Informasi Geologi Kelautan : Geologi Kelautan
PENTINGNYA INFORMASI GEOLOGI
KELAUTAN UNTUK PEMBANGUNAN PULAU TERPENCIL PERBATASAN
Oleh : M. ANWAR SIREGAR
Sejak dahulu kala, bangsa
Indonesia telah dikenal sebagai bangsa bahari, yang artinya tidak lain adalah
bangsa lautan, “Nenek moyangku adalah bangsa pelaut”….. “Yalesveva yayamahe”.
Bangsa Indonesia harus hidup dengan dan dari laut, kalimat itu diatas kerap
terdengar bila kita membicarakan tentang laut dan dikaitkan dengan kekuatan
laut, teknologi kelautan ataupun penelitian kelautan, eksplorasi sumber daya
alam kelautan, atau yang sekarang lebih aktual membicarakan tentang
pembangunan pulau-pulau terpencil perbatasan di lautan dengan negara lain masih
jauh tertinggal
Kita tahu, luas wilayah negeri
ini dengan jumlah pulau terdiri 17.000 pulau dengan panjang garis pantai
mencapai 81.000 kilometer atau 2/3 dari luas wilayah Indonesia hádala merupakan
lautan dan juga merupakan sumber kehidupan rakyat hinga sekarang. Atau dengan kata lain kita harus bisa
memanfaatkan potensi yang dimiliki lautan Indonesia sebagai tumpuan masa depan
bangsa.
PULAU DIPERBATASAN
Disinilah pentingnya informasi
geologi kelautan dalam mengawasi dan mengenal karakteristik perbatasan
Indonesia, mengenal batas-batas alamiah dari landas kontinen di Pulau
perbatasan agar tidak terjadi tumpang tindih perbatasan seperti yang kita alami
dengan kasus Blok Ambalat. Informasi geologi kelautan itu masih banyak belum
digunakan dalam pembahasan batas-batas wilayah. Sedikitnya dana penelitian
kelautan salah satu faktor yang mendorong Indonesia tertinggal jauh dalam
memanfaatkan kelebihan lautnya, terutama dalam eksplorasi dan ekspedisi ilmiah
kelautan. Pembuatan peta Oceanic-hidrografi, peta topografi kepulauan, dan peta
penentuan batas landas kontinen maritim.
Gambar : Pulau kecil dan terpencil seperti
ini banyak terdapat di Perbatasan RI dengan negara tetangga (Foto Dok Penulis)
Ancaman keutuhan dan jati diri
kita sebagai bangsa mengalami ancaman serius, diperlukan pengawasan dan
penegakan kedaulatan pertahanan dan keamanan terutama dilaut pulau terpencil
diperbatasan. Seperti Pulau-pulau di Natuna, Pulau-pulau di ujung utara
Sulawesi dan pulau-pulau diperbatasan Papua dan Irian Jaya Barat serta
Pulau-pulau di Utara Aceh, Sumatera Utara, Pulau di Utara Kepulauan Maluku dan
Pulau di Selatan Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Jika perlu pemerintah membuka
dan menambah kawasan pelabuhan IHP yang baru, bukan bertumpuh pada daerah/pulau
yang besar seperti pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta), Pelabuhan Belawan
(Medan), Pelabuhan Sekupang (Batam) dan Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya).
Semuanya pembangunan daerah terpencil perbatasan memerlukan informasi geologi
kelautan dalam memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, terutama untuk
pengembangan batas-batas teritorial (landas kontine, eksplorasi sumber daya
kelautan dan pengembangan pertahanan dan keamanan di lautan), selain ini,
memahami karakteristik jalur-jalur daerah bergempa yang ada dilautan sebagai
antisipasi korban bencana.
INFORMASI GEOLOGI
KELAUTAN
Untuk mengungkapkan tabir
rahasia alam yang terpendam didasar laut diperlukan suatu penelitian yang
seksama dan harus dibantu dengan peralatan modern dan canggih. Informasi
geologi kelautan akan memberikan informasi berupa gambaran tentang topografi
dan dasar laut, batas dasar kontinen (kelanjutan alamiah dari dalam dan terluar
pulau), penyebaran dan sifat dari sedimen dasar laut, komposisi dan struktur
batuan dibawahnya. Sumber-sumber daya alam untuk dieksplorasi laut dan
proses-proses geologi yang terjadi selama perkembangannyadi dasar laut, yang
akan diteliti seperti jalur-jalur sesar (patahan), gerakan patahan dan area
rupture dari hasil gempa tektonik yang pernah berlangsung, gunung-gunung berapi
bawah laut, gelombang pasang, gelombang tsunami, pergerusan pantai, dan
pembuatan peta-peta batas pulau/landas kontinen dibawah permukaan air laut.
