Mengapa ada Bumi
MENGAPA ADA HARI BUMI
Oleh M. Anwar Siregar
Hari bumi yang diadakan pada
bulan Maret setiap tahun, dan masyarakat internasional selalu memaknai hari
bumi dengan selamatkan bumi, makna hari bumi selalu diadakan dengan tema hanya
ada satu bumi, hanya ada tempat hidup di dunia bagi manusia yaitu di bumi,
Bencana kabut asap yang sering
terjadi dan kadang bisa berlangsung dalam satu bulan, telah menimbulkan bencana
perubahan iklim global dibarbagai bandara udara di Sumatera dan Kalimantan,
dampak dari kebakaran hutan yang
menghiasi udara disekitar gedung, dan langit sepanjang jalinsum dan pantai
timur Sumatera dan sebagian pantai barat, udara di garis khatulistiwa yang
sebelumnya bersih dari gangguan polusi menjadi pekat dan pengat oleh kabut
asap, dan melintas perbatasan antara negara di kawasan Asia Tenggara.
Diperlukan renungan yang sungguh-sungguh dalam menekan bencana kabut asap untuk
mengendalikan lapisan ozon agar tidak bebas menerobos ke bumi.
Dalam rangka mengendali kerusakan lapisan ozon
dalam skala global, upaya yang sering dilakukan masyarakat dunia saat ini
adalah melakukan gerakan menanam pohon serta menggunakan bahan bakar alternatif
yang ramah lingkungan serta penghematan dan efisiensi penggunaan bahan bakar
diseluruh elemen aktikvitas kehidupan. Disinilah peran hari Bumi di perlukan
eksistensinya bagi keberlangsungan kehidupan.
HARI BUMI
Kondisi lingkungan global saat ini memerlukan
suatu gerakan untuk mengendalikan kerusakan di bumi. Masyarakat internasional
lalu mencetuskan pentingnya suatu hari khusus untuk merenungkan keberadaan bumi
bagi manusia di era sekarang. Hari bumi memang sangat penting bagi sumber
inspirasi hidup untuk mengendalikan kerusakan di bumi, lihatlah kabut asap yang
sering berlangsung di Indonesia yang sudah terjadi sejak kebakaran besar yang
melanda Pulau Sumatera dan Kalimantan pada tahun 1997 hingga ke era sekarang.
Yang merusaknya adalah manusia itu sendiri, jadi perlu sebuah renungan untuk
sebuah keberadaan manusia yang hidup di bumi.
Kehidupan manusia sangat bergantung kepada
sumber-sumber daya alam dan kondisi lingkungan di bumi, oleh karena itu
masyarakat dunia harus berusaha keras untuk mencegah kehancuran yang lebih luas
untuk menjaga keberlangsungan hidup dan perlu suatu sistim pembangunan hijau yang
berkelanjutan untuk mendukung kehidupan dimuka bumi.
Salah satunya adalah memelihara dan melestarikan
sistim pendukung kehidupan yang dibutuhkan oleh manusia dan makhluk hidup
lainnya termasuk bumi itu sendiri, mengingat segala sesuatu yang ada dibumi
merupakan sumber daya yang terbatas, penggunaan yang berlebihan harus dibatasi
karena suatu saat akan habis.
Kondisi global bumi saat ini sudah mendekati tingkat
kehancuran dengan tingkat pencemaran CO2 di Tanah Air sudah sangat memprihatinkan
dengan bukti pemanasan global dan perubahan iklim sudah berlangsung dengan
menelan korban akibat kenaikan emisi CO2 dengan bencana jerabu antar lintas
negara, melumpuhkan perdagangan dan transportasi udara serta distosrsi belanja
publik bagi pemerintah.
Kondisi lingkungan global bumi saat ini sudah
mendekati tingkat kehancuran, diatas permukaan bumi penuh pertumpahan darah
akibat perang politik ideologi, kehancuran sumber daya kelautan akibat bom
kimia telah merusak habitat dan lingkungan terumbu karang dan hutan mangurove,
beberapa negara dilanda kekeringan pertanian dan air bersih dalam 50 tahun
terakhir, badai tropis dan hujan paling ekstrem banyak terjadi di Tiongkok dan
Asia Tenggara dalam kurun 60 tahun terakhir. Kejadian-kejadian bencana alam
silih berganti datang sama-sama menimbulkan berbagai bencana ikutan seperti
krisis ekonomi global, krisis ketahanan pangan dan krisis kesehatan kemanusia
dan daya dukung lingkungan semakin merosot tajam.
Merusak sumber-sumber daya yang dibutuhkan
sebagai ketahanan pangan, penghancuran hutan-hutan dan perusakan terumbu karang
di laut, pengotoran udara di atmosfir turut mempercepat kehancuran bumi
sehingga bumi sebagai makhluk “bernyawa“ menunjukkan jati diri kepada manusia
dengan menyebarkan bencana alam, dengan kata lainnya manusia itu seperti memutuskan
rantai kehidupannya alias nyawanya sendiri.
