Earth Hour dan krisis Byar Pet PLN
Earth Hour dan Krisis Byar Pet PLN
Oleh: M. Anwar Siregar.
Krisis
energi di Indonesia semakin memuncak dengan sering terjadinya
pemadaman di beberapa daerah mengalami byar pet dan kadang dapat
berlangsung lebih seminggu seperti yang sempat dialami kota-kota di
Nias-Sumatera Utara. Pemerintah terpaksa menutup malu dengan
mengirimkan suplai energi beberapa genset raksasa di berbagai kota
di Nias, itu contoh masa lalu, dan di era tahun ini dan tahun depan
dijamin pasokan energi listrik masih akan ada kelangkaan.
Terjadi lagi pemadaman listrik walau seberapa menit saja, sudah
membuat masyarakat gaduh, PLN ini merupakan respensentif bagi energi
listrik di Indonesia, banyak yang tidak beres dalam menangani pasokan
listrik bagi kebutuhan listrik industri dan masyarakat seringkali
menyebabkan kerugian bagi kegiatan kalangan industri dan masyarakat.
Meningkatnya biaya cost bagi pemeliharaan dan perbaikan alat-alat
yang rusak akibat pemadaman.
Gambar : ilustrasi Analisa
Picu Krisis
Pertumbuhan yang terus meningkat membuat beberapa kota mengalami
pemadaman karena peningkatan konsumsi energi listrik yang terus
menerus meningkat tajam, sedangkan dilain pihak pasokan energi listrik
sangat terbatas sehingga membuat PLN kewalahan memenuhi kebutuhan
energi masyarakat khususnya sekitar kelistrikan, angka pertumbuhan
jumlah penduduk terus mengalami peningkatan di tiap tahunnya dengan
pertumbuhan 0.4 % tahun.
Melihat kondisi ini, tidak mengherankan, ide munculnya earth hour di
berbagai kota besar di Indonesia yang mengusulkan “pemadaman” pada
jam tertentu dalam upaya mengurangi “peningkatan ketegangan
listrik” dan juga demi menekan pemakaian energi listrik, mengingat
sampai saat ini masyarakat di berbagai kota-kota di dunia masih
bergantung pada suplai energi konvensional, jika digabung mencapai
60 persen dari total konsumsi energi listrik yang menggunakan energi
konvensional.
Dan sampai saat ini, jika kita melihat kondisi kelistrikan, tingkat
nasional di Indonesia baru mencapai 41 ribu megawatt (MW). Dengan
pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6 persen dan angka peningkatan jumlah
penduduk mencapai 1,4 persen, maka tambahan kapasitas listrik yang wajib
diakomodasi oleh PLN sebesar 10.000 MW setiap tahun.
Earth hour salah satu untuk menghasilkan solusi kecil, lumayan PLN
dapat suplai energi cukup, mengurangi tingkat ketegangan tinggi hanya
beberapa jam saja, setelah itu besok-besok akan mungkin saja terjadi
byar pet.
Dengan angka 10.000 MW maka tiap tahun PLN harus memberikan energi
sebesar 10 ribu MW kepada masyarakat karena merupakan kebutuhan
pokok, kalau terjadi pemadaman listrik selama 3 hari saja sudah terjadi
kerugian milyaran rupiah yang dialami oleh berbagai kalangan.
Earth hour rupanya dijadikan moment bagi PLN untuk mendapatkan
pasokan daya energi sebesar-besarnya untuk mengurangi beban puncak arus
listrik pada malam hari dan biasanya pemadaman itu berlangsung antara
pukul 21.00 selama antara satu atau dua jam.
Atasi Krisis
Untuk mengatasi krisis byar pet ke depan PLN perlu mengutamakan
kebijakan energi yang ramah emisi terhadap lingkungan, oleh
pengguna energi untuk menjalankan energi ketenagalistrikan yaitu
untuk menurunkan kadar emisi CO2 terhadap dampak lingkungan.
Salah satunya adalah menggunakan energi yang baru terbarukan atau
EBT antara lain pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), yang perlu
digalakkan di kota-kota kecil yang memiliki potensi sumber daya PLTU
seperti di NTT, Kalimantan dan Papua serta sebagian Sulawesi dan
Sumatera, pembangkit tenaga listrik panas bumi, potensinya hampir
menyebar diseluruh tanah air, yang seharusnya dapat memasokan suplai
energi listrik di kota-kota besar dan sedang berkembang yang banyak
telah meningkat di Indonesia seperti Sibolga, Tarutung serta Sipirok dan
Padangsidimpuan, atau kota-kota di Aceh, Sumatera Barat dan Sulawesi
Barat, keterdapatan sumber energi panas bumi tidak jauh dari lokasi
sumber energi untuk dibangun pusat energi.
