Air Tanah Gunung Api
Ketahanan Air Tanah
Wilayah Gunung Api
Oleh: Hendarmawan
Potensi sumber daya air
Indonesia sebenarnya melimpah. Sebagaimana disebutkan UNESCO (2003), Indonesia
mempunyai curah hujan tahunan sekitar 2.600-2.700 mm/tahun, atau menurut
laporan BMG (2003), antara 996 hingga 4.927 mm/tahun. Tidak mengherankan,
seperti dinyatakan dalam worldwater.org, Indonesia memiliki potensi
ketersediaan sumber daya air terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Rusia dan
Kanada, yaitu mencapai 2.838 miliar m3/tahun. Potensi itu
bersumber baik dari sungai, danau, waduk, rawa, air tanah dangkal (shallow wells), air tanah dalam (deep wells),
maupun mata air. Namun, gejala kekurangan air masih juga terasa dimanamana, terutama
di musim kemarau. Hal ini menguatkan kembali fakta bahwa masalah ketahanan air
yang telah dinyatakan oleh pemerintah sebagai salah satu agenda prioritas
nasional sejak Desember 2013 itu, masih ada.
ARTIKEL
Tingginya curah hujan dan banyaknya potensi sumber air tidak
serta-merta menjadi harapan dan manfaat yang menjanjikan. Berbagai potensi
sumber air kita belum mampu mencegah kekeringan di musim kemarau, dan banjir di
musim hujan. Padahal sangat jelas, Tuhan menurunkan air hujan sebagai rahmat
bagi semua makhluk di bumi. Dengan air yang cukup, keperluan air untuk
masyarakat terpenuhi, produksi pertanian tetap terjaga sehingga ketahanan
pangan nasional dapat terealisasi, kebutuhan air untuk industri dan pertanian pun
terlayani. Berbagai masalah sumber daya air ini menyadarkan kita, sekaligus
menggugah perhatian para pemangku kepentingan terkait, untuk segera membuat langkah
yang aktual di lapangan.
Karena air merupakan sumber daya alam yang sangat vital dan
diperlukan oleh berbagai sektor (pertanian, perikanan, industri, perkotaan,
energi, perhubungan, pariwisata, dll) dari hulu hingga hilir, langkah nyata pengelolaan
air sangat memerlukan koordinasi berbagai pihak. Jika tidak, maka konflik
kepentingan dapat terjadi atau semakin meruncing. Terlebih saat ini, sumber
daya air tidak dapat lagi hanya dipandang sebagai barang sosial, namun sudah
menjadi barang ekonomi.
Salah satu sumber air yang perlu mendapat perhatian dalam
koordinasi tesebut adalah air tanah di wilayah gunung api mengingat potensinya
yang tinggi. Dari hasil survei tahun 2007 berdasarkan data cekungan air tanah,
diketahui potensi sumber daya air tanah Indonesia mencapai 4.700 miliar m3/tahun yang
jumlah terbesarnya tersimpan dalam endapan volkanik atau produk gunung api.
Akar Permasalahan
Dalam memperkuat pengelolaan sumber daya air yang menyeluruh
(holistik) dan berwawasan lingkungan, berbagai sektor dan keahlian pasti
terlibat di dalamnya. Untuk skala regional Indonesia, penelaahan dapat dimulai dengan
siklus hidrologi. Dalam sirkulasi air di bumi, bagian air yang langsung
berhubungan dengan aktivitas kita adalah air permukaan dan air tanah. Bila kita
merujuk pada data air permukaan di Indonesia, terunjuk tingkat persentase
hampir 100% terbaharui, yakni sekitar 98% dari TARWR (total actual renewable water resources).
Sementara itu, bagaimana dengan persentase air tanah yang
terbaharui? Data memperlihatkan tingkat yang terlalu minim, hanya sekitar 16%
air mengisi reservoir air tanah di Indonesia. Nilai persentase air terbaharui untuk
air tanah yang kecil dapat berimplikasi pada bertambahnya air permukaan yang
sangat besar.
Di sisi lain, kebutuhan air, khususnya air tanah, terus meningkat.
Hal ini menyebabkan penyusutan atau berkurangnya cadangan air tanah, dan daya
rusak air pun terjadi berupa banjir, penurunan tanah (subsidence), atau penurunan
kualitas air tanah karena intrusi air laut. Meskipun data tersebut masih perlu
diklarifikasi, ketersediaan sumber daya air tanah juga cenderung menurun,
terutama di kota-kota besar, sebagaimana banyak diberitakan.
