Disintegrasi Bangsa
DISINTEGRASI, ETIKA DAN INTEGRASI
BANGSA
Oleh : M. Anwar Siregar
Eskalasi politik
Indonesia
kini memasuki periode yang sangat menentukan bagi kelangsungan pemerintahan presiden
Abdurrahman Wahid, demo dan unjuk kekuatan dan dibarengi intimidasi bagi anggota
dewan telah melewati rasa toleransi yang pernah dimiliki bangsa ini menjadi
sebuah teror yang sangat menakutkan bagi keselamatan bangsa ini.
Pergunjingan,
pertikaian, perdebatan dan pemberontakan sepertinya tak sanggup diselesaikan
oleh presiden Indonesia ini
yang lebih senang bepergian ke luar negeri, rencana terakhirnya ia mau ke Australia walau sudah dilarang keras ia masa
bodoh (dengan diucapkan dengan persetan dengan mereka, saya tetap kesana – Australia).
Sedang masalah yang sangat mendesak seperti terus meningkat tajam bukannya
menurunkan suhu yang sudah panas, negeri ini sepertinya tinggal didalam neraka
dan diperparah lagi oleh para elite cuma banyak omong kosong.
DISINTEGRASI
Pergolakan di
daerah-daerah yang ingin menuntut keadilan dan kemakmuran akibat kezaliman Jakarta dengan melepaskan
diri dari NKRI seperti yang sudah bergolak sampai terdapat pengungsian terbesar
di negeri tetapi dalam suatu negara dan selain itu perang berlangsung di Aceh,
Irian Jaya dan ancaman kemerdekaan juga tak luput dari Riau. Perubahan di era
reformasi ini ditimbulkan oleh produk rezim orba yang mengurus negara dengan
menempatkan daerah sebagai sub ordinasi kekuasaan sentralistik pusat. Yang memberlakukan
kinerja politik yang menempatkan negara sebagai aktor tunggal dalam proses
politik, yang menempatkan peran sentral biokrasi sipil dan militer dalam proses
politik, korporatisasi negara atas beberapa kelompok masyarakat, serta melakukan
marjinalisasi lembaga-lembaga negara dan perwakilan rakyat agar tak terlalu berkuasa
dan kooptasi atas elit politik agar mendukung rezim orba di satu pihak dan
refresi atas oposisi di lain pihak (lihat, ketika anggota dewan bersidang umum
yang terkenal dengan sebutan 4 D).
Memang
akhir-akhir ini, Persatuan Indonesia
diuji melului pertikain agama dan antar etnis. Meskipun nilai persatuan kita
telah diremuk redam oleh pihak tertentu. Namun tetap terjadi kasus-kasus yang
dating lebih dahsyat daripada bencana alam dari sebelimnya mengantarkan rasa
persatuan bangsa yang kian menipis, dan kemampuan pemerintah dalam
mengendalikan kejadian yang berlangsung tak mempunyi solusi untuk
mengendalikannya, yang lebih hangat sekarang mempersiapkan seperangkat
persiapan operasi militer terbatas untuk para separatisme yang juga ikut
membuat hidup rakyat semakin menderita.
ETIKA POLITIK
Keadaan social
politik di Indonesia
semenjak reformasi ditandai oleh dua gejala yang sangat mencolok dalam tingkat
laku politik masyarakat, yaitu kebebasan di satu pihak dan kekerasan dipihak
lainnya. Intensitas partisipasi masyarakat di politik harus dilihat sampai
seberapa jauh masyarakat itu melakukan tanggung jawab dan control social
terhadap pelbagai kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah yang berakibat
factor mobilisasi massa
yang bersifat menentukan terutama Negara berkembang yang lepas dari
pemerintahan otoriter.
Eskalasi politik
yang kini meruncing antara para elite politik, menyeret massa pendukung untuk saling menunjukkan
kekuatan masing-masing. Demonstrasi adalah salah satu cara untuk membuktikan
hal tersebut. pawai kekuatan ini sekarang telah menunjukkan bahwa kemampuan
para elite dalam mengendalikan massanya sangat rendah, seperti dilakukan
pendukung Presiden Abdurrahman Wahid dengan pasukan berani mati, etika pekerti
budi yang kini semakin menipis, apalagi disertai dengan ancaman, terror, pamer
diri dengan benda-benda tajam telah menimbulkan rasa yang tidak aman bagi
rakyat yang sudah luntang-lantung kehidupannya. Namun, persoalan ini dianggap angina lalu dengan sikap yang tidak tegas. Dimana
sikap etika politik yang dimiliki para pemegang kekuasaan politik negeri ini?
