30 Agu 2016

Di Eropa Italia Rawan Gempa, Geologi Gempa

ITALIA DAERAH RAWAN GEMPA DI EROPA
Oleh : M. Anwar Siregar
 Gempa berkekuatan 6.4 pada Skala Rihter mengguncang bagian tengah Italia, pusat gempa berada pada jarak 100 km dari Roma ibukota Italia dengan kedalaman 10 km termasuk gempa dangkal dengan intensitas kekuatan gempa kuat menuju kekuatan gempa sangat kuat. Gempa terjadi pada pukul 03.36 pagi waktu setempat dengan berpusat pada jarak 76 km disebelah Tenggara kota Perugia (sumber USGS).

Hingga ditulis artikel ini, jumlah korban telah mencapai 73 jiwa dan dipastikan akan bertambah banyak karena sejumlah korban tertimbun runtuhan bangunan. Guncangan gempa sangat kuat dan terasa hingga ke Ibukota Italia, karena pusat gempa berada dalam tumbukan Lempeng Eurasia dengan Lempeng India dan gerak menekan Lempeng Afrika ke arah Lempeng Eurasia. Posisi Italia persis berada tepat di tengah Benua Eropa, diapit daerah Balkan dan Daratan Eropa dalam hal ini masuk wilayah Spanyol yang juga rawan gempa bumi.

Italia termasuk negara maju, namun dalam hal mitigasi masih jauh dari kemampuan menciptakan teknologi yang mumpuni terhadap bencana gempa, kota-kota di Italia seperti juga di Indonesia berada diatas patahan dan zona subduksi gempa maut.
Gambar : Gempa Italia, runtuhan bangunan yang tidak berbasis gempa (sumber : Reuter)

RENTANG GEMPA

Berdasarkan posisinya diatas Lempeng Eurasia, Pulau di Italia termasuk daerah kerentanan gempa yang sangat tinggi dan ini merupakan daerah di Benua Eropa paling sering mengalami musibah bencana gempa, tanah di Italia mudah mengalami perobekan dan penghancuran blok-blok batuan yang menyusun bentangalamnya di bandingkan Kepulauan Inggris, sekitar Balkan atau Laut Mati dan sebagian wilayah Spanyol, jika guncangan gempa datang dengan siklus dua hingga lima tahunan mengalami guncangan diatas 6.0 Skala Richter (SR). Guncangan ini kadang juga mengganggu puncak disekitar Pegunungan Alpen karena telah banyak ditemukan sejumlah patahan-patahan yang membujur ke Laut Adriatik yang membelah kawasan Balkan dan Semenanjung Italia.

Tatanan geologi yang terbentuk penyebab utama mengapa percepatan gelombang pada batuan dasar maksimun di Italia tidak mencapai 150 tahun sekali. Sebab lain, tersusun oleh 90 persen batuan vulkanik berumur Kuarter, karena berada dalam Sirkum Mediterania yang terbentuk dalam usia Kuarter sehingga siklus energi kegempaan di Italia tidak pernah mencapai 50 tahun sekali melepaskan energi kegempaan dengan intensitas magnitude maksimun 7.0 SR. Dan disebelah Selatan Italia itu terdapat palung yang sangat dalam mencapai 2500 km, penekanan efek lempeng ke sesar-sesar daratan Tengah Italia hingga ke Utara daratan Eropa dapat memberikan stimulusasi bagi Spanyol dan Portugal, termasuk juga Swiss dan Austria,

Kawasan Italia dan Balkan maupun Spanyol serta Portugal secara tektonik merupakan kawasan yang memang sangat rumit dan kompleks karena kaya akan lipatan-lipatan batuan yang berumur masih muda terbentuk disekitar periode Kuarter berusia 70 juta tahun yang lalu dan patahan-patahan aktif mengelilingi tiga zona laut yang mengepung tata ruang pulau-pulau di Italia dari Selatan ke Utara hingga menusuk tajam ke daratan Swiss ke Pegunungan Alpen lalu membentang ke arah barat ke Himalaya terus ke Burma, lalu ke Indonesia dan melingkar ke Utara menuju ke Pasifik dan sekitar Philipina membentuk Palung Laut dalam di Mindanao.

