Sepak Pojok Gibol 2
SI MULUT BESAR COPA AMERICA-EURO
Oleh M. Anwar Siregar
Perhelatan pesta Copa America dan Euro 2016 kini
masih berlangsung, berbagai kejutan terjadi, terbangan kartu merah nyaris
mendominasi setiap pertandingan sepakbola Copa America hingga tulisan ini dibuat
(11-6).
Judul diatas dibuat merangkum beberapa pelatih
yang penulis anggap ada yang bermulut besar dan kadang tidak terbukti. Mulut
besar adalah kata yang bermakna orang congkak, sombong, percaya diri yang
berlebihan dan tukang pembual besar. Dalam dunia olahraga, hanya ada seorang
atlet terkenal dengan julukan ini, dan sangat terkenal dengan termasuk atlet
yang mampu mengubah wajah olahraga yang kaku dan mampu juga mengubah wajah
dunia setelah dia masuk Islam, dia atlet yang mampu membuktikan dirinya sebagai
atlet sejati dengan omongan yang dilontarkan kepada klayak ramai jika akan naik
ring, Si mulut besar ini kadang membuat orang kesal dan kadang mengundang
kemarahan dengan benturan fisik.
SI MULUT BESAR
Siapakah dia? Masihkah anda ingat atlet legendaris tinju? Yang
telah kembali keharibaan Sang khalik. Si mulut besar itu adalah almarhum
Muhammad Ali, legenda yang wafat dalam usia 74 tahun itu adalah petinju
legendaris sepanjang masa. Si mulut besar ini termasuk entertainer sejati,
tidak ada atlet dari berbagai profesi olahraga mampu menandingi kemampuan dia dalam
meningkatkan tinju menjadi terkenal, ada juga atlet tenis yang urakan dan juga
terkenal si mulut besar namun masih kalah dalam segi apapun di banding Muhammad
Ali, yaitu John Mc Enroe, si urakan itu adalah salah satu legendaris tenis,
namun Muhammad Ali yang akan saya fokuskan dalam tulisan ini bersama beberapa
pelatih sepakbola yang timnya sedang mengikuti
Copa America dan Euro 2016.
Muhammad Ali dalam kenangan saya ketika pertama
kali melihatnya di layar hitam putih ketika berumur 10 tahun pada tahun 1981,
dia mampu menghajar Sonny Liston sampai KO, Simulut besar ini tidak pernah
berhenti membual dan kadang membuat orang tertawa, tiap naik ring maka tradisi
teriakan : Ali, Ali, Muhammad Ali, baik ketika pertandingan masih berlangsung
diatas ring maupun sebelum pertandingan di luar ring, teriakan berulang itu
kadang berlanjut dengan kata pedas, sindiran yang mengejek lawan seperti ayam
sayur, lembek dan sangat percaya diri. kata-kata yang dilepaskan sangat
menyengat seperti pukulannya yang mampu membuat lawan tak berkutik.
Si mulut besar ini adalah petinju yang mendapat
julukan the graatest adalah satu-satunya atlet yang mampu membuktikan
ucapannya. Ali adalah atlet yang sering dibicarakan orang di era 60 sampai
dengan 80-an walau dia kalah dari Larry Holmes, namun kebesarannya mampu
mengalahkan lawan yang mengalahkannya. Jadi, tidak salah sebuatan si besar,
yang terhebat, dia mampu mengalahkan pemain-pemain yang legendari dibidang
okahraga masing-masing seperti Pele di sepakbola, Inoki di gulat, dan
lain-pain, dia entainer sejati.
Sensasi Muhammad Ali mampu membuat lawannya kecut
sebelum bertanding, beda dengan olahragawan lainnya, mulut besar Ali juga
merupakan perang mental (psywar) yang kadang menimbulkan gemuruh tawa yang
mendengarnya karena lawan dianggap seperti kecoa, itu saja sudah membuat
siapapun lawannya menjadi kecil, terus bagaimana dengan si mulut besar dari
sepakbola?
