Segitiga Negara Maut Gempa Asia : Geologi Gempa
SEGITIGA NEGARA MAUT
GEMPA ASIA
Oleh M. Anwar Siregar
Dalam
rentang dua minggu di Bulan November 2014 terjadi gempa kuat di tiga negara
berbeda di Asia, yakni di Indonesia (gempa Halmahera dengan 7.3 Skala Richter),
lalu di susul gempa di Jepang Tengah (gempa Nagoya, 6.8 SR) serta Tiongkok
(gempa Sinchua 6.3 SR) dan ketiganya merupakan negara penghasil gempa-gempa
kuat dan mematikan, dan dua diantaranya telah memproduksi tsunami maut di abad
21 ini yang mengguncang permukaan bumi dan mencapai perjalanan tsunami sejauh
diatas 900 km dan 1000 km.
Efek
relaksasi guncangan seismik telah membuka “sebuah tabir baru” bagi pergerakan
kulit bumi di tiga kawasan berbeda ini. Dan ketiga kawasan ini sebenarnya
merupakan tempat “bermukimnya” suatu energi yang dapat menghancurkan sepertiga
permukaan bumi disebabkan wilayahnya masuk dalam zona ruas terkunci, dampak
dari tidak terjadinya pemekaran bumi sehingga ruang yang dibutuhkan akan selalu
mengalami pendesakan sehingga energi yang bermukim di kawasan segitiga maut
gempa Asia selalu akan melepaskan “energi kemurkaan”.
Penulis
menganggap ketiga negara maut gempa ini adalah satu dari tujuh pusat megatrush
gempa Asia dan tempat 10 kawasan bermukimnya megatrush yang ada di bumi selain
terdapat di Patahan San Andreas, California (gempa daratan), Patahan gempa pantai
barat Amerika khusus diwilayah Patahan subduksi Chili-Haiti, Patahan gempa
tsunami Tonga di Laut Pasifik Tonga dan Palung Mediterania di Patahan
Semenanjung Italia-Yunani di Eropa yang dapat menghantan kawasan Timur Afrika
dan Asia.
GEMPA INDONESIA
Penyebabnya Indonesia
berada di beberapa jalur patahan atau tumbukan antar landas kontinen. Antara
lain lempeng benua Asia dengan Indo-Australia, yang bergerak dan memicu gempa
tektonik di Aceh. Zona patahannya memanjang di Samudra Hindia, dari Aceh di barat hingga sekitar
Laut Timor di Timur. Pergerakan tektonik lempeng di kawasan ini, seringkali memicu gempa
hebat. Jika kekuatan gempa di dasar laut mencapai tujuh pada skala Richter atau
lebih, dapat dipastikan akan terjadi gelombang pasang tsunami.
Penyebab lainnya, terdapat
10 lempeng kecil yang saling berinteraksi satu sama lain, saling menujam,
membentuk jalur patahan yang panjang dan menempatkan Lempeng Sumatera pada
posisi penghancuran oleh lempeng besar seperti yang telah dialami oleh Lempeng
Maluku tertekan dan termakan oleh Lempeng Halmahera dan Lempeng Sainghe. Gejala
ini dapat membangkitkan sesar-sesar yang tidak aktif disepanjang Pantai selatan
dan Tenggara Maluku hingga Laut Jawa dan Sulawesi karena ada efek relaksasi
gempa bumi terdahulu yang belum stabil merambat sebagai medan energi seismik
sebagai efek goncangan berganda melalui bidang yang tidak diskontinuitas di
bawah Lempeng Sahul dan Lempeng Sunda.
Pada kasus patahan Sunda,
yang berhubungan dengan pantai barat Sumatera terjadi selip geser sedalam 30
meter tahun 2004 lalu dan memicu tsunami di Aceh. Kemudian tahun 2005 terjadi
selip sedalam 12 meter yang memicu gempa bumi 8,7 SR yang melanda Nias dan
Kepulauan Simeulue. Daerah-daerah lainnya bukan berarti sepenuhnya aman dari
aktivitas efek gempa 2004-2005, tetapi dapat juga terkena imbasan oleh gempa
dari kawasan-kawasan yang rawan dan memiliki sumber gempa yang berdekatan yang
disebabkan oleh gelombang gempa yang berbentuk radial mampu merambat jauh, dimana
semakin jauh rambatannya maka kekuatan semakin berkurang.