Semua merupakan produk benturan lempeng kerak bumi sub kontinen India terhadap Lempeng Eurasia yang terkunci di utara Italia di daratan Swiss sekitar sepanjang pegunungan Alpen. Dan patahan Adriantik dapat menghasilkan gempa bumi yang besar, penelitian belum cukup mengurangi bencana jika standar penerapan building code terhadap tata ruang infrastruktur akan menambah kekuatan jumlah korban yang terjadi, pusat gempa yang terjadi adalah 10 km, dan daerah ini telah memberikan efek pukulan bagi groundshaking terhadap bangunan sehingga setiap gempa yang terjadi di Italia sering menimbulkan korban di atas 100 jiwa dan sudah berlangsung di era modern ini, Italia mengalami gempa kuat sejak 2005, 2009, 2012 dan 2016

ERA 2005

Sebuah patahan yang aktif membentang sepanjang Pegunungan Apenina di tengah Italia merupakan kawasan daerah yang hiperlabil, penelitian-penelitian menyebutkan hal itu karena tekanan beban di atasnya dan selain kondisi batuan yang terbentuk masih labil dalam proses geologi ruang dan waktu.

Sumber La Republica serta Jawatan Geologi dan Sipil Italia maupun data USGS menyebutkan dalam sejarah panjang gempa Italia, sering menimbulkan kerusakan dalam intensitas tinggi, terlihat sering kali jika gempa terjadi maka akan ada jalan terbelah panjang dan terputus, kemiringan bangunan hingga rata ke tanah karena kandungan tanah seperti bubur, yang mudah terurai. Terlihat pada sejarah gempa tahun 2009 lalu di kawasan Accumoli yang berdekatan dengan kawasan gempa 2016 dengan kekuatan mencapai 6.3 SR yang menewaskan korban mencapai 390 orang dengan kerugian diatas 100 milyar rupiah.
 
Gambar : Posisi Gempa Itali 2016 (Sumber : dari berbagai sumber)

Guncangan gempa di Italia sering menjangkau radius seismik 100 hingga 200 km dari pusat gempa dan umumnya gempa dalam tujuh tahun terakhir disebabkan adanya perubahan gerak lempeng di Laut Adriatik yang membangun daratan di dalam laut di sekitar pantai Kroasia. Terlihat dengan terjadinya longsoran di Pegunungan Alpen akibat adanya efek penekanan disepanjang pulau di Semenanjung Balkan yang berhenti tumbuh sekitar 30 tahun yang lalu dengan pembentukan rantai pegunungan yang membentang dibagian atas pantai barat Balkan dan mendesak ke arah timur ke tengah di daratan Italia melalui jalur laut Adriatik.

Patahan inilah yang menekan kejadian gempa dalam kurun 7 tahun ini pada tepi lempeng tektonik Eurasia yang berada di ujung selatan daratan Pulau Italia dan menumpang diatas lempeng kecil yang terbentuk di Laut Adria Selatan, lapisan yang terbentuk itu mendesak dan umumnya merupakan batuan apung atau karbonat yang memang mudah retas sehingga lapisan ini tertutup pada kedalaman tidak lebih 10 km sehingga menimbulkan efek likuafaksi pada bangunan dan efek guncangan berganda,  pada umumnya banyak terjadi di daerah yang terbentuk oleh erupsi batuan vulkanik.

Literatur penelitian terbaru menyebutkan bahwa sejak tahun 2005 ada beberapa gejala yang mengejutkan karena terjadinya pergeseran potongan lempeng di kawasan Laut Adria di selatan yang menempatkan setiap potongan lempeng bergerak secara bersama dimana bagian patahan di selatan Italia yang mirip sepatut bot bergerak ke arah pantai Kroasia di barat Italia yang dalam hal ini masuk kawasan semenanjung Balkan itu melaju sekitar 0.16 inci atau 0.4 centimeter per tahun, sementara di dasar Laut Adriatik  Tengah meluncur lempeng di bawah Kroasia dengan luas 200 km merupakan pecahan lempeng timur sepanjang dasar laut Kroasia bergerak ke Selatan Kroasia, lalu berada di atas Lempeng Adria Selatan-Italia yang sudah terbentuk di wilayah selatan Italia untuk bergerak bersama ke pantai Kroasia ke arah selatan, kedua lempeng Adria Selatan Italia-Kroasia itu yang suatu saat dalam ratusan waktu geologi akan membawa Italia dan Kroasia kontak langsung dengan menutup Laut Adriatik sekitar 50 juta tahun ke depan.