Sekali lagi seperti kita ketahui, sejak orde baru
ditumbangkan oleh demokrasi mahasiswa yang dipicu oleh krisis ekonomi dan
kepercayaan terhadap pemerintah telah menimbulkan gelombang euforia demokrasi
politik tanpa berlandaskan pada etika yang berlaku pada tatanan hidup
bermasyarakat. Setiap demokrasi akan menimbulkan pertentangan dan kepentingan
bagi para partai politik, yang pada akhirnya bermuara pada satu tuntutan
kepentingan yang kemudian diperdebatkan secara konfrontasi, yang menimbulkan
pro dan kontra. Maka akan terbentuk opini dari kedua belah pihak saling
mengklaim diri untuk unjuk kekuatan. Unjuk kekuatan inilah memicu dengan
terjadinya aksi-aksi massa secara besar-besaran akibat dari perseteruan para
elite politik.
Etika politik dan landasan yang menganut prinsip
demokrasi seperti tak digubris lagi. Padahal ketika mereka selama dalam kran
tertutup demokrasi, jarang berbuat atau berperilaku anarkis, beruntal dan
membahayakan diri dan orang lain. Sebaliknya, bersikap santun, ramah. Ini
berlangsung selama pemerintahan otoriter yang berkuasa.
Etika berpolitik terimbaskan dari kebiasaan yang
juga berlangsung dalam hidup bermasyarakat, budaya disiplin dan tertib
peraturan hukum belum membudayakan dalam kehidupan bangsa ini. Namun ketika
kran demokrasi dibuka, maka muncullah sikap yang tidak eganliter, muncullah
kata-kata saling menghujat, kultur adat timur terlupakan. Perilaku politik yang
dilakukan oleh para elite bukan politik bela rakyat atau negara, tetapi politik
pembelaan diri yang hampir seyiap hari kita lihat dengan diiringi oleh maraknya
aksi-aksi yang berwajah unjuk rasa yang semakin membesar dan kadang-kadang
membuat keonaran dan kekerasan.
Bila dilihat dari etika politik, maka akan tampak
kurangnya kesadaran perilaku sopan santun, baik dalam bersikap maupun dalam
berucap kata-kata, semua hanya ingin membalas dendam ataupun saling menjatuhkan
lawan politik, yang belum dilakukan adalah ”berkelahi di ring” secara langsung
(benturan fisik) seperti yang pernah terjadi di palemen Taiwan ataupun juga
Korea, ini tidak terdapat didalam demokrasi. Karena perbedaan pendapat dalam
demokrasi adalah wajar, dan harus dicari titik temunya agar terjadi keselarasan
visi dan misi, bukan sebaliknya.
Perilaku para elite politik ini menimbulkan suatu
pertentangan dan juga menimbulkan kekacauan diakibatkan oleh terbentuknya dua
kubu yang berlawanan. Perlaku ini adalah contoh terburuk dalam proses
pendidikan demokrasi di Indonesia.
Kini setelah Indonesia diambang disintegrasi pintu
yang terbuka lebar, seharusnya elite politik dapat bersikap lebih arif dengan
menunjukkan keteladanannya sebagai orang-orang yang terpelajar dan terpilih
dalam menyuarakan dan membela kepentingan rakyat, bukan seperti sekarang ini
menginginkan jabatan menteri tetapi diselewengkan.
INTEGRASI
Setelah pergolakan di daerah yang diakibatkan
lemahnya fundementalitas dan perimbangan ekonomi untuk setiap porsi pembangunan
yang tidak adil, kini mulai hancur adalah intergritas bangsa (persatuan
bangsa). Disntegrasi disebabkan oleh faktor tersebut diatas juga diperuncing
oleh etika politik dari kalangan politik, dan juga dimulai oleh unsur-unsur
integritas yang mulai tergoyang karena sudah terjadi pertentangan antar etnis,
golongan dan agama yang menjadi isu nasional.
