Kekuasaan dalam Perspektif Islam
PENYELEWENGAN KEKUASAAN DIDALAM
PERSPEKSTIF ISLAM
Oleh : M. Anwar Siregar
Kecenderungan
pemimpin pada abad modern ini dalam mengendalikan kekuasaan cenderung
menyelewengkan kepercayaan masyarakat dengan buktikan dengan munculnya korupsi
yang marajelela dengan diiringi maraknya orang terdekat akan memimpin kekuasaan
diberbagai lapisan sistim pemerintahan dari suatu Negara seperti yang kita
lihat di Indonesia
agar dominasi kekuasaan tetap berlanjut.
Dalam pemilihan
kepala pemerintahan daerah baik walikota maupun bupati di Indonesia sering terdengar politik
uang yang tergolong penyuapan yang sangat dilarang keras oleh hokum positif dan
hokum agama. Korupsi-korupsi yang terjadi di Indonesia telah mengaburkan
nilai-nilai kemanusian, hati nurani seperti sudah tertutup, korupsi termasuk
dalam perbuatan penipuan terhadap rakyat dan memanipulasi aspirasi rakyat,
pencurian terhadap hak-hak rakyat dan mengkhinati amanah rakyat.
Dalam hadist
Rasulullah yang diriwayatkan kepada Bukhari dan Muslim “seorang hamba yang dianugerahi
Allah jabatan kepemimpinan, lalu dia menipu rakyatnya, maka Allah
mengharamkannya masuk surga”.
SOSOK PEMIMPIN
keberadaan
seorang pemimpin merupakan hal yang paling dibutuhkan dalam tatanan masyarakat,
tak bisa dielakan lagi, pemimpin merupakan penentu maju mundurnya sebuah
Negara. Pemimpin merupakan suatu variable keberhasilan untuk pembaharuan
masyarakat. Karenanya rakyat memerlukan seorang pemimpin dengan cara menunjuk
dan mengangkat seorang pemimpin untuk mewujudkan kemashalatan rakyat. Untuk itu
seorang pemimpin harus memiliki kemampuan dan sumber daya yang memadai dalam
rangka mewujudkan cita-cita bangsanya. Para
pemimpin formal ini telah digaji dengan uang rakyat tetapi telah banyak
melakukan penyuapan kekuasaan. Pemimpin formal ini dapat diangkat diberhentikan
secara konstitusi di suatu negara.
Penyimpangan
kekuasaan yang dilakukan oleh para elite bangsa berupa pelepasan nilai-nilai
religius agama, sehingga dianggapnya tidak berguna lagi, ini bisa kita lihat
dalam kehidupan sehari-hari, seorang pemimpin seenaknya mengeluarkan gagasan
untuk menaikkan harga barang-barang yang sensitive bagi rakyat, sedang Dia
(sipemimpin) hidup berfoya-foya, kemana-mana naik mobil mewah dengan
memanfaatkan fasilitas negara, memotong anggaran negara untuk kepentingan
pribadi. Seharusnya seorang pemimpin adalah sosok yang harus memberi atau lebih
tepatnya melayani untuk kepentingan umum, dengan memahami berbagai keinginan
dan menampung aspirasi rakyat agar dapat dijadikan acuan pokok dalam bersikap
dan bertingkah laku. Apa yang diinginkan oleh masyarakat harus dipenuhi, bukan sebaliknya, mau dilayani
dengan memberi pesogok agar selalu urusan dapat lekas selesai.
Padahal, Allah
telah berfirman melalui Al Qur’an “Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman
(syirik) mereka itulah orang-orang mendapat keamanan dan mereka itulah
orang-orang mendapat petunjuk” (QS. 2.82). Kebiasaan buruk ini kadang-kadang
membawa masyarakat jadi kesal. Memberi pesogok alias suap dikategori haram, sabda
Nabi Muhammad SAW “Penyuap dan penerima suap masuk neraka”.
Tetapi manusia
atau pemimpin diabad modern ini, banyak telah melupakan hal tersebut diatas,
terutama di Indonesia.
