Fenomena ENSO di Khatulistiwa
FENOMENA ENSO di
KHATULISTIWA
Oleh : M. Anwar Siregar
Perubahan iklim dan cuaca diakibatkan terganggunya
sistim peredaran udara, terimbaskan pada kehidupan manusia didaratan. Perubahan
iklim terutama pada daerah tropis yang banyak melahirkan badai tropis dan membesar
di luar kawasan tropis khatulistiwa dan mampu memindahkan benda-benda sejauh
lebih 100 kilometer.
Hujan salah musim yang sering terjadi di kawasan
khatulistiwa telah menimbulkan bahaya banjir, dan belum berakhirnya musim
hujan, datang lagi badai tropis berupa angin kencang, selaras dengan itu,
dibelahan bumi lain mengalami musim kemarau yang berkepanjangan.
DINAMIKA LAPISAN ATMOSFER
Gerak bumi menimbulkan perbedaan panas antara
tempat yang mempunyai latitude rendah di Bumi dan juga terdapat perbedaan
lapisan-lapisan atmosfir, yang akan menentukan hembusan gerak angin
berkecepatan tinggi ke arah tekanan udara rendah. Pada lapisan traposfer
terdapat udara yang berhembus secara horizontal maupun vertikal, dimana
gerakannya anti siklon maupun siklon (etxtrim mobility). Suhu udara yang
selalu berubah-ubah, yang berubah bentuk melalui proses kondesasi menjadi awan,
hujan dan salju.
Didalam lapisan traposfer, banyak terkandung jumlah
debu yang umumnya berupa sumber polutan seperti pembakaran hutan, batubara,
hasil letusan gunungapi, akan mudah terhembus oleh angin dari berbagai
permukaan bumi, karena ketinggiannya dekat permukaan bumi, berakibat permukaan
lapisan traposfer berubah menjadi gelap atau kelabu dan akan sedikit mengurangi
isolasi permukaan bumi.
Faktor lain penyebab banyaknya perubahan cuaca di lapisan
atmosfir bumi adalah panas yang terdapat didalam lapisan bumi. Disebabkan pada
setiap lapisan di dalam bumi memiliki sifat kekentalan yang berbeda dan tidak
merata dan menghasilkan penghantaran panas ke udara atmosfer juga berbeda pada
setiap geografis.
Dengan perbedaan ini, ada udara yang naik membumbung tinggi
sampai pada suatu tahap altitude yang tinggi diatas suatu wilayah. Secara
bertahap udara mendingin dan menjadi berat, dan akibatnya udara mulai balik ke
permukaan bumi. Inilah yang menimbulkan sirkulasi : Udara panas membumbung ke
atas, sedangan udara dingin turun ke permukaan bumi. Tetapi ada juga bergerak
horizontal, dikenal sebagai angin. Selanjutnya angin bisa datang berhembus dari
tempat berbeda sebagai akibat dari perubahan-perubahan yang tidak
konstan/temporer didalam kondisi-kondisi lapisan atmosfir Bumi.
FENOMENA ENSO
Kondisi iklim di daerah kepulauan yang dikelilingi
lautan yang luas seperti Indonesia, Philipina dan Inggris sangat dipengaruhi
oleh kondisi ekstrem oleh gejala El Nino Southern Oscilation atau ENSO.
Perubahan kondisi perairan laut Indonesia banyak disebabkan oleh gejala ini
terutama di Indonesia bagian Timur yang berbatas dengan Laut Pasifik dan
Australia
Pantai Barat Sumatera dari Kepulauan Enggano menerus ke
utara Aceh yang dipengaruhi oleh anomali Lautan Samudera Hindia atau Indian
Dipole Mode Positif Event (IDME) dan pergerakan lempeng-lempeng bumi yang
mempengaruhi curah hujan dan musim kemarau di wilayah Indonesia. Perubahan
ini semakin menambah kerumitan, dampak dari pergeseran sumbu bumi oleh megatrusth
gempa di mulai dari Aceh 2004, Chili 2009, dan Jepang 2011. Pergeseran ini juga
berdampak pada posisi koordinat, perbedaan waktu serta arah kiblat dibeberapa
kawasan dipermukaan bumi, sangat mempengaruhi dinamika dari ENSO di garis
khatulistiwa. Banyak badai topan kini melanda beberapa kawasan di Pasifik
hingga ke Pantai Barat Amerika.
La LENA (Si Dingin)
Badai El Lena atau ENSO El Lena [La Nina/ Si
Banjir] adalah sebuah julukan terhadap suatu fenomena alam terhadap menurunnya
suhu permukaan air laut atau dingin diwilayah Pasifik bagian Tengah hingga
dibawah toleransi. Penurunan suhu juga dibarengi oleh penguatan arus naiknya
suatu permukaan air laut akibat gejala panas [El Nino] dari perubahan-perubahan
iklim yang menimbulkan dan mencairnya es, runtuhan salju es dibeberapa
pegunungan yang banyak terselimutkan es.
