mereka terbentuk. Kuncinya adalah proses dari formasi, diagenesis dan pengawetan, serta proses yang paling baik untuk menentukannya adalah dengan pengamatan lingkungan modern dan sejarah saat ini.
2. Proses Pembentukan Terumbu Karang di Pulau Seribu
Laut Jawa saat ini merupakan hasil dari transgresi atau kenaikan muka airlaut pada awal Holosen yang terjadi sekitar 11.000 tahun yang lalu. Pertumbuhan terumbu karang di Pulau Seribu pada waktu itu sangat cepat yaitu sekitar 5-10 mm tiap tahunnya. Keberadaan terumbu Holosen adalah sekitar 7000 tahun yang lalu di sekitar Selat Sunda. Hal ini menguatkan bahwa fragmen koral (karang) pada kedalaman 19 meter pada hasil core di Pulau Putri Barat berusia sekitar 7900 tahun yang lalu, yang tertutup oleh waktu dari permulaan yang nyata dari bangunan terumbu atau karbonat di kepulauan Seribu. Sedimentasi Holosen masih berupa endapan lapisan tipis.
Gambar 1. Kurva Kenaikan Muka Airlaut pada 10.000 Tahun yang Lalu pada Laut China Selatan
3. Akumulasi Sedimen
Endapan sedimen kebanyakan terendapkan pada bagian back reef flat hingga laguna yang didominasi oleh pecahan koral. Kebanyakan sampel data core yang ditemukan pada penelitian ini didominasi oleh koral (karang) dan mud deficient. Pada lubang bor yang dalam yaitu 32,8 m, bagian dasarnya berupa batulempung karbonatan yang mengandung kerikil, dan umurnya adalah Pleistosen. Penentuan umur tersebut berdasarkan pada umur pecahan koral yang terdapat pada kedalaman yang bervariasi yang mengindikasikan bahwa terdapat akumulasi secara vertical pada periode 10.000 hingga 4500 tahun yang lalu.
Gambar 2. Tempat Terendapkannya Akumulasi Sedimen di Pulau Seribu pada Tipe Zona Terumbu Menurut James, 1984
Dari hasil pengeboran, dapat diasumsikan bahwa endapan sedimen karbonat di Pulau Seribu terbentuk pada fasies terumbu reef flat, back reef, hingga ke zona lagoon. Tidak jauh di bawah permukaan diperoleh sampel intra-platform channel (saluran paparan luar) dan area paparan dalam ditemukan banyak material klastik yang berukuran halus adalah merupakan bukti, yang didominasi oleh komponen skeletal berupa koral. Pada hasil core di bagian atas Pulau Pabelokan dan Pulau Putri Barat terdiri dari pecahan coral kasar dan skeletal sand (pasir skeletal). Pada Pulau Putri Barat, karena proses recovery yang jelek, hanya pada kedalaman 5-12 meter saja yang dapat dijadikan pertimbangan bukti yang terpercaya. Pada core ini mengandung variasi sortasi sedang hingga pasir skeletal kasar, yang komposisinya terdiri dari terutama koral, pecahan cangkang foraminifera dan moluska, dan sedikit alga merah dan alga hijau. Intinya pada endapan sedimen di pulau Seribu ini didominasi oleh endapan koral (lebih dari 50%) dengan sedikit material alga merah dan hijau serta tidak adanya sampel khususnya yang baik.
4. Proses Diagenesis
Lingkungan freatik airtawar atau lingkungan yang masih terkena pengaruh airtawar di pulau tersebut saat ini masih kecil. Keseluruhan proses sementasi sangat terbatas namun seperti spary kalsit, dia mengisi calice koral dan meniscus yang jenuh Magnesium (Mg) kalsit di dekat permukaan beachrock. Semen karbonat dari laut termasuk aragonite yang fibrous atau berserat dan kalsit yang tinggi Mg (dolomite) yang mempunyai ikatan kimia pendek berupa belahketupat, dan peloidal kriptikristalin memenuhi keduanya. Keterbatasan mengenai dissolusi dari aragonite mengungkapkan semua fakta-fakta yang ada.
Gambar 3. Sementasi Spari Kalsit Freatik pada Borehole di Pulau Seribu
5 Kesimpulan pada Reservoir
Dari data core menunjukkan bahwa porositas dan permeabilitas dari batuan di Pulau Seribu relatif bagus, hal ini di lihat dari perbandingan presentase banyaknya pori-pori pada batuan dengan luas sayatan batuan yang dilihat dari mikroskop. Berikut adalah beberapa kenempakan hasil sayatan batuan sedimen karbonat yang ditemukan di Pulau Seribu.
  
