Belajar dari Tsunami Palu-Donggala (1)
Belajar dari Tsunami Palu-Donggala (1)
Oleh : M. Anwar Siregar
Gelombang tsunami selalu berhubungan dengan gempa bumi tektonik dan
gempa vulkanis di atas maupun di bawah permukaan laut. Bencana tsunamis
yang melanda Aceh, Asia Selatan dan Afrika bagian Timur tahun 2004
masih berhubungan dengan pergerakan lempeng. Hal inilah yang menimbulkan
gempa tektonik dahsyat pada abad 21, dan termasuk gempa yang
terbesar.
Pergerakan dan peruntuhan lempeng yang menimbulkan
getaran sejauh ribuan kilometer ini telah berdampak pada kenaikan
permukaan pantai di beberapa wilayah di pantai Timur Sulawesi dan
Maluku. Hal ini telah terakumulasinya ko-seismik pada sesar-sesar
lokal di bagian selatan pantai Halmahera akibat gempa di Sulawesi
Tengah.
Peristiwa tsunami di Palu dan Donggala Sulawesi Tengah secara
sekilas disebabkan terjadinya gempa di dasar laut. Pergerakan lempeng
samudera akan menimbulkan ruang kosong di dasar samudera yang
menyebabkan air tiba-tiba surut. Geseran batuan di dasar laut akan
menghasilkan deformasi tektonik pada sesar geser, terutama patahan
Palu-Koro yang menghasilkan devormasi vertikal.
TSUNAMI: KM Sabuk Nusantara 39 terdampar hingga
daratan akibat gelombang tsunami di desa Wani, Pantai Barat Donggala,
Sulawesi Tengah, Senin (1/10). Gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi
Tengah menelan korban sedikitnya 2.000 jiwa.
Deformasi Sesar Geser
Gelombang seismik dapat terjadi akibat gangguan vulkanisme dan
gempa tektonik yang disebabkan pergeseran dasar laut secara vertikal.
Ketika sebuah lempeng bergeseran terhadap satu sama lain, maka
terbentuk sebuah sesar geser. Dalam hal ini sesar Palu Koro yang
mengalami sesar geser (thrust fault), karena air itu tidak dapat
dipadatkan.
Akibatnya, seluruh air dari dasar sanmpai ke permukaan bergerak
berarak dari daerah seismik. Di Pantai atau Samudera terbuka,
gelombang-gelombang air membentuk ketinggian tidak lebih dari 60 inci.
Bila energi potensial gelombang semakin bertambah, maka semakin cepat
gelombang itu berarak secara teratur, karena kecepatan gelombang sama
dengan akar kwadrat hasil percepatan dan kedalaman. Selain itu ada
faktor yang mendukung laju kecepatan gelombang tsunami ke daratan,
yaitu morfologi pantai. Morfologi pantai Palu dan Donggala sangat
ideal untuk laju kecepatan tsunami.
Tsunami terjadi bila retakan pada batuan kerak atas menyebabkan
dasar laut turun dengan cepat sekali (sesar turun). Permukaan air laut
di atasnya juga turun, yang menyebabkan gelombang laut mengalami
gangguan di daerah seismik, lalu bergulung dengan cepat. Hal ini
disebabkan air digerakkan oleh kegiatan tektonik yang memuat seluruh
gerakan air di dalam perputaran air lalu didorong keatas.
Karena energi kenetik dari perputaran air, maka gelombang akan
terbagi merata ke seluruh kedalamannya ketika mencapai daratan. Semakin
tinggi gelombang, maka akan mengubah energi kenetik tadi menjadi
energi potensial. Sebab pantai yang bentuknya curam mengalami
perubahan yang maksimal, karena tidak ada gelombang yang melemah
sehingga kekuatannya menjadi berlipat ganda.
Untuk daerah lepas pantai, panjang gelombang tsunami bisa mencapai
puluhan sampai ratusan kilometer, namun tinggi rendahnya gelombang
tergantung pada energi skala magnitudonya yang dihasilkan oleh gempa
tektonik. Contoh sekilas bisa dilihat dari pantai di kawasan Banda Aceh,
dengan perbandingan pantai di kawasan Palu dan Donggala, gelombang
air tsunami menerus ke dalam sejauh enam kilometer.
Sesar ini menandakan tempat dimana Samudera Pasifik dan Samudera
Hindia bergerak ke utara dan timur terhadap daratan yang diam. Contoh
sesar geser ini adalah Patahan San Andreas dan Sesar Pantai Barat
Sumatera serta Patahan Palu-Koro-Ransiki.
Tekanan tektonik yang tak henti-hentinya berarti batuan itu terus
menerus bertukar tempat di dalam laut seperti pada gempa dan tsunami
Palu-Donggala di Laut Sulawesi, yang memungkin dapat terjadinya
tsunami ke Palu-Donggala.
(Penulis adalah pemerhati tata ruang lingkungan dan energi gosfer) (AM 2018)
Komentar
Posting Komentar