Kondisi akan diikuti oleh munculnya tiupan angin
pasat yang kencang di kawasan Pasifik. Kondisi suhu ini menyebabkan kondisi
suhu air laut di Pasifik bagian Barat naik. Peningkatan kenaikan permukaan air
lautan akan meningkatkan resiko banjir. Hal ini terutama berlaku jika pemanasan
global telah meningkatkan suhu permukaan air laut berkaitan langsung dengan
badai dan topan ganas sering melanda negara-negara tropis.
Negara-negara di Pasifik, daratannya langsung
berbatas dengan air laut, akan menghadapi suatu kendala berupa banjir dan angin
puting beliung, karena memanasnya suhu air laut akan meningkatkan suhu
permukaan bumi, bertambah tinggi berarti juga melajukan peningkatan erosi
pantai. Perbandingannya, bila lautan telah mengalami peningkatan/naik permukaan
sebesar 10 cm berarti akan hilang sekitar 10 meter pantai.
Kekuatan dari badai tropis Lena mulai dari 550
milibar hingga 980 milibar. Muncul di daerah Samudera Pasifik, Laut Maluku dan
Teluk Australia, lalu bergerak cepat kearah Barat, disebelah selatan Pulau Jawa
atau Samudera Indonesia, El Lena akan bertemu dan bergabung dengan beberapa badai
tropis, dikenal sebagai badai tropis yang termuda di kawasan-kawasan Pasifik. Mereka
menggabungkan kekuatan untuk mengamuk disekitar daerah tropis yang akan
mengalami peningkatan suhu yang dingin berubah menjadi suhu yang tinggi.
Bila dilihat dari data BMKG melalui gambar satelit
yang ada, terpantau posisi berada pada koordinat 15-17 Lintang Selatan dan
125-130 derajat Bujur Timur, untuk mendekati barat daya dan terus kearah Timur.
Dimana wilayah ini terdapat wilayah Asia rentan hantaman badai tropis seperti
amukan si Betty, Sandi, atau Bopha yang sering terjadi di Philipina, terus
pergi ke Bangladesh atau juga menghantam wilayah Indonesia berupa angin puting
beliung. Karena diperparah oleh kondisi awan yang tebal dan menimbulkan
penarikan kekuatan dengan kecepatan 40 knop atau 70 km per jam.
Wilayah yang tidak mengalami peningkatan naik suhu
permukaan air laut, justrunya mengalami pendinginan akan menimbulkan efek
siklon di Australia dan Pasifik yang akan menghasilkan badai Hurricane dengan
banjir yang luar biasa seperti yang terjadi di Ekuador dan Peru pada tahun
1982, sebaliknya di Indonesia mengalami musim kemarau yang panjang.
EL NINO (Si Panas)
El Nino/Kemarau ini termasuk gejala alam.
Akibatnya banjir dan sanggup menenggelamkan beberapa pulau atau desa-desa
seperti di wilayah Indonesia yang berhubungan dengan lautan dan topografi
rendah atau hampir bersentuhan dengan air laut.
Kebalikan dari El Lena, El Nino julukan fenomena
alam yaitu karena peningkatan suhu permukaan laut atau memanasnya air laut yang
timbul karena mencairnya es, dimana es yang ada di kutub berfungsi sebagai
pengimbangan suhu tetap dengan kondisi netral berubah menjadi air dan bergabung
untuk meningkatkan ketinggian permukaan air laut. Dampaknya musim panas.
Karena ulah manusia dengan teknologinya yang
banyak menyebarkan zat-zat terhadap lapisan ozon yang berfungsi untuk mencegah
lapisan ultra violet ke kutub selatan secara langsung memanaskan es berubah
mencair. Setelah itu bagian kawasan ini mengalami pendinginan. Dilain pihak, di
Samudera Pasifik mengalami pemanasan laut yang tinggi, gejala ini kemudian
berkembang menjadi arus panas yang menjalar ke wilayah khatulistiwa terutama
diwilayah Indonesia yang terletak di garis equator sehingga menyulitkan
peramalan perkiraan cuaca.
Ulah El Nino akan mengakibatkan munculnya berpuluh
kali musim kemarau yang panjang dan kering seperti yang pernah dialami oleh
Indonesia tahun 1982-1983.
Gejala El Lena di Indonesia kadang dimulai cepat,
kadang juga lambat dan tidak teratur atau tidak bergantung kalender bulan, begitu
dengan fenomena El Nino, biasanya terjadi di bulan Desember sampai Januari kini
tidak beraturan karena berkaitan dengan perputaran bumi dan sistim arus laut
yang terdapat di Samudera Pasifik, sehingga Pantai Timur Afrika menjadi hangat,
sementara suhu muka laut di Sumatera hingga ke selatan Nusa Tenggara mendingin.
Musim banjir terjadi akibat curah hujan yang
tinggi, jika terjadi longsoran yang dilalui oleh banjir bukan akibat curah
hujan yang tinggi melainkan memang akibat penggundulan hutan, fenomena Enso La
Nina dan La Nino adalah akibat kondisi dinamika atmosfir yang telah mengalami
gangguan oleh dampak aktivitas manusia di era millenium kimiawi yang banyak
menyebar ke angkasa raya.
Tulisan ini sudah dipublikasi di HARIAN ANALISA MEDAN, Tgl 19 Maret 2017
Komentar
Posting Komentar