Sifai moralitas para tokoh dan integritasnya dalam membangun suatu masyarakat yang
mulai bertolak belakang dari ilmu yang dimiliki oleh mereka, lebih banyak tidak
professional dan kurangnya integritas yang dapat mengakibatkan hancurnya Negara
seperti yang kita alami sekarang krisis multidimensi.
Bila krisis
moralitas bangsa ini berlangsung,dipastikan Negara akan krisis jilid II dan
neraka menurut Al Qur’an akan dipenuhi dengan bahan bakar berupa manusia dan
jin karena jumlah mereka penuh sesak dan tumpang tindih. Dengarlah dan baca Al
Qur’an surat
Shad ayat 85 yang berbunyi “Pastikan Kupenuhi neraka dengan jenismu dan
orang-orang diantara mereka yang mengikutimu semuanya”. Ini bila manusia
mengikuti iblis sebagai kawan, yang mengakibatkan surga longgar karena sedikit
manusia., seperti surat
Qof ayat 30 “Ingatlah suatu hari kami akan bertanya kepada mereka “Sudah
penuhkah kamu?” Dan neraka bertanya kembali “ Adakah tambahannya”?
Sifat
kecongkakan seorang pemimpin sangat berbahay apalagi melakukan tindakan
kezaliman seperti pelanggaran HAM. Dalam surat
Yunus ayat 44 “sungguh allah tiada sedikitpun menganiaya manusia, tetapi
manusia menganiaya dirinya sendiri”.
Untuk itu
diperlukan sosok pemimpin yang bertanggung jawab dan mengedepankan Iman. Yang
dijabarkan Al Qur’an dalam QS 3 : 159 “Maka disebabkan rahmat Allah –lah kamu
berlaku lemah lembut terhadapmereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati
kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu,
maafkanlah mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.
Kemudian apabila kamu membulatkan tekat, maka bertawallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadanya”.
Pemimpin harus
mampu tampil dalam menciptakan kesejukan dalam pergaulan hidup, lembut dan
indah sesame serta belajar mencontoh kepemimpinan Rasulullah SAW sekaligus
dapatmenghilangkan sifat sombong, arogan, keras kepala, selalu menolak
kebenaran dan meremehkan orang lain.
KEKUASAAN PEMIMPIN
Dalam suatu
negara yang menganut sistim demokrasi maka selalu terjadi pergantian pemimpin.
Didalam tatanan kehidupan manusia hidup berkelompok, atau hidup bermasyarakat,
didalam kelompok ini akan terjadi perbedaan-perbedaan pandangan dalam sistim
hidup bermasyarakat. Dalam perbedaan inilah yang akan dicarikan solusi
pemecahannya untuk membentuk tatanan yang ideal dan dijadikan dasar tetap bagi
sebagian besar masyarakat (komunitas) didalam negara sebagai ideologi suatu
bangsa.
Ideologi inilah paling banyak mengundang konflik
dalam suatu pemerintahan sebuah negara. Manusia menyebutnya ideologi itu adalah
Demokrasi yang kata asalnya berasal dari demos dan kratoes dari bahasa Yunani
(Greek). Yang mengandung arti bahwa pemerintahan berdasarkan pada suara rakyat,
untuk rakyat, yang katanya mampu mengakomodasi suara rakyat.
Namun kenyataan yang kita lihat sekarang,
demokrasi banyak disalahgunakan, seperti kebebasan salah satu kaum, misalnya kaum homoseks untuk dapat
berpasangan khalayaknya suami istri. Ini tidak lepas dari hukum legalitas dalam
sistim demokrasi yang ada di barat. Melalui perjuangan diparlemen mala
dilegalkanlah kebebasan berpasangan suami istri alias berhomoseks. Dan umumnya
lebih banyak negara di negara barat yang katanya nenek moyangnya Demokrasi.
Dalam sistim pemerintahan dalam syariat islam akan
sangat kontras dengan demokrasi barat yang telah mengalami kerancuan. Dalam
demokrasi barat apa yang diharamkan oleh agama maka akan diganti menjadi halal,
sebagai contoh aborsi dilegal untuk membunuh janin bayi berdosa, masih banyak
contoh realitas bentuk dari demokrasi barat yang berpedoman banyak pada
pemikiran filosofit manusia yang memiliki keterbatasan.