Pertanyaannya, apakah Indonesia tidak mempunyai reservoir air
tanah yang luas? Salah satu reservoir air tanah yang cukup besar adalah wilayah
pegunungan.
Secara geologi, bentang alam pegunungan bisa berupa wilayah gunung api (pegunungan volkanik) dan pegunungan
tersusun atas batuan sedimen. Bentang alam ini dicirikan oleh tingkat curah
hujan yang tinggi. Tidak mengherankan, pegunungan mempunyai potensi kuantitas
sumber daya air yang besar. Perbandingan
air yang ada di permukaan
terhadap air yang meresap sangat tergantung pada porositas (jumlah ruang dalam
butiran batuan) dan
permeabilitas (kemampuan batuan meloloskan air) dari komposisi batuan yang ada,
serta
tentu saja kondisi
lingkungan di wilayah resapan. Secara empiris, wilayah gunung api muda yang
mempunyai tingkat
peresapan air tinggi berbeda dengan pegunungan yang tersusun oleh batuan tua,
yaitu batuan berumur Tersier (Miosen-Pliosen) atau sebelum Kuater (Plistosen-sekarang).
Endapan gunung api tua, terlebih sedimen tua, menunjukkan tingkat peresapan air
yang sangat kecil. Kekhasan wilayah gunung api dengan struktur dan tekstur
batuannya ini tidak hanya sebagai sumber potensi kebencanaan (apabila gunung
api itu meletus, misalnya), namun juga berfungsi sebagai suatu tangki raksasa
penyimpan air, baik di permukaan maupun air di bawah permukaan.
Indonesia merupakan
negara yang mempunyai wilayah gunung api aktif dan tak aktif terluas yang
tersebar dari ujung Sumatra hingga Maluku. Tidak bisa dipungkiri bahwa lokasi
kota-kota besar atau berbagai wilayah
pengembangan kota di
Indonesia selalu berdekatan atau terletak di hamparan pedataran endapan gunung
api.
Pemenuhan kebutuhan
airnya, baik kebutuhan seharihari penduduk, pertanian, maupun industri, sangat
menggantungkan pada
sumber daya air dari wilayah gunung api.
Seiring dengan
pembangunan dan perkembangan ekonomi yang meningkat, perubahan tata ruang ke
arah
lereng gunung api pun
terjadi. Pemerintah pusat dan daerah sudah mengeluarkan peraturan dan berbagai kebijakan
dalam rangka pengelolaan sumber daya air, misalnya dalam kasus Bopuncur. Namun,
tetap saja kita masih sering mendengar kejadian mata air mengering, pasokan air
terganggu, air sungai sudah tidak mengalir lagi di musim kemarau, penurunan
muka air tanah terus
berlangsung, hingga
banjir kiriman.
Dalam banyak kebijakan
dan pengelolaan sumber daya air dari beberapa wilayah, banyak hal yang menjadi
masalah. Pertama,
menyamakan lapisan batuan pembawa air (akuifer) mulai dari hulu hingga ke hilir
wilayah
gunung api tanpa
mempertimbangkan kerumitan batuan di wilayah gunung api yang sangat
berbeda-beda dibanding pola endapan batuan sedimen, baik struktur maupun
tekstur. Pada jarak yang relatif dekat batuan bisa berubah jenisnya yang
berarti berubah permeabilitas (tingkat kemampuan meloloskan air) dan kesarangan
atau porositas. Peta yang diacu memang sangat terbatas, yakni peta geologi dan
hidrogeologi regional. Kedua, dalam penentuan daerah resapan air masih banyak menggunakan
cara konvensional (kualitatif) dan masuk ke dalam kebijakan tata ruang. Sebagai
akibat dari masalah-masalah itu, perhitungan nilai atau potensi bersih (net potency) sumber daya air jenis air tanah ini menjadi
terlalu tinggi (overestimate),
atau sebaliknya terlalu rendah (underestimate) untuk air permukaan. Akibat lebih lanjut,
kebijakan untuk pembuatan resapan buatan (artificial recharge) dan reboisasi pun menjadi tidak tepat
lokasi.
