Desa Berbasis Lingkungan
Foto 1 : Desa yang masih hijau dengan hawa pegunungan yang sejuk, sebagai zonasi ruang terbuka hijau
INVESTASI DESA BERBASIS HIJAU LINGKUNGAN
Oleh M. Anwar Siregar
Kini
saatnya pemerintah memikirkan pembangunan desa yang berbasis kota urban
berwawasan lingkungan hijau tanpa merusak kondisi lingkungan Desa, jika
perlu menjadikan tema hari lingkungan terutama bagi desa-desa yang
berbatas dengan Ibukota Propinsi, sangat penting dalam mengantispasi
kemajuan jasa transportasi. Pembangunan jaringan transportasi di sekitar
desa yang masuk ke dalam kota sub urban sebagai refleksi menuju tata
ruang yang humanis dengan lingkungan hijau. Penting untuk diingat,
umumnya bencana banjir Ibukota Provinsi dampak dari kerusakan lingkungan
hutan dan kemajuan pembangunan sarana industri dan pemukiman yang
merambat dan membabat zona hijau kawasan pertanian dan rawa-rawa sebagai
zona ekologis air berkelanjutan.
TRANSPORTASI
Isu
mengenai dampak kemajuan pembangunan fisik terhadap lingkungan hijau
terutama dampak dari kemajuan transportasi yang menggunakan bahan bakar
fosil sangat penting diantisipasi bagi perencana pembangunan tata ruang
dan sekaligus mengambil pelajaran yang berharga dari kemacetan, banjir
dan semrawutan tata ruang transportasi dari kota besar yang ada
Indonesia baik di dalam inti dan pinggir perbatasan kota. Contoh Jakarta
dan Medan, menghadapi bencana klasik banjir tahunan.
Ada
beberapa faktor perlunya pemerintah membangun jaringan transporatasi
dan penataan ruang desa-desa di kota satelit Ibukota Propvinsi di
Indonesia antara lain pertama, sebagai strategi untuk memberikan
kemudahan transportasi publik dengan implikasi pembatasan kendaraan ke
pusat inti, misalnya kota Medan maupun ibukota Kecamatan tanpa
menghilangkan identitas daerah agrariamarinpolitan dan harus ditindak
lanjuti dengan aturan penataan ruang jalan yang telah di buat agar tidak
terjadi kemacetan.
Kedua,
membangun desa ke kota dengan konsep smart dan TOD, agar penataan ruang
lebih baik dan pengendalian bencana ruang hijau dapat diminimalisasikan
sehingga identitas Desa dapat terjaga khususnya sebagai kawasan ekologi
untuk keseimbangan alam lingkungan. berfungsi sebagai pengendalian
pembangunan horizontal ke lahan ekonomi hijau.
Foto 2 : Pemandangan bentang alam Desa yang masih hijau (Dokumen Foto Penulis)
Ketiga,
bertujuan mengendalikan kerusakan ekologi hijau akibat derasnya arus
pembangunan fisik hunian, pembangunan fly over dapat digunakan sebagai
landasan keseimbangan yaitu dengan menekan arus pembangunan di daerah
sekitar jalur hijau. Keempat, pembangunan jalur alternatif singkat dapat
mengurangi dampak bahaya bagi kesehatan masyarakat dan ekosistem Desa
atau dapat memenuhi kebutuhan mobilitas yang ada secara konsisten.
Selain
itu, dampak permakaian BBM transportasi dari bahan bakar fosil berperan
besar dalam mempengaruhi perubahan iklim, data menunjukkan bahwa sektor
transportasi umumnya berkonstribusi sekitar 23 persen dari emisi gas CO
yang menimbulkan dampak terhadap penurunan kualitas lingkungan di Desa
dan tumbuh lebih cepat dari penggunaan energi di sektor lainnya sehingga
Desa di perbatasan harus di tata sesuai dengan kondisi tatanan
geologinya, tujuannya, sangat jelas agar dapat mengurangi dampak
kerusakan ekosistem tatanan lingkungan yang banyak terdapat di Desa,
seperti menjaga kelestasrian bio-geodiversity, atau pembangunan saat ini
lebih difokuskan juga kepada pembangunan yang berwawasan keragamaan
ekologis.
