Belajar dari Tsunami Palu-Donggala (2)



Belajar dari Tsunami Palu-Donggala (2)
Oleh : M. Anwar Siregar

Ada faktor menyebabkan beberapa hal yang agak sulit mera­mal­kan perubahan laut akibat gempa tsunami Palu-Donggala di era sekarang untuk gam­baran gempa di masa mendatang. Gem­pa tsunami di Sulawesi Tengah ini telah membuat bentuk dasar samudera berubah-ubah dan ikut bergeser.
Beberapa gerakan tanah di lautan telah menam­bah te­kan­an untuk menimbulkan tekanan air pasang yang me­ningkat dan gerakan lain­nya mengimbangi. Longsoran tanah di dasar laut yang tiba-tiba da­pat secara tajam menu­run­kan permukaan laut, bia­sanya 3 meter menjadi 12 me­ter dalam satu abad.
Gempa dan tsunami di Pa­lu dan Donggala dika­barkan telah mengindikasikan ada­nya perubahan tanah yang mengalami pergeseran sejauh 3 meter dan penurunan per­mukaan daratan sedalam 1, 5 meter, dipastikan batimetri pantai di kawasan Palu telah mengalami perubahan parsil panjang pantai berkurang, padahal kekuatan gempa hanya 7.7 SR, berbeda de­ngan gempa dan tsunami Aceh 2004 berkekuatan 9.1 SR sejauh lebih 12 dan per­ubahan dasar laut mencapai 6-12 meter.
Morfologi Pantai
Daerah terparah meng­alami tsunami ada­lah wilayah Pasifik yang memiliki lem­peng tipis antara 30-70 km. Ketipisan ini menyebabkan ter­jadinya longsoran dan pa­tahan pada dasar laut. Di dae­rah Pasifik terdapat lebih ba­nyak palung-palung samu­de­ra dalam. Paling sedikit di wilayah ini satu gempa ba­wah laut dapat terjadi dalam tiap tahhun sejak 1800. Tsunami di Pasifik yang paling mengerikan dapat terjadi se­tiap 10 tahun.
Indonesia termasuk salah satu negara di dunia ini dae­rah rawan tsunami sepanjang tahun, bahwa kepulauan Indonesia diapit oleh beberapa lempeng-lempeng benua dan lempeng-lempeng samudera yang sangat aktif, yaitu Lem­peng Carolina/Pasifik di se­belah barat dan Lempeng Laut Philipina di barat daya, Lempeng Eurasia di utara ser­ta Lem­peng samudera Hin­da-Australia di selatan dan Lem­peng Samudera At­lantik-Afrika di sebelah ti­mur.
Bencana gempa dan tsunami yang sering melanda In­donesia memiliki karakte­ristik selalu berhubungan dengan pergerakan sesar-se­sar geser di lautan Indonesia. Ini dapat dilihat pada benca­na tsu­nami di Flores dan Aceh-Sumut, yang mempu­nyai banyak patahan lokal-lokal disekitar Laut Flores dan Laut Timor sebagai pem­batas dari patahan regional pantai barat Sumatera.
Patahan daerah ini berhu­bungan denggan ke­dalaman fokus gempa dangkal yang dapat meng­hasilkan tsunami dahsyat serta sekarang Palu-Donggala yang bentuk pan­tai­nya menjorok ke dalam da­ratan dan dikendalikan oleh zona patahan Palu-Koro dengan fokus dangkal rata-rata 10-20 km, yang masuk se­jauh 15 km ke dalam da­ratan Pulau Sulawesi Tengah hingga menimbulkan gerak likuifaksi, yang menggeser bangunan atau tanah berjalan sejauh 10 meter sebelum hancur dan longsor ke dalam bumi.
Bentuk morfologi (ben­tang alam) pantai di Kota Pa­lu umunya berbentuk keru­cut menyempit dan men­jorok ke dalam, permukaan pulau berbentuk landai dan berle­kuk memanjang yang memu­dahkan tsunami dapat men­ca­pai pantai dalam kecepatan tinggi, kabarnya tsunami Palu-Donggala mencapai 800 km /per jam hingga mam­pu ke Ke kab. Donggala.
Menurut para ahli geo­logi kelautan, pulau-pulau ber­ben­tuk kerucut biasanya mam­pu ”menangkap” ge­lom­bang yang tetap, karena pecahan gelombang dan ge­lombang tersebut terpe­rang­kap. Ini dise­babkan panjang­nya sama dengan panjang pulau. Se­dang kecepatan tsunami antara 500-700 km/per jam.
Bahkan ada 800 Kkm/per jam, tergantung kedang­kalan pusat gempa dilautan untuk menuju daratan da­lam waktu antara 3-10 menit, dan tinggi gelombang rata-rata yang tercatat maksimum 12 meter di laut dalam dan mem­besar puluhan meter saat mendekati garis pantai.
Sedangkan tinggi tsunami di Palu dan Donggala men­ca­pai garis pantai (run up), setinggi 6 meter. Ini ditentu­kan besar kecilnya mag­nitudo gempa yang menca­pai 7,4 SR, morfologis ((bentang­alam) dasar pantai dengan ke­dalaman curam dan bentuk garis pantai dan tidak ada pe­lindung pemecah gelombang seperti terumbu karang dan tumbuhan mangurove (pohon bakau). Akibatnya tsunami de­ngan mudah mencapai da­ratan Kota Palu, seperti yang terjadi di Aceh dan Nias.
Dalam kurun 100 tahun ter­akhir ini sejak 1901-2018 tercatat 85 tsunami terjadi di Indonesia. Sebanyak 85 per­sen bencana tsunami meng­alami ben­cana maut dan sekitar 64 peristiwanya ber­langsung di wilayah Timur Indonesia.
Sehubungan dengan itu diperlukan sistem per­ingat­an dini terhadap bencana gempa dan tsunami di wilayah Indo­nesia yang menghadap Sa­mu­dera Pasifik dan Samude­ra Hindia. Memang harga per­alatan teknologi ini sangat mahal, tapi rekonstruksi dan rehabilitasi infrastruktur akan lebih mahal lagi. Pela­jaran gempa tsunami untuk sekian kali, untuk kesekian kalinya alpa lagi.
(Penulis adalah pemerhati tata ruang lingkungan dan energi gosfer)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembangunan Berbasis Informasi Kerentanan Geologis : Geologi Mitigasi

Membangun Tata Ruang Kota Tahan Bencana : Geologi Mitigasi

Euforia Demokrasi Di Indonesia