Gambar 4. Sayatan Tipis Batuan pada Pulau Putri Barat
Gambar 5. Deskripsi Litologi Hasil Pengeboran Borehole-1 pada Pulau Pabelokan
Gambar 6. Sayatan Tipis Batuan pada Pulau Pabelokan (Borehole-1)
Batuan yang porositas dan permeabilitasnya bagus adalah pada batuan sedimen karbonat yang belum terubahkan, khususnya pada kelompok endapan coral-rudstone yang bertindak sebagai saluran aliran airlaut dan pengisi terumbu yang didominasi oleh koral. Tidak adanya suplai airtawar pada saat ini (periode Holosen) membatasi proses diagenesis, tapi seiring berjalannya waktu dan peningkatan suplai airtawar, kemungkinan akan menghasilkan perkembangan yang lebih baik, dimana porositas dan permeabilitas batuan bisa semakin bagus sehingga batuan sedimen karbonat di Pulau Seribu bisa menjadi tempat migrasi fluida termasuk minyak dan gas.
DAFTAR PUSTAKA
Park, Robert K., dkk. 1992. Holocene Carbonate Sedimentation, Pulau Seribu, Java Sea-The Third Dimension. IPA-Carbonate Rock and Reservoir of Indonesia : A Core Workshop


18 Nov 2015

Geology Visitor: Sedimentation Carbonate P. Thousand

Friday, May 30, 2014

CARBONATE SEDIMENTATION ON AGE Holocene, SERIBU ISLAND, JAVA SEA

1. Introduction
Paper written by this author discusses the physiographic and subsurface state of development of the coral reef system in the Thousand Islands. Thousand Island system located in the southeast of the Java Sea, consisting of an island coral reef in length from several hundred meters to over a kilometer. The geologist with his interest in the development of carbonate reservoirs in Indonesia has a definite record of carbonate deposition in Holocene age. The reason for this study is very simple.
Most half of the cumulative production and a significant proportion of the remaining oil and gas reserves off the coast of South Sumatra and off the southwest coast of Java Island, comes from the Miocene carbonate from Parigi Formation and Balfour. More is known about how, why, and where they are formed. The key is the process of formation, diagenesis and preservation, as well as the best process to determine this is by observation of modern and historical environment today.
2. Coral Reef Formation Process in the Thousand Islands
Java Sea today is the result of transgression or airlaut level rise at the beginning of the Holocene that occurred about 11,000 years ago. The growth of coral reefs in the Thousand Islands at that time was very fast which is about 5-10 mm annually. Holocene reefs are about 7000 years ago around the Sunda Strait. This confirmed that the fragment of coral (coral) at a depth of 19 meters in the core results in the West Island Women aged about 7900 years ago, which is covered by real time from the beginning of building the reef or carbonate in the Thousand Islands. Holocene sedimentation is still a thin layer of sediment.

Figure 1. The curve Rise Airlaut at 10,000 years ago in the South China Sea
3. Sediment Accumulation
Most sediments deposited in the back reef flat to the lagoon which is dominated by coral fragments. Most of the data sample cores were found in this study is dominated by coral (coral) and mud deficient. In the deep drill holes is 32.8 m, the bottom form karbonatan mudstone containing gravel, and its age is Pleistocene. Age determination is based on the life of coral fragments found in varying depths, indicating that there is a vertical accumulation in the period 10,000 to 4500 years ago.