Sabuk
flip dextral dari yang mendorong patahan di Longmen Shan, merupakan daerah
tinggian yang mengalami ruas penguncian pergerakan, yang terbentuk oleh
deformasi zaman priode geologi Mesozoik-Kenozoik akibat dampak evolusi tektonik
daratan China dan cekungan Sinchuan/Patahan Longmen Shan Utara-Tenggara adalah
kawasan yang rentang mengalami penekan secara frontal kearah Barat Sichuan yang
mengalami dua kali periode deformasi/perubahan dan terbentuk lembah-lembah
terjal. Struktur geologi tektonik sabuk Longmen Shan Timur merupakan struktur
tektonik dengan karakteristik pergerakan slip strike fault dengan penekanan
arah pergerakan ke depan samping dengan probabilitas ke arah Tenggara dengan
bentuk menyudut. Cekungan Sichuan Barat dibentuk oleh dorongan kuat dari
tekanan menyudut di daratan tinggi Tibet oleh gerakan Lempeng India di
perbatasan daratan tinggi Himalaya dan bagian Timur Longmen Shan oleh
pemotongan lempeng yang terbentuk sejak zaman periode Kambrium-Trias dan
Selatan Patahan Longmen Shan merupakan bagian dasar batuan yang terlipat dan
tersesar sangkut sangat kuat, terbentuk sejak dimulainya cekungan baru di zaman
Kenozoikum Atas, sehingga karakteristik pembentukan lapisan batuan sedimen di Patahan
Longmen Shan terus menerus mengalami deformasi sehingga menghasilkan seismik
kontinu gempa setiap tahun
Pusat
gempa yang terjadi hari sabtu lalu itu berada di daratan antara batas daratan
Tinggi Tibet dengan Lembah Sichuan, dampak dari relaksasi pergerakan lempeng
tektonik terhadap patahan Longmen Shan sepanjang 242 km yang menghasilkan
getaran sejauh 150 kilometer di lembah Gunung Longmen Shan di Provinsi Sichuan.
GEMPA BESAR JEPANG
Gambar : Penjalaran tsunami Jepang ke Amerika Utara dan Selatan (Sumber gambar : http ://4bp. blogspot.com)
Gempa
tsunami maut Jepang baru berusia tiga tahun, namun dalam rentang itu, Jepang
terus mengalami gempa kuat setiap tiga-empat bulan sekali. Pusat gempa Jepang
sering berlangsung tepat dibawah bagian lapisan dangkal dari pulan-pulau vulkanik Jepang terutama oleh adanya
proses pembentukan lempeng kerak baru. Pusat gempa di Jepang berada sedalam 130
km pada tahun 2011 itu telah menghasilkan tribencana yaitu gempa, tsunami dan
ledakan reaktor merupakan gempa terbesar dalam sejarah kebencanaan geologi
gempa Jepang. Bumi mengalami gangguan, porosnya telah bergeser antara 10-25 cm
sehingga masa lamanya siang dan orbit bumi sedikit berubah.
Gempa
besar ini telah mengubah profil perubahan bentuk permukaan bumi yang meliputi
dasar laut dan daratan yang dikenal dengan nama co-seismic deformation, tekanan
gempa di Timur Jepang itu telah menekan ruas patahan di Pulau Jepang Tengah dengan pola Patahan naik. Tatanan geologi Pulau Jepang Tengah juga mengalami deformasi dengan penurunan 5 meter ke
dasar laut, terjadi akibat desakan
Lempeng Pasifik terhadap Lempeng Amerika Utara, posisi pulau-pulau di Jepang
berada di persimpangan empat lempeng besar dunia sehingga bagian Timur Pulau
Jepang mengalami kenaikan akibat patahan naik (trust fault). Proses pematahan
gempa 2011 itu telah mematahkan luas wilayah sekitar 540 km x 200 km, yang akan
membangkitkan energy tekanan pada pinggiran lempeng di Selatan dan Tengah Jepang,
pada suatu ketika nanti menghasilkan gempa besar lagi.
IRONI KORBAN
Jika
dibandingkan gempa ketiga kawasan itu dalam dua minggu di bulan November ini, nampak
jelas ada perbedaan kontras dengan standart Building Code gempa Jepang dengan
gempa Manado dan Sichuan, yang berbasis zoning regulation map dan building
code. Bangunan di Jepang hanya mengalami kerusakan sedang dan tidak ada korban,
bangunan masih bisa di bangun ulang dengan standar lebih baik lagi, sedangkan
di Manado perlu relokasi mengingat gedung yang retak itu tidak disiapkan
berbasis tahan gempa dan di Tiongkok, hingga tulisan ini dibuat sudah terdapat
5 korban tewas, 35 luka parah dan kehancuran bangunan mencapai kerugian diatas
10 milyar rupiah lebih.
Perbedaan
kontras lainnnya adalah standar pelajaran gempa, yang terlupakan selama ini
adalah sosialisasi standart operating procedure [SOP] untuk building code
kepada setiap masyarakat, baik pemilik rumah bertingkat, gedung bertingkat dan
perumahan tetap untuk mengetahui tingkat resiko yang ditimbulkan apabila
bangunan tidak berstandart building code maka pentingnya SOP harus dipraktekan
jika bangunan sudah terlanjurkan terbangunkan dan begitu juga pelaksanaan
evakuasi dilapangan.
M. Anwar Siregar
Enviromental
Geologist, Pemerhati Masalah Tata Ruang Lingkungan dan Energi-Geosfer
Komentar
Posting Komentar