Pembangkit listrik tenaga surya, harus ditingkatkan kapasitas dan
pembangunannya, PLN wajib menggelontarkan dana untuk pembangunan PLTS
ini agar masyarakat di pedesaan tidak terus mengalami “earth hour”
sepanjang hari, karena kebutuhan PLTS sama juga dengan kebutuhan
pembangunan listrik tenaga mikro-hidro dikawasan kota kecil berkembang
di pedalaman Sumatera Utara, Nias, pulau-pulau perbatasan dan kawasan
pedalaman Kalimantan dan Papua serta Kepulauan Maluku, yang memiliki
potensi jeram air yang tinggi dan hantaran panas matahari juga sangat
berpotensi sebagai pasokan untuk menekan “earth hour” nya dari PLN.
EBT lainnya untuk mengatasi earth hour di kota di Indonesia terutama
di kawasan timur dapat memanfaatkan potensi air laut sebagai pembangkit
listrik yang menggunakan tenaga gelombang air laut dan juga beraplikasi
dengan tegangan panas air laut, PLN perlu kerjasama untuk menjalin
pembangunannya di kawasan Indonesia timur dan sebagian kota-kota di
pulau vulkanik di pantai barat Sumatera yang dikelilingi oleh
gelombang panas air laut yang sangat tinggi dampak dari perubahan
lateral dalam tubuh bumi sehingga di daerah yang berbentuk kepulauan itu
dapat mengandalkan energi yang sangat ramah lingkungan dan menekan
efek perubahan cuaca dan esktrem global. Selain itu perlunya PLN
memberikan pasokan listrik yang dihasilkan oleh bahan bakar nabati
yang berasal dari tumbuhan dan bahan bakar non organik, untuk daerah
tertentu di Indonesia, yang cukup banyak telah digunakan oleh
masyarakat pedesaan untuk mengurangi desa-desa terpencil dengan
membangun pusat listrik PLN berbahan bakar nabati dan organik,
mengurangi ketergantungan energi konvensional dan menekan dana yang
tinggi bagi masyarakat pedesaan.
Pln-earth Hour
Perlu sosialisasi agar byar pet bisa diminimalisasikan dengan
menggunakan EBT akan menjamin PLN tidak butuh earth hour setiap tahun
namun bukan berarti “tidak butuh dalam arti sebenarnya”, dengan
menggunakan EBT akan menjamin kemandirian energi yang bisa menggantikan
energi yang menggunakan bahan bakar konvensional, dapat mengurangi
impor bahan bakar BBM bagi Pertamina sehingga dapat menekan pemborosan
biaya dan meningkatkan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan
dari biaya keuntungan yang didapat serta dapat meningkatkan pertumbuhan
ekonomi karena menghasilkan pertumbuhan potensi ekonomi baru yaitu ada
lapangan kerja dan ada support penyediaan lahan dan bahan baku bagi
penggunaan energi terbarukan.
Kajian yang mendalam dengan menitikberatkan pada
pengoptimalisasi+an sumber energi alternatif terbarukan dari laut,
nabati dan panas bumi serta panas matahari akan menghantarkan negara
ini menjadi kekuatan ekonomi baru.
Ide earth hour dalam menyambut hari bumi tahun ini memang sangat
positif, dalam hal ini akan mengajari kita untuk berhemat dalam
pemanfaatan sumber daya energi listrik, namun jika terus menerus PLN
mengandalkan hari earth hour rasanya kurang rasional, maka PLN harus
berinisiatif untuk penggunaan dan memanfaatkan potensi Energi Baru
Terbarukan agar masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik
dan peningkatan kualitas SDM Indonesia akan lebih maju dan siap bersaing
lebih hebat lagi di era globalisasi dan MEA di dunia.
Dan perlu diingatkan sekali lagi, bahwa subsidi TDL sudah dicabut
pemerintah, dan tidak ada cerita lagi soal byar pet, maka PLN wajib
memenuhi tuntutan masyarakat akan standar pelayanan energi listrik yang
prima.
Tidak lucu bung, subsidi sudah dicabut tetapi byar pet masih
berlanjut, dan earth hour bukan jawaban tepat untuk pasokan PLN. Pakai
alternatif EBT, baru ini mantap. ***
Penulis adalah Pemerhati Tata Ruang Lingkungan dan Energi Geosfer
Dipublikasi di HARIAN ANALISA MEDAN, Tgl 28 Maret 2018
Dipublikasi di HARIAN ANALISA MEDAN, Tgl 28 Maret 2018
Komentar
Posting Komentar