Figure 2. Sediment Accumulation Terendapkannya place in the Thousand Islands in the Coral Zone Type According to James, 1984
From the results of drilling, it can be assumed that the deposition of carbonate sediments in the Thousand Islands coral reef facies formed in the flat, back reef, to the lagoon zone. Not far below the surface of the sample obtained by intra-platform channel (channel external exposure) and found a lot of exposure in the area of ​​clastic material that is sized fine is a proof, which is dominated by the form of coral skeletal components. At the core results at the top and Pabelokan Island Princess Island West consists of coral fragments and skeletal coarse sand (sand skeletal). Western Princess on the island, due to poor recovery process, only at a depth of 5-12 meters that can be considered reliable evidence. These cores contain variations on sorting skeletal medium to coarse sand, which is composed of mainly coral, broken shells of foraminifera and mollusks, and a bit of red algae and green algae. The point on sediment deposition in Thousand island is dominated by coral sediment (over 50%) with a little bit of red and green algae material and the absence of samples particularly good.
4. Process Diagenesis
Airtawar phreatic environment or an environment that was affected airtawar on the island is still small. Overall cementation process is very limited, but like spary calcite, he fills Calice meniscus saturated coral and Magnesium (Mg) calcite near the surface beachrock. Cement carbonate from the sea including the fibrous or fibrous aragonite and high-Mg calcite (dolomite), which has a short-form chemical bonds belahketupat, and peloidal kriptikristalin meet both. Limitations regarding the dissolution of aragonite disclose all the facts that exist.

Figure 3. Cementation Spari Calcite phreatic on Borehole in the Thousand Islands
5 Conclusions on Reservoir
Core data show that the porosity and permeability of rocks in the Thousand Islands is relatively good, it is seen from comparison of the percentage of the number of pores in the rock by rock incision area as seen from the microscope. Here are some results kenempakan incisions carbonate sedimentary rocks found in the Thousand Islands.
  

Figure 4. The incision Thin Stone on the Island Princess West

Figure 5. Description Lithology-1 Borehole Drilling Results at Island Pabelokan


Figure 6. The incision Thin rocks on the island Pabelokan (Borehole-1)

Rock porosity and good permeability is the carbonate sedimentary rocks that have not unalterable, especially in the group of coral sediment-Rudstone that act as flow channels and filler airlaut dominated by coral reefs. The absence of supply airtawar at this time (period of the Holocene) limit the diagenesis, but over time and increase the supply airtawar, is likely to produce a better development, where the porosity and permeability of rock can get better so sedimentary carbonate in Thousand Island could be a place migration of fluids including oil and gas.
BIBLIOGRAPHY
Park, Robert K., dkk. 1992. Holocene Carbonate Sedimentation, Pulau Seribu, Java Sea-The Third Dimension. IPA-Carbonate Rock and Reservoir of Indonesia : A Core Workshop
 

Kebakaran Gambut Bencana Berulang



“Spiral disaster”. Kebakaran Gambut – Bencana yg berulang

Posted on by Rovicky

“Spiral disaster”

Kalau dirunut awalnya ada usaha mulia untuk mengkonversi lahan gambut yg tidak bernilai ekonomis untuk diubah menjadi lahan pertanian/perkebunan. Salah satunya dg membuat parit/kanal. Termasuk dibakar belukarnya.
:-( “tujuannya baik ya pakde?”
:-D “yang penting ada pembelajaran dan jangan diulangi”
Saat itu api relatif mudah dikendalikan karena air masih banyak. Proses konversi lahan ini tujuannya awalnya sangat mulia untuk meningkatkan area pertanian/perkebunan supaya swasembada pangan. Tidak banyak yg mengatakan ini tindakan salah. Dan memang pengetahuan serta pemahaman lingkungan basah (wet land) tidak seperti saat ini.
Fakta lain adalah pembakaran hutan menjadi arang ini menjadikan siklus unsur hara memang dipercepat, berbeda bila melalui humus yg memerlukan waktu lebih lama. Tetapi akibat jangka panjang belum diketahui, mirip penggunaan energi nuklir sbg sumber energi yg saat ini diketaui banyak mudaratnya dan mulai ditinggalkan.
Cara drainasi ini belakangan dicurigai memicu dan mempercepat pengeringan lahan gambut yg akhirnya mampu terbakar secara alami.
Saat dintinjau tahun ini maupun beberapa tahun lalu banyak terlihat api terpicu secara alami. Seolah-olah kebakaran ini memang alami. Mungkin saja skrg alami tetapi kalau dirunut sangat mungkin akibat keteledoran sebuah tujuan mulia masa lalu.
Penanganan sekarang semestinya harus lebih cerdas. Mengambil air dibawah juga akan menurunkan muka air tanah. Kemungkinan juga akan mempercepat pengeringan lahan gambat yg secara berulang memicu kebakaran alami dimusim pnas berikutnya.
Jadi harus gimana ?
MIKIRR !!!

