Bulutangkis : Bukan Terhebat
BULUTANGKIS KITA BUKAN TERHEBAT SAAT INI
Oleh M. Anwar Siregar
Mengapa dalam segala hal
dan segala bidang negeri ini bukannya semakin maju, malah semakin mundur?
Bahkan dalam bidang olahraga bulutangkis yang dahulunya masih bisa saling
mengalahkan apabila bertemu dengan negara China, sekarang seperti negara yang
baru belajar bermain bulutangkis saat bertemu dengan negara China? Apakah kita
sedang menuju ambang kehancuran?? Saya jadi kuatir apabila nanti Indonesia
berencana untuk memproduksi alat transportasi sendiri. Yang ada nanti alat
transportasinya bukan berjalan maju, malah berjalan mundur seperti trend
sekarang ini. Jadi kalau mobil produksi Indonesia itu nanti gigi majunya cuma
satu sedangkan gigi mundurnya ada lima. Apakah seperti itu masa depan kita???
(SUMBER : Mengapa Mundur, Bukannya
Maju??? Oleh : Lord-Voldemort, Bulutangkis. Com.)
Gambar : Kapan Atlet kita berjaya seperti juara di berbagai turnamen?
(Sumber : Pratamasite.Blogspot.com)
PEMBINAAN LATIHAN
Kutipan tersebut diatas
ada benarnya, kita memang bukan terhebat dalam adu bulu angsa, saat ini
Tiongkok dengan kekuatannya yang ada telah membuat siapa pun menjadi begitu
getir. Pembinaan bulutangkis yang terpusat itu belum lagi menghasilkan pemain
yang berkualitas mumpuni, atlet yang dikirim itu-itu saja, jadi gak
mengherankan menjadi sasaran empuk karena sudah diketahui kualitasnya dan
dilain pihak, lawan justrunya berjaya menghasilkan kualitas pembinaan yang baik
karena konsistensi penerapan pelatihan yang spartan dan tidak memotong metode yang
belum terserap.
Dalam latihan kadang
pelatih tidak bebas dari tekanan dan intervensi pengurus, diketahui dari sistim
latihan yang diterapkan kadang belum maksimal sehingga atlet kita harus selalu
mengawali menu latihan yang selalu berbeda. Sedang penerapan dan taktik untuk
menelaah kondisi permainan atlet luar negeri kadang kita menjadi kedodoran,
kalu tidak mengapa atlet kita mudah dipecundang? Bukti itu dapat dilihat dari
berbagai jenis kejuaraan bulutangkis perseorangan maupun beregu, lihat saja
permainan anti klimaks dalam beregu axiata tahun lalu, indonesia yang sudah
mampu mengalahkan Thailand di babak penyisihan namun begitu susahnya
mengalahkan atlet mereka di final.
Latihan yang diberikan
mungkin sudah ketinggalan? Rasanya pelatih kita tidak kalah berkualitas dari
pelatihan luar, jika tidak, hal ini tidak mungkin ada mantan atlet yang menjadi
pelatih bisa menjadi pelatih hebat di negara lawan. Yang menyebabkan kondisi
kegagalan ini adalah intervensi pengurus dan kondisi keadaan dalam latihan yang
kurang menyenangkan.
Pelatnas Cipayung itu
seharusnya direformasi, reformasi adalah dibidang rekrutmen atlet, jejak rekam
pembinaan di luar pelatnas dan perlu dilakukan suatu test semangat karakter
nation building selama pembina latihan pribadi, dapat dilihat dari berbagai
cara, untuk melihat kualitas atlet tersebut, keseriusan, ketahanan dan kekuatan
serta visi dia terhadap olahraga tersebut.
REFORMASI PELATIH
Pertama, kita jangan terus
mengandalkan atlet yang menjadi pelatih di Jawa, sebaiknya pelatih juga dikontrak
ke pembinaan pelatda yang banyak di daerah, dan lebih membutuhkan atlet yang
menjadi pelatihan berbagi ilmu pengetahuan, dikontrakan untuk melihat kemampuan
kepelatihan.
Kedua, atlet veteran
sebaiknya juga dijadikan sparing partner latihan atlet daerah dengan mengontrak
atlet tersebut atau sebuah wadah untuk melakukan safari dalam jangka satu atau
dua bulan latihan bersama atlet dipelatda-pelatda agar mudah menyerah alih
kemampuan bermain dari atlet yang berpengalaman.
Ketiga, sebaiknya diadakan
grand prix nasional khusus untuk atlet perseorang pelatda tiap bulan seperti
pertandingan internasional secara berganti pada tiap kota di Indonesia, atlet
diberikan kesempatan untuk mengikuti pertanding tersebut tanpa membawa klub,
dapat diikuti layaknya sebagai atlet profesional, agar dapat menciptakan
kemandirian atlet, menciptkan semangat karakter bertanding yang kuat. Namun
yang ada saat ini, pertandingan bulutangkis hanya dilakukan secara berkala.
