Tata Ruang Bencana
TAJUK PALUEMASGEOLOG 12
PETA MITIGASI TATA RUANG BENCANA
Membuat suatu wilayah atau kota yang bebas dari bencana alam adalah sesuatu
yang tidak mungkin karena bencana alam berkaitan dengan proses alam yang tidak
bisa dihindari. Yang dapat dilakukan adalah meminimalkan dampak yang
ditimbulkan oleh bencana alam melalui upaya mitigasi, diantaranya adalah
penyediaan sistem peringatan dini (early warning system) dan penataan
ruang wilayah/kota yang berbasis pada kerentanan terhadap bencana alam.
Mitigasi bencana merupakan upaya preventif yang harus diterapkan di lokasi
rawan gempa
dan tsunami. Untuk kelancaran upaya mitigasi maka harus diperhatikan sarana
dan prasarana transportasi yang ada pada kawasan permukiman di sekitar pantai
yang rawan bencana sampai ke tempat evakuasi yang dianggap aman dari bencana.
Dengan demikian, korban jiwa dan kerugian materi seperti yang terjadi di pantai
Barat Sumatera yang diakibatkan gempa dan tsunami dapat diminimalkan.
DATA GEOLOGI KOTA
Menurut
pengalaman sebelumnnya maupun sekarang dan mungkin di masa depan, bahwa masih
banyak kalangan masyarakat masih menganggap data Badan Geologi untuk penyusuan
data tata ruang wilayah Industri, pemberian konsesi penembangan hutan atau
pembangunan proyek properti tidak mengacu pada data yang valid
Sebaliknya, justru pihak lain di luar negeri yang banyak menggunakan hasil penelitian atau data-data Badan Geologi. Salah satu conoth misalnya, Kaltim Prima Cola (KAP), investor produsen batubara di Kalimantan Timur, justru mengawali investasinya dan menemukan cadangan batubara yang besar di Kaltim dari hasil penelitian Badan Geologi. “Pada awalnya, mereka mlihat dan memepelajari bebataun di musim kami.Setelah itu diperkuat dengan data lapangan, dan jadilan KPC seperti sekarang,” aku Djajang.
Sebaliknya, justru pihak lain di luar negeri yang banyak menggunakan hasil penelitian atau data-data Badan Geologi. Salah satu conoth misalnya, Kaltim Prima Cola (KAP), investor produsen batubara di Kalimantan Timur, justru mengawali investasinya dan menemukan cadangan batubara yang besar di Kaltim dari hasil penelitian Badan Geologi. “Pada awalnya, mereka mlihat dan memepelajari bebataun di musim kami.Setelah itu diperkuat dengan data lapangan, dan jadilan KPC seperti sekarang,” aku Djajang.
DATA INVESTASI
Badan
Geologi sekarang ini berbeda dengan sebelumnya, saat ini Badan Geologi memiliki
tugas yang lebih komplek. Dahulu Badan Geologi memiliki ruang lingkup yang
cenderung kearah pertambangan, seiring dengan perkembangan zaman Badan Geologi
mulai mendukung kegiatan-kegiatan minyak dan gas bumi dan kegiatan lainnya,
ujar Menteri ESDM dalam sambutannya pada acara “Coffee Morning”
sekaligus Penyerahan Data-Data Hasil Kegiatan Badan Geologi, Kamis (13/8).
Diungkapkan Menteri ESDM, Perkembangan kegiatan geologi sekarang ini sangat
pesat, beberapa kepentingan-kepantingan nasional sudah menggunakan data-data
geologi sebagai referensinya, seperti tata ruang dan kegiatan pengembangan
minyak dan gas bumi, panas bumi serta kebencanaan
Data-data
geologi sangat diperlukan untuk mengurangi resiko investasi dan bagi siapa saja
yang memerlukan dukungan data–data geologi dapat menghubungi Badan Geologi
ESDM, papar Kepala Badan Geologi, R Sukhyar.
Menurut
Kepala Badan, diperlukan sinergi antara pengembang dengan Badan Geologi untuk
sharing informasi bagi kepentingan bersama. Untuk itu lanjut Beliau, Badan
Geologi sudah mengirimkan surat kepada perusahaan-perusahaan terutama yang
bergerak pada pengembangan Coal
Bed Methane (CBM),
jika ada kegiatan program lapangan (drill) agar melibatkan Badan
Geologi untuk melakukan pengambilan sample dan menganilisis baik di lapangan
maupun di lab sehingga informasi yang didapatkan lebih utuh, hal ini berguna
untuk semua pihak yang berkepentingan.
PENTING
PETA SEISMOTEKTONIK
Peta Seismotektonik adalah suatu peta yang
menggambarkan hubungan struktur geologi/tektonik dengan kegempaan di suatu
daerah yang juga memperlihatkan pengaruh-pengaruh bencana gempa bumi seperti
pergeseran tanah (ground faulting), goncangan tanah (ground shaking) beserta
bencana ikutannya seperti gerakan tanah (land slides) dan pelulukan
(liquefaction), serta bencana tsunami, yang mencerminkan tingkat kerusakan.