RAWAN DI DUNIA

Italia adalah negara rawan gempa di Eropa, posisi Italia seperti kepulauan Taiwan, Jepang dan juga sebagian pulau dipantai Barat Sumatera (Indonesia). Sebagian Pulau di Italia merupakan daerah dalam pembentukan gunung api atau Pulau vulkanik, rentang mengalami pembenturan antar Lempeng Eurasia dengan Lempeng India maupun Lempeng Eurasia dengan Lempeng Afrika. Pergerakan lempeng itu telah membuktikan posisi tatanan geologi Italia sangat mudah di getarkan oleh pembentukan gunungapi. Italia merupakan zona rangkaian pegunungan aktif seperti Nusantara yang jaringannya mulai dari Kawasan Sirkum Mediterania hingga ke Pasifik.

Italia termasuk kedalam 15 negara yang sering mengalami gempa skala kuat diatas kekuatan 6.0 SR sepanjang siklus lima tahunan yang merusak dengan jumlah korban dapat mencapai ratusan jiwa, dimulai dari Indonesia, Jepang, Tiongkok, Nepal, Iran, Chili, Haiti, Turki, Italia, AS, India, Selandia Baru, Taiwan, Equador dan Burma.

Perlu perisai tata ruang mitigasi gempa yang tangguh dalam menghadapi kerentanan bencana gempa bumi dan perubahan iklim global.

M.Anwar Siregar

Geolog, ASN, Bertugas Pemetaan di Wilayah Tabagsel.
Dipublikasi Harian Analisa Medan, 29 Agustus 2016

25 Agu 2016

Etika Demokrasi Geopol



ETIKA DEMONSTRASI POLITIK DENGAN BAHASA “PENA”
Oleh M. Anwar Siregar

Memasuki abad 21, telah membuka satu cakrawala demokrasi bagi rakyat Indonesia dan meningkatnya perbedaan-perbedaan baru dalam kehidupan di abad global di Indonesia, membentuk peradaban baru, dari era refresentasi ke era simulasi masyarakat ke post modern demokrasi.
Proses demokrasi global juga dapat memunculkan sebuah ancaman terhadap identitas diri individu atau kelompok. Kehidupan di era post modern global dapat mempercepat hilangnya semangat spirit sosial terutama semangat eksistensi sosial kultural, pertentangan untuk menunjukkan jati diri (etnis) selama kekuasaan orba mengalami kooptasi melalui penyeragaman identitas (uniformitas) yang banyak dialami semua etnis dan pada era reformasi mulai unjuk kekuatan dan menyebabkan fenomena euphoria kebebasan yang berakhir pada keruntuhan norma-norma etika.

