Postingan

Udara Bumi Berbasis Geodiversity

  BERSIH UDARA BUMI BERBASIS GEODIVERSITY Oleh : M. Anwar Siregar Udara kotor sangat merugikan bagi masyarakat Indonesia dan regional, pelaku bisnis dan perdagangan serta pemerintah itu sendiri. Upaya konkret menghadapi isu perubahan iklim global lebih hanya ke acara seremonial dan banyak debat kusir, kebijakan untuk menekan kebakaran hanya dilakukan jika ada bencana kabut asap. Bukti itu, dapat dilihat pada kejadian bencana kabut asap dan berton-ton sampah beracun jika dikumpulkan akan membentuk gunung laut raksasa.

Harmonisasi Huta, Cegah Banjir-Karhutla

Gambar
HARMONISASI RTRW HUTAN, CEGAH BANJIR- KARHUTLA Oleh M. Anwar Siregar Banjir bandang dan disertai longsoran yang terjadi  dibeberapa kota di Indonesia, seperti yang terlihat di Solok, lalu Bandung disusul lagi Sigi dan  Sentani Jayapura  terus berlanjut ke beberapa wilayah lain di Indonesia  merupakan dampak dari berubahnya tata ruang wilayah dan berbagai alih fungsi keguanaan lahan yang menyebabkan kembali tanah Papua , Sulawasi dan Sumatera dan Jawa  mengalami musibah banjir dan longsor. Sebelumnya bencana banjir dan longsor melanda  pernah melanda kota-kota tersebut banjir Sentani- Papua pada kejadian bencana banjir-longsor Wasior , begitu juga banjir-longsor di Kab. Bandung dan Solok . Kedua bencana ini  ter dampak bukan disebabkan oleh curah hujan  yang tinggi  melainkan juga oleh eskalasi kerusakan hutan yang sangat tinggi.

(Masih Musim Hujan) Kompleksitas Banjir Medan Metropolitan

Gambar
KOMPLEKSITAS BANJIR  MEDAN METROPOLITAN Oleh M. Anwar Siregar   Bukti ilmiah mengindikasi bahwa aktivitas manusia menurunkan sistim daya dukung fundemental lingkungan di  Medan Metropolitan sekitarnya , kerusakan yang terjadi bukan saja di biosfer atau daratan bumi tetapi juga telah melewati atmosfer dan hidrosfer. Kerusakan ini telah menimbulkan kompleksitas bencana banjir dan longsor dalam suatu tata ruang lingkungan di kota-kota yang ada di  Sumatera Utara  termasuk juga imbasnya ke  Medan  dengan banjir lagi bersama kota Binjai dan Langkat.

(Hati-hati) Asap Lintas Batas Berulang, (jangan buat) Malu Awak

Gambar
ASAP LINTAS BATAS, MALU AWAK Oleh : M. Anwar Siregar (Saat ini, Indonesia sedang mengalami pandemi Corona, ada satu persoalan yang akan memperparah situasi corona dengan jumlah korban jiwa bertambah jika upaya Pemerintah Indonesia tidak berjalan, yaitu salah satunya serangan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan dari negeri atau raja penghasil kabut asap yaitu Provinsi Riau dan Kalimantan). Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi corona juga harus meningkat daya tahan menghadapi serangan kabut asap dan upaya-upaya yan harus dilakukan oleh berbagai elemen untuk mengatasi karhutla pada musim asap tahun 2020 agar tidak lebih parah dan melintas antar batas negara, jelas agar menimbulkan rasa malu lagi. Bencana kebakaran yang menimbulkan kabut asap di Indonesia telah berperan meningkatkan keasaman di geosfer dengan menimbulkan efek gas rumah kaca yang dihasilkan oleh pembakaran hutan dan lahan antara lain karbon dioksida, metan, nitrous oksida dan florin ...

