Belajar Memahami Bahaya Gerakan Tanah 4 (selesai)
FAKTOR PENYEBAB DAN MITIGASI GERAKAN TANAH
Gambar : menunjukkan kemiringan bangunan akibat gerakan tanah, fracture grounting.
Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Tanah
Longsor;
A.
Hujan.
Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena
meningkatnya intensitas curah hujan. Musin kering yang panjang akan menyebabkan
terjadinya penguapan air permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu
mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan
tanah permukaan.
Ketika hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak sehingga tanah
dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang
tinggi biasanya sering terjadi, sehingga kandungan air pada tanah menjadi jenuh
dalam waktu singkat.
Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui
tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng,
sehingga menimbulkan gerakan lateral. Bila ada pepohonan di prmukaan, tanah
longsor dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan juga akan berfungsi
mengikat tanah.
B.
Lereng Terjal.
Lereng atau
tebing yang trjal akan memperbesar gaya
pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air,
air laut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah
180˚ apabila lereng terjal dan bidang
longsorannya mendatar.
C.
Tanah Yang Kurang Padat Dan Tebal.
Jenis tanah yang
kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari
2,5m dan sudut lereng >220˚. Tanah jenis ini memiliki potensi untuk
terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan. selain itu tanah ini
sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek terkena air dan
pecah ketika hawa terlalu panas.
D.
Batuan Yang Kurang Kuat.
Batuan endapan
gunung api dan bautan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil,
pasir, dan lempung umumnya kurang kuaat. Batuan tersebut akan mudah menjadi
tanah bila mengalami proses pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor
bila terhadap pada lereng yang terjal.
E. Jenis Tata Lahan
Tanah longsor
banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya
genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan
persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat
tanah menjadi lembek jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor. Sedangkan
untuk daerah perladangan
penyebabnya
adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam
dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama.
F.
Getaran.
Getaran yang terjadi diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan,
getaran mesin, dan getaran lalulintas kenderaan. Akibat yang ditimbulkan- nya
adalah, badan jalan, lantai, dandinding rumah menjadi retak.
G.
Susut Muka Air Danau Atau Bendungan.
Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan
sudut kemiringan waduk 220˚ mudah terjadi longsor dan penurunan tanah yang
biasanya diikuti oleh retakan.
H.
Adanya Beban Tambahan.
Adanya beban
tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya
longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya
adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke arah
lembah.
Pengikisan
banyak dilakukan oleh air sungai atau tebing. Selain itu akibat penggundulan
hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.
J.
Adanya Material Timbunan Pada Tebing.
![]() |
Untuk
mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan pemotongan
tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada lembah tersebut belum
terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang berada di bawahnya. Sehingga
apabila hujan akan terjadi penurunan tanah yang kemudian diikuti dengan retakan
tanah.
K.
Bekas Longsoran Lama.
Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan
material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat terjadi
patahan kulit bumi. Bekas longsoran lama memiliki ciri:
·
Adanya tebing terjal yang panjang melengkung
membentuk tapal kuda.
·
Umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang
relatif tebal karena tanahnya gembur dan subur.
·
Daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif
landai.
·
Dijumpai longsoran kecil terutama pada tebing
lembah.
·
Dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang
merupakan bekas longsoran kecil pada longsoran lama.
·
Dijumpai alur lembah dan pada tebingnya dijumpai
retakan dan longsoran kecil.
·
Longsoran lama ini cukup luas.
L.
Adanya Bidang Diskontinuitas (Bidang Tidak Sinambung).
Bidang tidak sinambung memiliki ciri
sebagai berikut:
·
Bidang perlapisan batuan.
·
Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan
dasar.
·
Bidang kontak antara batuan yang ratak-ratak
dengan batuan yang kuat.
·
Bidang kontak antara batuan yang dapat
melewatkan air dengan batuan yang tidak melewatkan air (kedap air).
·
Bidang kontak antara tanah yang lembek dengan
tanah yang padat.
Bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai
bidang luncuran tanah longsor.
M.
Penggundulan Hutan.
![]() |
Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul dimana
pengikatan air tanah sangat kurang.
N. Daerah Pembuangan Sampah.
Penggunaan
lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak dapat
mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah dengan guyuran hujan, seperti yang
terjadi di tempat pembuangan akhir sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana ini
menyebabkan sekitar ±120 orang
meninggal.