Eksplorasi laut dan penelitian
geologi kelautan hanya bisa dilakukan dengan menggunakan peralatan teknik yang
lebih rumit dibandingkan penelitian dan pemetaan didaratan, karena kemampuan
manusia terbatas dalam melakukan penyelamatan didasar laut. Maka kapal laut
penelitian dapat digunakan sebagai sarana yang sangat vital dalam melakukan
kajian geologi kelautan tersebut diatas, yang harus dirancang sangat khusus
untuk membawa peralatan seismik, graviti magnet, piston core (bor penghisap),
didalam kapal sudah tersedia laboratorium yang lengkap. Geologi kelautan dapat
juga dibantu oleh beberapa disiplin ilmu lainnya yang berkaitan dengan proses
eksplorasi dan ekspedisi (penelitian) laut dalam, misalnya teknologi sistim
pemboran, sistim komputerisasi untuk pengolahan data, komputer khusus pembuatan
peta-peta, pengideraan jauh berupa foto-foto dan juga menggunakan sistim
navigasi satelit (GPS) untuk mengetahui kondisi daerah peneliti dan juga posisi
kapal.
LANDAS KONTINEN
Informasi geologi kelautan
untuk pemahaman landas kontinensuatu negara yang meliputi dasar laut dan tanah
di bawahnya, yang menyambung dari laut dasar teritorial negara pantai melalui
kelanjutan alamiah dariwilayah daratannya sampai keujung terluar tepian
kontinen, dapat menggunakan metode penelitian pengeboran di laut hingga ke
dasar laut akan diketahui batas tepian samudera untuk lautan-lautan marginal,
kerak dan palung samudera serta lingkungan purba (paleoenviroment) didaerah
landas kontinen dasar laut. Dari data hasil pengeboran akan diketahui ciri
batas penentuan kontinen, dapat diketahui melalui struktur batuan sedimen,
penyebaran batuan sedimen, sifat dasar batuan sedimen serta batuan dasar laut
yang membentuk landas kontinen serta kelanjutan alamiahnya. Salah satu krusial
dalam batas penentuan wilayah Indonesia adalah batas landas kontinen yang belum
banyak dilakukan penelitian kecuali disekitar Laut Timor denga Australia,
sekaligus juga ini salah satu faktor pembeda pandangan Indonesia dan Malaysia
dalam melakukan pengukuran batas wilayah perairan teritorial. Tetapi bila
dilihat secara keseluruhan perairan Ambalat adalah batas kelanjutan alamiah
dari kerak benua/pulau Kalimanta (Kalimantan Timur) terutama sejarah geologi
pembentukan pulau-pulau Wallacea yang terletak diperairan timur Indonesia. Peta
rekontruksi Asia Tenggara (Hall, 1995),
menunjukkan struktur geologi laut kawasan timur Indonesia terbentu akibat
benturan lempeng bumi dan pergerakan lempeng-lempeng kecil Pulau Sunda (Lempeng
Asia Tenggara) terletak di barat Indonesia dengan pemisahan Lempeng Benua
Eurasia di utara dan Lempeng Indo-Australia yang masuk ke wilayah Indonesia. Pada
lempeng Asia Tenggara (Lempeng Sunda) trdapat pulau-pulau kecil seperti pulau
Jawa, Sumatera, Malaysia, Vietnam, dan Borneo (Kalimantan, sarawak, Sabah),
sedangkan pulau-pulau Sulawesi (Laut Sulawesi), Laut Banda, dan Irian (Samudera
Pasifik) berada dan dipisahkan Selat Makassar dan laut Sulawesi hingga Laut
Sulu dan Samudera Pasifik termasuk Taiwan. (Bellowood,2000). Telah mengalami
evolusi dalam sejarah pembentukannya, yang menyebabkan perbedaan ketinggian
(potografi) dibagian timur karena kondisi yang tidak stabil oleh struktur kerak
buminya yang dalam proses pengangkatan da penurunan yang begitu cepat karena
bumi belum menuju ke titik keseimbangan. Pulau-pulau yang ada dikawasan timur Indonesia
bergerak ke barat dalam waktu 135 tahun yang lalu (zaman kapur). Oleh Hasyim
Djalal, 2005 menyebutkan perairan Ambalat bagian dari laut Sulawesi dan
kontinen alamiah lanjutn dari daratan Kalimantan Timur yang di tujukkan oleh
pemisahan lautan dalam antara Blok Ambalat dan Sabah.
DATA GEOFISIKA
KELAUTAN
Data dari hasil penelitian
geofisika kelautan salah satu cara yang sangat penting dan besar manfaatnya
untuk mempelajari gerak-gerak tektonik, penyebaran dan sifay-sifaat batuan,
migrasi minyak dan gas bumi di dasar lautan. Dewasa ini, minyak dan gas bumi
lebih banyak di temukan dilandas kontinen yang mengelilingi benua sedalam 200 meter lebih. Pulau-pulau
terpencil perbatasan Indonesia secara diskripsi terdapat kandungan 35 miliar
barrel minyak, diperlukan pengswasan dan penelitian geofisika kelautan untukb
sumber-sumber mineral lainnya dalam rangka pengembangan pembangunan paulau
perbatasan dilautan dalam konteks ekonomi nasional. Teknologi penelitian
pertambangan kelautan telah berkembang pesat untuk memahami kondisi dan
struktur penyebaran bahan galian didasar laut berkat hasil penelitian geologi
kelautan dengan metode pengeboran laut dalam (DSDP, Deep Sea drilling Project)
dan penelitian geofisika kelautan berupa data seismik, SONAR (Sound Navigation
and Ranging), SIR (Subsurface Interface Radar), foto dasar lautan. Dengan
metode ini maka kita akan mengetahui dan mempeoleh gambaran mengenai kedalaman
laiy, topografi bawah permukaan (dasar laut), eksplorasi minyak dan gas dilepas
pantai (laut dangkal), juga dimanfaatkan untuk pencarian gumpalan mineral bijih
yang mengandung bermacam-macam unsur logam berat yang langka dan mahal
dipasaran dunia, yaitu perak, mangan, kobal, nikel yang banyak tersebar
dikawasan timur Indonesia.