Penataan
ruang hijau disekitar Desa-desa di kawasan Bandara Udara dan pelabuhan
Laut dapat dikaitkan juga dengan manajemen Transit Oriented Development
[TOP], yang bertujuan upaya revitalisasi kawasan hijau lama atau kawasan
terpadu baru yang berlokasi pada jalur-jalur transportasi utama seperti
jalur KA, misalnya dari Medan ke Aras Kabu, ataupun dari Rantau
Parapat, mengantispasi kebutuhan ruang lintas busway dengan
mengembangkan kawasan berfungsi campuran antara fungsi hunian yang sudah
ada, perkantoran, dan komensial dengan sisipan ruang hijau diantara
bangunan tersebut dapat di bangun taman publik, taman konservasi dan
ekologi hijau industri karena mengingat kawasan tersebut terdapat
sejumlah pabrik PMA dan PMDN yang terus mengimpit kawasan hijau semakin
terbatas dan beberapa diantaranya berada pada kawasan morfologi miring
landai, memperangkap zoan limpasan air yang menimbulkan banjir di
beberapa Desa, mempengaruhi mobilitas transportasi publik.
Penataan
ini akan mengendalikan bahaya banjir bandang, studi kasus ini dapat
dilihat disekitar daerah Mebidang-Karo, dimana Medan sebagai pusat
polarisasi daerah limpasan banjir, karena mengingat topografinya yang
terendah dengan ketinggian 25 meter di permukaan air laut. Tingkat
kemajuan fisik sangat cepat, mempengaruhi kondisi permukaan tanah dalam
menerima limpasan air permukaan dan terbatasnya zona rehabilitasi
kawasan hijau. Zona-zona ekologi hijau di luar Medan inilah yang perlu
di tata sesuai dengan tatanan geologi dan ekologinya agar dapat menjaga
keseimbangan lingkungan, bverfungsi sebagai zona ekolagi abadi yang
berbasis, geo-biodiversity, pertanian, RTH dengan mengurangi
penghancuran lahan yang ada dengan menggantikan sebagai zona wisata
hijau berbasis komunitas.
DESA HIJAU
Foto 3 : Desa dengan latar belakang keindahan struktur geologi yang berbentuk Batolith kepalan tangan tinju, dengan susunan batu kwarsa yang membentuk kawasan pegunungan patahan, perlu sebagai ruang geologi unik, (Dokumen Foto Penulis).
Kawasan
Desa yang masih memiliki identitas ekologi hijaunya perlu
dipertahankan sebagai kawasan konservasi dan dilindungi sebagai zona
tata ruang geologi yang unik, dapat meningkatkan kemampuan kualitas
udara dan air, habitat khusus bagi hewan dan tumbuhan tertentu, dan
proses-proses geologi air yang membentuk daerah keanekaragaman air bawah
permukaan serta peningkatan daerah resapan air untuk mengurangi aliran
air hujan [run off] serta menciptakan sumber daya ekonomis sebagai
identitas karakter Desa Hijau.
Tujuannya,
agar tidak menjadi desa lumbung banjir akibat telah berubah menjadi
desa kota dengan sejumlah bangunan villa mewah di berbagai kawasan
perbukitan.