Mitigasi Tanah Longsor
Faktor-faktor kerentanan terhadap tanah longsor adalah lokasi, aktivitas manusia, penggunaan lahan, dan frekuensi terjadinya longsor. Efek tanah longsor terhadap manusia dan bangunan dapat dikurangi dengan cara menghindari daerah rawan, menyiarkan larangan, atau dengan menerapkan standar keselamatan saat berada di daerah tersebut.
Pemerintah daerah dapat mengurangi dampak kerugian longsor melalui kebijakan dan peraturan penggunaan lahan dan pembuatan peta rawan longsor. Setiap individu dapat mengurangi kemungkinan mereka terhadap bahaya dengan mendidik diri mereka sendiri tentang sejarah masa lalu tentang kebencanaan. Mereka juga dapat memperoleh layanan dari ahli geologi teknik, insinyur geoteknik, atau seorang insinyur sipil, yang dapat mengevaluasi potensi bahaya dari sebuah situs.
Bahaya dari tanah longsor dapat dikurangi dengan menghindari pembangunan di lereng curam dan potensi tanah longsor yang ada, atau dengan menstabilkan lereng. Stabilitas lereng ditingkatkan jika air tanah dapat dicegah agar tidak merembes ke dalam material lahan, dengan cara:
- Menutupi daerah rawan longsor dengan suatu lapisan kedap air,
- Menguras air tanah yang ada di daerah longsor,
- Meminimalisasikan pengairan permukaan, dan
- Struktur penahan dan/atau berat tanggul tanah/batuan ditempatkan pada kaki lereng.
1.1. Pencegahan
Terjadinya Bencana Tanah Longsor Sebagai Berikut:
·
Jangan mencetak sawah dan membuat kolom pada
lereng bagian atas di dekat pemukiman “buatlah terasing”
·
Segerah menutup ratakan tanah dan dipadatkan
agar air tidak masuk ke dalam tanah melalui retakan dan jangan melakukan
penggalian di bawah lereng terjal.
·
Jangan menebang pohon di lereng dan jangan
membangun rumah dibawah tebing.
·
Jangan mendirikan prmukiman di tepi lereng yang
terjal dan pembangunan rumah yang benar di lereng bukit.
·
Jangan mendirikan bangunan di bawah tebing yang
terjal dan pembangunan rumah yang salah dilereng bukit.
·
Jangan memotong tebing jalan menjadi tegak dan
jangan mendirikan rumah ditepi sungai yang rawan erosi.
1.2.
Parameter
Tanah Longsor.
Tanah longsor mudah terjadi pada tanah kohesif atau
berbutir halus dan pada saat jenuh air, karena pada saat harga kuat geser dan
kohesi terendah. Pada prinsipnya, tanah longsor terjadi bila gaya
pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Keadaan ini dikontrol oleh
morfologi (kemiringan lereng), jenis dan kondisi hidrologi atau tata air pada
lereng.
Meskipun suatu lereng rentan atau berpotensi longsor,
karena kondisi kemiringan lereng, batuan/tanah dan tata airnya, namun lereng
tersebut belum akan longsor atau terganggu kestabilannya tanpa dipicu oleh
proses pemicu.
Pemicu longsoran antara lain;
A). Peningkatan
kandungan air dalam tanah sehingga ikatan antara butir tanah dan akhirnya
mendorong butir-butir tanah untuk longso. Peningkatan kandungan air ini sering
disebabkan oleh meresapnya air hujan, air kolam/selokan yang bocor atau air
sawah kedalam lereng.
B). Getaran
pada lereng akibat gempa bumi ataupun ledakan, penggalian, getaran alat berat/kenderaan.
C). Peningkatan
beban yang melampaui daya dukung tanah atau kuat geser tanah. Beban yang
berlebihan ini dapat berupa beban bangunan.
D). Pemotongan
kaki lereng secara sembarangan yang mengakibatkan lereng kehilengan gaya penyangga.
Longsoran
salah satu jenis bencana alam yang sering dijumpai di indonesi, baik skala
kecil maupun besar. Upaya penanggulangan longsoran biasanya dilakukan setelah
terjadi, meskipun gejala longsoran dapat diketahui sebelum kejadian. Tanah
longsor adalah runtuhan tanah atau pergerakan tanah atau bebatuan dalam jumlah
besar secara tiba-tiba atau berangsur yang umumnya terjadi di daerah lereng
yang tidak stabil.
1.3.
Tinjauan
Umum Tentang Kerentanan Gerakan Tanah.
Berdasarkan mekanisme dan materialnya, maka gerakan tanah atau tanah longsor merupakan fenomena
alam yang lazim terdapat di indonesia.
Sejak lama fenomena ini sudah di kenal, yang menarik untuk diperhatikan adalah
bahwa penomena ini sering bertambah dan dimensinya-pun bertambah besar.