Disinilah peran hari bumi sangat
diperlukan, untuk direnungkan manusia di abad sekarang, diperlukan aksi bersama
untuk menghentikan kebakaran hutan yang menghasilkan kabut asap atau
menghasilkan emisi CO2. Banyak solusi
sederhana namun malas ditindaklanjuti seperti mencegah deforestasi lingkungan
hutan dengan mematuhi aturan konsesi lahan dan tata ruang yang telah
ditetapkan, upaya penghematan energi dengan membatasi pemilikan kendaraan lebih
dari satu, melakukan pembauran energi konvensional ke energi alternatif, energi
bersih dan terbarukan, membiasakan hidup hemat dalam pemanfaatan sumber-sumber
daya dengan gaya hidup yang ramah
lingkungan.
BERSIHKAN CO2
Kerusakan dalam skala global sebenarnya
sudah berlangsung bagi keberlangsungan lingkungan sejak era memasuki revolusi
industri di beberapa kawasan di bumi, kekeringan dan wabah penyakit di Benua
Afrika, banjir berkepanjangan di Benua Asia dan musim kering dan badai panas
terus menerus mengincar kawasan-kawasan yang telah di gunakan sebagai pusat uji
coba persenjataan global.
Kerusakan ekosistim bumi perlu dicegah,
dan salah satu sumber daya yang paling dibutuhkan bagi seluruh makhluk di bumi
adalah sumber daya udara, yang dianggap remeh seluruh manusia di muka bumi.
Jika tidak, lalu mengapa begitu banyak pencemaran udara, kabut asap
bertahun-tahun, pembotakan hutan sehingga menghasilkan banyak CO2 dan kenapa
lapisan ozon mengalami pelubangan yang luasnya mendekati benua Eropa? Rentetan
pertanyaan yang selalu mengganggu aktivitis lingkungan, galau dan perih melihat
kehancuran lingkungan di bumi ini, warisan apa akan diberikan ke generasi
berikut? Apakah sebuah kehancuran dan kematian bumi? Renungkanlah.
Sekarang saatnya bergerak bersama untuk
menghilangkan sumber-sumber yang merusak lingkungan bumi. Sumber daya paling
utama yang perlu dibersihkan adalah sumber daya udara. Tanpa udara takkan ada
kehidupan. Tanpa udara bersih takkan diperoleh kehidupan sehat, lihatlah
kejadian asap yang sering berlangsung di Pulau Sumatera dan Kalimantan yang
telah banyak menelan korban jiwa akibat sesak napas, sakit mata, paru-paru dan
berbagai penyakit lainnya.
Bagi Indonesia, salah satunya ada dengan menghilangkan
predikat negara penghasil CO2 yaitu emisi dalam bentuk kebakaran hutan dengan
kabut asap melintas negara lain. Udara sangat diperlukan, mengingat kita
sebagai manusia seringkali menarik napas lebih 27.500 kali lebih atau berkisar
hampir 25 tarikan setiap menit. Udara bersih yang diberikan Allah SWT itu
pemberian yang tidak membutuhkan biaya, gratis namun kenapa di kotorkan dengan
alasan hanya mengejar pencapaian ekonomi? Dimanakah ekonomi hijau itu? Yang
kita lihat adalah pembangunan ekonomi coklat yang sering mengabaikan bencana,
karena keuntungan kapitalis dianggap merupakan sumber kehidupan bagi mereka.
Dengan membersihkan udara Indonesia dari
kekotoran emisi kabut asap dengan memperhatikan sumber daya yang terbatas,
misalnya pemanfaatan sumber daya hutan. Sebab sumber daya hutan agar tidak
menghasilkan problematika kerusakan lingkungan global yang mengancam kehidupan
di bumi yang terbagi dua bagian yang saling era kaitannya dengan tingkat
kebencanaanya yaitu kerusakan yang bersifat regional (seperti hujan asam) dan
kerusakan yang bersifat global seperti pemanasan global, kepunahan jenis dan
kerusakan lapsian ozon di stratosfer.
PELIHARA BUMI
Memelihara dan melestarikan serta
memulihkan lingkungan global sekarang dapat dimulai dari Indonesia sebagai
pusat paru-paru bumi, yang memiliki lebih ratusan ribu pusat geo-biodiversity
untuk menghasilkan udara bersih global, sehingga kita tidak perlu membeli udara
bersih dalam bentuk oksigen dalam tabung.
Dengan memelihara udara bumi, atau
membersihkan bahaya udara kotor agar tidak terulang lagi sejarah yang pernah
terjadi di Inggris pada tahun 1952 yang dikenal sebagai The Great London
Smog yang menyebabkan sekitar 4000 jiwa melayang dan sejumlah besar
penduduk menderita penyakit bronkitis, jantung dan berbagai penyakit pernapasan
lainnya. Bahkan bangunan, lukisan, patung atau monumen dapat hancur karena asap
dan gas emisi mobil (dikutip dari London Smog).
M. Anwar Siregar
Geolog, Pemerhati Masalah Tata Ruang Lingkungan dan
Energi-Geosfer.
Tulisan ini sudah di Publikasi di Harian "ANALISA" MEDAN, Tgl 20 Maret 2016
Komentar
Posting Komentar