Sepak Pojok Gibol 15 : Menangis Argentina
AKANKAH ARGENTINA MENANGIS LAGI
Oleh M. Anwar Siregar
Terjaga saya dari tidur, karena saya pikir sedang
bermimpi karena terus saja terdengar lagi yang mendayu dan kadang seperti
melengking, dan suara itu rasanya seperti suara seorang perempuan, menyimpan suasana
hatinya, tidak tahulah saya, lagu itu kalau di simak, seperti ada kata yang
terucap jangan menangis lagi, terus suara itu pada ulang lagi masih mengucapkan
kata-kata yang hampir sama. Saya jadi kebingungan, apakah ada hubungan dengan
partai final antara Argentina vs Chili?
Lagu itu berisi bujukan agar jangan engkau
menangis lagi, kalau tidak salah simak ucapan juga seperti tertuju kepada
sebuah ibu negara atau suatu negara, tersadarlah saya setelah mengetaui makna
isi lagu, dan teringatlah kalau lagu itu memang dikhususkan kejadian yang
pernah berlangsung di Argentina, Don’t Cry Argentina, Jangan Menangis
Argentina. Seorang Evira Peron yang dituntut untuk mundur di kekuasaannya, tetapi
kenapa lagu itu sering diputar-putar kawan saya itu, ada apa? Pertanyaan yang
berkecamuk karena sudah dua hari ini kami tidak nonton bareng, apakah lagi
ribut?
Ya, bukan urusan saya menyangkut urusan pribadi
orang, yang penting saya nobar sama yang lain, sambil membawa laptop agar dapat
mengisi waktu sambil menunggu pertandingan, namun ini sangat mengganggu,
akankah argentina dirundung malang lagi seperti kejadian final 2015 dengan tim
yang sama lawannya?
BISA TIDAK YA
Argentina? Wow siapa pun pasti tahu, tanya saya
sama pengunjung cewek samping yang tampil meriah, dia menjago seorang Lionel
Messi, sambil menunggu laga antara Swisi vs Polandia, rupanya dia juga
penggemar Copa America selain EURO, dia nonton ini bukan cuma untuk
menyenangkan lakinya, tetapi memang dia punya Tim Favorit yaitu Portugal,
terlebih lagi adanya seorang Ronaldo, dia begitu gemas tiap kali Ronaldo gagal
menjebol gawang lawannya sampai si laki-lakinya dibuatnya terbengong.
“Sayang, kau suka Ronaldo apa saya?” mengajuk sang
kekasih, rupanya dia cukup terganggu juga melihat si gadis ini selalu mencak-mencak,
penonton lain saja tidak seramai dia dalam memberi komentar.
Terus kenapa dia menjago Argentina? Jelas karena
permainan Argentina memikat, apalagi dibawah Jenderal Lionel Messi semua lawan
sudah begitu ketar ketir menghadapinya, lantas apa hubungan lagu tersebut
dangan bayangan kemungkinan Argentina mendung lagi sesuai dengan suasana hati kawan
saya itu? Tunggu saja diakhir tulisan ini.
Segalanya bisa saja terjadi, selama si kulit bundar
bisa mengalir, bergulir dan bisa disepak, segalanya bisa menghasilkan kesedihan
lagi bagi Argentina, dan lawan mereka bukan tim sembarangan untuk mudah
dikalahkan. Juara bertahan dengan mental yang tinggi, terlihat mental mereka
sudah teruji di babak penyisihan setelah kalah dalam pertandingan pertama
bergadpan dengan Argentina, lalu lolos ke final dengan mampu satu persatu tim
tangguh lainnya di taklukan, lawan mereka disemifinal bukan tim sembarangan,
Tim yang dipimpin oleh Top Skor Piala Dunia 2014 di Brazil, yaitu James Rodriguez.
Chili adalah tim yang mulai mencengkram Benua Amerika.
Bangkit dari kekalahan dari tim yang sama yaitu
Argentina sebagai lawan final adalah sebuah fenomenal, Argentina mungkin saja
seperti sudah puas membalas kekalahan di final Copa America tahun 2015 di Chili
di babak penyisihan, namun sekarang perjuangan Chili semakin berat karena
pertandingan dilakukan di tempat netral, sehingga segala kemungkinan bisa juga
terjadi.
magic Lionel Messi kini telah muncul, dengan mampu
menbobol gawang lawan 4 kali, suatu peringatan bagi lawan bahwa dia kini muncul
dengan wajah baru dengan vitalitas baru untuk meningkatkan performasnyauntuk
membangkitkan gairah timnya agar muncul sebagai tim yang harus diperhitungkan.
