Polarisasi Gempa Mentawai : Geologi Gempa
POLARISASI GEMPA DUNIA DI PATAHAN
MENTAWAI-SUMATERA
oleh : M. Anawar Siregar
Setelah gempa Sumatera Barat 30 September 2009,
lalu gempa terjadi cukup kuat 23 Oktober 2009 di wilayah Barat Manokwari dengan
kekuatan gempa 6.0 SR, kemudian berlanjut lagi gempa dikawasan Indonesia Barat
di Perairan Pantai Selatan Jawa di wilayah Sukabumi dengan intensitas 6,4 SR 24
oktober 2009. Berlanjut lagi tekanan gempa di barat daya Saumlaki-Kepulauan
Maluku Tenggara dengan kekuatan 7,3 SR tanggal 25 Oktober 2009 yang terasa
guncangannya ke Papua Barat kemudian gempa cukup kuat di Wangapu denga kekuatan
6,1 SR tanggal 26 Oktober 2009 dinihari dan berikutnya kembali lagi ke pantai
Barat Sumatera di Patahan Mentawai dengan gempa 5.6 SR di Pulau Siberut yang
mengguncang Padang dan Tapsel bulan Desember 2009. Lalu menyusul puncak tahun
2010 terjadi gempa Sinabang-Aceh dengan kekuatan 7.2 SR tanggal 7 April 2010
yang terasa goyangannya di empat Propinsi di Sumatera. Relaksasi dari gempa
bumi selalu berpolarisasi antara wilayah Barat dan wilayah Timur Indonesia,
periode siklus gempa kini tidak beraturan, diperkirakan kedua wilayah Indonesia
ada “sesuatu” yang lahir berupa siklus pembentukan kerak bumi yang tersembul,
bisa disebut gunung ataupun ada perubahan dan pergeseran tatanan geologis bawah
permukaan, yang memerlukan ruang gerak baru sehingga gempa-gempa kuat terus
berlangsung silih berganti hingga puncak kekuatan gempa tetap ada di Patahan
Mentawai-Sumatera.
Gambar 8 :
Gempa berkekuatan 7.6 SR mengguncang Padang Sumatera Barat, Polarisasi anomali
Gempa tetap di wilayah Mentawai (Sumber : FIA – GEOOGLE MAPS).
ANOMALI SEISMIK
Interaksi antara tiga-empat lempeng bumi di
wilayah Indonesia akan menimbulkan proses anomali seismik yang tidak teratur
secara terus menerus dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik, dan sebagaian
energi pembalikan dan penyerapan energi gempa tertinggi terpusatkan dipatahan
Mentawai-Enggano, membentuk jalur aktif gunungapi dan sumber-sumber subduksi
gempa bumi yang baru, bersumber dari berbagai peragaan tumbukan antara lempeng
yang dihimpun oleh akumulasi energi diparbatasan lempeng. Pada saat tertentu, akan menimbulkan
ketidakstabilan pada kekuatan blok batuan karena ada penumpukan energi di zona
tertentu. Energi penumpukan berupa tarik menarik dengan polarisasi anomali yang
tidak beratur disebabkan kondisi bumi diwilayah pantai barat sumatera ada
kehancuran kerak/kulit bumi yang memerlukan “pengobatan” berupa penarikan kulit
bumi yang lain dari wilayah samudera lain di kawasan Indonesia Timur untuk
menutupi “luka” kehancuran seperti luka pada tubuh manusia maka ada bagian yang
akan tertarik untuk menjahitnya (elastic
rebound).
Gempa yang masih berlangsung di Pantai Barat
Sumatera terutama terpusatkan diwilayah Kepulauan Mentawai dan Nias-Simeulue
merupakan polarisasi dari gerak relaksasi gempa bumi yang belum seimbang,
akibat gempa-gempa dahsyat dari pola kerancuan anomali seismik pada kerak bumi
yang terbentang kehancurannya sepanjang 1600 km, sehingga akan ada perubahan
posisi-posisi koordinat atau pergeseran ketataruangan wilayah darat-pulau di
Sumatera, berdampak pada kemampuan fisik daya dukung lingkungan untuk
perencanaan tata ruang hunian, tercipta kondisi kerentanan geologis baru.
Kerentanan geologis di Pantai Barat Sumatera memerlukan suatu renungan
pembangunan lingkungan geologi secara komprehensif di segala bidang dengan
bertumpuk pada informasi geologi keruangan.
