Energi Byar Pett di Sumatera Utara
ENERGI BYAR PETT DI SUMATERA UTARA
Oleh M. Anwar Siregar
(Medan Bisnis, 18 April 2018)
Aktivitas pemadaman listrik di Kota Medan belakangan ini sangat
mengganggu usaha masyarakat serta industri dan juga para
pelajar/mahasiswa yang pada minggu-minggu ini menghadapi berbagai ujian
kemampuan mereka, menghambat kemajuan daya saing bangsa dalam mengejar
ketertinggalan segala bidang.
Yang menjadi pertanyaan kenapa
sering berulang pemadaman sampai menimbulkan krisis listrik di berbagai
daerah dan yang paling parah di alami Nias hingga darurat listrik?
Sampai menimbulkan rasa tidak suka masyarakat dengan berunjuk rasa ke
PLN dengan membawa seribu lilin.
Apakah gambaran ini sebagai
bukti bahwa pemerintah telah gagal dalam mengoptimalkan pembauran
energi, baik dalam jangka pendek apalagi gambaran kebutuhan panjang,
sangat lambat dan banyak sekali aturan regulasi yang menekan kemajuan
sumber daya di bidang ketenagalistrikan dan energi baru terbarukan.
Peristiwa
mati lampu dialami berbagai kota seperti di Medan, Deli Serdang, Nias
dan Padangsidimpuan merupakan peristiwa pemadaman listrik terburuk
karena hampir serentak terjadi.
Hal ini juga gambaran penilaian
yang sangat buruk bagi pemerintah dalam memberikan pelayanan ke
masyarakat serta belum mampu dalam mengupayakan pemodernisasian dan
memperkuat sistem pengembangan energi yang menimbulkan ironis.
Di
tengah kekayaan SDM yang telah mampu menciptakan peralatan teknologi
dan kaya SDA namun rakyatnya tetap banyak miskin dan byar pet tetap
berlanjut.
Pertimbangan yang perlu dipikirkan adalah bagaimana
Sumatera Utara harus menghilangkan ketergantungan terhadap penggunaan
energi konvensional yang banyak digunakan PLN dalam melayani kebutukan
listrik di Sumut dan Indonesia karena hal ini menjadikan Indonesia
sebagai negara importir besar di bidang energi dengan mengimpor lebih 10
persen pada tahun 2008, lalu meningkat tajam menjadi 45 persen di tahun
2017 karena masih bergantung pada energi fosil karena belum memiliki
strategi energi jangka panjang, terutama penggunaan energi alternatif
khususnya dalam pemanfaatan energi dari bioenergi yang belum ditempatkan
sebagai faktor utama energi masa depan.
Pemadaman listrik di
berbagai kota di Sumatera Utara telah menimbulkan gangguan di berbagai
sektor perdagangan, ekonomi dan pendidikan, dapat menimbulkan stres,
belum lagi kondisi cuaca yang sangat panas di berbagai kota di Sumatera
Utara yang membutuhkan penggunaan AC karena suhu sudah berada di atas
32oC dan ini seharusnya sudah menjadi pelajaran bagi pemerintah dalam
mengupayakan bioenergi dan enegi terbarukan lainnya untuk menjadi
tantangan utama dalam mengoptimalkan penggunaan energi tanpa harus
terdengar cerita klasik byar pet.
Untuk menghilangkan ironi
ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) diperlukan kerja keras,
dan pemerintah dapat belajar dari sejarah pengalihan penggunan minyak
tanah ke bahan bakar gas elpiji, harus dilakukan dengan meningkatkan
penggunaan energi bauran bagi PLN dengan tingkatan sudah harus mencapai
50 persen dari tingkat bauran sekarang mencapai 5%, harus dibalik dari
penggunaan BBM yang mencapai 50 % menjadi dibawah 40% dalam jangka
panjang.
Sebabnya, Indonesia kaya energi terbarukan, dan jangan
membuat negeri ini terlihat semakin miskin di mata masyarakat dunia,
optimalkan energi yang ada karena SDM kita telah banyak menemukan
energi-energi alternatif terbarukan dan seharusnya menjadi perioritas
untuk membangun ketahanan energi.
Ketahanan
Jika pemerintah
ingin melaju kencang dalam pertumbuhan ekonomi diatas 6 persen per tahun
maka sudah seharusnya meninggalkan cerita pemadaman, dengan memperkuat
ketahanan energi dengan meningkatkan pembauran energi alternatif dengan
pemanfaatan yang lebih efisien karena di perkirakan pada tahun 2020
konsumsi energi per kapita akan mencapai dua kali lipat dari yang
sekarang. Indonesia membutuhkan energi yang lebih banyak tanpa
bergantung dengan sumber daya energi konvensional.
Ironisnya,
blue print ketahanan energi itu belum memberikan harapan bagi
kesejahteraan rakyat karena masih terdapat 20 % masyarakat dan wilayah
di Indonesia belum terjangkiti aliran listrik dari negara.
Sehingga
distribusi energi merupakan persoalan utama bagi keberlangsungan energi
listrik di Indonesia, jadi ketahanan energi Indonesia masih
memprihatinkan dan perlu upaya konservasi energi secara keras untuk
menekan semua kalangan agar dapat memanfaatkan enegi hijau serta menekan
tingkat kehilangan energi akibat pencurian listrik dan tidak menekankan
beban keuangan negara
Energi konvensional di Indonesia seperti
penggunaan energi BBM dan Batubara sangat ini menghadapi tantangan dan
masalah yang sangat besar, yaitu kapasitas cadangan, semakin terbatas,
dan membutuhkan waktu pemulihan sumber daya sangat panjang.
Efek
iklim global, sangat ini kondisi iklim global dunia sangat panas dan
suhu diatas rata-rata 32oC dan salah satu faktor penyebab pemanasan
global.
Mahal dan boros, efisiensi penggunaannya di Indonesia
sangat boros, sangat mahal dan membebankan keuangan negara karena
sebagian sangat ini kapasitas BBM yang digunakan oleh PLN dan berbagai
kalangan industri adalah hasil impor Pertamina dari negara lain, sebuah
ironi, negeri yang sebelumnya pengekspor minyak menjadi negeri miskin
BBM.
Terakhir distribusi yang membutuhkan kekuatan logistik dan
pengawasan yang ketat karena kondisi geografis yang rumit dan sulit
dijangkau ke daerah-daerah terpencil.
Dengan gambaran berbagai
permasalahan energi yang dihadapi Indonesia untuk menjadi negeri yang
mandiri energi dan agar cerita pemadaman tidak menimbulkan ironi, ada
baiknya pemerintah melihat hasil riset putra-putri bangsa yang berhasil
menemukan bahan bakar energi alternatif dengan memberikan bantuan untuk
pengembangan agar dapat diproduksi secara luas sesuai dengan kondisi
logistik geografis untuk meningkatkan daya saing ekonomi global
Indonesia di mata dunia.
Pemerintah bisa membangun energi masa
depan mulai saat ini, baik dari energi nuklir, energi panas bumi dan
energi laut, karena dapat memberikan energi dalam jumlah yang sangat
besar dan menekan efek emisi karbon untuk membatasi pertumbuhan emisi
gas rumah kaca.
(Oleh: M Anwar Siregar) Penulis adalah Geolog, Pemerhati Masalah Tata Ruang Lingkungan dan Energi Geosfer dan ANS Pemprovsu)
Komentar
Posting Komentar