Keempat, PBSI seharusnya
memiliki berbagai turnamen khusus atlet daerah, buat kejuaraan seperti grand
prix dikhususkan untuk atlet daerah dan pelatnas pratama atau yunior, lakukan
kejuaran tersebut melalui sistim grup agar atlet dapat bertanding
sebanyak-banyaknya pada lawan yang berbeda, sekali dalam periode tertentu di
undang pihak luar untuk mengikutinya, atau buatkanlah kategori pertandingan
dibuat oleh BMW lalu implementasikan ke dalam pembinaan untuk mencari atlet
berbakat. Tiru saja dan anggap setiap negara diganti daerah dengan silih
berganti menyelenggarakan kejuaraan tersebut dan memberikan peluang terciptanya
persaingan ketat untuk mendapatkan atlet berkualitas.
Kelima, agar bulutangkis
dapat menjadi olahraga yang mengurangi dampak pengangguran maka sistim
kejuaraan harus bersifat bulanan, dan akhir seri terakhir dijadikan sebagai
final sekaligus untuk memastikan atlet berbakat yang terpantau dapat di lihat
sekali lagi kemampuannya, bukan seperti rekrutmen saat ini, melihat hasil
peringkat, hanya juara sekali di lain waktu dan tidak konsisten mempertahankan
prestasi, karena gambaran seperti ini banyak terlihat pada atlet kita saat ini,
tidak kontinu, gagal lebih banyak di penyisihan. Dan tim pemantau bakat hanya
melaihat hasil akhir pada satu dua kejuaraan yang diikuti sebelum dipastikan
masuk pelatnas.
JADI SUMBER HIDUP
Bulutangkis bisa menjadi
sumber kehidupan seperti layak oleharaga tenis, atlet bertanding bukan mengejar
uang tetapi mengejar prestasi sehingga merekan akan berusaha selalu bersikap
profesional dalam berlatih, kehidupan dan bertanding demi menjaga kualitas
prestasi.
Bulutangkis adalah sumber
kehidupan bagi pemuda yang ingin hidup cukup dan mengharumkan bangsa dalam
olahraga. Bulutangkis cocok bagi kondisi fisik rakyat Indonesia dan harus masuk
prioritas pembangunan olahraga secara massal di berbagai jenjang masyarakat.
Bulutangkis Indonesia
jangan mundur dalam menghasilkan pemain berkualitas internasional, kita tidak
kalah dari negara lain, yang menjadi kendala kemajuan olahraga ini adalah
pembinaannya, rekrukmen, sedikit turnamen bulanan atau kejuaraan rutin setiap
bulan secara nasional serta dapat menjadi sumber kehidupan dengan memberikan
atlet untuk mendapatkan sumber dana dari sponsor.
Manajemen sponsort atlet
nasional sebaiknya jangan kaku, berikan merekan peluang untuk profesioanl,
karena selama ini ada kesan di diktenya atlet untuk mengikat kontrak dan
sehingga menimbulkan kesan kecemburuan. PBSI tetap wadah pembinaan wajib
memberikan usulan yang adil dan tidak lekas membuat aturan sepihak sehingga
ribut-ribut sponsor dapat dieliminir.
Saatnya juga diadakan
kejuaraan bulutang kis khusus untuk pembinaan dini usia dibah 10 tahun secara
kontinu, karena gemanya hanya terdengar sesaat, kadang ada dalam setahun lalu
meredup hingga bertahun-tahun.
Untuk atlet nasional,
baiknya amati kualitas permainan atlet luar negeri, siapkan buku catatan
sebagai panduan, jika anda lebih dulu sebagai penonton, amatilah semua
sepakterjangnya, bagaimana kode rahasia pelatihan lawan selama pertandingan
itu. Hal ini belum membumi dikalangan atlet kita dan lebih banyak di dapat dari
diskusi pelatih. Atlet harus buat cacatan sendiri dan rembuk dengan hasil
pelatihan agar metode latihan yang berbeda namun bertujuan untuk peningkatan
teknik bertanding.
Semoga bangkit bulutangkis
Indonesia.
M. Anwar Siregar
Penggemar bulutangkis, sepakbola dan adventure
geologi
27 Nov 2015
Geosportravel: Non Greatest
BADMINTON WE IS NOT THIS TIME GREATEST
By M. Anwar Siregar
Why in all things and all
areas of the country instead of getting ahead, even on the skids? Even in the
field of badminton which formerly could still beat each other when meeting with
the Chinese state, now as a new country to learn to play badminton when meeting
with China? Whether we are heading for the brink of destruction ?? I was so
worried when later Indonesia plans to produce their own transportation. That
there later developed means of transport is not running, even walking backward
like a trend now. So if Indonesia production car that later advance of only one
gear tooth pullback while there are five. Is it the future as we ??? (SOURCE: Why Backward, Not Forward ??? By: Lord-Voldemort,
badminton. Com.)