Pengelolaan sumber daya
air di wilayah gunung api memerlukan penelitian yang rinci. Air mengalir
melalui ruang antar butir batuan (sistem media berpori) atau rekahan (sistem
media terekahkan), sehingga pengetahuan dan pemahaman sistem recharge-discharge
atau sistem input-output
air di wilayah ini harusnya sangat jelas. Namun, rujukan (buku-buku, makalah ilmiah,
dll) yang mengetengahkan hidrogeologi gunung api masih sangat terbatas,
kalaupun ada boleh dibilang dengan jari tangan, dan itu pun hanya bersifat
umum.
Oleh karena itu, Asosiasi
Hidrogeologi Internasional (IAH) sangat mendorong dan mendukung pemunculan
makalah-makalah
hidrogeologi gunung api.
Studi Komprehensif Air Tanah di Wilayah Gunung Api
Penelaahan beberapa
sistem resapan-luahan (rechargedischarge) daerah volkanik telah dilakukan sejak 18 tahun terakhir.
Daerah penelitiannya antara lain wilayah Cekungan Bandung, G. Salak, lereng G.
Gede Pangrango, Jawa Barat; daerah G Karang, Banten; Gunung Sibayak (Brastagi)
dan Binjai, Sumatra Utara; gunung api sekitar Magelang, Jawa Tengah; dan
wilayah Gunung Batur (Bali). Melalui pemantauan yang relatif panjang, yaitu setahun
di setiap wilayah tersebut, diperoleh sejumlah model yang dapat menjadi dasar
pengelolaan sumber daya air di wilayah gunung api.
Penelitian air tanah
gunung api yang rinci di suatu wilayah perlu ditunjang oleh beberapa studi
sebagai alat
analisis hidrogeologi,
yaitu survei topografi, analisis GIS (geographic information system), dan lainnya. Survei topografi merupakan
kegiatan pengukuran setiap titik studi yang didasarkan pada peta topografi dan
peta citra
satelit, dan pengolahan
datanya dilakukan dengan metode analisis GIS. Penelusuri daerah aliran sungai
(DAS) dan identifikasi ukuran-ukuran jaringan air yang terdapat didalamnya juga
perlu dilakukan. Untuk itu, surveinya didekati dengan studi hidrologi.
Dengan demikian, sistem air
permukaan dan interaksinya dengan sistem air tanah yang berkembang di daerah
penelitian dapat ditelaah. Berikutnya, dilakukan kajian geologi wilayah gunung
api yang didukung oleh kajian geofisika guna mengetahui gambaran kondisi bawah
permukaan tanah secara akurat. Dengan cara ini maka informasi struktur geologi
maupun lapisan pembawa air (akuifer) yang berkembang dapat diketahui dengan
jelas. Selanjutnya, studi hidrokimia dan hidro-isotop air tanah dilakukan agar
dapat diketahui asal air tanah dan perilaku dari air tanah yang mengalir. Sintesa
atas berbagai kajian tersebut akan memberikan pengetahuan hidrogeologi yang
komprehensif dengan pemahaman yang baik mulai dari kondisi sistem resapanluahan
air tanah, laju resapan air tanah, sampai konsep model hidrogeologi daerah
penelitian.
Geologi dan Geofisik Wilayah Gunung Api
Pendekatan pemetaan
geologi di lapangan dilaksanakan melalui traversing, yaitu suatu kegiatan
observasi singkapan batuan. Pengambilan contoh untuk diuji di laboratorium
dalam rangka identifikasi batuan jugadilakukan. Pengelompokan batuan
sebagaimana menurut Bronto (2006), mengacu pada pembagian oleh Bogie & Mackenzie,
1998. Dalam klasifikasi ini fasies gunung api dibagi ke dalam fasies sentral,
fasies proksimal, fasies medial, dan fasies distal. Istilah “fasies” batuan
bermakna suatu tubuh batuan yang memiliki kombinasi ciri yang khas berdasarkan
batuan penyusun dan struktur sedimen, bahkan struktur biologinya, sehingga
dapat dibedakan fasies atas, tengah, dan bawah; atau, fasies terdekat (proksimal),
fasies medial (pertengahan), dan fasies distal (terjauh) dari sumber asal,
yaitu pusat letudan gunung api, dalam kaitannya dengan endapan wilayah gunung api.
