Udara Semakin Panas
UDARA SEMAKIN PANAS DAN TERCEMAR
(Analisa/ferdy) FENOMENA
HALO: Lingkaran cahaya disekitar matahari atau lebih dikenal fenomena
halo/optis diakibatkan oleh kristal es pada awan cirrus di lapisan
troposfer. Cahaya matahari yang terik direfleksikan oleh permukaan awan
akibat penguapan yang tinggi.
Oleh: M Anwar Siregar.
Udara Indonesia dalam beberapa dekade terakhir ini telah mengalami
pencemaran sangat tinggi akibat bencana ekologis dan peningkatan
penggunaan energi serta transportasi yang tidak berbasis energi dan
ekologi hijau. Selain itu, penataan tata ruang industri tidak berwawasan
lingkungan, sehingga polusi yang dihasilkan industri menjadi salah satu
penyebab perubahan iklim global.
Saat ini, belum dikembangkan proses pembuang hasil industri seperti
limbah pertambangan dan industri kertas serta industri lainnya yang
menghasilkan kondisi lingkungan yang ramah dan berkelanjutan. Umumnya,
buangan produk industri lebih banyak dibuang ke sungai dan lautan yang
dianggap sebagai tong sampah.
Dampaknya membuat sungai dan lautan menjadi tercemar dan tak mampu
menguraikan, apalagi mengurangi penyerapan emisi yang ditimbulkan dari
hasil produk industri. Akibatnya kita mengalami panas yang sangat
mengerikan, dan menimbulkan dampak bencana turunan yang tidak bisa
ditekan.
Peningkatan besaran turunan bencana telah memberikan rangsangan
tambahan panas bagi laut dan sungai-sungai besar yang banyak membelah
tata ruang kota besar di Indonesia. Ini mungkin tidak bisa diubah, dan
akan menyebabkan terjadinya distabilitas kerak bumi dan memantulkan
kembali ke udara. Kemudian terjadi perubahan iklim. Bahkan dapat
memberikan stimulus bagi kekuatan tanah, sehingga dapat menimbulkan
gerakan tanah atau longsoran serta banjir.
Dampak pemanasan global pun dapat dirasakan di wilayah udara
Indonesia saat ini. Beberapa kota besar yang dulunya memiliki udara
sejuk, kini menjadi panas dalam 10 tahun terakhir. Hal ini akibat
peningkatan suhu ekstrim 0.2-05 derajat celcius di wilayah khatulistiwa
di Asia Tenggara dan Pasifik. Beberapa kota atau desa yang selama ini
menjadi lumbung pangan, kini menjadi lumbung banjir dan kekurangan
pangan dan air bersih.
Beberapa wilayah Indonesia selama ini dianggap aman dari bencana
alam, kini menjadi daerah yang rawan bencana akibat perubahan tata ruang
lingkungan. Tidak mengherankan, setiap hari kita melihat berita
bencana. Sebagian kita belum siap menghadapi berbagai resiko bencana.
Itulah sebabnya mengapa langit udara Indonesia sering bergejolak dalam
20 tahun terakhir dan menimbulkan banyak korban jiwa.
Panas Tercemar
Sebuah peringatan bagi kita untuk menjaga kelestarian alam, baik di
darat, air dan udara maupun di bawah permukaan bumi. Mengapa demikian?
Karena konsekuensi ekstrim perubahan global khususnya bagi Indonesia
yang berada di jantung khatulistiwa sebagai penjaga keseimbangan
paru-paru bumi yang memiliki karakteristik hutan untuk menjaga efek
regional perubahan iklim.
Namun, yang terjadi saat ini, kita merasakan seperti ada sesuatu yang
siap mengobarkan bahaya akibat peningkatan pembakaran hutan yang
mencapai 2 juta hektar dari Sabang sampai Merauke. Pemanasan global di
udara sudah sangat mengganggu pola hujan yang kadang tidak teratur. Ini
telah berlangsung sejak akhir tahun 90-an dan menyebabkan banjir di
berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Medan, Bandung,
Semarang dan Manado.
Semua bencana pencemaran udara seperti emisi CO2 akibat pembakaran
lahan dan hutan yang telah berlangsung bertahun-tahun di Indonesia
berdampak pada sektor pertanian dan kesehatan. Sehingga menimbulkan
gejolak sosial sebagai akumulasi perpindahan massal penduduk karena
daerahnya dianggap tidak layak di huni lagi. Efek turunan bencana ini
menghasilkan bencana lagi, yaitu penggurusan lahan-lahan hijau,
perubahan tata ruang wilayah, terbentuknya kawasan kumuh di lahan rawan
bencana dan distabilitas kondisi tanah semakin rentan mengalami bencana.