Picture:
When we are victorious athletes as champions in the various tournaments?
(Source:
Pratamasite.Blogspot.com)
CONSTRUCTION TRAINING
The quote above is true,
we are not the greatest in the penalty goose down, this time with the strength
of existing Chinese have made anyone be so bitter. Coaching badminton
centralized it yet again produce a quality player capable, athletes who sent
it-that's all, so not surprisingly, become an easy target because it is already
known the quality and on the other hand, opponents justrunya prevail produce
quality good coaching because of the consistency of the application of training
spartan and cutting method that has not been absorbed.
In practice sometimes
coaches are not free from pressure and intervention committee, known from the
training system is applied sometimes not maximized so that our athletes should
always mengawail menu is always different exercises. Being the application and
game tactics to examine the condition of foreign athletes sometimes we become
oversized, kalu not easy dipecundang why our athletes? The evidence can be seen
from the various types of individual or team badminton championship, just look
at the game Axiata anti climax in the team last year, Indonesia which has been
able to beat Thailand in the preliminary round but so hard beat of their
athletes in the final.
Training provided may be
outdated? It feels a coach we do not lose quality of training outside, if not,
it is unlikely there is a former athlete who became a coach can be a great
coach in countries opposed. The cause of this failure condition is a condition
of state intervention in the management and exercise less pleasant.
Pelatnas Cipayung it
should be reformed, the reform is in the field of recruitment of athletes,
track record of coaching outside national training and needed a test the spirit
of the character of nation building during builder personal training, can be
viewed from a variety of ways, to see the quality of the athletes, seriousness,
endurance and strength as well as her vision for the sport.
REFORM COACH
First, we should not
continue to rely on the athlete to coach in Java, you should also contracted to
coach coaching Pelatda that many in the area, and more in need of the training
athletes to share knowledge, contracted out to see the coaching ability.
Second, the veteran
athlete should also be used as a sparring partner by contracting local athletes
training athletes or a container to do a safari within one or two months of
training together athletes dipelatda-Pelatda so easy to give up control of the
ability to play from the experienced athlete.
Thirdly, should be held
grand prix special national for athletes perseorang Pelatda each month as
international matches are changed in each city in Indonesia, the athletes are
given the opportunity to follow the GAME is without a club, can be followed
like a professional athlete, in order to create independence athletes, creating
passion play strong characters. However, existing, badminton match is only
carried out periodically.
Fourth, PBSI should have a
variety of special tournaments athletes area, make championships such as the
grand prix is devoted to athletes regional and national training pratama or junior, did
championships through the system group that athletes can compete as much on a
different opponent, once in a certain period in the Act outsiders to follow, or
be made a category of games made by BMW and then implemented into coaching to
search for talented athletes. Imitate it and consider each country replaced
with alternating regions organize the championship and give the opportunity to
create a tough competition to get quality athletes.
Fifth, so badminton can be
a sport that reduce the impact of unemployment, the system of the championship
should be monthly, and the end of the last series serve as final as well as to
ensure the talented athlete that is monitored can be seen once again his ability,
not like recruitment at this time, see the results of the rankings, just
champion once in another time and did not consistently maintain the
achievements, because a picture like this one seen in many of our athletes
today, not continuous, fail more in the allowance. And a team of scouts just
melaihat outcome in the two championships followed before entering national
training ensured.
SO SOURCE OF LIFE
Badminton can be a source
of life as worthy oleharaga tennis, athletes compete not chase money but the pursuit
of achievement so that they would be trying to always be professional in
practice, life and compete in order to maintain the quality of achievement.
Badminton is the source of
life for the youth who want to live reasonably and scent the nation in sport.
Badminton is suitable for the physical condition of the people of Indonesia and
should enter mass sports development priority at all levels of society.
Badminton Indonesia do not
retreat in producing quality players internationally, we are not lost to other
countries, which is an obstacle progress the sport is its development,
rekrukmen, little monthly tournaments or championships every month nationwide
and can be a source of life by giving athletes to get the source of funds from
sponsors.
Management sponsort
national athletes should not be rigid, provide opportunities for doing
professional recording, because there has been the impression in diktenya
athletes to bind the contract and thus give rise to the impression of jealousy.
PBSI keep container development required to provide a fair proposal and not
quickly make unilateral rules that fuss sponsor can be eliminated.
It is time also held the
championship bulutang specifically for coaching kis dibah early age of 10 years
continuously, since the echo sounding just a moment, sometimes there a year ago
dimmed for years.
For national athletes,
good athletes observe the quality of the game abroad, prepare a notebook as a
guide, if you first as a spectator, observe all sepakterjangnya, how the secret
code training opponents during the game. It is not grounded among our athletes
and more in the can of discussion trainer. Athletes should make their own
remarks and consultation with the training results that training methods are
different but the technique aims to increase competition.
Hopefully rise Indonesian
badminton.
M. Anwar Siregar
Fan of badminton, football and adventure geology
Komentar
Posting Komentar