Thursday, September 13, 2012

Artikel Geologi Lingkungan : FENOMENA ALAM DI DAERAH KHATUSLITIWA

FENOMENA ALAM DI DAERAH KHATUSLITIWA Oleh M. Anwar Siregar Indonesia yang terletak pada daerah khatulistiwa tiap tahun mengalami berbagai macam fenomena alam seperti badai tropis, banjir yang hebat serta fenomena alam lain yang banyak mengambil korban jiwa serta material yang tak terhitung nilainya. Didalam benak masyarakat awam pasti tertancap suatu pertanyaan mengenai fenomena alam yang terjadi di daerah khatulistiwa, misalnya bagaimana sebenarnya kejadian fenomena alam itu? Dimana badai tropis lahir Serta dimana badai tropis itu membesar? Dan juga apakah itu hujan salah musim yang terjadi sekali di Indonesia? Badai tropis atau dikenal dengan julukan El Lena lahir di Selatan Pulau Timor dan Nusa Tenggara Timur. Tanda-tandanya melalui citra penginderaan jauh, satelit NOAA yang di peroleh BMG (Badan Meteorologi Geofisika), gejala kehadirannya dapat diketahui melalui pengukuran dari kenaikan suhu permukaan air laut, selama kurang lebih sebulan yaitu di Samudera Indonesia, Laut Maluku dan Teluk Australia. Badai Lena bertekanan 980 milibar, kemudian bergerak ke arah Barat, disebelah Selatan Pulau Jawa. Badai ini kemudian menyatu dengan badai tropis lainnya yang masih muda di Australia, menghasilkan badai yang menghebat bila berada diposisi antara 17-18 derajat lintang selatan dan 129-130 derajat bujur timur, mengarah ke Baratdaya. Lena bergerak lagi ke arah timur. Biasanya Badai tropis muncul pada bulan Desember dan jalurnya dari Baratdaya ke daratan Australia karena disebabkan suhu muka air laut di Selatan dingi. Sementara itu tekanan udara yang tinggi di Utara dari daratan Asia di Selatan. PUSAT BADAI TROPIS Ada empat kawasan utama tempat lahirnya badai tropis yaitu Timur Tengah dan Asia Selatan, Amerika Tengah dan Amerika Utara, Australia dan Oceani serta kawasan Afrika Tenggara dekat Madagaskar. Masyarakat di daerah itu mempunyai nama tersendiri untuk fenomena alam itu, badai tropis yang terjadi di Asia diberi nama typhoon, orang Australia menjulukinya Willy-willy. Badai di Atlantik biasa disebut Hurricane. Nama yang terakhir ini lalu menjadi nama yang berlaku umum bagi badai atau siklon tropis. BADAI TROPIS Badai tropis, demikian disebut, karena lahirnya dikawasan tropis dekat khatulistiwa antara lima derajat LU dan lima derajat LS. Kawasan itu masih dipengaruhi oleh efek Carolis atau efek perputaran rotasi bumi, yang mengakibatkan perpindahan udara. Badai tropis mempunyai kecepatan antara 35 hingga 61 kno. Diatas itu, badai tropis berubah nama menjadi siklon atau typhoon. Siklon tropis ini setahun dapat terjadi sampai 80 kali. Kerugian akibat terjanganya dapat mencapai 25 milyar dollar AS per tahun. Menurut hukum Ferrel, angin yang bergerak dibelahan Utara jika mencapai khatulistiwa oleh karena gaya Carolis akan memblok ke kanan, sebaliknya, angin yang bertiup dibelahan Selatan menuju khatulistiwa akan dibelokan ke kiri. Badai ini terlihat dari satelit geostasioner berbentuk seperti spiral. Jadi di sebelah selatan khatulistiwa akan searah jarum jam, sedangkan di Utara berlawanan. Semua badai tropis lahir dari depresi di permukaan air laut di kawasan berdiameter 200-400 kilometer, yang suhunya harus melewati 27 derajat Celcius. Suhu yang tinggi pada luasan yang cukup akan mensuplai udara diatasnya dengan uap air yang banyak, kadangkala badai tropis bisa juga terjadi