Megathrust Aceh-Simeulue Geologi Gempa :
KARAKTER GEMPA MEGATHRUST ACEH-SIMEULUE
Oleh : M. Anwar Siregar
Gempa tsunami Aceh kini memasuki umur 9 tahun, Gempa
di Aceh-Simeulue tidak akan berhenti walau sesaat, dan gempa Pidie 2013 yang
berpusat di lautan Aceh dengan kedalaman 84 km dengan kekuatan 6 Skala Richter
itu menunjukkan bahwa seismitas energi dikawasan ini masih akan terus melepaskan
energi akibat ketidakseimbangnya zona-zona energi penyerapan seismik diperbatasan
lempeng, yang menyusun kerak bumi di tepi kontinen lempeng Eurasia, dan diketahui
bahwa selama belum ditemukan keseimbangan isotatis maka gerak dinamis lempeng
bumi akan selalu memacarkan suatu pendesakan dan “pengumpulan tenaga dalam
gempa” yang akan berdenyut seperti nadi darah yang tersumbat untuk kemudian
meletus atau dilepaskan secara tiba-tiba, dan merupakan gambaran ke gempa megathrust
yang lebih besar lagi kekuatan mencapai 8,5 SR (versi BMKG), megathrust
merupakan karakter gempa yang selama ini menjadi identik zona gempa di bagian
utara sumatera.,
KARAKTER ACEH-SIMEULUE
Wilayah gempa lautan Aceh-Simeulue ataupun daratan
gempa Singkil-Meulaboh-Pidie-Kutacane merupakan wilayah kegempaan paling
teraktif di kawasan pantai barat maupun daratan Sumatera dengan periode
pelepasan energi sangat singkat dengan zona penyerapan energi paling rendah
diantara tiga zona subduksi megathrust yang ada di Pantai Barat Sumatera.
Karakter yang biasanya membentuk mekanisme gempa
besar di wilayah Aceh-Simeulue adalah mekanisme pergerakan pergeseran lempeng
akibat tumbukan lempeng besar yang menghasilkan deformasi sesar vertikal (thrust
fault). Sesar vertikal dikarakterkan oleh pergerakan lempeng kerak bumi
yang saling bertumbukan dan membentuk zona subduksi yang menimbulkan gaya yang
bekerja baik horizontal maupun vertikal, efek dari model gerak sesar vertikal
ini membentuk pegunungan lipatan, jalur gunungapi/magmatik, persesaran batuan,
dan jalur gempa bumi serta terbentuknya wilayah tektonik tertentu.
Gempa Aceh 2004, gempa Nias-Simeulue 2005
merupakan hasil mekanisme tumbukan lempeng dengan pola sesar vertikal dengan
fokus dangkal yang menyebabkan tsunami, pergerakan lempeng saling mendekati
(dimainkan oleh Lempeng Indo-Australia) akan menyebabkan tumbukan dimana salah
satu dari lempeng akan menunjam (Lempeng Eurasia) ke bawah atau pecah, lalu terjadi
pergeseran lempeng benua yang menghasilkan lentingan yang mengguncang lautan,
Pergerakan dari zona gempa Aceh-Simeulue merupakan manifestasi dari pergerakan
Lempeng Australia yang menyusup ke dalam Lempeng Eurasia dimana sebagian besar
energi dipindahkan ke “pundak” pergerakan patahan zona kegempaan Aceh-Simeulue.
Pemindahan energi tersebut dimaksudkan untuk mengakomodasi tumbukan bersudut
dari Lempeng Australia dan Lempeng Eurasia, salah satu karakter penyebab sering
berlangsungnya gempa di kawasan Aceh-Simeulue.
Karakter gempa lainnya yang terdapat di kawasan
Aceh-Simeulue adalah banyak ditemukan lembah-lembah maut berhadapan langsung
dengan palung-palung laut dalam, merupakan gambaran umum gempa-gempa besar di
masa mendatang karena pantai-pantai yang berhadapan langsung dengan pembenturan
antar lempeng didasar laut. Hasil penelitian ilmuwan membuktikan hal tersebut, menemukan
bahwa akibat gempa Aceh sejak tahun 2004 banyak ditemukan lembah-lembah maut di
Laut Aceh disekitar zona subduksi Aceh menuju Palung Laut Dalam Andaman-Nikobar
dengan kedalaman bervariasi antara 40-60 km. Dan arah deformasi kini semakin
menekan zona megathrust Nias-Simeulue, Batas tumbukan dua lempeng di kawasan
kegempaan Aceh-Simeulue, dapat diamati berupa jalur palung laut dalam di
sebelah Barat Sumatera sampai ke Kep. Andaman. Lempeng Hindia menunjam dibawah
Sumatera dengan kecepatan 50−60 cm/tahun dan kemiringan dari zona penunjamannya
sekitar 12° (Sumber Natawidjaja,
2003; Prawirodirdjo,
2000). Batas antara
lempeng yang menunjam dan massa batuan diatasnya disebut sebagai bidang kontak
dari zona penunjaman atau disebut juga sebagai bidang zona subduksi. Gempa di
kawasan Aceh-Simeulue masih berpotensi terlanda tsunami jika terjadi gempa bumi
diatas 9.0 Skala Richter.