24 Agu 2016

Ketangguhan Investasi Bencana Lingkungan Sumut



MEMBANGUN SUMUT TANGGUH INVESTASI BENCANA LINGKUNGAN
Oleh M. Anwar Siregar

Sumatera Utara masih diprediksi menghadapi ancaman bencana lingkungan strategis, yang diprediksi berasal dari kegempaan besar tsunami dahsyat kedua dari wilayah Pantai Barat Sumatera di Mentawai menjadi ancaman yang menghancurkan kota-kota di Sumut. Yang patut dikhawatirkan adalah bila pusat gempa bumi berada di bawah Selat Mentawai. Hal itu akan memicu tsunami besar yang mengancam Pantai di Teluk Tapanuli yang berkontur datar dan tidak terlindungi oleh sistim perisai lingkungan hijau berlapis.
HARUS SIAP
Sumut belum siap dan belum mempersiapkan tatanan kehidupan kota berbasis bencana lingkungan terutama belum siap untuk mewaspadai megathrust dari Mentawai dimasa mendatang, sebab bencana yang kecil saja seperti bencana banjir dan gerakan tanah belum mampu diatasi dan akan terus berlanjut karena masih ada energi stress yang belum dilepaskan di Utara di Pulau Pagai dan Sipora atau Siberut yang berdekatan dengan zona kegempaan besar Nias dan mengingat posisi blok Patahan Enggano-Mentawai berada tepat di tengah-tengah zona subduksi yang dapat menghasilkan kegempaan strategis luar biasa. Sudah siapkah kita? Harus sudah diimplementasikan dalam pembangunan ketataruangan investasi lingkungan yang tangguh bencana, serta peningkatan kewaspadaan dini untuk menjaga investasi lingkungan hijau yang sangat mahal
INVESTASI LINGKUNGAN
Untuk menjaga investasi properti tata ruang kehidupan yang lebih baik dari sekarang, maka kota-kota besar di Sumut [termasuk Propinsi pemekaran] harus lebih siap menata tata ruangnya sesuai dengan karakateristik geomorfologinya dengan bertumpuh pada kajian geohazard dan georisk untuk menimalisasi bencana, bahwa pelajaran bencana tata ruang lingkungan terdahulu telah memberikan gambaran kehancuran sarana infrastruktur lebih disebabkan oleh peletakan tata ruang berada dalam radius ancaman gempa, letusan gunungapi, banjir dan gerakan tanah atau tepatnya berada dalam kawasan zona patahan gempa bumi yang memiliki distabilitas tanah yang lembek, contohnya untuk kota Padangsidimpuan dan Sipirok berada dalam sub segmen patahan Toru-Angkola bagian dari patahan sumatera dan jalur vulkanik, begitu juga Tanah Karo.
Dalam menjaga tata ruang investasi lingkungan properti dan kawasan lingkungan industri di pesisir Sumut, beberapa kota yang berada di kawasan pesisir dengan 4-5 jenis berbagai ancaman bencana harus memadukan aspek teknologi deteksi dini gempa (early earthquaked warning), tsunami serta vulkanik seische dan teknologi kanal banjir kiriman. Sedangkan dalam pembagian wilayah sistim peringatan dini untuk berbagai jenis bencana di Sumut dapat dibagi dalam tiga zona penyebaran di bagian barat dengan pusat utama di Gunung Sitoli dan Sibolga, bagian tengah di pusatkan di Parapat ataupun di kawasan Tanah Karo karena ada beberapa gunung api dan tiga segmen patahan berdekatan dengan dua danau kawah terbesar serta di bagian timur dipusatkan di Medan atau Deli Serdang.
Khusus di Pulau Nias sebaran teknologi deteksi gempa dan tsunami harus tersebar 7 wilayah yaitu utara, barat, selatan, timur Nias serta di Pulau Tello, Pulau Tanah Masa dan Pulau Sigintan, sistim harus berlapis mulai dari peralatan GPS, sensor broakbank, pemrosesan data, riset penelitian dan perisai pemecah gelombang alamiah dan buatan harus ada dalam radius 15 km di lokasi bekas kejadian gempa dan zona patahan maupun pusat tumbukan antar lempeng di lautan hingga menuju ke daratan dan terintegrasi dengan EWS di Daratan Sumut. Hingga ditulisan ini di buat, tata ruang untuk teknologi perlindungan tersebut belum diterapkan secara maksimal dan sebagian juga sudah ada rusak dan dicuri.
