Efek Asap Ke Lingkungan
Kabut asap pekat melanda Banjarmasin, (Sumber : Banjarmasin
Post/Faturahman)
M. Anwar Siregar
Pencemaran polusi
asap ke lingkungan merupakan kesan sampingan yang sangat merugikan aktivitas
sosial ekonomi masyarakat karena tingkat pembakaran lahan dan hutan serta
penggunaan energi yang sangat besar, diiringi juga oleh tingkat pertumbuhan
populasi penduduk dunia yang meningkat tinggi serta diiringi juga penghancuran
hutan hijau non pembakaran yang menjadikan malapetaka kabut asap tiap tahun
pada era global saat ini, akibat berkurangnya tenaga penyerap emisi karbon.
Budaya kehancuran
hutan kini bukan persoalan bangsa Indonesia tetapi masyarakat dunia juga punya
andil dalam melakukan pembiaran politik emisi lingkungan, masyarakat dunia wajib
memikirkan hal ini, bukan menekan negara berkembang yang dituding sebagai
pemicu perubahan iklim global, dan khususnya Indonesia faktor pembakaran hutan
dan lahan dan penghancuran kawasan hijau hutan dan taman hutan terbuka sudah
harus di kendalikan melalui sistim ”tangan besi”. Sebabnya, beberapa aturan
yang mengikat ternyata belum mampu memberikan efek jera kepada pelaku
penghancuran kondisi lingkungan. Terlihat bencana kabut asap berulang kembali
dimana-mana di wilayah Republik Indonesia, dan mungkin lebih buruk dibandingkan
dengan kejadian kabut asap tahun 1997.
Perubahan kondisi
lingkungan geosfer dan pemanasan global semakin tinggi telah memberikan dampak
yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan bumi, karena telah mempengaruhi
iklim bumi di kawasan khatulistiwa yang berdampak juga pada sistim pertumbuhan ekonomi
global dikawasan Asia Tenggara, daya dukung alam dan aktivitas sosial kesehatan
kehidupan manusia yang semakin menurun, dan sepertinya selaras mengikuti krisis
ekonomi global di Asia Tenggara.
Perubahan iklim
yang sangat tinggi khususnya di kawasan Asia Tenggara lebih banyak dipicu oleh
peningkatan emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh aktivitas manusia melalui
pembakaran hutan dan lahan, lalu kebakaran hutan-hutan di kawasan gunung api
aktif oleh faktor alam yaitu masuk musim kemarau, dan terjadi juga oleh faktor
sekunder seperti pada harta milik manusia yaitu mengalami kebakaran rumah, mall
dan gedung oleh dampak penggunaan yang berlebihan pada peralatan teknologi dan
lain-lain sehingga menimbulkan resiko krisis ekonomi untuk melakukan refund
ekonomi dengan biaya sangat tinggi.
EFEK POLUSI
Efek perubahan
kondisi geosfer seperti efek polusi asap ke lingkungan selama Bulan September berlanjut
ke bulan Oktober 2015 ini telah mempengaruhi beberapa elemen pertumbuhan
ekonomi, transportasi, kesehatan dan pendidikan serta destinasi pariwisata.
Pertumbuhan ekonomi terjadi penurunan omzet keuntungan perdagangan, karena
masyarakat membatasi aktifitas diluar rumah, berkurangnya daya beli masyarakat,
naiknya harga kebutuhan pokok akibat gagal panen dampak perubahan iklim global
yang dipicu el nino dan juga oleh rusaknya lapisan ozon sehingga radiasi bebas
langsung ke bumi dapat menyebabkan pertumbuhan hasil pertanian menjadi merosot,
masyarakat lebih fokus pada penghematan untuk imbangan biaya pemeliharaan
kesehatan.
Selain faktor
ekonomi bidang perdagangan, sarana perhubungan darat, udara dan laut mengalami
gangguan jarak pandang akibat polusi asap yang sangat tebal dan pekat,
merugikan pengguna sarana (penumpang), membuang waktu, pikiran dan tenaga sehingga
pihak operator perjalanan penerbangan mengalami kerugian ekonomi biaya yang
sangat tinggi serta modal balik tak mampu menutup anggaran pengeluaran sehingga
definisit. Banyak perusahaan penerbangan mengalami delay, kerusakan mekanis dan
dampak ikutan lainnya yang mungkin timbul seperti pengurangan jam kerja dan
pemutusan hubungan kerja jika efek kabut asap tebal berlangsung berhari-hari
dan kadang bisa mencapai sebulan dan bulan september ini saja ditemukan lebih 1.427
titik panas atau hot spot di berbagai kota di Sumatera dan Kalimantan.
Data BNPB (11-12
September), menyebutkan jumlah sebaran titik api hampir menyebar merata di
Sumatera dan Kalimantan dan diperparah oleh kebakaran hutan di beberapa
gunungapi di Indonesia sehingga bahaya efek polutan asap gunungapi dapat
menambah tekanan tinggi bagi tingkatan kepekatan atau ketebalan kabut asap di
lapisan geosfer Indonesia dan Asia Tenggara. Sebagian wilayah Indonesia
berkabut oleh fenomena kebakaran lahan dan hutan (karlahut) mencapai 75 %, jadi
sebaran polusi asap terdapat dimanan-mana selain Kalimantan dan Sumatera,
terdapat juga di Jawa akibat kebakaran musim kemarau dan aktivitas vulkanik,
dan Sulawesi oleh akibat aktivitas vulkanik, sedikit juga di Papua oleh dampak
El Nino, dan data BMKG, menyebutkan angin lebih berarah ke utara kawasan Asia.
