Sepak Pojok Gibol 20 : Mitos Der Panzer
MITOS KUTUKAN TURNAMEN BESAR DER PANZER
Oleh : M. Anwar
Siregar
Ajang Euro 2016 kini
telah memasuki beberapa puncak klimaks kecil, dengan munculnya berbagai kejutan
yang membuat mungkin banyak penggemarnya menjadi kecewa, atau juga bergairah
untuk terus menerus mengadakan begadang hingga urusan sama pasangan terpaksa di
tinggalkan dan ini juga dapat memberikan kejutan dalam suasana hati yang tidak
menyenangkan bagi seorang gila bola.
Mitos dalam sepak bola kadang membuat dan
menghadirkan beragam cerita dan data, analisis dan sejarah yang terus bergulir
bersama dengan sang waktu. Si kulit bundar itu terus bergulir untuk
menghasilkan sejumlah kejutan dan catatan yang tidak tahu kapan akan berakhir.
Dia mungkin akan berakhir bersama sang waktu jika tidak bergerak lagi, maka
diatas permukaan lapangan atau juga permukaan bumi tidak ada lagi sorak
kegirangan dan kesedihan, namun yang muncul mungkin sebaliknya kutukan dari
dampak kehidupan yang telah diperbuat selama kurun turnamen kehidupan
berlangsung.
Turnamen dalam bentuk kehidupan itu lebih besar
menghasilkan banyak kutukan, untuk turnamen sepak bola sebenarnya juga bagi
dari turnamen kehidupan yang menghasilkan turunan mitos, kutukan dan sejarah
yang sering yang berulang.
KUTUKAN
Banyak pemain maupun tim dan lub kadang merasa
seperti sedang menghadapi kutukan, kutukan yang kadang membuat rasa percaya
diri meredup dan membuat prestasi menjadi kelam bersama sang waktu. Kutukan
adalah bagian dari kehidupan, dia hadir karena sejarah panjang yang telah
diperbuat oleh pendahulu, dan terus berlanjut dan mengelayut pikiran karena
beban mental yang harus dipikul, begitu juga oleh salah satu pihak bahwa
kutukan yang dialami pihak lawan belum tentu menjamin bahwa mereka akan mudah
mencapai keinginan, karena ada juga beban mental yang dipikul untuk
mempertahankan demi kelangsungan prestasi.
Kejadian ini banyak dialami dalam dunia oleharaga
maupun dalam kehidupan. Dalam turnamen sepak bola di Eropa maupu Dunia, sering
kita menyasikan ada tim klub dan negara sering tidak mampou melanjut estafet
puncaknya karena sudah seperti tertekan karena sering mengalami kegagalan pada
turnamen yang sama, pada fasa yang sama atau juga sama dengan babak-bak
selanjut seperti sudah tergariskan untuk tidak tergantikan atau terlewatkan.
Benarkah kutukan itu berlaku selamanya bagi sebauah turnamen sekelas ajang
EURO?
Kutukan itu adalah mitos yang harus dihapuskan
daftar riwayat hidup, jangan terus mengganggu kehidupan. Ini berlaku bagi Der
Panzer, si panser Jerman itu wajib menghilangkan kebiasaan pendahulunya yang
telah menciptkan sejarah pahit yang berulang pada suatu turnamen yang sama pada
sebuah tim yang sama.
Banyak juga pemain mengalami hal ini, Anda ingat
Si Lionel Messi? Dia adalah salah satu pemain terhebat yang dilahirkan hanya
untuk juara, namun tingkat level yang lebih tinggi dia hanya mampu lebih banyak
gigit jari, benarkah Lionel Messi itu mengalami kutukan jika berbaju tim
nasional? Dia sering gagal pada partai puncak, yang dia nikmati bukan
kenikmatan yang tiada tara, malah sebaliknya dia lebih sering menikmati
antiklimaks, padahal foreplay sudah dibuat matang namun dalam penetrasi justru
dia ambivalen. Padahal semua orang tahu jika dia sudah panas itu ibarat
menunggu ketakutan bagi lawan, dan kenikmatan bagi mereka yang mendambakan kenikmatan
seperti layajnya urusan pribadi. Penetrasi yang tidak tahu kenapa sering
meleset seperti adul penalti itu, atau pun juga tendangan bebas yang sebenarnya
merupakan skill dia yang mumpuni itu sepertinya menjadi imponten, adalah cerita
kutukan di balik semua kegagalannya? Penulis bersama semua penggemarnya mungkin
menjadi kebingungan karena semua hal ini, padahal semua telah tercipta matang
bagi perjalanannya ke puncak kenikmatan, tetapi begitulah kehidupan, tidak
selamanya akan ada dipuncak kegemilangan. Butuh renungan bagi Lionel Messi.