Peta Seismotektonik menyajikan tiga jenis
peta, yaitu: Peta Sebaran Batuan, Peta Neotektonik dan Kegempaan, dan Peta
Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi. Peta Sebaran Batuan mencerminkan sebaran
batuan tertua sampai termuda (pra Tersier, Tersier, Kuarter, dan Holosen atau
Resen). Peta Neotektonik dan Kegempaan mencerminkan hubungan antara neotektonik
dan kejadian gempa. Deformasi dimulai dari Plio-Plestosen sampai Resen, serta
menggambarkan sebaran gempa bumi. Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi
menggambarkan sebaran kepadatan penduduk, sebaran kota dan desa, jaringan
jalan, prasarana umum penting lainnya dan kontur ketinggian. Peta ini juga
menggambarkan kerawanan bencana seperti kemungkinan-kemungkinan pergeseran
tanah, goncangan tanah, gerakan tanah, retakan tanah, pelulukan tanah, dan
kontur tingkat kerusakan dari skala Mercalli (MMI).
Peta Seismotektonik merupakan peta geologi
bertema yang bertujuan untuk menyajikan data tekntonik, kegempaan dan bencana
ikutannya yang dapat digunakan untuk keperluan geologi teknik, pengembangan
wilayah, penataan ruang, pembangunan kembali suatu daerah akibat terlanda
bencana gempa bumi dan lain-lainnya. Peta ini dibuat pada skala 1 : 250.000 dan
atau skala yang lebih besar.
Proyek ini akan memberikan manfaat: (1)
adanya penetapan yang jelas terhadap batas kawasan rawan bencana, (2)
tersedianya data luas dan persebaran daerah rawan bencana seluruh Indonesia,
(3) adanya standarisasi tentang spesifikasi dan klasifikasi data kebencanaan,
(4) menjaga integritas dan konsistensi data kebencanaan, (5) mengurangi
duplikasi data kebencanaan, (6) basisdata dalam format digital memudahkan dalam
pemanggilan kembali, up dating, dan penyimpanan, (7) mampu
mengorganisasikan dan mengelola data kebencanaan yang jumlahnya sangat besar,
(8) mengintegrasikan semua pekerjaan yang berkaitan dengan manajemen bencana di
bawah satu kendali, (9) memungkinkan untuk akses data secara simultan, dan (10)
publikasi di internet memungkinkan data dapat diakses oleh siapa saja dan
dimana saja dengan program aplikasi browser internet (Internet Explorer,
Netscape).
KEUNIKAN LINGKUNGAN INDONESIA
Dari perspektif inilah, pemerintah harus
menyusun UUTR secara komprehensif dengan melihat faktor-faktor geologis dan
geofisis Indonesia. Dalam penyusunan UUTR tersebut, misalnya, perlu
diperhatikan tata ruang berbasis bencana. Ini artinya, UUTR tersebut harus
mempertimbangkan peta geo-spasial yang meliputi aspek geologi, penyebaran
penduduk, dan garis patahan lempeng bumi. Dalam kaitan ini, misalnya,
undang-undang tata ruang pusat perekonomian, lokasi permukiman, daerah
perkantoran, dan kawasan industri harus mengacu pada peta geo-spasial.
Keunikan lingkungan geologis Indonesia yang
disertai dengan kompleksitas pemukiman penduduk secara umum telah meningkatkan
jumlah bencana dengan kecenderungan dampak yang signifikan terhadap penduduk
(misalnya, korban jiwa maupun kerugian ekonomi). Meskipun peristiwa-peristiwa
alam yang menyebabkan bahaya tidak dapat dihentikan, tingkat konsekuensi dapat
diminimalkan atau bahkan dihindari melalui kesiapsiagaan dan ketahanan
masyarakat yang lebih baik. Secara keseluruhan, penduduk Indonesia menghadapi
risiko yang lebih tinggi akibat kerawanan yang meningkat dan ketahanan yang
menurun.
Agar pembangunan di suatu kawasan dapat berjalan optimal dan berkelanjutan,
terlebih dahulu harus dilakukan survei untuk menyediakan data dan informasi
yang berkaitan dengan faktor-faktor geologi bahwa Indonesia merupakan negeri rawan bencana
sehingga perlu dibentuk karakter bangsa yang mampu merespons bencana dengan
benar. Sifat-sifat kearifan
lokal yang terjadi secara turun temurun juga harus dipertahankan dalam upaya menuju
harmonisasi dengan bencana. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama diantara
pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta serta masyarakat. Untuk
bersama-sama berkolaborasi memformulasikan dan mengimplementasikan rencana
tindak (action plan).
Dengan berkembangnya teknologi geomatika, sumber
data geospasialpun dapat beragam bentuknya. Selain peta dasar digital, foto
udara skala besar (small format) mosaik, citra satelit resolusi tinggi,
maupun data posisi GPS dan peta jalan kota merupakan sumber yang data yang
sangat penting. Kemampuan untuk menggabungkan data multi-skala dan multi-sumber
menjadi suatu basis data hirarkis yang nampak tak berbatas (seamless) di
mata pengguna, merupakan prasyarat penting dalam penyediaan data untuk
kepentingan daerah dalam pengurangan resiko bencana dan adaptasi perubahan
iklim.
Disari dari berbagai literatur.
Komentar
Posting Komentar