Disari dari Dongeng Geologi, Rovicky Putrohari

Informasi Geologi Kelautan : Geologi Kelautan



PENTINGNYA INFORMASI GEOLOGI KELAUTAN UNTUK PEMBANGUNAN PULAU TERPENCIL PERBATASAN
Oleh : M. ANWAR SIREGAR

Sejak dahulu kala, bangsa Indonesia telah dikenal sebagai bangsa bahari, yang artinya tidak lain adalah bangsa lautan, “Nenek moyangku adalah bangsa pelaut”….. “Yalesveva yayamahe”. Bangsa Indonesia harus hidup dengan dan dari laut, kalimat itu diatas kerap terdengar bila kita membicarakan tentang laut dan dikaitkan dengan kekuatan laut, teknologi kelautan ataupun penelitian kelautan, eksplorasi sumber daya alam kelautan, atau yang sekarang lebih aktual membicarakan tentang pembangunan pulau-pulau terpencil perbatasan di lautan dengan negara lain masih jauh tertinggal
Kita tahu, luas wilayah negeri ini dengan jumlah pulau terdiri 17.000 pulau dengan panjang garis pantai mencapai 81.000 kilometer atau 2/3 dari luas wilayah Indonesia hádala merupakan lautan dan juga merupakan sumber kehidupan rakyat hinga sekarang. Atau dengan kata lain kita harus bisa memanfaatkan potensi yang dimiliki lautan Indonesia sebagai tumpuan masa depan bangsa.
PULAU DIPERBATASAN
Disinilah pentingnya informasi geologi kelautan dalam mengawasi dan mengenal karakteristik perbatasan Indonesia, mengenal batas-batas alamiah dari landas kontinen di Pulau perbatasan agar tidak terjadi tumpang tindih perbatasan seperti yang kita alami dengan kasus Blok Ambalat. Informasi geologi kelautan itu masih banyak belum digunakan dalam pembahasan batas-batas wilayah. Sedikitnya dana penelitian kelautan salah satu faktor yang mendorong Indonesia tertinggal jauh dalam memanfaatkan kelebihan lautnya, terutama dalam eksplorasi dan ekspedisi ilmiah kelautan. Pembuatan peta Oceanic-hidrografi, peta topografi kepulauan, dan peta penentuan batas landas kontinen maritim.
Gambar : Pulau kecil dan terpencil seperti ini banyak terdapat di Perbatasan RI dengan negara tetangga (Foto Dok Penulis)
Ancaman keutuhan dan jati diri kita sebagai bangsa mengalami ancaman serius, diperlukan pengawasan dan penegakan kedaulatan pertahanan dan keamanan terutama dilaut pulau terpencil diperbatasan. Seperti Pulau-pulau di Natuna, Pulau-pulau di ujung utara Sulawesi dan pulau-pulau diperbatasan Papua dan Irian Jaya Barat serta Pulau-pulau di Utara Aceh, Sumatera Utara, Pulau di Utara Kepulauan Maluku dan Pulau di Selatan Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Jika perlu pemerintah membuka dan menambah kawasan pelabuhan IHP yang baru, bukan bertumpuh pada daerah/pulau yang besar seperti pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta), Pelabuhan Belawan (Medan), Pelabuhan Sekupang (Batam) dan Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya). Semuanya pembangunan daerah terpencil perbatasan memerlukan informasi geologi kelautan dalam memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, terutama untuk pengembangan batas-batas teritorial (landas kontine, eksplorasi sumber daya kelautan dan pengembangan pertahanan dan keamanan di lautan), selain ini, memahami karakteristik jalur-jalur daerah bergempa yang ada dilautan sebagai antisipasi korban bencana.
INFORMASI GEOLOGI KELAUTAN
Untuk mengungkapkan tabir rahasia alam yang terpendam didasar laut diperlukan suatu penelitian yang seksama dan harus dibantu dengan peralatan modern dan canggih. Informasi geologi kelautan akan memberikan informasi berupa gambaran tentang topografi dan dasar laut, batas dasar kontinen (kelanjutan alamiah dari dalam dan terluar pulau), penyebaran dan sifat dari sedimen dasar laut, komposisi dan struktur batuan dibawahnya. Sumber-sumber daya alam untuk dieksplorasi laut dan proses-proses geologi yang terjadi selama perkembangannyadi dasar laut, yang akan diteliti seperti jalur-jalur sesar (patahan), gerakan patahan dan area rupture dari hasil gempa tektonik yang pernah berlangsung, gunung-gunung berapi bawah laut, gelombang pasang, gelombang tsunami, pergerusan pantai, dan pembuatan peta-peta batas pulau/landas kontinen dibawah permukaan air laut.
