Postingan

Tahun 2020, Intensitas Bencana Alam

Gambar
TAHUN 2020, WASPADA INTENSITAS BENCANA ALAM Oleh : M. Anwar Siregar Dalam mengurangi kemungkinan terjadinya bencana  di beberapa kota di Indonesia termasuk Jabodetabek perlu ditingkatkan bahaya bencana hidrometeorologi yang di s ampaikan  oleh BMKG dengan  beberapa poin penting dalam mitigasi bencana tanah longsor seperti:  m elakukan  i dentifikasi daerah rentan bencana tanah longsor (peta, informasi); Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bencana tanah longsor (sosialisasi, pendidikan); Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan masyarakat menghadapi bencana; Penataan ruang akibat sering terjadinya bencana banjir merupakan sebagai referensi untuk pemerintah daerah untuk melakukan penataan ulang kembali tata ruangnya. Karena setiap tahun, struktur geologis wilayah akan bergeser, yang disebabkan beberapa faktor. Seperti faktor cuaca, alam, sedimentasi serta air yang mengalir dalam tanah. Pembangunan suatu wilayah hendaknya mempertimbangkan informasi geo...

Tata Ruang Bencana Revolusi 4.0

Gambar
TATA RUANG BENCANA DI ERA REVOLUSI 4.0 Oleh : M. Anwar Siregar Jika dihubungkan dengan disruptive technology, bahwa tata ruang mitigasi menjadi garis terdepan dalam penggunaannya di era digital, kota-kota di Indonesia harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi mitigasi, tata ruang mitigasi harus mampu merespon kebutuhan rasa aman masyarakat saat ini dengan pembelajaran secara on line berbasis mitigasi digital agar cepat beradaptasi untuk menjaga dan menguatkan kepasitas karakteristik mitigasi masyarakat kota dan desa. Riset dan teknologi di era revolusi industri 4.0 bagi tata ruang harus mampu mengantisipasi perubahan fisik tatanan ruang kota dengan menguasai perangkat digital untuk mengamankan tata ruang Desa Kota, menjaga strategis kebijakan dari berbagai aspek dan sumber daya yang ada dalam kota melalui pengembangan IPTEK dalam revolusi industri 4.0

Cuaca Tidak Pasti, Banjir Belum Terkendali

Gambar
TAHUN 2020  BANJIR MEDAN (BELUM) TERKENDALI Oleh : M. Anwar Siregar Diprediksi pada tahun 2020 intensitas banjir masih tetap tinggi dan kota  Medan  termasuk kota yang (belum) mampu mengendalikan ancaman banjir  di era sekarang, karena jakarta dan wilayah sekitar belum mampu mengatasi banjir saat ini, Sebab utamanya adalah aktivitas pembangunan infrastruktur yang tidak berbasis banjir sehingga lingkungan saat rentan mengalami disablitas oleh aktivitas manusia di muka bumi dalam ruang dan waktu, disertai kebijakan dan tindakan moral yang tidak selaras dengan ekosistim daya dukung dan daya tampung lingkungan di bumi. Yang mengejutkan, kenapa kota besar seperti kota Medan (masih malas) belajar dari kejadian musibah melanda berulang kali? Belajar dari kejadian bencana banjir metropolitan Jabodetabek saat ini mengalami banjir saat parah diawal tahun.

Bangsa (Masih) Terkaget Bencana Seperti Tidak Siap Hadapi Corona

BANGSA (MASIH) TERKAGET BECANA Oleh : M. Anwar Siregar ”Duh, ah...” kaget aku, tahu kau! bentak yang dikagetkan, yang dibentak malah nyengir kuda. “bah..! begitu saja kau sudah mau marah..” Jika diumpamakan seorang manusia dikagetkan secara mendadak oleh kawannya tentu saja akan membuat jantungan, dan membuat kesal, namun jika ini dianologikan bagi bangsa yang rawan bencana alam, tentu lain persoalannya namun subtansinya hampir sama, yaitu masyarakatnya akan kaget jika mendadak ada “goyangan liga lindu” bermunculan.  Jelas akan membuat kepanikan, masyarakat pasti ada yang terserang penyakit jantungan.