Pusat pengumpulan dan penelitian perubahan anomali kelautan seharusnya telah lengkap di pelabuhan laut Sumut agar data EWS tersebar cepat dan real time, stasiun pengamatan pasang surut air laut diberbagai pelabuhan Sumut harus ditingkatkan lagi karena jumlahnya masih terbatas termasuk di pelabuhan besar Belawan dan pusat pertumbuhan kawasan industri baru seperti Sei Mangke, pemerintah Sumut harus terus merevisi data dan memonitoring peralatan diberbagai instansi terkait dengan sistim kebencanaan lingkungan yang di senergiskan dengan penempatan tata ruang hunian jauh dari ancaman bencana geologi dan klimatologi.
Setiap daerah Kota/Kabupaten di Nias dan Sumut harus terdapat 15-25 seismograf gempa dan vulkanik bukan dalam jumlah 2-3 seismograf, memiliki 15 pusat stasiun sensor broadbank di darat dan kepulauan, infrastruktur fisik jalan-jembatan harus tahan gempa dengan peredam guncangan disisi badan dan jembatan di daerah di pesisir pantai dan kepulauan Nias, sedangkan di daerah pegunungan harus di tambahkan dengan disertakan daerah jalan alternatif tidak jauh dari zona jalan arteri, tidak berada dalam radius 25 km zona patahan bumi sebagai upaya zonasi rehabilitasi dan penambahan kekuatan struktur bangunan yang telah ada (refrofit),
Menjaga barang investasi berharga seperti perumahan, arsip negara, pusat perdagangan bisnis dan pendidikan-kesehatan sangat penting dalam mengurangi jumlah kerugian dan menekan biaya rekonstruksi dapat diupayakan melalui pemetaan daerah kegempaan lokal untuk basis aturan zonasi rehabilitasi keruangan sebagai agunan masa depan tata ruang yang harus tersedia dan dipatuhi. Daerah tata guna lahan lingkungan yang telah mengalami bencana gempa dan dan letusan gunungapi sebaiknya difungsikan sebagai daerah rehabilitasi pertanian dalam jangka tertentu sebagai upaya penekanan laju kerusakan lingkungan serta tindakan pencegahan kekurangan sandang pangan atau ketahanan pangan berkelanjutan.
Pemetaan dan perlindungan zonasi daerah wisata sebagai investasi devisa harus telah tersedia peta daerah aman bagi lintasan jalur logistik serta taman depo ketahanan bencana dan jalur lintasan evakuasi yang jelas, Kota/Kabupaten yang memiliki keunggulan wisata perairan pantai, kelautan dan panorama pegunungan sebaiknya menjadikan zona terbesar wisata alam itu sebagai keseimbangan lingkungan daerah tangkapan air bersih dengan menekan laju spasial interior bangunan raksasa dengan mempersiapkan sebagian besar menjadi kawasan khusus taman hijau, daerah siklus air dan bio-geodiversity, yang akan menggambarkan wilayah itu sebagai paru-paru alam, menekan ancaman berat terhadap keanekaragaman hayati secara global dengan dipadukan dengan sistim sirene lokal di berbagai tempat di setiap kota kecamatan dalam satu kabupaten. Tata ruang lingkungan wisata ini dapat dimulai dari Pesisir pantai Barat Sumatera di Nias, Tapteng dan Timur dari Langkat hingga Belawan.
Yang terakhir dan sangat berperan penting dalam jalur investasi bencana lingkungan adalah kesiapsiagaan masyarakat lebih intensif dengan meningkatkan pelatihan mitigasi Tim Rescue atau SAR dan masyarakat secara berkala 4 kali dalam setahun maupun pusat penyebaran informasi dan komunikasi pada interval 10 km dalam tiap kecamatan. Peningkatan pelatihan sebagai upaya menekan laju kehilangan sumber daya manusia yang berkualitas, sumber daya manusia di Sumut termasuk paling rentan mengalami korban akibat bencana alam.
Karena itu, bahwa gambaran bencana lingkungan setiap tahun belum mencerminkan kemampuan pemerintah daerah di Sumut mengendalikan kehancuran tata ruang infrastruktur lingkungan serta pelatihan bencana lingkungan masih belum optimal sehingga masih akan ada banyak korban bencana. Sejujurnya, sebenarnya Sumut belum siap menghadapi  “tantangan” Mentawai sebelum tahun 2033 atau bencana banjir kecil di masa mendatang dan mungkin lebih cepat terjadi?.