Eksplorasi laut dan penelitian geologi kelautan hanya bisa dilakukan dengan menggunakan peralatan teknik yang lebih rumit dibandingkan penelitian dan pemetaan didaratan, karena kemampuan manusia terbatas dalam melakukan penyelamatan didasar laut. Maka kapal laut penelitian dapat digunakan sebagai sarana yang sangat vital dalam melakukan kajian geologi kelautan tersebut diatas, yang harus dirancang sangat khusus untuk membawa peralatan seismik, graviti magnet, piston core (bor penghisap), didalam kapal sudah tersedia laboratorium yang lengkap. Geologi kelautan dapat juga dibantu oleh beberapa disiplin ilmu lainnya yang berkaitan dengan proses eksplorasi dan ekspedisi (penelitian) laut dalam, misalnya teknologi sistim pemboran, sistim komputerisasi untuk pengolahan data, komputer khusus pembuatan peta-peta, pengideraan jauh berupa foto-foto dan juga menggunakan sistim navigasi satelit (GPS) untuk mengetahui kondisi daerah peneliti dan juga posisi kapal.
      LANDAS KONTINEN
Informasi geologi kelautan untuk pemahaman landas kontinensuatu negara yang meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya, yang menyambung dari laut dasar teritorial negara pantai melalui kelanjutan alamiah dariwilayah daratannya sampai keujung terluar tepian kontinen, dapat menggunakan metode penelitian pengeboran di laut hingga ke dasar laut akan diketahui batas tepian samudera untuk lautan-lautan marginal, kerak dan palung samudera serta lingkungan purba (paleoenviroment) didaerah landas kontinen dasar laut. Dari data hasil pengeboran akan diketahui ciri batas penentuan kontinen, dapat diketahui melalui struktur batuan sedimen, penyebaran batuan sedimen, sifat dasar batuan sedimen serta batuan dasar laut yang membentuk landas kontinen serta kelanjutan alamiahnya. Salah satu krusial dalam batas penentuan wilayah Indonesia adalah batas landas kontinen yang belum banyak dilakukan penelitian kecuali disekitar Laut Timor denga Australia, sekaligus juga ini salah satu faktor pembeda pandangan Indonesia dan Malaysia dalam melakukan pengukuran batas wilayah perairan teritorial. Tetapi bila dilihat secara keseluruhan perairan Ambalat adalah batas kelanjutan alamiah dari kerak benua/pulau Kalimanta (Kalimantan Timur) terutama sejarah geologi pembentukan pulau-pulau Wallacea yang terletak diperairan timur Indonesia. Peta rekontruksi  Asia Tenggara (Hall, 1995), menunjukkan struktur geologi laut kawasan timur Indonesia terbentu akibat benturan lempeng bumi dan pergerakan lempeng-lempeng kecil Pulau Sunda (Lempeng Asia Tenggara) terletak di barat Indonesia dengan pemisahan Lempeng Benua Eurasia di utara dan Lempeng Indo-Australia yang masuk ke wilayah Indonesia. Pada lempeng Asia Tenggara (Lempeng Sunda) trdapat pulau-pulau kecil seperti pulau Jawa, Sumatera, Malaysia, Vietnam, dan Borneo (Kalimantan, sarawak, Sabah), sedangkan pulau-pulau Sulawesi (Laut Sulawesi), Laut Banda, dan Irian (Samudera Pasifik) berada dan dipisahkan Selat Makassar dan laut Sulawesi hingga Laut Sulu dan Samudera Pasifik termasuk Taiwan. (Bellowood,2000). Telah mengalami evolusi dalam sejarah pembentukannya, yang menyebabkan perbedaan ketinggian (potografi) dibagian timur karena kondisi yang tidak stabil oleh struktur kerak buminya yang dalam proses pengangkatan da penurunan yang begitu cepat karena bumi belum menuju ke titik keseimbangan. Pulau-pulau yang ada dikawasan timur Indonesia bergerak ke barat dalam waktu 135 tahun yang lalu (zaman kapur). Oleh Hasyim Djalal, 2005 menyebutkan perairan Ambalat bagian dari laut Sulawesi dan kontinen alamiah lanjutn dari daratan Kalimantan Timur yang di tujukkan oleh pemisahan lautan dalam antara Blok Ambalat dan Sabah.
DATA GEOFISIKA KELAUTAN
Data dari hasil penelitian geofisika kelautan salah satu cara yang sangat penting dan besar manfaatnya untuk mempelajari gerak-gerak tektonik, penyebaran dan sifay-sifaat batuan, migrasi minyak dan gas bumi di dasar lautan. Dewasa ini, minyak dan gas bumi lebih banyak di temukan dilandas kontinen yang mengelilingi  benua sedalam 200 meter lebih. Pulau-pulau terpencil perbatasan Indonesia secara diskripsi terdapat kandungan 35 miliar barrel minyak, diperlukan pengswasan dan penelitian geofisika kelautan untukb sumber-sumber mineral lainnya dalam rangka pengembangan pembangunan paulau perbatasan dilautan dalam konteks ekonomi nasional. Teknologi penelitian pertambangan kelautan