KARAKTER TSUNAMI
Kabupaten Simeulue sering diguncang gempa,
merupakan aktivitas tektonik yang terjadi disepanjang pantai barat sumatera
akibat pengumpulan energi yang terus menerus secara kontinu dan bertahun-tahun,
pada suatu saat dapat menimbulkan guncangan gempa, yang ini menyebabkan
sumatera masih tercabik gempa, apa yang terjadi dari Aceh-Simeulue hingga
sekarang itu merupakan rangkaian aktivitas tektonik berumur ratusan tahun dan
kapan meletusnya bisa dalam hitungan detik, bisa dekat, bisa jauh.
Rangkaian gempa yang menyebabkan tsunami dapat
terjadi jika ada perubahan di lantai Samudera Hindia yang menyusup ke titik
gempa dengan sudut landai, kurang dari 10 derajat, terjadi deformasi vertikal
di lantai samudera sehingga ada air yang terangkat dari lantai samudera dan
kolom air naik.
Karakter tsunami oleh gempa-gempa yang berlangsung
di kawasan subduksi Aceh-Simeulue umumnya ditandai oleh rata-rata sudut
penunjaman lantai samudera lebih landai dengan sudut dibawah 10 derajat,
sedangkan Nias dan Mentawai mencapai 10 derajat, kelandaian ini juga berbeda
jika terjadi tsunami di kawasan Pulau Jawa, penyebabnya karena lantai samudera
di Pulau Sumatera lebih muda termasuk di kawasan subduksi
Aceh-Andaman-Nias-Simeulue, terbentuk terpadatan dan sering mengalami daur
ulang kerak bumi sekitar 55 juta tahun daripada Pulau Jawa, sedangkan usia
lantai samudera di bawah Pulau Jawa sekitar 100 juta tahun dan jarang mengalami
perubahan dan pergeseran kerak bumi yang menghasilkan gempa megathrust.
Dengan karakter usia muda, maka daya apungnya
masih tinggi, densitasnya lebih ringan dan lantainya lebih landai serta aktif
lebih bergerak dan menyusup dengan sudut penunjaman yang lebih landai sehingga akan
menimbulkan gaya gesekan yang lebih kuat dengan skala gempa rata-rata mencapai
diatas 7 SR. Dengan gambaran bukti tersebut, tidaklah mengherankan apabila
giliran Simeulue suatu saat nanti dapat menghasilkan tsunami dahsyat lebih jauh
di bandingkan gempa Aceh-Andaman tahun 2004 lalu.
KARAKTER RUANG
Pemahaman karakteristik gempa Aceh-Simeulue sangat
penting dalam pembangunan tata ruang di Propinsi NAD untuk mengurangi bencana.
Hal ini tidak terlihat pada rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh akibat gempa
tahun 2004 lalu, belum menunjukkan suatu perencanaan tata ruang yang
berketahanan gempa yang tangguh, masih ada ruang atau lahan yang telah
diidentifikasi sebagai daerah rawan tsunami masih tetap ditempati dengan
membangun prasarana hotel menjorok ke pantai, begitu juga standar fisik
infrastruktur jalan dan jembatan masih mudah mengalami efek gempa yaitu efek
goncangan berganda, fleisure dan likuafaksi akibat pembangunan yang tidak
sesuai prosedur tetap standar teknis pembangunan jembatan. Masih terlihat
beberapa kawasan pantai di Aceh dan Kepulauan Simeulue belum terbentengkan oleh
prasarana dan sarana struktural fisik berupa pemecah gelombang tsunami.
Tidaklah mengheran jika terjadi gempa lagi, masih akan ada korban dalam jumlah
besar. Siapkah Rakyat Aceh dan Indonesia menghadapi megathrust berikutnya jika
perilaku pembangunan tata ruang belum juga mencerminkan karakter tata ruang yang
humanis dengan bencana, tidak mencerminkan pelajaran sejarah kebencanaan
geologi gempa di masa lalu? Nestapa hanya menunggu waktu. Jadi, gempa Pidie
merupakan salah satu gempa yang memberikan contoh, bahwa bagaimana pentingnya
tata ruang dan konstruksi bangunan tahan gempa dalam mengurangi dampak bahaya,
dan dengan guncangan kekuatan gempa 6 SR saja sudah banyak rumah mengalami
kehancuran dan sarana jalan terbelah sepanjang lima meter.
Dengan kata lainnya, NAD belum tangguh menghadapi
gempa besar berikutnya.
M. Anwar Siregar
Geolog, Pemerhati Masalah Tata Ruang Lingkungan
dan Energi Geosfer. Dipublikasi kembali, mengingat banyak melakukan CoPas (copy paste) tanpa menulis sumber asalnya.
Komentar
Posting Komentar