PERAGAAN TUMBUKAN LEMPENG
Relaksasi gempa bumi kini terpusatkan di Patahan
Besar Sumatera baik didaratan maupun di Samudera yang saling berhubungan oleh
proses tekanan dari lempeng Indo-Australia menekan lempeng Eurasia. Tekanan
lempeng dimanifestasikan dalam bentuk berbagai model tumbukan lempeng dalam 10
tahun terakhir, terjadi gempa-gempa dahsyat di Pantai Barat Sumatera telah
mengubah perilaku kondisi batuan yang menyusun lempeng, penumbukan berbagai
lempeng tersebut diperlihatkan dengan terbentuknya jalur patahan yang baru. Di
pantai Barat Sumatera sejak gempa Aceh 2004 terbentuk perobekan perut bumi
sepanjang 200 km dan dalam kurun 10 tahun
terakhir ini masih terbentuk zona-zona baru patahan sehingga deformasi
kerak bumi terus mengalami gangguan keseimbangan.
Deformasi tatanan geologis dari hasil tumbukan
lempeng di Pantai Barat Sumatera mengubah dinamika keseimbangan penyerapan
energi seismik di berbagai zona subduksi di Mentawai, Nias, Simeulue, Bengkulu
dan Sumbar disebabkan antara lain :
1. Gerak Interaksi tumbukan vertikal antar lempeng, yaitu interaksi lempeng Benua
Eurasia ke Lempeng Indo-Australia menyebabkan suatu pembentukan subduksi
sepanjang 6500 km, menekan ketataruangan kota-kota Sumatera sehingga wilayah di
Pantai Barat Sumatera memiliki intensitas kegempaan yang tinggi, dapat mencapai
800.000 dalam setahun, periodesasi gempa kini tidak teratur dikondisikan oleh
keadaan geologi bawah permukaan yang mengalami deformasi yang kuat, terbentuk
suatu rangkaian pegunungan bawah laut, dapat membahayakan kelangsungan Pulau
Sumatera.
Hasil interaksinya, yaitu terbentuknya rangkaian
pegunungan bawah laut sepanjang 2500 meter dengan kedalaman 1500 km, terdapat
zona robekan sepanjang 600 km menuju ke Selat Sunda, patahan semakin bertambah
panjang menerus ke selatan Jawa sekitar 300 km membentuk zona tumbukan baru di
Selat Sunda atau ada perubahan deformasi perpindahan massa batuan pada subduksi
baru, ada gempa singkat karena pergeseran tekanan kerak bumi oleh terbentuknya
pegunungan bawah laut, tepat ditengah diantara busur muka sumatera dengan
busur-busur kepulauan sehingga Pulau Sumatera terus mendesak dan melengkung
tepat di kawasan patahan Mentawai-Nias-Simeulue ke arah daratan Asia, yang
diperlihatkan oleh data rekaman satelit GPS dengan perubahan titik-titik
koordinat batimetri laut/pantai dan topografi daratan oleh pengangkatan dan
penurunan permukaan pulau pada kejadian gempa dahsyat Aceh-Nikobar tahun 2004
dan berlanjut pada gempa Nias-Simeulue tahun 2005, Gempa 2007 di Bengkulu dan
tahun 2009 di Sumatera Barat serta Sinabang 2010. 2. Model tumbukan bersudut
yaitu tumbukan lempeng Indo-Australia yang menyusup kedalam lempeng Eurasia dimana sebagian besar energi dari
pergerakan lempeng-lempeng tersebut dipindahkan ke pergerakan patahan Sumatera.
Hasil interaksi tumbukan bersudut ini dapat
mengganggu pergerakan lempeng yang tua yang banyak telah teredam oleh patahan
yang lebih muda, sehingga pembebanan energi akan menentukan periode singkat
gempa, seperti yang terjadi pada gempa Sumatera Barat 30 September 2009 dan
Sinabang 2010 maupun gempa-gempa berikutnya. Pada patahan Mentawai-Enggano
telah terbentuk suatu lanjutan rangkaian pegunungan bawah laut akibat tekanan
kuat dari gempa-gempa Sumatera dan Samudera Pasifik dalam kurun 10 tahun
terakhir sejak tahun 2000 sehingga ada pergeseran (akrasi) pola jalur subduksi
yang kuat ke patahan besar daratan Sumatera oleh pembebanan lempeng yang
menyusup (konvergensi) dipatahan Mentawai, mengganggu keseimbangan geologi yang
menyebabkan anomali kemagnetan yang tidak beraturan. Sering berlangsungnya
gempa berdampak pada gangguan termodinamika magma gunungapi di Sumatera dan
Jawa.