Gangguan tata ruang air, juga menimbulkan berbagai polusi yang tidak
sehat bagi ruang publik, penyakit mengancam berbagai elemen lingkungan.
Langit udara Indonesia memang tidak sehat saat ini, apalagi jika
dihubungkan dengan bencana ekologis yang sudah berlangsung 10 tahun
terakhir, dipicu perubahan lapisan ozon yang semakin mudah menerobos
bumi. Perluasan kebun kelapa sawit, penggundulan hutan dan perubahan
tata ruang hijau akibat eskalasi pertumbuhan ekonomi dalam 10 tahun
meningkat tingkat bahayanya terutama dampak CO2 beserta kawan-kawannya
tanpa surut waktu dari 2.1 % hingga sebesar 5 % dan Indonesia adalah
investasi terbesar penghasil ekspor emisi terbesar dunia.
Emisi Asap
Panas dan tercemar udara dan bumi Indonesia adalah dampak utama dari
eskalasi pertumbuhan ekonomi yang tidak berbasis hijau berkelanjutan,
yang berkelanjutan adalah bencana untuk kita dan bencana untuk bumi
serta bencana kembali kepada kita semuanya yang ada di alam semesta.
Sebab, polutan hitam itu efeknya bukan saja diatas daratan tetapi juga
dalam bentuk sampah-sampah antariksa yang terlumaskan dalam berbagai
jenis bahan bakar, melayang dan terbakar di lapisan stratosfer dan
tumpahan oli pesawat yang mengalami kerusakan dan jatuh ke bumi.
Melemahnya perekonomian global, dapat memicu berkurangnya pengawasan
reklamasi kawasan hijau dan menimbulkan musim panas berkepanjangan.
Sejumlah aksi penghematan energi ternyata belum membudaya di Indonesia
ikut juga mempercepat kerusakan iklim global dan membuat kondisi udara
Indonesia semakin berbahaya bagi kesehatan, lalu memicu terjadinya
peningkatan biaya sosial bagi masyarakat dan pemerintah.
Sungguh luar biasa efek asap berkelanjutan di udara Indonesia.
Standart emisi CO2 belum begitu ketat dipraktekan dalam pengeluaran izin
konsesi lahan perkebunan, pertambangan dan industri transportasi
sehingga tidak mudah melihat langit yang biru dan menyejukan di beberapa
kota Indonesia karena lingkungan penyerap energi kotor telah berkurang,
RTH dan lahan pertanian abadi kini seperti telah mulai “memudar
keindahannya”.
Kondisi iklim udara Indonesia bukan saja Indonesia yang merusaknya,
tetapi juga negara maju yang melakukan pembiaran politik lingkungan yang
tidak adil bagi negara berkembang dengan terlihat peningkatan emisi CO2
terbesar masih dipegang negara maju, Dalam hal ini adalah Amerika
Serikat dengan emisi sebesar 17.3 ton per kapita pada tahun 2012, lalu
Tiongkok dengan CO2 mencapai 9.1 % pada tahun 2012 dan 2015 lalu India
dengan emisi sebesar 6 %.
Terjadinya kabut asap di Sumatera, Kalimantan dan Papua serta
kebakaran hutan akibat musim kemarau di Jawa dan Sulawesi baru-baru ini,
setidaknya Indonesia telah mengekspor karbon sekitar 600 juta ton gas
rumah kaca yang akan memperparah keadaan. Lapisan ozon semakin terbuka
lebar di garis kahatulistiwa. Sehingga akan mempercepat berbagai
fenomena badai tropis di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan dan
Pasifik.
Mitigasi Udara
Dalam konsteks mitigasi, pencemaran udara di Indonesia saat ini
paling buruk di dunia. Aksi pemerintah mengurangi dampak emisi terkesan
lambat. Itu diperlihatkan oleh berjuta-juta ton emisi terinjeksi ke
udara. Pemerintah Indonesia harus bertindak keras menekan kerusakan
udara dengan melakukan berbagai upaya. Antara lain memperketat izin
pembuangan limbah, pengawasan penggunaan zat-zat kimia beracun di
berbagai sektor, pengawasan Amdal dan reklamasi.
Kemudian mengawasi perubahan tata ruang lingkungan serta melakukan
perhitungan emisi dan cadangan karbon tiap daerah yang telah tercemar
secara terus menerus, menekan resiko emisi karbon yang terus meningkat
dengan meregulasi energi hijau dan konservasi energi agar resiko emisi
tidak mengganggu peradaban manusia di bumi.
(Penulis adalah Enviromental Geologist, pemerhati masalah tata ruang lingkungan dan energi-geosfer)
Diterbitkan di Harian ANALISA MEDAN, Tgl 24 April 2016
Diterbitkan di Harian ANALISA MEDAN, Tgl 24 April 2016
Komentar
Posting Komentar