pada suhu permukaan air laut 23-24 derajat Celcius, asalkan udara di lintang yang lebih tinggi suhunya lebih dingin. Kondisi itu mengakibatkan keadaan tidak stabil pada kolom udara atau tekanan rendah permukaan laut, seringkali terjadi anti siklon (tekanan tinggi yang dikelilingi tekanan rendah) dibagian atas. Langkah selanjutnya, tidak terjadi atau hanya sedikit pergerakan angin arah vertikal atas bawah. Badai tropis yang lahir di selatan khatulistiwa tidak pernah melewati khatulistiwa ke Utara. Sebaliknya, badai tropis yang lahir di Utara khatulistiwa tidak pernah mencapai khatulistiwa menuju Selatan. Jadi badai tropis lahir dikwasan tropis tetapi membesar di luar kawasan tropis, biasanya pada garis lintang antara 6-20 derajat. UMUR BADAI TROPIS Umur badai tropis bervariasi mulai dari hanya beberapa jam hingga tiga minggu. Kebanyakan badai tropis hanya berumur lima sampai sepeluh hari. Kelahiran badai tropis dimulai ketika angin mencapai kecepatan antara 65-87 kilometer per jam. Jika sudah besar biasa menghasilkan angin berkecapatan 118 kilometer per jam meliputi kawasan berdiameter hingga 100 kilometer. Bayangkan, badai tropis besar mampu memindahkan masa udara lebih dari 3.500.000.000 ton per jam. Hujan lebat dan angin kencang yang terjadidi pantai utara Pulau Jawa adalah akibat angin besar akses dari badai Lena. Badai tropis umumnya adalah gerakan awan penuh air yang besar. Hujan lebat biasanya jatuh pada kawasan pesisir sepanjang 500-600 kilometer. BANDELNYA EL NINO, MEMANASNYA PERMUKAAN AIR LAUT El Nino, hanyalah julukan bagi sebuah fenomena alam yaitu memanasnya permukaan air laut di Samudera Pasifik yang kadang muncul pada bulan Desember dekat Peru dan Ekuador di Amerika Selatan. Gejala ini kemudian berkembang menjadi arus panas yang menjalar sepanjang khatulistiwa mendekati Indonesia, sampai ke sebelah Timur Pulau Irian. Ulah El Nino itu mengakibatkan munculnya berpuluh-puluh kali musim kemarau kering dan panjang, yang tercatat sejak tahun 1500-an di bilahan Baratdaya Pasifik. Kekeringan yang tergolong parah dilamai Indonesia dan Australia pada tahun 1982-1983. El Nino terjadi karena suhu laut diwilayah Pasifik Tengah dan Timur naik, akibatnya di kawasan itu turun banyak hujan dan badai, lebih dari itu angin dan awan bergerak ke kawasan tersebut, berakibat yang ditinggalkan mengalami musim kemarau. Gejala El Nino memang terjadi setiap tahun, biasanya selama tiga, empat sampai enem bulan, El Nino sudah dimulai sekitar bulanNovember dan Desember, yang berkaitan erat dengan perputaran bumi dan sistim arus laut. Pada saat El Nino merajalela, bukan hanya bagian Barat Pasifik yang terkena dampaknya tetapi juga di sebalah Timurnya. Jika Indonesia dan Australia mengalami musim kemarau yang kering, sebaliknya Peru dan Ekuador mendapat hujan yang sangat lebat sehingga menyebabkan banjir yang hebat. Pada saat itu datang segerombolan badai mengamuk di California, Amerika Serikat atau juga bersamaan dengan munculnya topan Betty dan carry yang melanda belahan Timur Philipina. Topan itu mengakibatkan gelombang udara bergerak ke arah Barat melewati Cina Selatansampai Bangladesh. Hal itu pula mengakibatkan terjadinya banjir besar merenggut ratusan jiwa di Bangladesh. Fenomena alam yang meluas ini memang menganut hukum sebab akibat. Para ahli meteorologi dan geofisika berkeyakinan bah wa El Nino akrab hubungannya dengan pola perpindahan udara di daerah tropis Samudera