Waspada Tsunami Bagi Kota Waterfront Tsunami Nias-Indonesia

MEMBANGUN  KOTA WATERFRONT TSUNAMI Oleh : M. ANWAR SIREGAR   Sudah 18 tahun berlalu bencana tsunami Nias-Sumatera Utara,  namun   hingga saat ini meninggalkan banyak  pertanyaan , salah satunya  adakah kota di Sumatera Utara yang benar-benar kota waterfront yang berbasis tsunami? Mengingat wilayah kota besar di Sumatera Utara dan Indonesia umumnya menghadap langsung ke pantai-laut atau sungai besar yang bermuara ke lautan dengan topografi rendah, merupakan sumber ideal bagi tsunami dan paradigma pembangunan tata ruang yang berbasis tsunami belum menjadi bagian kebijakan yang membumi dan seharusnya pelajaran gempa tsunami Aceh dan Nias pada  tahun  2004-2005 sebagai refleksi untuk membangun tata ruang yang tangguh menghadapi tsunami.

Waspada Musim Banjir di Langkat, Okupasi Sungai Pegunungan

BANJIR    LANGKAT, OKUPASI SUNGAI PEGUNUNGAN Oleh M. Anwar Siregar Derasnya pembangunan dan peningkatan ekonomi telah memacu perkembangan pemukiman yang cenderung menyimpang dari RUTRK dalam kota di Sumatera Utara dan jauh dari konsep pembangunan hijau yang berkelanjutan. Banyaknya kawasan-kawasan rendah seperti rawa dan danau yang semula berfungsi sebagai tempat penampungan air serta bantaran sungai yang berubah menjadi pemukiman, ditambah dengan kebiasaan masyarakat yang membuang sampah ke sungai makin memperburuk kondisi lingkungan.

CFD dan CFA, Pengendali Emisi Kota Medan

Gambar
CFC DAN CFA, PENGENDALI EMISI KOTA MEDAN Oleh : M. Anwar Siregar Kita sudah mengetahui kondisi udara di Kota Medan, dan tidak mengherankan kenapa kota Medan tidak mendapat piala Adipura Kencana bagi Kategori Kota Metropolitan, dan parahnya bisa di sebut begitu karena Medan di masukan sebagai yang terbaik dalam peringkat pertama kota metropolitan terkotor di Indonesia, tidak tahu bagaimana reaksi para pemimpin kota Medan dan warga Medan mungkin ada yang tidak peduli atau peduli, termasuk saya yang prihatin melihat kota terbesar ke tiga di Indonesia, semakin ketinggalan dari kota-kota yang ada di Sumatera dan Sulawesi, dibutuhkan kemauan bersama untuk membangun visi dan misi untuk menciptakan kota Medan, kota sehat dan jauh dari kesan kotor serta tercemar berikut berkurangnya kawasan-kawasan kumuh dan kawasan-kawasan “pengumpul” emisi di berbagai sudut di Kota Medan.

Karbon Sink dan Dilema Emisi Karhutla

Gambar
KARBON SINK DAN DILEMA EMISI  KARHUTLA Oleh : M. Anwar Siregar Membuat suatu wilayah atau kota yang bebas dari bencana alam adalah sesuatu yang tidak mungkin karena bencana alam berkaitan dengan proses alam yang tidak bisa dihindari. Yang dapat dilakukan adalah meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam melalui upaya mitigasi, diantaranya adalah penyediaan sistem peringatan dini dan penataan ruang wilayah/kota yang berbasis pada informasi kerentanan geologis dan pemetaan seismotektonik dan berbasis ekologi hijau serta kerentanan terhadap bencana alam berwawasan lingkungan , wajib dikaji bagi Ibukota Baru Indonesia dengan m itigasi bencana  menjadi faktor utama  yang harus diterapkan di lokasi rawan gempa, tsunami, banjir dan longsor  terutama bencana karhutla yang melanda Kalimantan sepanjang tahun.