Tahun 2020, Intensitas Bencana Alam

Gambar
TAHUN 2020, WASPADA INTENSITAS BENCANA ALAM Oleh : M. Anwar Siregar Dalam mengurangi kemungkinan terjadinya bencana  di beberapa kota di Indonesia termasuk Jabodetabek perlu ditingkatkan bahaya bencana hidrometeorologi yang di s ampaikan  oleh BMKG dengan  beberapa poin penting dalam mitigasi bencana tanah longsor seperti:  m elakukan  i dentifikasi daerah rentan bencana tanah longsor (peta, informasi); Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bencana tanah longsor (sosialisasi, pendidikan); Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan masyarakat menghadapi bencana; Penataan ruang akibat sering terjadinya bencana banjir merupakan sebagai referensi untuk pemerintah daerah untuk melakukan penataan ulang kembali tata ruangnya. Karena setiap tahun, struktur geologis wilayah akan bergeser, yang disebabkan beberapa faktor. Seperti faktor cuaca, alam, sedimentasi serta air yang mengalir dalam tanah. Pembangunan suatu wilayah hendaknya mempertimbangkan informasi geo...

Tata Ruang Bencana Revolusi 4.0

Gambar
TATA RUANG BENCANA DI ERA REVOLUSI 4.0 Oleh : M. Anwar Siregar Jika dihubungkan dengan disruptive technology, bahwa tata ruang mitigasi menjadi garis terdepan dalam penggunaannya di era digital, kota-kota di Indonesia harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi mitigasi, tata ruang mitigasi harus mampu merespon kebutuhan rasa aman masyarakat saat ini dengan pembelajaran secara on line berbasis mitigasi digital agar cepat beradaptasi untuk menjaga dan menguatkan kepasitas karakteristik mitigasi masyarakat kota dan desa. Riset dan teknologi di era revolusi industri 4.0 bagi tata ruang harus mampu mengantisipasi perubahan fisik tatanan ruang kota dengan menguasai perangkat digital untuk mengamankan tata ruang Desa Kota, menjaga strategis kebijakan dari berbagai aspek dan sumber daya yang ada dalam kota melalui pengembangan IPTEK dalam revolusi industri 4.0

Cuaca Tidak Pasti, Banjir Belum Terkendali

Gambar
TAHUN 2020  BANJIR MEDAN (BELUM) TERKENDALI Oleh : M. Anwar Siregar Diprediksi pada tahun 2020 intensitas banjir masih tetap tinggi dan kota  Medan  termasuk kota yang (belum) mampu mengendalikan ancaman banjir  di era sekarang, karena jakarta dan wilayah sekitar belum mampu mengatasi banjir saat ini, Sebab utamanya adalah aktivitas pembangunan infrastruktur yang tidak berbasis banjir sehingga lingkungan saat rentan mengalami disablitas oleh aktivitas manusia di muka bumi dalam ruang dan waktu, disertai kebijakan dan tindakan moral yang tidak selaras dengan ekosistim daya dukung dan daya tampung lingkungan di bumi. Yang mengejutkan, kenapa kota besar seperti kota Medan (masih malas) belajar dari kejadian musibah melanda berulang kali? Belajar dari kejadian bencana banjir metropolitan Jabodetabek saat ini mengalami banjir saat parah diawal tahun.

Bangsa (Masih) Terkaget Bencana Seperti Tidak Siap Hadapi Corona

BANGSA (MASIH) TERKAGET BECANA Oleh : M. Anwar Siregar ”Duh, ah...” kaget aku, tahu kau! bentak yang dikagetkan, yang dibentak malah nyengir kuda. “bah..! begitu saja kau sudah mau marah..” Jika diumpamakan seorang manusia dikagetkan secara mendadak oleh kawannya tentu saja akan membuat jantungan, dan membuat kesal, namun jika ini dianologikan bagi bangsa yang rawan bencana alam, tentu lain persoalannya namun subtansinya hampir sama, yaitu masyarakatnya akan kaget jika mendadak ada “goyangan liga lindu” bermunculan.  Jelas akan membuat kepanikan, masyarakat pasti ada yang terserang penyakit jantungan.