Berarti hal ini akan menyelimuti kawasan udara Indonesia mencapai 60 persen,
tidak mengherankan beberapa jadwal penerbangan mengalami gangguan terselimuti
polusi kabut asap bisa berlangsung lebih dua hari.
Paling rugi akibat
polusi kabut asap ke lingkungan adalah Indonesia, efeknya dapat juga
menyebabkan krisis ekonomi global di kawasan Asia Tenggara dengan terkendalanya
mobilisasi perdagangan dan transportasi untuk mencapai tujuan tertentu. Sebab,
kabut asap adalah fenomena bagian dari integrasi pertumbuhan ekonomi khususnya
dalam pemanfaatan lahan untuk investasi perkebunan, dan pertambangan dalam hutan.
Dan hutan adalah sumber daya devisa ekonomi yang dimanfaatkan hasil olahannya
secara berlebihan, dibakar dan dihancur lalu menjadi senjata makan tuan.
SENJATA MAKAN TUAN
Apakah manusia sudah
lupa? Kadang kabut asap bisa menjadi senjata makan tuan, siapa yang membakar,
menghancurkan dan membiarkan terlantar kondisi lingkungan rusak maka akan ada
dampak yang dirasakan seperti berbagai jenis penyakit bagi kesehatan manusia
dan kesehatan bumi, lihatlah hal ini berlangsung di Sumatera dan Kalimantan,
telah menimbulkan berbagai jenis penyakit, tingkat kebutuhan primer semakin
tinggi akibat naiknya harga bahan pokok dampak dari kesulitan transportasi
logistik.
Senjata makan tuan
bagi pemerintah Indonesia dilihat dari sudut kebijakan ekonomi, akan tampak
pada hilangnya kemampuan pemerintah untuk mendapatkan pembayaran karbon emisi, karena
tidak mampu mengurangi target emisi, membutuhkan dana besar untuk reklamasi lingkungan
hijau yang rusak dengan menguras cadangan devisa, krisis ekonomi jilid sekian
berikutnya tinggal menghitung hari, adanya biaya-biaya sosial yang tak terduga
akibat dampak kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global yang dipicu
langsung oleh berbagai kebijakan pemerintah RI.
Dari sudut sumber
daya ruang, akan ada beberapa sumber daya yang akan hilang, sebutan negara
kepulauan terbesar dunia hanya tinggal di test book, kupulan emisi asap diatmosfir
itu akan mengubah berbagai elemen iklim di bumi dan dapat mengganggu ketinggian
air permukaan laut akibat terpicu global warning di beberapa pulau-pulau yang
memiliki ketinggian topografi dan batimetri rendah akan tenggalam, hilangnya
rantai sumber daya kelautan, poros maritim yang gencar digemakan mungkin
tinggalkan sebuah ruang yang mirip ”pepesan kosong”, berkurang luasnya sumber
daya ekonomi eksekutif yang sangat ekslusif tapi tak mampu dijaga termasuk
sumber daya udara yang terkontaminasi oleh berbagai ”kotoran hitam jerabu”,
akibat kejayaan sumber daya udara hanya tinggal kenangan, maskapai penerbangan
negara lain melaju seenaknya diatas kepala orang Indonesia akibat kelalaian dan
sibuk memperioritaskan pembangunan yang kadang urgensinya hanya dinikmati oleh
pemegang kekuasaan.
Selain itu,
mempengaruhi pemulihan kondisi lapisan ozon terutama kondisi geosfer Indonesia
dalam mengendalikan bencana tersembunyi yang belum terdeteksi dan mungkin
menghasilkan jenis bencana baru yang belum diketahui, tatanan global dan pemanasan
global akan terasa sangat lama pulih dan target pengurangan emisi sebesar 45
persen hingga tahun 2020 cuma manis dibibir.
Manusia saat ini
menikmati berbagai masalah diaspora lingkungan dari atmosfir, tercatat di Riau,
Jambi, Sumsel, dan Kalimantan terdapat 12.147 orang terserang penyakit ISPA,
sebuah ironi yang menghasil pengurangan pendapatan ekonomi karena ada biaya
imbangan kesehatan baik dari pemerintah dan masyarakat itu sendiri.
Derita kabut asap
benar-benar merugikan kita semua, dan jagalah lingkungan dengan memperkuat
mental untuk tidak merusak lingkungan.
M. Anwar Siregar
Enviromentalist
Geologist, Pemerhati Masalah Tata Ruang Lingkungan dan Energi GeosferSudah dipublikasi di http://analisadaily.com/lingkungan/news/efek-polusi-asap-ke-lingkungan/180284/2015/10/18
Komentar
Posting Komentar