Fasies proksimal endapan
wilayah gunung api ditandai dengan asosiasi batuan sekitar puncak gunung api
berupa perselingan aliran lava dengan breksi piroklastika dan terkadang
tersingkap aglomerat. Di ujung fasies ini seringkali dijumpai mata air yang
cukup besar debitnya dan mengairi sungai. Ke arah hilir biasanya ditemukan
breksi piroklastika dan tuf sangat dominan, dan breksi lahar yang dikenal
sebagai fasies medial. Pada fasies ini berkembang celah dan sistem rekahan yang
cenderung ditandai dengan banyaknya resapan air ke arah batuan di bawahnya.
Seiring dengan bentang alamnya yang agak melandai, di wilayah fasies medial ini
biasanya berkembang permukiman penduduk. Endapan gunung api di sekitar kaki
gunung disebut
fasies distal yang didominasi
oleh breksi lahar, breksi fluviatil, konglomerat, batupasir, dan batulanau.
Melalui
pemboran inti,
perselingan batuan-batuan tersebut sering dijumpai. Pemunculan mata air dengan
debit besar sering pula dijumpai saat lapisan batuan tersebut mengalami pengaruh
patahan.
Hasil pemetaan geologi
dan pengukuran geofisik selanjutnya dianalisis untuk melihat berbagai gambaran di
bawah permukaan tanah. Satu hal yang sangat penting terkait dengan model adalah
penggambaran (delineasi) batas-batas cekungan air tanah. Sebaran cekungan air
tanah digambarkan secara rinci guna mengetahui perilaku air di dalam tanah atau
batuan. Luasan cekungan air tanah juga memberi informasi akan cadangan dan sistem
resapan-luasan sumber daya air.
Pola fasies endapan gunung api
yang mengontrol aliran air tanah.
Sumber: Bogie & Mackenzie, 1998.
Analisis Hidrokimia dan Hidro-isotop Air Tanah
Pada umumnya penentuan
daerah resapan air tanah di Indonesia lebih didasarkan pada pendekatan konvensional
seperti tinggi rendahnya topografi dan penampang tanah dan batuan bawah
permukaan saja. Beberapa penelitian memang sudah menambahkan metode delineasi
daerah resapan tersebut melalui pendekatan analisis isotop air tanah – yaitu
unsur yang berisfat radioaktif dan diketahui laju peluruhannya – untuk
memastikan masuknya air dan mendelineasi daerah resapan (recharge
zone).
Bagaimanapun, penelitian
terdahulu di Indonesia yang menggunakan isotop stabil air tanah masih
menimbulkan keraguan. Hal ini disebabkan pencontohan yang dilakukan tidak
dilaksanakan secara periodik berdasarkan musim yang ada di Indonesia. Di pihak
lain, posisi dan luas wilayah resapan akan menentukan jumlah air yang masuk ke
dalam lapisan tanah batuan yang mengandung air tanah. Sebagai akibatnya,
terjadi salah penaksiran, yaitu terlalu besar (overestimate) atau terlalu kecil (underestimate) dalam perhitungan kesetimbangan air (water
balance). Masalah merupakan
bagian akar permasalahan tulisan ini.
Fritz dan Fontes (1981)
juga IAEA menyatakan bahwa melalui analisis kandungan isotof 18O (oksigen) dan isotof 2H (deuterium) dalam air
tanah dan air hujan secara berkala, maka asal usul air dapat dideteksi. Hasil perhitungan
analisis isotof 18O dan deuterium mengacu kepada standar
internasional, yaitu SMOW (Standard
Mean Ocean Water).
Standar SMOW sebagai acuan memiliki nilai rasio 18O/16O dan D/H adalah nol (0). Hasil
perhitungan analisis
rasio 18O/16O dan D/H dinyatakan dalam
rasio relatif (δ) dengan satuan per mil.
Dari hasil analisis data
akan dapat ditentukan berturutturut indeks kandungan isotop pada tiap stasiun (amount
effect), garis meteorik lokal
dan hubungan kandungan isotop terhadap elevasi (ketinggian). Kemudian indeks
kandungan isotop (meanweight) 18O dan 2H pada setiap stasiun dihitung berdasarkan suatu persamaan yang
akan menganalisis kandungan isotop dan jumlah curah hujan pada pengamatan
setiap bulannya.
Hasil simulasi isotop
dipadukan dengan hasil kandungan
Pola fasies endapan gunung api
yang mengontrol aliran air tanah.