Salah satu krisis krusial di tanah air selain
krisis ekonomi moneter adalah gejala melemahnya persatuan (integrasi),
kelihatannya bangsa Indonesia semakin rentan terhadap bisik-bisikan, sekelompok
orang yang bertujuan memecah belah. Persatuan Indonesia yang terkenal dengan
semboyan Bhinneka Tunggal Ika kini tinggal slogan, karena negeri ini tak
mengenal persatuan yang tinggi.
Keteherogenan Indonesia, sadar ataupun telah
dimanfaatkan oleh sekelompok tertentu atau bahkan negara lain yang sangat
berkepentingan seperti negara-negara barat, dan Jepang yang ingin menguasai
bidang strategis seperti pertambangan, minyak dan gas bumi. Telah lama kita
menyadari bahwa eksistensi tanah air cukup rentan dengan persoalan SARA untuk
dijadikan alasan meretakan dan memecah belah bangsa/persatuan. Namun,
seharusnya dengan kesadaran saja tidak menjamin bahwa persatuan itu akan
meningkat ataupun menjaga kestabilan.
Fenomena yang sangat kompleks dengan pertikaian
baik yang bersifat ideologi, perasaan yang dilatar belakangi oleh masalah etnis
dan semangat nasionalisme atau usaha seperatisme serta perbedaan-perbedaan
agama, gagasan-gagasan tentang partisipasi politik yang berubah dengan cepat
juga menambah tingkat gangguan integrasi negara dan perselisihan terutama
karena penetrasi lembaga-lembaga modern ke dalam masyarakat yang tidak merata.
Selain itu, gagasan tentang apa yang menurut pikiran rakyat dapat dicapai
dengan politik mulai melampaui jangakauan kemampuan lembaga-lembaga untuk
menggapai tujuan mereka. Akibatnya, frustasi, kemarahan, agresi dan pada
umumnya meningkatnya kenaikan instabilitas politik dan persatuan (integrasi)
negara.
Dapat kita lihat sekarang, bahwa integrasi yang
dimiliki bangsa ini telah berubah ke peta kehidupan yang saat ini menunjukkan
kurva distorsisme (pergeseran). Nilai-nilai demokrasitasi dan arah reformasi
kepada pembodohan dan kebiadaban sebuah negara yang serakah dan yang
mengerikan, akibat hilangnya norma luhur sebuah negara yang menghargai sikap
sopan santun dengan tradisi ketimuran.
PENUTUP
Berpulang pada diri sendiri, apakah menginginkan
negara ini hancur atau lebih menginginkan demokrasi tumbuh lebih baik tanpa
saling menghujat, tidak ada tindakan kekerasan tanpa mengarahkan kekuatan
massa, mau berdialog dengan kultur ketimuran yang menjaga adat kesopanan,
soalnya negeri ini, simbol-simbol intergritasnya mulai luntur, karena lem
perekat kita selama ini telah retak akibat budaya atau etika yang semaunya (mau
menang sendiri), dan emangnya gue pikirin telah menimbulkan kehancuran bangsa.
Seperti anda lihat, disintegrasi itu akibat ketidakadilan dan keserakahan
seperti koruptor, pelanggaran HAM dan lain-lain sebagainya.
Diperlukan perbedayaan dan proses pembelajaran
serta etika politik demokrasi secara bertahap tanpa menutup kran demokrasi itu,
dan para elite politik berhentilah bersikap arogan terhadap rakyat dan pemegang
kekuasaan hentikan intervensi kekuasaan atas supremasi hukum serta pejabat yang
diberikan jabatan pemerintahan oleh rakyat anggap sebagai amanat yang harus
dipertanggungjawabkan sebaik-baiknya. Semoga bangsa kita bangkit dari
keterpurukan dan kemerosotan moral dan kehancuran disintegrasi dan integrasi
dapat terkendalikan dan menuju bangsa yang lebih beradab dan maju.
Diterbitkan Harian ANALISA MEDAN Tgl 16 Juni 2001,
dipublikasi mengingat adanya kesamaan (sebagian) watak para elite bangsa dalam
kondisi berbangsa saat ini)
Komentar
Posting Komentar