Pertambahan baik kualitas maupun kuantitas dari proses gerakan tanah ini justru
bersamaan dengan meningkatnya pembangunan di Indonesia.
No
|
Type
|
Subtype
|
Description
|
1.
|
Falls
|
-
Rockfall
(Bedrock)
-
Soifall (Loose material)
|
|
2.
|
Sllides
|
Rotational
|
-
Slump (Bedrock or cohesive units loose material)
|
Planar
|
-
Block-glide (Bedrock or cohesive units loose
material)
-
Rockslide (Bedrock)
-
Dedris slide (Loose material)
|
||
3.
|
Flows
|
Dry
|
-
rock avalanche
-
Sand run
-
Loes flow
|
Moderately wet
|
-
Dedris avalanche
-
Earth flow
|
||
Very wet
|
-
Sand or silt flow
-
Dedris flow
-
Mud flow
|
Tabel 2.1; Klasifikasi Gerakan Tanah.
Bentuk Informasi ini diwujudkan dalam suatu peta zona kerentanan gerakan
tanah. Sehingga informasi tentang kerentanan gerakan tanah dapat digunakan
sebagai informasi awal untuk analisa resiko terjadinya bencana dan analisa
penanggulangan bencana sebagai acuan dasar untuk pengembangan wilayah berikut
pembangunan instruktur. Lingkungan kegiatan dalam pemetaan zona kerentanan
tanah.
1.
Persyaratan teknik, yaitu;
Persyaratan pete dimana pete tematik dan pete sebaran gerakan tanah
disyaratkan mempunyai skala yang sama dan terditasi dalam bentuk poligon.
Pembagian zona kerentanan gerakan tanah, zona kerentanan gerakan tanah
sangat rendah, rendah, menengah, dan tinggi.
2.
metode pemetaan zona kerentanan gerakan tanah. Metode
analisis yang dipergunakan adalah metode analisis gabungan antara pemetaan
tidak langsung dan pemetaan langsung. Pekerjaan ini menggunakan Sistem
Informasi Geografis (SIG).
Kerentanan gerakan tanah dipengaruhi oleh beberapa
faktor, diantaranya sebagai berikut:
a). Geometri Lereng.
Kemiringan
dan ketinggian suatu lereng, sangat mempengaruhi kemantapannya. Semakin besar
kemiringan dan ketinggian suatu lereng, maka kemantapannya kurang dukung.
b). Morfologi.
Morfologi
yang dimaksud adalah keadaan fisik, karakteristik, dan bentuk permukaan bumi.
Keadaan morfologi suatu daerah akan mempengaruhi kemantapan lereng. Hal ini di
sebabkan karena morfologi sangat menentukan laju erosi, pengendapan, menentukan
arah aliran tanah, air permukaan, dan mempengaruhi pelapukan batuan.
c). Struktur
Geologi.
Struktur
geologi yang sangat mempengaruhi kemantapan lereng adalah bidang-bidang sesar,
perlapisan, dan kekar (joint). Bidang struktur geologi tersebut, merupakan
bidang lemah (diskontinuitas) dan tempat merembesnya air yang menyebabkan
lereng lebih mudah longsor.
d). Iklim.
Iklim
juga mempengaruhi kemantapan suatu lereng. Hal ini disebabkan karena iklim
mempengaruhi perubahan temperatur, jumlah hujan pertahun, dan iklim juga
mempengaruhi tingkat pelapukan, maka kekuatan batuan atau tanah menjadi
semaikin kecil.
e). Sifat
isik Dan Mekanik.
Sifat
fisik batuan yang mempengaruhi kemantapan suatu bobot isi, porositas, dan
kandungan air. Kuat tekan, kuat tarik, kuat geser, dan sudut geser dalam batuan
atau tanah semakin kecil.
f). Air
Tanah.
Dengan
adnya air di dalam batuan atau tanah, akan menimbulkan tekanan air pori. Tekanan air pori akan mengakibatkan
kuat geser batuan menjadi kecil akan mudah longsor. Semakin banyak jumlah air
dalam batuan, maka tekanan air pori
juga bertambah besar.
g). Air
Hujan.
Dengan
adanya air hujan, akan mempercepat terjadinya erosi dan biasanya menggerogoti
bagian lapisan yang lama, sehingga membentuk pada muka lereng. Disamping itu,
air hujan juga mengisi rekahan-rekahan yang ada akibat lereng akan lebih mudah
longsor.
VIDEO VISUAL dan DAFTAR PUSTAKA DARI BERBAGAI SUMBER
Komentar
Posting Komentar