Jangan Membuang Air
AGAR AIR TIDAK TERBUANG PERCUMA
Oleh M. Anwar Siregar
Alih fungsi lahan adalah salah satu permasalahan
umum yang menyebabkan sumber daya air yang sering dibuang percuma karena alih
fungsi lahan tidak hanya mengancam ketahanan pangan tetapi juga berdampak pada
hilangnya investasi pemerintah dalam pembangunan jaringan irigasi, peningkatan
eskalasi risiko banjir, dan mengurangi ketersediaan air. Begitu juga
pemanfaatan sungai kini berubah alih fungsi.
Sungai-sungai dulu sebagai organisme yang mampu
memamah biak benda-benda yang dibuang ke dalamnya dan memberikan pasokan air
yang memadai untuk kehidupan. Namun di era sekarang, sungai-sungai yang banyak
membelah tata ruang kota besar di Indonesia kini berubah wujud menjadi kawasan
kumuh, berubah wujud tempat pembuangan sampah yang terbuka, dijejali dengan
berbagai ton sampah limbah industri dan buangan rumah tangga yang tidak mungkin
lagi atau tidak mudah dicerna guna menghasilkan air yang sedikit bersih
sekalipun.
Fakta itu dapat kita lihat di sepanjang sungai-sungai
di kota kita, berderet rumah yang dibangun disisi tebing sungai dan mengalirkan
limbah ke sungai yang berfungsi sebagai sumber air kehidupan, limbah buangan
industri dan rumah tangga mampu mematikan ekosistim yang dapat mendaur ulang
kotoran sungai untuk dijadikan sumber air bersih. Kerusakan lingkungan pada
ekosistim sungai dan pantai dapat dilihat dari rusaknya hutan bakau sungai,
yang berfungsi sebagai penahan abrasi longsoran pada sisi tebing sungai dan
pantai. Penghancuran pohon yang berakar langsung pada sisi tebing memungkinkan
terjadinya longsoran dan air mudah mengalir deras ke atas permukaan dan
pemukiman.
PENGENDALIAN RTH
Pengendalian pemanfaatan RTH di Indonesia saat
kurang dalam sosialisasi untuk mecegah bencana banjir sehingga air permukaan
itu mengalir menghanyutkan segala apa yang ada di permukaan dan tidak
termanfaatkan dengan baik dalam bentuk parkir air di dalam tanah terutama dalam
Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Untuk mengendalikan air dalam bentuk RTH di daerah
pemukiman dapat digunakan beberapa alternatif sederhana namun sebagian
masyarakat di Indonesia kadang malas mengimplementasikan dalam bentuk karya
kecil namun sebenarnya bermanfaat bagi semua makhluk di bumi yaitu di daerah
tempat tinggal lakukan biopori diatas tanah seukuran 1 x 2 meter, baik
dihalaman depan rumah maupun di halaman belakang.
Dalam 1 tahun, pada sebidang tanah tumbuhan dapat
menguapkan air setinggi 60 cm dalam areal tersebut dan di hutan dapat sampai
dua kalinya yang merupakan sebuah sistim hidrologi yang dijalankan sendiri oleh
alam.
Membuat taman yang seukuran sebidang tanah akan terdapat
sistim penyerapan air cepat menyerap ke dalam tanah agar air dapat tersimpan
baik di dalam sistim hidrologis, agar dapat juga melakukan respirasi dan
penguapan air ke udara dan menjadi air hujan. Membuat daerah resapan mutlak
bagi setiap lahan kawasan hijau dengan mengendalikan perubahan peruntukkan
lahan agar tidak menjadi daerah hunian untuk berbagai jenis konstruksi apapun
terutama di daerah perbatasan yang memiliki topografi curam/hulu ke
landai/hilir seperti kota besar Medan dan Jakarta ataupun Bandung. Membuat
daerah resapan khusus untuk air di beberapa pedesaan dengan memanfaatkan
karakteristik geologi air daerah ke zona kantong parkir dengan mengembangkan
pola jenis tanaman yang cocok dengan kondisi fisik tanah, daerah resapan ini
umumnya dibuat didaerah kota desa urban sehingga dapat mengendalikan banjir
bandang ke Ibukota Propinsi ataupun Ibukota Kabupaten yang umumnya kota-kota
tersebut telah banyak mengalami perubahan peruntukkan lahan hijau terbuka atau
semakin terbatasnya ruang hijau terbuka.
Membuat kawasan hijau terbuka terbatas ketat
dengan daerah hunian permukiman modern dengan keharusan membangun air limbah
komunal agar tidak terjadi dampak pembusukan udara, membuat sumur resapan dan
biopori.