Penataan
geologi Desa dapat dilihat dari sejumlah parameter dengan titik pusat
Kota besar yang ada disekitarnya. Kota yang tidak memiliki densitas
daerah wisata alam maka Desa ada disekitarnya dapat mengembangkan pola
tata ruang geologinya yang telah terbentuk tanpa merusak dan
menyelaraskan, yaitu pola geologi eko wisata atau taman geologi dan
biologi (Geo-bio Park), menjadikan Desa Wisata dengan densitas
geodiversity, yang mana terdapat ciri khas proses pembentukan bumi di
masa lalu, penataan ruang unik tersebut menjadikan desa hinterland
sebagai pusat wisata, pembagian zonasi hijau harus dibagi sistimatik
sehingga keunikan Desa tidak hilang. Contoh Desa dengan ciri khas gua
Karst, Air Terjun, jejak keunikan batuan dan fosil atau banyak ditemukan
obyek wisata air panas dengan air terjun serta dengan latar belakang
kabut pagi dan kelokan sungai dampak dari zona patahan, tumbuh-tumbuhan
unik dengan latar belakang geomorfologi pegunungan kaldera gunungapi
atau hintelrland high yang banyak ditemukan di perbatasan kota-kota
besar di Indonesia seperti disekitar Mebidang Karo dengan
titik pusat seperti dikawasan Danau Toba atau di wilayah Tabagsel
dengan titik pusat di Danau Siais. Ataupun kawasan unik lainnya yang
berbatas dengan wilayah Ibukota Provinsi-Kabupaten.
Sangat
sedikit ditemukan Desa yang mempertahankan karakteristiknya dengan
memadukan unsur geo-ekologi sebagai pondasi membangun Desa di Indonesia,
di Indonesia terdapat 47 kawasan yang masuk wilayah yang menyimpan
keanekaragaman biologi, geologi serta ekologi dan ini bisa bertambah
jika kita melandasi pembangunan Desa berbasis hijau lokal, memanfaatkan
potensi alam hijau Desa untuk tujuah wisata alam. Namun kenyataan saat
ini, banyak Desa mengalami berbagai musibah bencana bukan saja
ditimbulkan oleh man made disaster tetapi pola keselarasan alam yang tidak seimbang.
M. Anwar Siregar
Enviromental Geologist. Pemerhati Masalah Tata Ruang Lingkungan dan Energi Geosfer. Kerja di Tapsel.
Geology Mitigation:
Based Rural Environment
Photo 1: The village
is still green with cool mountain air, a green open space zoning
GREEN VILLAGE-BASED INVESTMENT ENVIRONMENT
By M. Anwar Siregar
Now the time for the government to think of rural
development based on environmentally sound urban city green without damaging
the environmental conditions of the village, if necessary to make the theme of
the environment, especially for villages bounded by the Provincial Capital, it
is very important to anticipate the advancement of transportation services.
Development of transport networks around the village that goes into the
sub-urban town as spatial reflection towards a humanist with a green
environment. It is important to remember, generally floods Capital impact of
environmental degradation of forests and progress of the construction of
industrial facilities and residential vines and cut down the green zone
agricultural areas and wetlands as a sustainable water ecological zone.
TRANSPORTATION
The issue of the impact of physical progress
towards a green environment, especially the impact of the advancement of transportation
that use fossil fuels are very important anticipated for planners spatial
development and simultaneously take valuable lessons from congestion, flooding
and semrawutan spatial transport of big cities Indonesia both in the core and
edge of the city limits. Examples of Jakarta and Medan, classic annual flood
disaster.
There are several factors need for the government
to build a network transporatasi and arrangement of space villages in the
suburbs Capital Propvinsi in Indonesia, among others, first, as a strategy to
facilitate public transport with the implications of restrictions on the
vehicle to the center of the core, for example, the city of Medan as well as
the capital district without eliminating regional identity agrariamarinpolitan
and should be followed up with the rules of the road space arrangement that has
been made in order to avoid congestion.
Second, build rural to urban areas with the
concept of smart and TOD, in order to better spatial planning and disaster
control green space can be minimized so that the identity of the village can be
maintained, especially as the region's ecological balance of the natural
environment. serves as a horizontal development control land to a green
economy.
Photo 2: The view landscape village green
(Photo Document Writer)
Third, aimed at controlling the green ecological
damage due to the rapid flow of the physical construction of residential,
construction of flyovers can be used as the basis of the balance by pressing
the current development in the area around the green line. Fourth, the
development of alternative paths short to reduce the impact hazard to public
health and the ecosystem or the village can meet the mobility needs of existing
consistently.