Messi, engkau seorang yang penuh bakat, dilahirkan
untuk selalu menjadi juara, kerinduanmu untuk menggapai juara Copa America dan
Dunia butuh penghapusan kutukan, tidak tahu dari mana mantera penghilang
kutukan itu agar engkau dikenang semakin abadi, Saya sebagai penulis blog ini
bukan seorang dukun apalagi superparanomal yang mampu memberikan obat, saya
hanya menulis rasa itu untuk menikmati peuncak kenikmatan dalam bentuk menulis.
Puas rasanya dapat ide tentang judul tersebut idatas, dan itu adalah kenikmatan
tersendiri bagi saya. Selamat berjuang untuk mempertentang keinginan pensiun di
Tim Tango Argentina, kesedihan yang mendalam bagi semoga berlalu dengan hadir
bersama Barcalona, itu tim yang berasal dari negeri Matodor ysang telah
berpulang ke kampung lebih cepat lebih baik agar ada juara yang baru berwajah
lama atau berwajah baru, yang pasti tidak ada berwajah plastik.
Kutukan ini banyak juga dialami klub-klub, dan
timnas peserta Euro. Salah satu adalah tim mantan juara yang berambisi menjadi
juara Euro baru, dengan berusaha keras untuk melupakan masa lalu yang kelam
dengan terus menghadir generasi ke generasi untuk menghapuskan kutukan itu agar
hilang dan berlanjut dengan kegemilangan prestasi yang mantap bagi mereka.
Terlihat bagaiman serunya pertandingan antara ke
dua mereka yang harus diakhir oleh hukuman kutukan yang berupa kutukan penalti
dan keduanya juga seperti mengalami kutukan yang berbeda, terlihat beban bagi
semua pemain yang untuk kualitas diri agar kutukan berlaku untuk masing-masing.
MITOS DER PANZER
Tadi dini hari kita sudah melihat bagaimana beban
kutukan dua negara yang masing-masing untuk mempertahankan tradisi. Yang satu
berusaha keras untuk mempertahankan tradisi kemenangan dan yang satu berusaha
keras menghapus tradisi kelam yang sangat mengganggu kehidupan mereka sehingga
perlu perjuangan keras untuk membuktikan bahwa generasi mereka adalah ujung
tombak terbaik saat ini, yang dikirm ke medan laga hanya untuk merebut
supremasi sepak bola terbaik Eropa.
Dalam mitos perlagaan antara mereka kini seperti
ada bayang-bayang mitos baru, sejumlah kegagalan tembakan yang tidak mengenai
sasaran ternyata berulang untuk mereka. Teringat mitos gagal pada angka akhir
sering membuat hampir sebuah kelanjutan baru tradisi baru. Ketika Jerman unggul
satu tembakan kemenangan namun tidak terjadi, begitu seterusnya berlanjut pada
tembakan ke delapan baru penyelesaian kemenangan. Mitos terputus dan menjadi
mitis dan beban bagi Italia kembali.
Untuk sekian kali Italia merasakan kutukan adu
penalti. Mereka sering kali gagal dalam adu penalti di berbagai turnamen, dan
itu adalah taktik Jerman untuk menggiring Italia ke zona adu penalti. Sebabnya
banyak, kiper sudah lambat kecepatannya, ada beban trauma jika adu penalti, sejarah
membuktikan Jerman Jago Penalti. Kiper-kiper mereka rata-rata tangguh. Pemain
Italia banyak tidak terlatih adu penalti dan banyak belum berpengalaman.
Maka mitos Jerman tidak pernah menang pada kontra
Italia pada suatu turnamen itu akhirnya terputus. Tradisi kini dipegang Jerman,
dan beban akan dipikul langsung oleh Italia jika bertemu dengan Jerman pada
suatu laha turnamen tertentu. Kemenangan Jerman itu adalah gambaran dimasa
depan antara mereka. Jerman tidak perlu lagi cemas, segala sesuatu dapat berubah,
tidak ada yang abadi.
Jerman sebenarnya bisa menang normal jika Boateng
tidak membuat kesalahan dengan mengangkat tangan seperti burung yang siap
terbang namun sayap terasa seperti berat mengangkat badan. Kesalahan lain,
adalah ego Mario Gomez seharusnya mau sedikit saja mengoper bola kepada Thomas
Muller ketika posisi Gianluigi Buffon sudah terbuka dengan menendang bola ke
gawang yang sudah terbukan 65 persen disust sisi kiri gawang Italia, dengan
begitu prediksi gpl tercipta 90 Persen dan skor dapat menjadi 2 : 0, Maka
perpanjangan penalti tidak perlu dilakukan dengan kemenangan Normal Der Panzer
dapat menciptakan tradisi menang normal dan mitos baru untuk mereka dan Italia
akan berpikir lagi jika bermain secara normal pun bisa kalah, apalagi penalti.
Mitos Jerman yang susah menang atas Italia itu
masih ada yaitu menang normal. Namun secara keseluruhan Jerman sudah lebih baik
mengurangi beban mereka dan semakin panas membara untuk melepaskan segala
amunisi terhadap Prancis atau Islandia atau Wales dan Portugal.
Komentar
Posting Komentar