Fenomena Banjir dan Longsor
FENOMENA
BANJIR DAN LONGSOR
Oleh M.
Anwar Siregar
Peristiwa
banjir dan longsor di beberapa tempat di Indonesia sudah seperti sebuah
rutinitas, namun peristiwa ini harus terus diwaspadai masyarakat. Sebab,
variasi curah hujan sangat berbeda di beberapa wilayah Indonesia, sebagian
besar intensitas hujan diwilayah kota di Indonesia perlahan tapi pasti akan
meningkat hingga menjelang pertengahan tahun ini.
INTENSITAS
HUJAN
Hasil
pendataan curah hujan oleh BMKG pada bulan Mei ternyata jauh diatas curah hujan
yang diperkirakan, sehingga menimbulkan potensi bencana seperti yang terjadi di
wilayah Deli Serdang dan Aceh pada bulan ini. Hujan berintensitas lebat biasanya tingkat
kerapatan 10-20 mm/jam atau 50-100 mm/ hari, sedangkan hujan berintensitas
sedang berkecepatan 5.0-10 mm/jam atau 5-20 mm/hari.
Banjir
kini mengancam beberapa wilayah di Sumatera Utara dan Aceh, banjir yang terjadi
sekarang merupakan pemanasan menuju bencana banjir besar karena pola curah hujan yang
berlangsung saat ini merupakan hujan acak/atau tidak teratur dan berpindah
serta dipengaruhi oleh pola tekanan rendah udara yang membuat sirkulasi angin
yang berputar dan mendorong awan ke daratan mengakibatkan intensitas hujan yang
cukup tinggi masih akan terjadi hingga awal bulan Juni tahun 2016.
Selama tekanan
udara dan angin di Laut China Selatan dan Selat Malaka yang berputar hingga
melintas ke wilayah Barat di Sumatera Utara akan ada potensi banjir besar,
selain itu dipengaruhi juga oleh pola-pola tekanan rendah di sekitar jantung
Australia jika ada penguatan yang berdampak pada tersedotnya awan ke Jawa yang
terjadi disekitar equator.
Data
geologi citra dari hasil interprestasi data satelit Landsat dan Quick Bird,
akan tampak frekuensi tekanan udara disekitar Selat Malaka dan pantai Barat
Sumatera, intensitas hujan mulai tinggi dengan nampak kota di kawasan Barat
seperti Sibolga dan PSP serta Tapanuli Selatan maupun Madina di guyur hujan
lebat yang mengakibatkan bencana banjir bandang di Tapanuli Selatan. Frekuensi
hujan mencapai 50-70 mm/jam, ancaman bencana banjir ini kini sedang mengancam
di depan mata dalam hitungan hari di beberapa wilayah di Pantai Timur Sumatera,
terlihat begitu derasnya hujan yang berlangsung pada minggu pertama bulan Mei
2016 di wilayah Medan, Tanjung Morawa, STM Hulu dan Hilir di kabupaten Deli
Serdang dan berlanjut ke minggu ke tiga dengan hujan deras disertai longsor di
kawasan wisata air terjun dua warna di Sibolangit dan menuju ke daratan tinggi
Karo dengan tingkat pola hujan acak namun sangat deras disertai banjir bandang
dan longsor yang mencapai intensitas 3 (tiga) jam dan menimbulkan kenaikan
debit air sungai melebihi ambang batas.
Sebagai
akibatnya, fenomena banjir sedang mengancam karena curah hujan yang tinggi
sehingga volume air hujan melebihi daya tampung sungai disebabkan fenomena
penggundulan hutan dan penurunan luas lahan hutan (deforestasi) hampir merata
di seluruh kawasan hutan di kota-kota yang mengalami musibah bencana banjir
bandang dan longsor di Indonesia termasuk pada kejadian maut di lokasi wisata
air terjun dua warna di Sibolangit.
DESTRUKTIF
BANJIR-LONGSOR
Longsor
sendiri disebabkan dampak destruktif pasca laju perubahan lahan dan tata ruang
lingkungan yang dapat dilihat dari peruntukkan kawasan dalam tata ruang yang
mengalami berbagai musibah bencana alam, sehingga potensi banjir dan longsor
menjadi lebih besar, dan berlangsung sepanjang tahun, dan menimbulkan dilema
baru yaitu terjadinya penurunan daya tahan tanah menjadi jenuh oleh air dan
situasi sekitar daerah baru yang terbangun sudah terjadi kegersangan akibat
akan ada selalu penggundulan, untuk perluasan. Karena seperti kita ketahui,
jika ada pembangunan pada suatu kawasan baru akan selalu dimulai lebih dulu
pembersihan kawasan hutan, pelurusan sungai yang suatu saat nanti akan terjadi
dampaknya atau juga terjadi penimbunan pada lapisan tanah asli sehingga menekan
sistim mobilisasi air di dalam tanah timbunan yang dibangun tanpa memberikan ruang
pemadatan dalam jangka minimal 5 (lima) tahun bagi pembangunan daerah pemukiman
baru.