Sumber: Bogie & Mackenzie, 1998.
ion yang umum dalam air
alami seperti Na+, K+, Ca++, Mg++, Cl-, CO3 2-=, HCO3 - dan SO4
2-=. Dominasi kation dan anion tersebut
ditentukan dengan diagram trilinear
Piper (1944). Hasilnya
digunakan untuk memastikan hasil kandungan isotop stabil air tanah. Melalui
metode ini, fasies air tanah yang dihasilkan dapat digunakan dalam memverifikasi
penafsiran geologi. Daerah resapan yang lokasi tepatnya telah dapat ditentukan
dan perhitungan sebaran luasnya cukup mendekati kenyataan akan memberikan hasil
perhitungan input air yang lebih akurat. Dengan cara itu, kuantitas masukan air
di suatu wilayah dapat ditetapkan. Bukan tidak mungkin bahwa data taksiran
untuk penentuan besaran air yang masuk ke dalam reservoir yang
Model hidrogeologi Gunung Salak relatif mewakili
model lainnya.
digunakan dalam
pengelolaan sumber daya air selama ini, terlalu berlebihan. Akibatnya, terjadi
ketimpangan debit aman dalam suatu wilayah yang jauh di atas kapasitas yang
ada. Penting untuk diketahui bahwa data kasar air hujan yang meresap di wilayah
gunung api menunjukkan 21% hingga 37% dari total air hujan yang jatuh di
wilayah tersebut.
Hasil-hasil pengetahuan
hidrogeologi gunung api dari penelitian yang disebutkan di atas setidaknya
membuat
pengelolaan sumber daya
air harus lebih hati-hati. Wilayah yang selama ini telah berkembang eksploitasi
air tanah besar-besaran di daerah distal, tempat berkembang industri dan pengguna
air tanah lainnya, sangat ditentukan oleh air yang berasal dari daerah fasies
medial.
Sementara itu wilayah
medial ini seringkali sudah menjadi pemukiman. Oleh karena itu, diperlukan
kearifan lokal dalam program konservasi sumber daya air untuk menjaga air tetap
meresap di wilayah tersebut. Selanjutnya, model konservasi air tanah yang didasarkan
pada pengetahuan fasies batuan gunung api dan daerah resapan-luahan ini perlu menjadi
bahan pertimbangan dalam penentuan tata ruang wilayah. Dengan demikian, sumber daya
air yang berkelanjutan di wilayah gunung api akan memberi kemampuan dan
kapasitas potensi air yang dapat dimanfaatkan oleh kegiatan manusia untuk
kegiatan sosial ekonomi di sekitarnya.
Perlu Tindakan Segera
Terdapat beberapa hal
paling penting tentang air tanah di wilayah gunung api. Pertama, nilai
persentase terbaharui air tanah yang kecil merefleksikan kepastian kelangkaan
air di musim kemarau dan air permukaan
yang bertambah besar di
musim hujan (banjir). Kegiatan konservasi yang melibatkan berbagai sektor
termasuk
masyarakat di dalamnya
sudah tidak dapat ditunda lagi. Kedua, manajemen sumber daya air yang
konvensional perlu ditunjang dengan pemahaman hidrogeologi yang terukur melalui
pendekatan studi yang komprehensif.
Dengan cara ini, maka
penentuan daerah resapan untuk keperluan konservasi dan luas cekungan jauh
lebih akurat dan pasti alias tidak berubah-ubah. Dengan demikian, perhitungan kesetimbangan
air akan lebih mendekati kenyataan, dan kepastian serta ketepatan daerah konservasi
akan mendukung penentuan tata ruang wilayah. Ketiga, hasil-hasil studi atau
kajian hidrogeologi di wilayah gunung api menunjukkan potensi
yang besar dalam
pengelolaan sumber daya air.
Di antaranya, potensi itu
menjadi dasar dalam menyelesaikan kelangkaan air di musim kemarau dan
menurunkan air permukaan – sehingga tidak menjadi banjir - di musim hujan. Potensi
lainnya, dilihat dari jumlah gunung api Indonesia yang mencapai 127 buah atau
30% luas dataran Indonesia. Keberadaan gunung api yang seringkali di dekat –
atau tidak jauh dari - kota-kota dan wilayah perkembangan ekonomi, apabila
potensi sumber daya airnya dikelola dengan baik sumber daya air, maka wilayah
gunung api dapat menjadi sumber ketahanan air nasional.■
Tulisan ini
disarikan dari orasi pengukuhan Guru Besar penulis. Penulis adalah Guru Besar
Fakultas Teknik Geologi Universitas
Sumber : Geomagz edisi 0503092015
Padjadjaran.
Komentar
Posting Komentar