Pasifik. Mereka menjelaskan perubahan arah angin yang menyebabkan perubahan suhu dan sirkulasi di Samudera ini kemudian mengalami gangguan pergerakan udara dan arus samudera. Perubahan ini tidak lain dari posisinya di 23,5 derajat lintang selatan yang bergeser kearah Utara dan intensitas pemanasan meningkat. Pendek kata, selama sebagian belahan bumi ini dilanda kekeringan sebagian bumi lain kebanjiran. Kedua musibah itu adalah bencana alam yang tak bisa dipastikan kemunculannya. FENOMENA HUJAN SALAH MUSIM “hujan salah musim” didaerah Indonesia bisa disebabkan olek faktor terjadinya gangguan permanen yaitu adanya lembah atau palung tekanan udara di Selatan Jawa yang menerobos jantung Benua Australia. Karena gangguan permanen, artinya tak perlu dicemaskan berlama-lama, karena akhirnya akan hilang sendiri. Implikasinya yang ditimbulkannya yang justru diperhitungkan serius. ENSO El Nino Seoul Ossilation tengah mengalami desingtegrasi, akibatnya akan terjadi arus balik penumpukan energi di kawasan Indonesia. PALUNG SELATAN Palung selatan lahir sebagai akibat pergerakan ke Timur rangkaian sistim tekanan tinggi dan tekanan rendah udara sub tropik belahan Bumi Selatan. Formasinya yang berorientasi paralel garis lintang, tidak jarang jika intensitas hujan dukup dalam, ujung dari ekornya menggapai Ekuador. Jika kebetulan eksistensinya sefase dengan perengganan dingin (cold-front) di belahan Utara Bumi, intensitasnya biasanya meningkat. Pergerakan udara yang terperangkap palung selatan, cirinya menjadi sinklinal dan sifatnya konveksi atau meningkat. Akibatnya udara di dalam dan sekitarnya mengalami destabilitasi. Ini identik dengan cuaca jelek. Pada hasil rekaman cuaca, keberadaan palung ini ditandai oleh bentangan awan putih yang tebal, dan menyerupai lengan biola atau sirip ikan hiu. Tahun ini, selain frekuensinya cukup rapat, sering pulamenerobos jantung Benua Australia sehingga ekornya leluasa melibas Sumatera Selatan dan jawa. Mengapa palung selatang bisa leluasa menerobos jantung Benua Australia? Penyebabnya adalah tekanan udara di Benua Australia terus turun dengan dratisnya sejak bulan April 1992 lalu, yang sebelumnya bergerak naik. Implikasinya, ossilasi selatan loyo, ENSO terpaksa kehilangan salah satu tenaga pembangkitnya dan berangsur beralih rupa menjadi El Nino. Samudera Hindia sejak pasca monsum musim panas tahun 1991 memiliki cadangan energi yang sangat besar. Limpahannya sangat menjamin keberadaan awan tebal dan cuaca buruk di atas Pulau Sumatera, para ahli sulit menerapkan apakah medan awan ini bagian dari sistim palung monsum panas atau bukan, sebab bipolarisasi tekanan udara antara Teluk Persia dan Australia sebagai ciri utama hadirnya sistim monsum tidak jelas wujudnya. Penyebab lain dari terjadinya tekanan rendah adalah keterlambatan laju pemerosotan ossilasi selatan dan besar variasi yang ada sampai menimbulkan depresiasi. Yang sebab musabahnya tidak diketahui, dimana ossilasi selatan berbalik haluan ditengah jalan menimbulkan fase puncak (peak fhase) ketika intensifikasi pemanasan terjadi di Pasifik Tengah dan bukan fase dewasa, tak kala intensifikasi itu terjadi di Pasifik Timur (Pantai Peru da Equador) yang menyebabkan kebanjiran hebat (musim hujan lebat) dan musim kemarau di Indonesia dan Australia. Diterbitkan oleh Tabloid “SAINTEK ITM” Medan Edisi Maret 1997. M. Anwar Siregar Geolog, pemerhati Masalah Lingkungan dan geosfer

No comments:

Post a Comment