Sangat berguna untuk
pembangunan ekonomi wilayah perbatasan yang bertumpuh pada kekayaan laut dan
pembangunan pelabuhan laut yang menghadap ke negara-negara pasifik dengan
perbatasan perairan teritorial Indonesia. Contohnya laut di Pulau Biak dan Laut
Cina Selatan di Riau Kepulauan. Laut / Selat Makassar dan Teluk Bone di
Sulawesi serta Laut Banda dan Laut Arafuru yang menghadap ke Negara Pasifik.
Dengan adanya data geologi dan
geofisika kelautan, diharaakan Indonesia dapat membuat peta topografi dan
geologi dengan bantuan satelit navigasi dan sistim informasi dan pemetaan yang
dirasakan semakin global saat ini. Teknologi GPS (global positioning
system) sangat cocok untuk penyempurnaan
penelitian geologi dan pengembangan pembangunan pulau terpencil terutama untuk
pembuatan koordinat geografis titik pangkal kepulauan untuk penentuan batas
wilayah. Selama ini digunakan lebih banyak batas ilustratif tanpa ada
koordinat.
PEMBANGUNAN PULAU
PERBATASAN
Sudah saatnya pembangunan
kawasan pusat pertumbuhan baru dan strategis dipulau perbatasan dalam rangka
pembangunan ekonomi dan pertahanan dan keamanan, karena dilaut perbatasan ada
92 pulau terluar, salah satu sumber konflik antara Indonesia dengan 10 negara
berbatas. Pemerintah Pusat harus memprioritaskan pembangunan di pulau terluar
sebagai basis ekonomi kelautan yang meliputi perikanan tangkap, budidaya laut,
pariwisata bahari, industri jasa maritim, migas dan dan daerah pertumbuhan baru
untuk pembangunan pelabuhan laut (IHP, International Hub Port) di perbatasan
ujung Pulau Sulawesi, Pulau Biak. Kepulauan Maluku dan Maluku Utara, Sabang dan
Selat Makassar untuk mengurangi beban biaya dan jarak tempuh transportasi dan
mencegah ketertinggalan ekonomi, infrastruktur wilayah dan mengendalikan
kecemburuan sosial, selama ini terabaikan dibibir pantai pasifik dalam
perdagangan dan pelayaran internasional ke Amerika Serikat, Australia dan
negara-negara Asia.
Pulau-pulau perbatsan akan
mengontrol dan juga penentu keutuhan kedaulatan NKRI apabia berjala secara
efektif dan efisien dengan melakukan pembangunan berkelanjutan wilayah dengan
pola ekonomi recources kelautan. Karena Pulau tersebut sebagai penentuan
kepastian batas laut Indonesia dengan negara tetangga, yaitu sebagai batas
teritorial (berhubngan dengan kepastian garis batas laut), batas landas
kontinen (berhubungan dengan sumber daya alam hayati didasar laut) dan bats
zona ekonomi ekslusif (berhubungan dengan sumber daya perikanan). Dapat juga
mencegah pencurian ikan, pencurian kayu, dan harus disesuaikan dengan kemampuan
ekosistim lingkungan dan berkelanjutan.
SDM KELAUTAN
Siapa yang mau ke laut? Bila
bicara profil tentang laut, yang terlintas didalam benak setiap orang adalah
sosok nelayan yang memiliki ciri-ciri miskin, tidak terdidik, terbelakang dan
berbagai konotasi negatif lainnya. Diperlukan SDM kelautan yang mau mengelola
sumber daya kelautan dalam memberi kontribusi pembangunan nasional. Ironisnya,
luas kekayaan laut Indonesia berbanding terbalik SDM kelautan. Bagaimana bisa
mengurus atau mengelola sumber-sumber kekayaan laut bila SDM sedikit mau ke
laut. Diperlukan kemauan dari Pemuda Indonesia untuk terjun sebagai pelaut,
peneliti geologi kelautan, pengusaha jasa kelautan dan bidang kelautan lainnya.
Dan membuktikan Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia, karena
terdapat 50.000 jenis sumber-sumber alam hayati untuk kesejahteraan bangsa
dimasa depan.
Diterbitkan Surat Kabar Harian ”ANALISA”
Tanggal 17 Mei 2005
Komentar
Posting Komentar