M. Anwar Siregar
Pemerhati Tata Ruang Lingkungan dan Energi-Geosfer

Introspeksi Kabut Asap

MOMENTUM INTROSPEKSI BENCANA KABUT ASAP
Oleh M. Anwar Siregar
Sejarah buruk kabut asap berulang kembali di Indonesia , yang paling terburuk sudah pernah berlangsung pada tahun 1997 lalu. Saat kejadian itu, kabut asap akibat kebakaran hutan untuk pembukaan dan perluasan lahan perkebunan di Kalimantan dan Sumatera menimbulkan bencana kabut asap yang mencapai wilayah udara Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam dan Fhilipina yang terjadi akibat terbakarnya sumber daya alam gambut. Dan saat ini bencana kabut asap telah berlangsung lebih tiga bulan terjadi. Pengulangan bencana kabut asap juga terjadi pada tahun 2014 walau tidah separah tahun 2015 namun telah menimbulkan banyak kerugian karena jumlah titik api yang menggila itu ternyata memberi ekses ke negeri jiran di kawasan Asia Tenggara.
Laju kerusakan lingkungan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan upaya pemulihan dan perlindungan. Fenomena bencana ekologis nyaris berlangsung setiap hari di Tanah Air yang tidak pernah berhenti, seperti datang berganti dari kota atau desa ke Desa atau kota berikutnya. Fenomena bencana terutama bencana kabut asap yang menghasilkan berton-ton milyar emisi ke atmosfir itu akibat dianutnya paradigma pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan tetapi lebih berbasis kepada pembangunan berbasis pertumbuhan ekonomi yang bertumpu kepada ekspansi sumber daya alam oleh penyelenggara Negara melalui berbagai kebijakan yang selama ini telah diterapkan.
Dekade terakhir ini menunjukan bahwa percepatan perusakan lingkungan hidup jauh meningkat akibat adanya pertautan dan standar ganda politik kekuasaan dengan lingkungan serta bisnis ekstraktif yang berdampak negatif bagi banyak kehidupan dan Indonesia yang paling banyak menikmati kerugian, mengeluarkan banyak dana pemulihan kondisi alamnya dan telah memberikan sebuah pukulan telak bagi pertumbuhan ekonomi dan sumber daya manusianya dan juga memberikan kerusakan perubahan iklim global.
STANDAR KEBIJAKAN
Standart ganda kebijakan lingkungan semakin menarik dengan situasi baru yang terjadi saat ini di Indonesia terutama yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan di tahun 2015, situasi darurat kabut asap hingga menghasilkan bencana kemanusiaan itu menjadikan semakin penting karena menyangkut target pengurangan emisi dari aksi emisi pemerintah Indonesia sebesar 26 persen pada tahun 2020 yang menciptakan kecemasan bagi masyarakat internasional, sebab semakin buruk dalam mengendalikan bencana perubahan iklim global yang ingin dicapai pemerintah. Dipihak lain, pemerintah juga membutuhkan aliran dana masuk dalam bentuk investasi perluasan pembukaan perkebunan untuk memenuhi target sebagai penghasil produk industri sawit terbesar dunia yang menimbulkan berbagai kebijakan ganda, yaitu memberikan izin maka tidak langsung maupun langsung akan berdampak pada kondisi lingkungan seperti saat ini, terjadi bencana kabut asap.
Akibat kebijakan ganda ini telah memberikan ekses bagi pertumbuhan ekonomi yang melambat karena adanya penundaan mobilisasi berbagai sarana transportasi ekonomi, penerbangan, logistik serta pembangunan sarana infrastruktur fisik perhubungan dan pendidikan serta target pencapaian produktivitas industri yang mengalami gangguan. Upaya yang dilakukan selama ini dalam penanganan masalah kabut asap itu ternyata belum maksimal disebabkan masih terbatasnya kemampuan pemerintah dan sumber daya ahli gambut yang dilibatkan belum terakomodasi sejak era pemerintahan Soeharto ke pemerintahan Jokowi. Para ahli ini seharusnya dilibatkan dalam mengatasi laju kerusakan lingkungan seperti kabut asap yang salah satunya penyebab perubahan iklim.
Sebuah introspeksi bagi standar ganda kebijakan bagi pencapai target emisi dan ekonomi. Momentum kabut asap harus menjadi introspeksi bagi berbagai kebijakan pemerintah yang perlu ditindak lanjuti dalam upaya menekan laju kerusakan alam Indonesia.
BERITA ASAP