Lionel Messi kini bukan Lionel Messi ditahun yang sudah
lewat selama memperkuat Argentina, dia telah kembali membuktikan adalah nyawa
Argentina dengan mempu memberikan asist bagi rekannya selain menghancurkan
mental lawan dengan mencetak gol di daerah sulit dan dijaga ketat namun masih
mampu mengubah papan skor menjadi kemenangan untuk Argentina.
Permainan Argentina hampir hidup disegala lini,
Lionel Messi kini berwajah sangar, sama sangar dengan permainannya, wajah
brewokan yang lebat itu telah memberi sugesti sama banyaknya untuk mencetak
gol, beda sekali selama ini memperkuat Tim Tango di tahun lewat, dia tampil
klimis, sama klimisnya alias susahnya mencetak gol, apakah perbedaan wajah imut
vs wajah seram itu telah mengubah dirinya lebih baik pada tahun ini untuk
memperkuatkan Tim Argentina? Kita tahu selama memperkuat klubnya Barcalona FC
itu dia berwajah halus namun mematikan, namun di tim nasional sekarang dalam
ajang Copa America Centenario berbeda menjadi brewokan, seram dan susah
membedakan mana Lionel Messi atau Gonzales Higuain yang juga memelihara
brewokan janggut dan kumis tebal.
Perubahan wajah yang halus ke seram itu mengundang
komentar dari legenda Argentina tentang dirinya yang tidak berkeperibadian, adalah
Diego Maradona yang kaget melihat perubahan itu, dan bukan saja permaiann
Timnas Argentina, tetapi beberapa punggawa tim.
Lantas bagaimana dengan Tim Chili, Chili masih
sanggup untuk memberikan pelajaran bagi Argentina untuk merasakan lagi tangisan
pilu. Sebab, di Tim Chili bercokol seorang Top Skor Copa America yaitu Vargas,
di dukung oleh bomber yang haus gol Arturo Vidal dan Alexis S, dikenal sebagai amunisi gudang peluru untuk Chili dan Arsenal.
Permainan Chili cukup tegas, sederhana dan penuh
kerjasama dan tidak saling ego untuk menghajar gawang lawan, memang pada
pertandingan pertama penyisihan grup mereka agak lamban karena beban sebagai
juara bertahan namun selangkah demi selangkah mereka menunjukan kematangan
juara bertahan dengan bangkit mencatat kemenangan telak.
Mental juara telah diuji, bagaimana dengan
Argentina? Argentina pun memiliki kemampuan itu, karena tanpa Lionel Messi
mereka mampu mengalahkan Chili, akan kah Argentina turun tanpa Messi di final?
Rasanya riskan jika tidak diturunkan, namun Chili akan menjaga ketat dia selama
pertandingan, sama pada tahun lalu di Chili.
Jadi apa Argentinan menangis lagi? Jika melihat
data dan statistik permainan mereka terus meningkat? Ataukah di final
antiklimak? Jika tidak ingin menangis lagi maka Argentina sudah harus tancap
gas dengan menekan Chili.
Terus apa hubunganya dengan lagu yang diputar
kawan saya, padahal dia juga penggemar tim Argentina?
Pesan masuk ke hp saya. ”Dia lagi sedih, gara-gara
bola ribut, mirip seperti judul yang di buat dalam blogmu, bang? sms dari kawan
lain masuk dan mengabarkan tentang sebut saja namanya si Fulan, lagi kena di KO
dari si gadisnya.
”Oh.. Pantas saja saya sering dengar lagu
melonkolis, rupanya doi patah hati ya? balas saya, terus saya lanjutkan lagi
”apakah lagu itu berlaku untuk Argentina, karena ada satu lagu yang dinyanyikan
Madonna mirip cerita untuk Argentina?
Kawan saya membalasnya ”gak mungkin itu, bang.
paling Chili yang gigit jari karena si brewokan itu tidak klimis lagi biar dia
cetak gol sesuai dengan lebatnya brewokannya (janggutnya)” dan lanjutnya ”masak
abang gak tahu, orang yang gila bolakan harus siap gigit jari jika gak ada
sepahaman dengan sigadis”
”Tapi dia kan sudah diingatkan agar tidak
berpacaran dengan sicentil itu kalau sudah tau dia gibol, maka harap maklum
jika ada kekasih baru muncul 1 dan 4 tahun sekali berganti dipakai sebulan?’
Balasku kuda nyingir.
”Bah.. sudahlah kita hibur dia, dan moga Argentina
tidak menangis biar dia tidak semakin menangis”
”ha..ha..ha 100x” balasan saya.
Dalam benak penggemar bola, banyak juga
menginginkan Chili juara bung, apakah Argentina menangis lagi, tunggu besok
pagi jawabnya.
Komentar
Posting Komentar