In addition, the impact permakaian fuel transport from
fossil fuels play a major role in affecting climate change, the data indicate
that the transport sector generally contribute about 23 percent of the
emissions of CO gas that have an impact on environmental degradation in the
village and is growing faster than energy use in the sector Other so the
village at the border must be in order in accordance with the conditions of the
order of geology, the goal, is very clear in order to reduce the impact of
ecosystem damage environmental order which is widely available in the village,
such as keeping kelestasrian bio-geodiversity, or the current development is
focused also on the development of sound keragamaan ecological.
Arrangement of green spaces around the villages in
the area of Airport and Sea port can be attributed
also to the management of Transit Oriented Development [TOP], which aims to
revitalize the green area of the old, or the integrated area newly
located in pathways main transportation such as railways, for example, from
Medan to Aras Kabu, or from Rantau Parapat, anticipate the needs of space
across the busway to develop the area serves a mix between functionality
occupancy existing office buildings, and komensial with inset green space
between the building can be built public gardens, parks conservation and
ecology green industry because given the region there are a number of domestic
and foreign factories that continue squeezing more limited green area and some
of them are in the area of sloping ramps morphology, ensnares Zoan
water runoff that causes flooding in some village, affecting the mobility of
public transport.
This arrangement will control the flood danger,
this case study can be seen around the area Mebidang-Karo, where the field as a
center of polarization region flood runoff, because given the topography of the
lowest with a height of 25 meters at sea level. Level of physical progress very
quickly, affecting the condition of the ground surface in the receiving surface
water runoff and the limited rehabilitation zone of green area. Zones of
ecological green outside Medan this is necessary in order in accordance with
the order of the geology and ecology in order to maintain the environmental
balance, bverfungsi zones ekolagi perennial-based, geo-biodiversity,
agriculture, green space by reducing the destruction of the existing land to
replace a zone community-based green tourism.
VILLAGE GREEN
Photo
3: Village with background beauty shaped geological structure Batolith
fist boxing, with quartz stone structure that forms the mountainous area
of the fault, it is necessary as a unique geological area, (Document Photo Author).
Village area which still has an identity
ecological green needs to be maintained as a conservation area and protected as
a zone of spatial unique geological, can improve air and water quality, special
habitats for animals and certain plants, and geological processes of water that
make up the area of diversity of water under the surface as
well as an increase in water catchment areas to reduce the flow of rainwater
[run off] and creating economic resources as the identity of the character of
the Village Green.
The goal, in order not to flood due to the village
barn has been transformed into a rural town with a number of building luxury
villas in various areas of the hills.
The village geological arrangement can be seen
from a number of parameters with the center point of a large city that is
around. Cities that do not have density areas natural attractions, the village
is around can develop spatial patterns geology that has formed without damaging
and align, the pattern geology eco tourism or garden geology and biology
(Geo-bio Park), making tourism village with a density of geodiversity, which
are characteristic of the process of the formation of the earth in the past,
the unique spatial arrangement makes hinterland village as a tourist center,
green zoning division should be shared systematically so that the uniqueness of
the village is not lost. Examples village with typical cave Karst, Niagara,
traces of unique rocks and fossils or are found hot water attractions with a
waterfall as well as the background fog in the morning and the bend in the
river impact of the fault zone, vegetation unique to the background of
geomorphology mountains caldera volcanoes or high hintelrland which are found
on the border of the big cities in Indonesia such as around Mebidang Karo
with the center point as region or in the region of Lake Toba Tabagsel
with the center point at Lake Siais. Or other unique region bounded by the
Capital-District territory.
Very few found the village that maintains its
characteristics by combining elements of geo-ecology as a foundation to build
the village in Indonesia, in Indonesia there are 47 areas that are in the store
biodiversity, geology and ecology, and this could increase if we underpin the
development of village-based local green, harness The village green natural
potential for nature tourism tujuah. But the reality today, many village
experienced various disasters not only caused by man-made disaster,
but the pattern of natural harmony unbalanced.
M. Anwar Siregar
Enviromental Geologist. Observer Problems Spatial
Geosphere Environment and Energy. Work in Tapsel.
Komentar
Posting Komentar