Kondisi geologi Pantai Barat Sumatera saat ini
berada pada pengumpulan energi terbesar yang tercatat di kehidupan manusia
modern, pemusataan energi seismik berada pada jalur pemisah (trech slope break) pada busur-busur
kepulauan yang bergerak di kegempaan Mentawai dipulau-pulau Siberu-Sipora,
menerus ke kegempaan megatrust Nias-Simeulue, cekungan pengendapan
Bengkulu-Enggano dan patahan Selat Sunda pada Cekungan Lereng (basin slope) di Selat Sunda.
3. Model Gerak Interaksi dalam tubuh
lempeng yaitu berupa pemisahan atau pergerseran secara horizontal berupa
pembentukan zona patahan yang membentuk pola sesar mendatar menganan
yang membentuk banyak horts dan graben. Patahan besar sumatera termasuk model
dari terbentuknya ini, kenampakan dapat dilihat dari geologi lembah-lembah
tektonik yang tersebar dari ujung sumatera hingga ke cekungan lereng (basin slope) yang saling tumpang tindih
di Selat Sunda, suatu saat akan menghasil kegempaan besar dengan pola tumbukan
kompleks, yaitu terjadi dislokasi puncak palung yang runtuh oleh tekanan sesar
vertikal dan gerak lempeng bersudut menajam dengan tekanan ke daratan yang
telah mengalami peremukan sehingga akan ada pergeseran kuat diantara tubuh
lempeng yang berakhir pada pemisahan. Hal ini telah menampakan pada pola
pembentuk gunung raksasa di sekitar Bengkulu yang medesak Lempeng Sumatera.
Semua model pergerakan ini harus diperhitungkan Indonesia ke depan dalam 20
tahun.
PERIODESASI GEMPA MENTAWAI
Periode pengulangan gempa besar di atas 7 SR
terjadi di Pulau-pulau sebelah barat Sumatera seperti Simeulue, Nias, Kepulauan
Batu, Siberut, Sipora, Pagai, dan Enggano, yang berlangsung 100-200 tahun telah
dan sedang berlangsung. Saat ini dari lima pulau besar di gugusan Kepulauan
Mentawai hanya daratan Pulau Sipora dan Siberut yang belum mengalami
pengangkatan daratan. Hal itu menjelaskan bahwa segmen lempeng benua di bawah
dua pulau itu masih sanggup menahan tumbukan lempeng benua. Berbeda dengan
kejadian di kawasan Pulau Mega serta Pagai Selatan atau di kawasan Simeulue dan
Nias. Jika mengacu siklus 200 tahunan gempa, diperkirakan tahun 2033 akan
terjadi gempa dahsyat. Namun hal ini bisa lebih cepat terjadi karena telah
terbentuk suatu deformasi geologi bawah permukaan akibat gempa 10 tahun sejak
tahun 2000.
Data hasil rekaman satelit dan penelitian
oseanosgrafi-geologi di pantai barat sumatera telah merekm adanya perubahan
dasar samudara dengan ditemukan sebuah pegunungan raksasa, dugaan geologis
menyebutkan bahwa hal ini menyebabkan kondisi ketidakstabilan daerah gerak
lempeng Indo-Australia ke utara sehingga pulau-pulau busur vulkanik yang berada
di pantai barat sumatera terus memunculkan dinamika gempa hingga kembali ke
zona patahan antara Nias-Simeulue tahun 2010 terjadi lagi gempa kuat. Diperkirakan
10 tahun ke depan akan ada guncangan kuat berupa rangkaian atau kolosal gempa
maut dengan pemusatan energi terbesar ada di Patahan Mentawai.
Kesiagaan jadi
penting sebab secara teori, pergerakan titik gempa dapat bergeser. Secara ilmu
pengetahuan energi yang masih tersimpan atau potensi kekuatan guncangan di atas
8 SR. Sejak rentetan beruntun gempa-gempa lalu, Pemerintah Pusat seharusnya
sudah mengalokasi dana pengembangan peralatan seismograf dan memasang GPS
diseluruh wilayah pantai barat sumatera, Pemkab seharusnya juga
memperioritaskan penampungan dana APBD untuk sosialisasi infomasi geologi
daerah rawan bencana, terutama bagaimana hidup berdampingan dengan bencana
serta UU geologi disahkan menjadi aturan yang harus dipatuhi seluruh elemen
masyarakat dan pemerintah untuk mengendalikan dampak kehancuran tata ruang
kehidupan
Diterbitkan Harian ‘’WASPADA” MEDAN, Tanggal 06
Juli 2010
Komentar
Posting Komentar