Berita asap kini menjadi topik utama berbagai media nasional dan luar negeri, yang menyoroti kinerja kabinet Jokowi-JK yang jika dicermati visi dan misi pembangunannya tidak berpihak atau paling sedikit membahas penanggulangan bencana di Indonesia, dan semua tahu negara ini telah ditakdirkan untuk hidup akrab dengan bencana, seharusnya dalam salah satu kebijakan lebih memprioritaskan pembangunan lingkungan sumber daya alam yang berbasis lingkungan ekologi dengan bertumpu dari berbagai kajian ilmu-lmu kebumian dan disiplin ilmu lain untuk menekan dampak natural disaster, economic disaster ataupun juga dampak man made disater dengan titik fokus akibat pengejaran pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan faktor lingkungan.
Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan serta sebagian Papua adalah faktor ekonomi dan bukan oleh faktor alam, kalau di Jawa dan Sulawesi adalah faktor musim kemarau yang telah menimbulkan musibah kabut asap hingga menjalar ke Malaysia, Singapura dan Fhilipina tak bisa dianggap remeh lagi.
Berita dari sumber ramalan cuaca menyebutkan adanya musim kering panjang benar-benar terjadi. Sumber Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memperkirakan peristiwa kebakaran hutan dan asap tahun telah menjadi rekor sekarang. NASA memperkirakan total kerugian lingkungan akibat bencana ini bisa mencapai US 9 miliar dollar atau 129 milyar rupiah.  Data dari Global Fire Emissions Data Base yang di dukung NASA, menyebutkan juga perkiraan sekitar 600 juta ton gas rumah kaca telah dihasilkan oleh kebakaran tahun 2015 selama kurun tujuh bulan.
Sumber BNPB, memprediksi kerugian ekonomi akibat bencana kabut asap yang terjadi karena kebakaran hutan dan lahan di beberapa Provinsi di Indonesia pada tahun 2015 bisa melebihi angka Rp 30 triliun. Sebuah angka kerugian yang fantatis dan seharusnya menjadi bahan renungan bagi Kabinet Jokowi-JK.
Sumber emisi kerugian itu berasal dari 16.500 titik sejak Januari-Septembaer 2015 berdasarkan data LAPAN Indonesia sebanyak 24.086, sedangkan berdasarkan data NASA FIRM yang tersebar lima provinsi dengan kebakaran terparah di Jambi, Kalbar, Kaltim dan Sumsel serta Riau. Titik panas yang berbeda di konsesi perusahaan, beberapa diantaranya yaitu Kalbar ada 2.449, Kalteng terdapat hot spot sejak April sebanyak 5.692, Riau terdapat titik api 1.005, Sumatera Selatan sebanyak 4.416 hot spot dan Jambi terdapat 2.842 titik panas.
Berita tentang bencana kemanusiaan yang berdampak pada kesehatan manusia yang kena dampak asap telah mencapai lebih 2.5 juta jiwa dan terpapar ISPA mencapai 325.000 jiwa dengan Jambi yang paling parah merasakan dan jumlah korban meninggal telah mencapai lebih 10 jiwa termasuk bayi baru lahir akibat kabut asap pekat di Palangkaraya. Sebuah renungan bagi semua untuk memahami daya dukung bumi dalam eksistensinya bagi kehidupan manusia khususnya bagi kebijakan pemerintah dalam membangun pembangunan yang merata di Indonesia tanpa mengorbankan ekosistim yang menjaga rantai kehidupan bagi semua makhluk hidup dibumi dan pemerintah wajib bergerak cepat bahwa bencana kabut asap saat ini telah lebih parah dibandingkan pada kejadian tahun 1997 lalu, dan jumlah-jumlah korban akan terus meningkat selaras dengan bertambahnya lokasi titik panas telah menyentuh lokasi yang mengandung bahan tambang di lima provinsi terkaya akan bahan tambang vital dan strategis (dari berbagai sumber).
Berita lainnya tentang kondisi fisik pencemaran lingkungan mencatat sejak awal september-oktober 2015 tingkat total suspended particulates (TSP) sudah melebihi batas normal di beberapa kota di Indonesia. Berdasarkan data baku mutu udara, tingkat TSP normal seharusnya 230 mikro gram per normal meter kubik, yang nampak sekarang dari tingkat pencemaran kabut telah mencapai 1000-3000 mikro gram per normal meter kubik.
INTROSPEKSI ASAP
Kabut asap saat ini melanda tiga propinsi di Sumatera yaitu Aceh, sebagian Sumatera Utara dan Riau, berulang kembali, penyebabnya tidak ada instropeksi.
Tidak mengherankan telah menelan jumlah korban yang meninggal sia-sia akibat buruknya penanggulangan bencana kabut asap dan diperparah kurang responnya pemerintah sejak era reformasi untuk memahami kejadian berulang bencana asap tiap tahun, harusnya pemerintah introspeksi.


Momentum kabut asap adalah renungan terbaik bagi pemerintah dan masyarakat untuk memahami kondisi lingkungan dengan bijaksana agar dapat mengendalikan kehancuran yang lebih luas.
Pemerhati Tata Ruang Lingkungan dan Energi Geosfer

Populer

Laut Indonesia darurat sampah

  LAUT INDONESIA DARURAT SAMPAH Oleh M. Anwar Siregar   Laut Indonesia banyak menyediakan banyak hal, bagi manusia terutama makanan ...