Doping Mental Bulutangkis
BULU TANGKIS INDONESIA PERLU DOPING REVOLUSI
MENTAL
Oleh M. Anwar
Siregar
Gagal lagi, dari rangkaian super series hingga super primer gold, atlet bulutangkis gagal mempersembah gelar, dari Denmark, Prancis dan Korea Indonesia pulang dengan membawa banyak kecewaan, lawan terus berkembang dan kita berkembang ke belakang, dari begitu banyaknya jumlah penduduk Indonesia begitu susahkah untuk menghasilkan atlet sekaliber Li Dan, Taufik Hidayat ataukah seperti Susi Susanti dan Caroline Marin yang mulai ditakuti atlet putri kita? Tragis dan kembali ke pola pembinaan yang ada sekarang.
Pembinaan bulutangkis di Indonesia perlu kebijakan yang lebih
ketat dalam menjaring atlet bulu tangkis, mengingat Indonesia gagal lagi dalam
merebut supremasi juara perorangan dalam kejuaraan bulu tangkis dunia baru-baru
ini di Jakarta. Perlu perencanaan pembinaan yang komprehensif dalam menciptakan
atlet berkelas dunia, agar tradisi merebut medali emas olimpiade terus
berlanjut terutama kebangkitan menuju Olimpiade Rio 2016. Strategis pembinaan
yang menjadi PR utama bagi segenap insan bulu tangkis agar Indonesia dapat
menjadi negara bulutangkis yang segani kembali.
Menurut legenda bulutangkis, juara All England 8 (delapan)
kali, Rudi Hartono, mengatakan bahwa untuk kembali bangkit, atlet Indonesia
perlu mempunyai jiwa juara yaitu
disiplin, fokus, dan tekun. dan ditambah revolusi mental kompetitif yang
terdiri jiwa nasionalisme pemain dan pelatih serta pembina.
Gambar : Butuh latihan keras dengan mental yang tangguh untuk menghasilkan prestasi tinggi, dibutuhkan revolusi mental atlet Indonesia (sumber gambar : dari berbagai sumber photografer)
REVOLUSI MENTAL
LATIHAN
Tiga hal ini sudah mulai hilang dalam kekuatan diri atlet,
faktor utama kegagalan atlet dimulai dari disiplin berlatih, coba tanyakan
atlet sekarang apakah ada atlet yang tidak bergantung dari program pelatihan
yang diberikan oleh Tim Pelatih? Ada ide inovasi latihan sendiri? Jujur saja
atlet kita sangat kering inovasi dan kreatifitas dalam diri untuk meningkatkan dan
menciptakan kemampuan teknik permainan baru.
Coba kita lihat dari berbagai cuplikan pertandingan
internasional dari berbagai televisi, dan perhatikan sejak bola pertama dimulai,
atlet kita langsung “terbang mentalnya” dengan pukulan yang menguras tenaga,
sehingga tidak mengherankan mudah dibaca. Selain itu, selama berlatih atlet
tidak menjadikan sebuah kedisiplinan bertanding, tidak menjadikan latihan
sebagai suasana ujian pertandingan, menjadikan latihan hanya untuk mengikuti
program rutinitas karena ada faktor mental yang mendorong hal ini tidak menjadi
sebuah fokus untuk pencapaian prestasi.
Fokus atlet saat ini bagaimana menikmati suasana hidup dalam
hidup yang gemerlap dengan pergaulan selfie, belanja dan pencitraan, budaya
yang menjangkiti beberapa atlet sehingga fokus mental diri untuk pencapaian
prestasi menjadi terabaikan dan berkaitan langsung dengan mental bertanding.
Fokus berperan penting, sebagai upaya menyerap, mengembang dan merefleksikan
teknik yang sudah diuji dalam latihan bertanding agar dituntaskan dalam bentuk
mengatasi lawan selama bertanding disegala medan pertandingan.
Yang terjadi, terlihat kualitas mental atlet Indonesia
langsung tegang padahal kualitas teknik masih lebih baik dari lawan. Contoh gambaran
mental tidak fokus terlihat dari berbagai kejuaraan mulai dari kejuaran Piala
Uber, Thomas, Axiata, Sudirman dan All England serta yang masih anyar baru-baru
ini kejuaraan dunia di Jakarta 2015,
Terlihat kegagalan ganda putri mengatasi lawan dari Tiongkok
dengan menyebut lawan diatas angin, cetus kata pemain ganda putri Greysia
Polii/Nitya Krishinda Maheswari, keuntungan lawan terbantu oleh angin,
seharusnya atleh berprinsip “kenali lawan, atasi medan” dalam mengatasi bola
atas lambung yang tertahan jika di smes, harus mengubah pola permainan bukan
terus menguras tenaga, sehingga faktor kelemahan fisik yang menjadi tradisi
klasik semakin membuat permainan teknik ter drop ke titik kegagalan, banyak
membuat kesalahan. Buah gambaran dari hasil latihan yang tidak fokus dan tidak
menjadikan latihan sebagai suasana bertanding sebenarnya dan diperparah oleh faktor
lain yang membuat atlet kita semakin susah meraih gelar juara adalah ketekunan.