Yang sangat berbeda dengan sistem pemerintahan
islam yang bersumber langsung dari firman Allah yang terangkum dalam kitab suci
Al Qur’an. Penyimpangan kekuasaan dalam sistem pemerintahan untuk mengatur
tatanan hidup bermasyarakat dan berbangsa tersebut seperti diatas dengan model
barat, syariat islam melarang keras perintah hukum tersebut diatas. Karena
syariat islam didalam mewujutkan pemerintahan dan kekuasaan yang bersih yang
intinya berasal dari perintah Allah melalui Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah
sebagai tuntunan hidup bermasyarakat.
Untuk itu para pemimpin muslim harus berpedoman
pada perintah Allah melalui Al Qur’an dan Sunnah serta tidak mencampuradukkan
kekuasaan itu untuk melegalitaskan sesuatu yang dilarang oleh agama. Dan
kekuasaan itu jangan diselewengkan karena merupakan amanah rakyat, agar
para pemimpin kita mendapat petunjuk dan
ridha Allah seperti telah disebut dalam Al qur’an QS 6:82 diatas.
AMANAH KEKUASAAN
Etika diri dalam melaksanakan kekuasaan harus
dilaksanakan sebaik-baiknya, karena etika itu merupakan ilmu, dengan etika itu
kita harus mewujutkan ajaran dan nilai moralitas. Dengan etika selalu
menekankan kewajiban manusia untuk selalu bertindak baik, salah satunya
melaksanakan amanah kekuasaa yang diberikan oleh rakyat sebaik-baiknya bukan
sebaliknya seenaknya menyelewengkan kekuasaan itu sebagai miliknya sendiri.
Amanah yang diberikan oleh masyarakat terhadap
pemimpin sungguh besar dan mulia, ia harus memiliki determinasi yang tinggi
dalam mengurus rakyat dan negara dan harus mampu menahan godaan untuk melakukan
korupsi yang dapat menyusahkan rakyat,
dengan kata lain ia harus memberi pelayanan yang baik dapat menghasilkan
kepuasan bagi semuanya.
Karena sudah terbukti bahwa korupsi atau di Indonesia
dikenal dengan KKN telah mampu membuat kehidupan negara seperti hidup di
neraka, karena itulah Nabi mengingatkan ”Sesungguhhnya kehancuran umat
terdahulu disebabkan karena bila penguasa (orang kuat) yang mencuri hukum
diabaikan dan bila suara rakyat kecil yang mencuri hukum ditegakkan. Demi Allah
, jika Fatimah binti Muhammad mencuri akan aku potong tangannya”. Untuk itu
seorang pemimpin harus melaksanakan amanah yang diberikan dan tidak
mengkhianati amanah itu, seperti salah satu hadist Nabi Muhammad SAW
”Laksanakan amanah kepada orang yang memberikan kepadamu dan janganlah kamu
melakukan pengkhianatan, sekalipun terhadap orang pernah mengkhianatimu”. Dan
firman Allah ”Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
taqwa, dan jangan tolong menolong dalam beerbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertaqwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS 5 : 2).
Penutup
tulisan ini, ada baiknya pemimpin di abad sekarang lebih memusatkan pada
pengendalian hawa nafsu terhadap kezaliman karena inilah penyebab dunia semakin
jauh dari kedamaian. Apalagi di Indonesia kejahatan KKN telah termasuk
kejahatan yang luar biasa telah mengakibatkan negara ini telah tergadai
Dimana-mana di bumi telah terjadi perang dan kepentingan kekuasaan yang
dilakukan barat yang mengakibatkan timbulnya kematian yang sia-sia karena
kekuasaan telah dijadikan milik sendiri, padahal kekuasaan manusia itu adalah
titipan dati tuhan. Dengan
kata lain kekuasaan itu milik Tuhan Yang Maha Esa.
Tulisan ini sudah dipublikasi di Harian
ANALISA MEDAN, Maret 2005
Dipublikasi Ulang lagi, pemimpin di Indonesia bagaimana?
Komentar
Posting Komentar