telah berkembang pesat untuk memahami kondisi dan struktur penyebaran bahan galian didasar laut berkat hasil penelitian geologi kelautan dengan metode pengeboran laut dalam (DSDP, Deep Sea drilling Project) dan penelitian geofisika kelautan berupa data seismik, SONAR (Sound Navigation and Ranging), SIR (Subsurface Interface Radar), foto dasar lautan. Dengan metode ini maka kita akan mengetahui dan mempeoleh gambaran mengenai kedalaman laiy, topografi bawah permukaan (dasar laut), eksplorasi minyak dan gas dilepas pantai (laut dangkal), juga dimanfaatkan untuk pencarian gumpalan mineral bijih yang mengandung bermacam-macam unsur logam berat yang langka dan mahal dipasaran dunia, yaitu perak, mangan, kobal, nikel yang banyak tersebar dikawasan timur Indonesia.
Sangat berguna untuk pembangunan ekonomi wilayah perbatasan yang bertumpuh pada kekayaan laut dan pembangunan pelabuhan laut yang menghadap ke negara-negara pasifik dengan perbatasan perairan teritorial Indonesia. Contohnya laut di Pulau Biak dan Laut Cina Selatan di Riau Kepulauan. Laut / Selat Makassar dan Teluk Bone di Sulawesi serta Laut Banda dan Laut Arafuru yang menghadap ke Negara Pasifik.
Dengan adanya data geologi dan geofisika kelautan, diharaakan Indonesia dapat membuat peta topografi dan geologi dengan bantuan satelit navigasi dan sistim informasi dan pemetaan yang dirasakan semakin global saat ini. Teknologi GPS (global positioning system)  sangat cocok untuk penyempurnaan penelitian geologi dan pengembangan pembangunan pulau terpencil terutama untuk pembuatan koordinat geografis titik pangkal kepulauan untuk penentuan batas wilayah. Selama ini digunakan lebih banyak batas ilustratif tanpa ada koordinat.
PEMBANGUNAN PULAU PERBATASAN
Sudah saatnya pembangunan kawasan pusat pertumbuhan baru dan strategis dipulau perbatasan dalam rangka pembangunan ekonomi dan pertahanan dan keamanan, karena dilaut perbatasan ada 92 pulau terluar, salah satu sumber konflik antara Indonesia dengan 10 negara berbatas. Pemerintah Pusat harus memprioritaskan pembangunan di pulau terluar sebagai basis ekonomi kelautan yang meliputi perikanan tangkap, budidaya laut, pariwisata bahari, industri jasa maritim, migas dan dan daerah pertumbuhan baru untuk pembangunan pelabuhan laut (IHP, International Hub Port) di perbatasan ujung Pulau Sulawesi, Pulau Biak. Kepulauan Maluku dan Maluku Utara, Sabang dan Selat Makassar untuk mengurangi beban biaya dan jarak tempuh transportasi dan mencegah ketertinggalan ekonomi, infrastruktur wilayah dan mengendalikan kecemburuan sosial, selama ini terabaikan dibibir pantai pasifik dalam perdagangan dan pelayaran internasional ke Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Asia.
Pulau-pulau perbatsan akan mengontrol dan juga penentu keutuhan kedaulatan NKRI apabia berjala secara efektif dan efisien dengan melakukan pembangunan berkelanjutan wilayah dengan pola ekonomi recources kelautan. Karena Pulau tersebut sebagai penentuan kepastian batas laut Indonesia dengan negara tetangga, yaitu sebagai batas teritorial (berhubngan dengan kepastian garis batas laut), batas landas kontinen (berhubungan dengan sumber daya alam hayati didasar laut) dan bats zona ekonomi ekslusif (berhubungan dengan sumber daya perikanan). Dapat juga mencegah pencurian ikan, pencurian kayu, dan harus disesuaikan dengan kemampuan ekosistim lingkungan dan berkelanjutan.
SDM KELAUTAN
Siapa yang mau ke laut? Bila bicara profil tentang laut, yang terlintas didalam benak setiap orang adalah sosok nelayan yang memiliki ciri-ciri miskin, tidak terdidik, terbelakang dan berbagai konotasi negatif lainnya. Diperlukan SDM kelautan yang mau mengelola sumber daya kelautan dalam memberi kontribusi pembangunan nasional. Ironisnya, luas kekayaan laut Indonesia berbanding terbalik SDM kelautan. Bagaimana bisa mengurus atau mengelola sumber-sumber kekayaan laut bila SDM sedikit mau ke laut. Diperlukan kemauan dari Pemuda Indonesia untuk terjun sebagai pelaut, peneliti geologi kelautan, pengusaha jasa kelautan dan bidang kelautan lainnya. Dan membuktikan Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia, karena terdapat 50.000 jenis sumber-sumber alam hayati untuk kesejahteraan bangsa dimasa depan.

