Gempa Bali dari Flores-Sumba
Mewaspadai Gempa Strategis Sumba-Flores ke Bali
Oleh: M. Anwar Siregar
Bisakah anda membayangkan jika terjadi gempa strategis ke daratan
Pulau Bali? Mungkin dalam bayangan anda akan seperti gempa-tsunami yang
pernah terjadi di daratan Aceh hingga ke Pantai Timur Afrika, atau
setidaknya seperti gempa yang pernah berlangsung di Nias? Bisa saja
seperti itu, jika strategis ”kolosal gempa” yang berlangsung di zona
patahan aktif subduksi Sumba-Flores.
Korban bisa seganas gempa Aceh 2004 atau setidaknya mendekati korban
jiwa gempa Yogyakarta 2006 dan gempa Nias-Simeulue 2005 disebabkan oleh
berbagai kondisi geologi yang memang masih erat kaitannya dalam sejarah
pembentukan pulau nusa kecil termasuk kawasan pulau Bali didalamnya dan
sangat berdekatan dengan pusat-pusat gempat di kawasan Maluku, Nusa
Tenggara dan Jawa bagian Selatan.
Tulisan ini tidak bermaksud memprediksi apakah akan ada gempa yang
waktu dekat terjadi ke Bali, melainkan mengingatkan bahwa kondisi tata
ruang di kota-kota di Pulau Nusa kecil yang terdiri Pulau Bali, Nusa
Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur dapat mengalami tingkat kerusakan
yang sangat dahsyat dan jumlah korban sangat besar serta mengingat
bahwa semua kota di daerah tersebut dilingkupi tatanan kerentanan tinggi
dan energi seismik yang sangat tinggi.
Dan diperparah lagi oleh tidak terlindungnya kota dari berbagai
”perisai gempa” yang berupa benteng alamiah dan benteng ”modern” berupa
teknologi peringatan dini, tingkat kewaspadaan dan kapasitas masyarakat
dalam menghadapi berbagai elemen bencana alam geologi masih sangat
rendah dan belum semuanya melek bencana.
Tulisan ini, sekali lagi bukan mencari sensasi, namun amatan penulis
ketika berkunjung lagi ke Bali, ternyata belum semua wilayah Bali
terlindung perisai bencana seperti tersebut dikemukakan didepan. Namun
sekali lagi mengingatkan, karena Bali termasuk daerah rawan bencana maut
korban jiwa karena intensitas kunjungan wisatawan yang sangat tinggi
karena keindahan alamnya yang sangat mempesona dan sangat memerlukan
perlindungan keselamatan fisik kota dan jiwa raga masyarakat.
Kenapa Bisa?
Sebuah pertanyaan, kenapa bisa terjadi? Apakah strategis bencana ini
bisa berulang ke Bali? Kondisi apa yang menyebabkan? Rentetan pertanyaan
pasti akan berkecamuk bagi pemerhati masalah kebencanaan maupun
masyarakat yang peduli tata ruang kotanya. Bali dalam pengamatan penulis
pertama kali datang sekitar enam tahun lalu memang belum semua
terlindung oleh berbagai sistim peringatan dini dan diperparah kondisi
teluk-teluk yang ada di Bali terus mengalami perubahan fisik hingga ke
era tahun 2016 ini.
Penulis berkunjung lagi dan melihat bahwa Teluk di Bali ada ruang
terbuka jelas untuk sebuah terjangan maut bagi strategis gempa tsunami
jika terjadi di Patahan Trust Fault di Busur Belakang Flores dan zona
subduksi di Patahan Sumba yang masih berkorelasi dekat dengan Patahan
Besar Sumatera Jawa yang melintasi Samudera Indonesia dapat saling
menekan pusat gempa di Parit Seram dan Halmahera. Dan mengingatkan kita
pada sejarah gempa tsunami di Pantai Barat Sumatera 2004.
Bentuk permukaan Teluk di Bali, rendah dan landai serta garis pantai
ke daratan sangat berdekatan dan sebagian ada juga sempit namun sebagian
lebar tanpa ada pulau-pulau karang besar kecuali di Tanah Lot. Yang
ketinggiannya menurut penduduk semakin berkurang dan jangan lupa kondisi
laut Bali merupakan kondisi dengan ketinggian ombak yang tinggi,
bayangkanlah? Perubahan garis pantai di Teluk di Pulau Bali banyak telah
mengalami perubahan panjang garis pantai yang semakin pendek akibat
abrasi dan sebagian mengalami reklamasi seperti rencana reklamasi di
Teluk Benoa.
Strategis gempa ke Bali bisa saja terjadi, dan sejarah gempa mencatat
di berbagai belahan dunia, tidak ada kota aman dari ancaman bahaya
gempa bumi lokal maupun gempa bumi strategis, bukti itu dapat dilihat
dari sejarah gempa di Pantai Barat Amerika yang menghantam Meksiko dari
radius 400 km dari pusat gempa di sekitar California, begitu juga dengan
kejadian gempa di Bam.