Suatu mental jiwa yang saat ini langkah dimiliki atlet yang
berbakat. Atlet Indonesia harus tekun melatih kelemahan dan mempertajam
kelebihan dengan menjadikan prinsip harus mengenal kondisi medan pertempuran
dimana saja berlangsung agar bisa mengatasi lawan dengan mengubah pola latihan
dengan suasana kondisi medan pertempuran sebenarnya.
Kontradiktif dari mental atlet kita di zaman 70 dan era
90-an, Mereka juga menambahkan dengan nation building yang pantang menyerah.
Hasilnya, sebuah kebanggaan yang mengagumkan.
NATION KOMPETITIF
Kegagalan demi kegagalan dari berbagai turnamen perlu di
revolusi mental nasionalisme untuk atlet yang terlahir di era global millenium,
bahwa masih ada yang kurang dimiliki oleh atleh kita di era sekarang yaitu
semangat karakter nasionalisme yang belum membudaya atau membumi dalam berbagai
kondisi yaitu baik dalam bentuk latihan, bertanding maupun dalam kehidupan
sehari-hari.
Nampak atlet kita seperti tidak ada berkekuatan nation
building, penulis melihatnya seperti pemain yang sering menguraskan tenaga
berlebihan, tanpa ada pemikiran analisis ringkas dari si atlet, padahal pihak
lawan memang seperti sudah menganalisa permainan mereka sebelum bertemu, ingat
prinsip “Kenali Lawanmu, Kuasai Medan Pertempuran”. Memang dipinggir lapangan
ada pelatih yang menganalisis permainan, namun keputusan gerakan langkah
dinamis dilapangan tetap pada si atlet yang mengambil keputusan, karena hal ini
berhubungan dengan perubahan taktik selalu berubah dilakukan pihak lawan.
Maka perlunya doping revolusi mental kompetitif sebagai obat
yang komprehensif untuk mengobati kegagalan atlet, pelatih dan pembinaan, harus
menjadikan satu visi olah raga bulutangkis sebagai olahraga yang dapat
memberikan sumber kehidupan, prestasi dan kebanggaan bangsa bagi rakyat
Indonesia, sehingga dukungan terus mengalir dalam pendanaan dan juga sponsorhip
dari pihak swasta.
Hal ini penting, mengingat bulutuangkis sudah menjadi
kebanggaan nasional dan harus bangkit dimulai dari tatanan revolusi mental kompetisi
dan disertai shock terapi bagi elemen yang membina olahraga ini agar ada
perubahan mental dalam membina dan menciptakan atlet berkelas dunia.
Revolusi kompetitif itu dimulai dari manajemen pembinaan dan
manajemen latihan. Manajemen pembinaan yaitu
pola stadarisasi rekrutmen atlet harus diubah, harus ada langkah-langkah
strategis untuk mempercepat kebangkitan olahraga bulutangkis dengan merumuskan
kriteria rekrutmen yaitu memiliki semangat tinggi untuk juara, bersedia dan
tekun berlatih, atlet harus mempunyai metode latihan sendiri terlepas dari pola
latihan pelatih. Kondisi psikologis mental, fokus visi atlet terhadap olahraga
yang ditekuninya, harus bermuara pada mental juara.
Manejemen teknis latihan atlet, inovasi dan kreatifitas sudah
harus terlihat ketika pola retrukmen dimulai, tidak bergantung pada peringkat
nasional, bertujuan untuk melihat kemampuan analisis atlet dalam meladeni
berbagai pola jenis taktik lawan, yang bertumpuk kepada kekuatan dan kesabaran
mental mengatasi berbagai tekanan. Sanggup menjalankan “ikatan dinas latihan
dari/lebih satu jam setiap hari latihan”, sebuah prinsip yang harus tertanam
dalam mental atlet. Pertanyaannya apakah ada atlet berprinsip seperti tersebut
diatas?
Manajemen non teknis, lihat kondisi psikologis atlet dalam
memandang kehidupan dan olahraga yang ditekuninya diluar latihan, biasanya
atlet bermental juara adalah atlet yang selalu fokus dan menghabiskan waktunya
untuk mengembangkan dan mencari tahu kemampuan teknis dan jiwa raganya,
membatasi kehidupan yang gemerlap.
REVOLUSI PELATIH
Revolusi mental bagi pelatih, pelatih wajib terus memberikan
suntikan doping nasionalisme, bahwa kita adalah bangsa yang besar, tidak perlu
takut sama mereka, pelatih juga harus merevolusi mentalnya dengan terus melihat
kekurangan dan belajar menguasai teknologi kepelatihan.
Revolusi eksport mantan atlet perlu juga di reformasi.
Mengingat banyak daerah membutuhkan pengalaman atlet sebagai pelatihan, jadi
tidak bertumpuh di Jawa. Maka PBSI perlu membentuk suatu sistim lawan tanding
bagi atlet daerah dan sebagai salah satu even-even kejuaraan bagi pembinaan
dini.
M. Anwar Siregar
Penggemar Olahraga
Bulutangkis.
Sudah dipublikasi
Komentar
Posting Komentar