Diterbitkan Surat Kabar Harian ”ANALISA” Tanggal 17 Mei 2005

17 Nov 2015

Byar Pett

TAJUK PALUEMASGEOLOG 3
KAPAN KRISIS BYAR PET BERAKHIR
Dalam tiga hari ini wilayah Medan dan Deli Serdang sekitarnya mengalami byar pet, kadang dalam sehari bisa berlangsung 2-3 kali. Ini mengingatkan kita pada resep dokter untuk minum obat. pagi padam, siang hidup sebentar lalu jelang sore/padam lagi dan terus jelang tengah malam padam lagi dan bisa berlangsung 3-5 jam. Anda pasti kesal dan marah.. Pasti!!!
Ironisnya, Sumut kaya energi baru terbarukan namun masih tetap krisis energi, sudah lama berlangsung kejadian byar pet ini, namun tindakan para pemimpin di negeri ini tetap adem ayem, menganggap hal ini masalah sepele, sedangkan masyarakat sudah gerah dengan kondisi kelistrikan di Sumatera Utara dan Indonesia secara luas.
Namun hingga kini hal itu belum teratasi dengan baik disebabkan beberapa hal diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Belum optimalnya pemanfaatan EBT secara massal
  • Pemerintah masih setengah hati melakukan pembauran energi baru terbarukan, banyak potensi energi alternatif investasi mengalami kendala dampak dari izin dan insentif pajak yang sangat tinggi dan merugikan kalangan bisnis energi
  • Pemerintah belum begitu kuat untuk mendorong mernggunakan energi alaternatif dampak kebijakan kapitalisme
2. Mentalitas Pling Plan
  • Banyak terjadi korupsi dan pengadaan bahan energi listrik di PLN
  • Operator listrik lebih dominan dan selalu tunduk kepada kepentingan pihak asing
  • Izin-izin terkendala dan masih banyaknya biaya siluman
  • Perencanaan perbaikan genset dan gardu maupun yang lain yang berkaitan dengan perawatan peralatan listrik oleh PLN dianggap tidak profesional sehingga jika terjadi pemadaman alasan klise selalu dilontarkan yaitu sedang ada kerusakan dan kebakaran dan pas perawatan itu justru terjadi di musim hujan.... seperti terjadi pemadaman di minggu ke 2 November 2015
3. Investasi energi di Indonesia memang sangat lambat dan mahal serta banyaknya yang berkepentingan atas segala yang berhubungan urusan "kantong belakang"