Reboisasi
dan rehabilitasi penghijauan baru terlaksana jika proyek kawasan baru selesai
pembangunan fisiknya. Gambaran pembangunan kawasan seperti ini memiliki potensi
bencana longsor yang lebih besar dan lebih cepat terjadi, dan apabila daerah
itu diidentifikasikan memiliki curah hujan yang tinggi, akan terjadi destruktif
dahsyat bagi lingkungan.
Fenomena
longsor ada hubungan dengan banjir, selain faktor kondisi zona patahan daerah
rawan gempa, kerapatan banjir dan longsor adalah fakta nihilnya paradigma
holistik. Banjir tak akan berulang dahsyat jika kita mau memahami kondisi fisik
geologi suatu daerah sebelum membangun berbagai jenis pembangunan fisik,
perluasan-perluasan lahan memang dibutuhkan namun perlu diketahui beban pikul
tanah suatu daerah yang berdiri diatas lempeng bumi terlebih dahulu, apalagi
kawasan geologi fisik di kota-kota besar Indonesia terbungkus oleh 80 persen
daerah zona rawan bencana terutama percepatan puncak pergeseran batuan yang
dapat menyebabkan longsor sangat tinggi, cepat bergerak, butuh lama mengalami
pemadatan, berusia muda atau belum padat, menimbulkan respon seismik bagi
lingkungan sekitarnya lebih kencang, seperti kawasan Sibolangit yang masuk
kategori daerah rawan gerakan tanah sangat tinggi, daerah curah hujan tinggi
dan daerah lingkup kawasan pembentukan gunung-gunung api di masa lalu dan
termasuk daerah zona patahan aktif dari Karo-Simalungun.
FENOMENA
BENCANA
Pada
dasarnya fenomena banjir disebabkan oleh luapan aliran air yang terjadi pada
saluran atau sungai, sungai merupakan sumber daya yang sangat berpotensi untuk
mengatasi banjir, sebab sungai terbentuk oleh proses pengikisan air, kadang
terbentuk alamiah dan endapannya membentuk geomorfologi pendataran dan
peneplain, sehingga sungai yang terbentuk itu kemudian menampung air,
sedimentasi (pengendapan) banjir akan membentuk berbagai jenis karakteristik
geomorfologi sungai. Saat terjadi banjir, bukan saja air yang dibawa tetapi
juga tanah yang berasal dari hilir aliran sungai, dataran banjir biasanya
terbentuk di daerah pertemuan sungai.
Sungai adalah
alur atau wadah air alami dan/atau buatan jaringan pengaliran air beserta air
di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi kanan dan kiri oleh
garis sempadan.
Daerah
sungai yang menyebabkan banjir biasanya telah mengalami perubahan fisik
disekitarnya yaitu, terjadi pelurusan sungai, sehingga sungai menjadi lebih pendek
dan curam, menimbulkan gerusan dasar dan tebing sungai meningkatkan ancaman
kestabilan semua bangunan yang ada di hulu dengan pengendapan atau pendangkalan
di bagian hilir hingga juga memperpendek kontak aliran dengan dasar sungai
menjadi menurun, perubahan lingkungan sekitar sungai yang memungkinkan air naik
ke daerah pemukiman yang lebih rendah, serta perubahan geologis yaitu
terjadinya perubahan bentuk-bentuk geomorfologi lahan akibat terbangunnya
kawasan baru menyebabkan perubahan iklim dari dalam dan luar bumi serta oleh
ulah manusia (faktor antropogenik) yang mempercepat kondisi suatu tata ruang
geologi mengalami perubahan, mempercepat laju fenomena bencana banjir dan
longsor mengancam kehidupan.
Fenomena geologi
adalah faktor utama penyebab bencana banjir dan longsor di seluruh wilayah
Indonesia termasuk juga di Jepang dan negara lain dimuka bumi. Sebab bencana banjir dan longsor karena keduanya saling terkait
satu dengan yang lain, misalnya getaran gempa mampu merekahkan tanah yang mudah
terpicu menjadi longsor, serta perubahan iklim global yang mempengaruhi cuaca
ekstrim yang lebih cepat memicu longsor dan banjir serta curah hujan yang tinggi
oleh kondisi meteorologis menjadikan sulitnya perkiraan dan prediksi bencana alam
seperti di era sekarang.
Persoalan
banjir dan longsor merupakan persoalan klasik sepanjang tahun, merupakan bukti
ketidakmampuan dalam mengatasi krisis dalam suatu perencanaan tata ruang pada
tiap wilayah pada jenjang koordinasi antar pemerintahan.
M. Anwar
Siregar
Enviroment
Geolog, Pemerhati Masalah Tata Ruang dan Lingkungan, Energi Geosfer, bertugas
di Tapsel.
Tulisan ini sudah dipublikasi di HARIAN ANALISA MEDAN , tgl 20 Mei 2016
Komentar
Posting Komentar