Iran yang dianggap daerah aman gempa karena selama 1000 tahun tidak
pernah ada gempa namun dapat juga hancur akibat gempa kuat di sekitar
Patahan Anatolia di Turki, Gempa patahan Aceh-Nikobar yang dapat
mengguncang kawasan sejauh 1000 km mampu mengirim responsibilitas
seismik di berbagai zona subduksi di kawasan Pantai Timur Afrika dan
kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Jadi, Bali tidak aman dari ancaman strategis gempa Sumba-Flores dalam
bebarapa bulan terakhir ini terus mengalami guncangan gempa dengan
intensitas yang cukup kuat, selama tahun 2016, gempa di patahan Sumba
telah mengalami gempa sebanyak 3 kali dalam skala cukup kuat dan terasa
sampai ke Denpasar, mencapai intesitas III dan IV MMI (Skala tingkat
kerusakan gempa) yang dapat merusak bangunan dan jalan akan berbentuk
model ”belah durian”.
Strategis Gempa
BMKG mencatat, pusat gempabumi terletak pada koordinat 9,77 lintang
selatan dan 119,34 bujur timur, tepatnya di lepas pantai, pada jarak 14
kilometer arah barat daya Sumba Barat pada kedalaman hiposenter 60
kilometer. Guncangan gempa bumi ini dirasakan dalam skala intensitas
V-VI MMI di Waikabubak Sumba Barat, III-IV MMI di Bima, II-III MMI di
Denpasar Bali, dan III MMI di Dompu dan Mataram (kejadian gempa 6.6 SR
pada bulan Februari 2012).
Kejadian kedua tercatat pada bulan Maret 2016 dengan kekuatan
mencapai 6.1 SR pada koordinat 9.33 LS dan 112.4 BT dengan kedalaman
mencapai 60 km terasa samapi ke Bali dengan intensitas mencapai III MMI,
lalu pada bulan April 2016 terjadi lagi di lokasi hampir sama dengan
kekuatan mencapai 6.9 SR dan terasa di kawasan Bali mencapai kekuatan
IV-V MMI. Literatur menyebutkan semua gempa telah menghasilkan besarnya
pergeseran pada bidang gempa yang memiliki dimensi 30 x 15 kilometer
mencapai lebih dari 80 sentimeter. Bayangkan apa yang terjadi dalam
beberapa tahun ke depan.
Dari gambaran tingkat kerentanan, maka terlihat betapa sangat rawan
daerah Bali dari ancaman bencana gempa bumi srategis jika mekanisme
gempa Sesar Naik. Aktivitas gempa bumi yang kerap terjadi juga akan
menjadi pemicu (trigger) aktifnya patahan-patahan lokal yang menjadikan
semakin rumit dan kompleksnya seismisitas di kawasan Bali-Nusa Tenggara
ini.
Tektonik busur Kepulauan Bali dan Nusa Tenggara merupakan struktur
tektonik sesar naik belakang busur kepulauan yang populer dikenal
sebagai back arc thrust dan salah satu daerah dengan tingkat kegempaan
yang tinggi di Indonesia. Keaktifan ini disebabkan wilayah ini berada di
antara zone benturan dan tunjangan balik lempeng Eurasia terhadap
lempeng Indo-Australia di selatan dan patahan naik busur belakang
Bali-Flores (Bali-Flores back arc thrusting) di utara. Kenyatan ini akan
memberi gambaran yang cukup jelas bahwa seolah daerah ini hampir-hampir
tidak akan pernah aman dari bencana kebumian, seperti gempa bumi,
tsunami, tanah longsor dan letusan gunung api.
Sesar ini sudah terbukti nyata beberapa kali menjadi penyebab gempa
mematikan karena ciri gempanya yang dangkal dengan magnitude besar.
Berdasarkan literatur, sebagian besar gempa terasa hingga gempa merusak
yang mengguncang Bali dan Nusa Tenggara disebabkan oleh aktivitas back
arc thrust ini, dan hanya sebagian kecil saja disebabkan oleh aktivitas
penyusupan lempeng.
Sesar segmen barat dikenal sebagai Sesar Naik Flores (Flores Thrust)
yang membujur dari timur laut Bali sampai dengan utara Flores. Flores
Thrust dikenal sebagai generator gempa-gempa merusak yang akan
terus-menerus mengancam untuk mengguncang busur kepulauan disekitarnya.
Hidup Tanpa Perisai
Ada pola tidak keseimbangan sedang berlangsung di kawasan Nusa
Tenggara sampai ke Laut Bali, dengan terjadinya berulang kali gempa dan
sebagai peringatan bagi Pemerintahan di daerah tersebut untuk
mempersiapkan perisai gempa dan meningkatkan kualitas panjang garis
pantai yang terus menyusut akibat ketidakpedulian.
Teknologi peringatan dini masih terbatas, fisik batimetri pantai
mengalami abrasi, kepadatan penduduk di pantai dan belum membuminya
building code bangunan gempa, dan renungkanlah bahwa bencana selalu
datang tiba-tiba, seperti gempa Myanmar yang mencapai kekuatan 6.9 Skala
Richter April 2016 dan gempa Jepang April 2016 mencapai kekuatan 6.9
SR, semau telah menelan korban jiwa dan kehancuran fisik kota.***
Penulis adalah Geolog bertuhas di Tapsel
Diterbitkan Tgl 19 April 2016, di Harian ANALISA MEDAN
Diterbitkan Tgl 19 April 2016, di Harian ANALISA MEDAN
Komentar
Posting Komentar