Menjaga kualitas hutan terutama akar-akar pohonan
di kota-kota besar, sehingga air yang jatuh ke dalam bumi mengalir di atas
sebagai run-off akan menuju ke sungai-sungai dan danau. Air yang ada di sungai
dan danau kembali akan menguap karena pemanasan oleh sinar matahari. Selain air
yang ada di sungai, danau, empang dan waduk diserap akar pohon akan diuapkan
kembali ke atmosfir oleh daun-daun dalam proses transpirasi.
Kesimpulannya, selamatkan hutan di pegunungan,
selamatkan air, sama dengan selamatkan juga tanah yang berarti juga dapat
menyelamatkan ekosistim dan berakhir dalam menyelamatkan manusia dari
kekurangan air. Jadi air adalah sumber kehidupan dan jangan biarkan terbuang
percuma.
PENGENDALIAN AIR KOTA
Indonesia sebagai negara yang sering mengalami
berbagai jenis bencana alam seperti banjir juga memiliki potensi yang sangat
besar dalam menampung dan menyerap luapan air yang muncul dipermukaan.
Memerlukan sebuah konsep yang tepat dalam mengendalikan air yang dapat menyebabkan
bencana banjir di perkotaan dengan pemberdayaan sumber daya manusia, potensi
banjir yang umumnya lebih banyak disebabkan oleh manusia harus dikembalikan
lagi dan kelola oleh sumber daya manusia untuk sumber daya manusia, seperti
semboyan demokrasi.
Maka sumber daya manusia sangat berperan dalam
mengendalikan air agar tidak terbuang percuma khususnya dalam mengendalikan air
permukaan seperti dampak curah hujan tinggi yang menghasilkan banjir antara
lain mengendalikan kerusakan drainage dengan membuat sistim drainage yang tepat
ke posisi kantung air serta menyesuaikan juga bentuk karakteristik kanal untuk
menampung air lebih banyak di pusat perkotaan.
Yang paling penting adalah membuat sistim
penyerapan air permukaan agar terserap cepat kedalam tanah dengan banyak
membuat RTH serta pengendalian tata ruang yang tidak melebar seperti berbentuk
horizontal namun dibuat dalam bentuk vertikal dan didaur ulang fungsi-fungsi
agar dapat menjalankan kemanfaatannya.
AIR MASA DEPAN
Air bersih menjadi krusial di masa depan, banyak
bencana banjir yang melanda di negeri ini merupakan buruknya tata kelola
lingkungan tempat keterdapatan air yang berada dipermukaan dan di bawah
permukaan bumi, bencana banjir tidak akan sering terjadi jika kita mampu
mengendalikan ego dalam pemanfaatan tata ruang yang berada di wilayah kota
maupun pedesaan. Banjir merupakan masalah klasik dapat diatasi jika semua mau
memahami eksistensi sumber daya ruang dimana sumber daya air, hutan dan manusia
bertemu untuk menikmati segala jenis ekosistim yang harmonis dalam
pemanfaatannya.
Air bersih akan menjadi sangat vital, sebab
konsumsi air terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk, sementara
tekanan terhadap sumber-sumber air semakin besar akibat kehilangan ekosistim
pendukung dan kekurangan pedualian masyarakat untuk memelihara sumber daya air
tersebut.
Saat ini, air sudah semakin langka ditemukan di
kota-kota besar di dunia, termasuk di Indonesia, ketika masuk musim kering kita
sering melihat antrian masyarakat untuk mendapatkan air bersih dari pegunungan
yang diangkut dari truk air minum untuk konsumsi. Setiap hari warga Jakarta dan
sebentar lagi beberapa kota di Indonesia akan mengikuti jejak Jakarta akibat
berkurangnya sumber air bersih, dampak dari pesatnya perubahan tata ruang yang
banyak mengalihkan fungsikan daerah hijau, bukanya mendaur ulang tata ruang
agar semakin padat tetapi terus melebar hingga ke daerah resapan seperti zona
sanggahan hijau.
Sekali lagi ditekankan bahwa telah nampak
dipermukaan bumi Indonesia sepanjang tahun terus terjadi banjir, pengotoran dan
pencemaran air dan berkurangnya air di beberapa daerah dampak dari kemajuan
global yang tidak memperhitungkan efek-efek air yang terbuang percuma. Maka
budayakan dengan bijak pemanfaatan lahan hijau agar air tidak menghasilkan
banjir dan berbagai bencana kerugian lainnya.
M. Anwar Siregar
Enviromentalist Geologist, kerja di Tapsel
Tulisan ini sudah di Publikasi di Harian "ANALISA" Medan, Tgl 9 April 2016
Komentar
Posting Komentar