Yang mengherankan kenapa PLN begitu mudah melakukan pemadaman?apakah tidak ada sumber penggunaan bahan bakar lain? Dan kenapa Sumut ini belum juga mampu keluar dari krisis energi?
Sumatera Utara Perlu belajar bagaimana memanfaatkan berbagai macam energi terbarukan dengan memanfaatkan segala potensi yang ada agar tidak terabaikan. Sumatera Utara jangan sampai gelap gulita dan menghasilkan sumber daya manusia yang tertinggal dari daerah dan negara lain.

Potensi Panas Bumi sarulla, sibayak dan sibual-buali harus dioptimalkan dengan regulasi yang memudahkan investasi lebih cepat agar terealisasi pemanfaatan 1000 MW yang terkandung dari tiga blok panas bumi Sumutera Utara.

Pemerintah harus turun tangan, jangan sampai terjadi kemarahan masyarakat sumut karena krisis ini, banyak efek yang menyertainya.

Para Geolog harus terus bekerja keras untuk menemukan sumber-sumber energi baru untuk kesejahteraan rakyat Indonesia dan pemerintah berikanlah kesempatan kepada perusahaan Indonesia untuk membangun energi agar kedaulatan energi berada di tangan putra-putri Indonesia. Pemerintah wajib memberikan dukungan kepada bangsanya sendiri untuk mengoptimalkan sumber-sumber daya pertambangan dan geologi.

Hilangkan aturan UU yang menyulitkan bangsa sendiri, jangan terus terpaku pada aturan mekanisme pasar karena segala sumber daya yang ada di indonesia telah diatur dalam UUD 1945 yang tidak menginginkan pihak asing menguasai hayat hidup bangsa Indonesia.
Adalah tolol jika mau tunduk kepada kepentingan asing secara terus menerus.... lihatlah berbagai gejolak akibat sumber daya geologi yang terkuras oleh pihak asing di tanah Cenderawasih Papua, di Bumi Dalihan Natolu, di Bumi Lancang Kuning, di Bumi Dayak Kalimantan dan Bumi Serambih Mekkah Aceh serta di seluruh pantai Indonesia.

Tergambar bagaimana miskinnya rakyat di daerah tersebut. Memang mereka ada memberikan sumbangan untuk pembangunan dan APBD dalam devisa tetapi tetap saja mereka lebih kaya dan lebih banyak membawa harta kekayaan rakyat RI itu ke negaranya dan sisa impasnya berupa kehancuran alam dan lagi-lagi pemerintah harus menguras cadangan devisa untuk melakukan reklamasi hijau... sungguh sebuah ketidakadilan bagi segenap bangsa Indonesia yang kaya raya sumber daya alam tetapi miskin rakyatnya.

Gugat rasa hati.... buka hati, lihat dengan hati, suarakan hatimu untuk membangun bangsa ini menuju kemakmuran dan kesatuan bangsa yang lebih utuh....Sudah saatnya bersatu menuju Indonesia Raya yang merdeka berdaulat atas segala sumber daya alam dan sumber daya ruang, dan sumber daya ekonomi untuk kembali kepada kepentingan rakyat Indonesia.


Populer

Laut Indonesia darurat sampah

  LAUT INDONESIA DARURAT SAMPAH Oleh M. Anwar Siregar   Laut Indonesia banyak menyediakan banyak hal, bagi manusia terutama makanan ...