SI MULUT BESAR PELATIH BOLA
Akan ada kontradiktif antara kemampuan dengan
ucapan yang dilontarkan, menganggap diri memang raja yang tanpa mahkota, adalah
mulut besar pelatih Oscar Tabarek, pelatih Uruguay ini percaya diri dengan
menganggap kekalahan pertama Uruguay hanyalah pemanasan dari Meksiko, belum
menutup peluang Uruguay lolos ke fase berikutnya hingga juara, kekalahan 3 : 1
itu tetap membuatnya percaya diri dengan mulut besarnya tidak memerlukan
seorang gigi kelinci untuk merobek lawannya, menganggap Uruguay bisa menang
karena tim tangguh, dia lupa siapa membantunya lolos ke Copa America.
Tapi apa lacur? Sejak mulai pertandingan pertama
tim Uruguay sudah ada pemainnya dikeluarkan, apa kata Oscar Taberek? Tetap dia
merasa timnya bisa menang pada pertandingan kedua, dan mulutnya merupakan
kumpulan kata bodoh dari seorang pelatih, gambaran pertandingan Uruguay itu
saja membuat gimana tim susah mengalahkan Venezuela, sebuah negara yang kaya
minyak di Amerika itu mampu mengatasi Uruguay dengan kemenangan tipis 1 : 0,
dan coach Uruguay ini tetap tidak berubah untuk memasukan Luis Zuare ke dalam
tim.
Venezuela adalah tim yang belum memiliki tradisi
juara itu telah menutup peluang untuk menjadi juara. Tragisnya, justrunya tim
yang lolos tidak dianggap unggulan. Bukti simulut besar itu tidak mengetahui
kemampuan timnya.
Oscar Tabarek, masih juga berkecap-kecap dengan
penuh percaya diri ketika diwawancara, bahwa dia tidak memasukan si gigi
kelinci ke dalam timnya karena menganggap tidak fit, padahal semua tahu dan
melihatnya, Luis sedang melakukan pemanasan dipinggir lapangan, dan fisiknya
tetap bugar, menjadikan si Luis itu jadi kesal ketika minta untuk turun membela
timnya dan ditanggapi Oscar dengan menyuruhnya diam di bangku cadangan karena
pelatih ini masih yakin timnya mengalahkan Venezuela, dilapangan terlihat
beberapa pemain Uruguay sudah frustasi, dengan melihat penampilan Edison Cavani
yang sejak kick off pertandingan pertama Uruguay dengan Meksiko tidak tampil
gemilang, mulutnya juga tajam seperti pelatihnya, sering bicara keras dengan
protes ke wasit. Pertandingan akhir Uruguay dengan Meksiko bisa dilihat
bagaimana pemain tersebut dan Oscar Taberek tetap percaya diri.
Hasilnya berlanjut ke pertandingan ke 2, kalah 0 :
1 dari Venezuela dan caoach ini menganggap kekalahan Uruguay kurang beruntung? Yang
benar saja, omongannya tidak terbukti Uruguay tidak menjadi juara. Akankah ada
pelatih yang mengikuti jejak si Oscar? Tanda itu ada pada tuan rumah Euro 2016
yaitu pelatih Tim Prancis, yakni Didier Deschamp, menganggap Prancis bisa juara
tanpa Benzema, bedanya tim Prancis mampu mengatasi lawan pertamanya dengan
kemenangan tipis atas Rumania dengan skor 2 : 1, berkat asist dan gol Dimitri Payet,
pemain berpunggung 8 itu adalah pemain yang bermain gemilang, kontras dengan
Edison Cavani yang bermain di PSG.
Optimis timnya bisa juara karena Prancis punya
rasa percaya diri, bermain di kandang sendiri, seorang Deschamp memang pelatih
tipikal yang selalu optimis walau kadang dia menyebalkan dengan kadang bersikap
tidak adil. Terlihat dari rasa tidak sukanya kepada Karim Benzema, dianggap
tidak fit, bandingkan dengan beberapa pemain yang dianggap sering melakukan
pelanggaran seperti Patrick Evra dan Paul Pogba.
Jika Prancis ingin juara, perlu meningkatkan rasa
percaya diri lebih baik lagi seperti seorang pelatihnya yang berambisi juara
lagi baik ketika sebagai pemain dan pelatih, Didier Deschamp adalah salah
seorang pemain yang mengantarkan Prancis juara Dunia di negeri mereka dan belum
pernah merasakan juara Eropa.
Jadi mari kita begadang, untuk melihat
pertandingan berikutnya dari beberapa pelatih yang optimis juara Euro Baru pada
tulisan berikutnya.
Ok, tunggu tulisan selanjutnya di sepak pojok gila bola (gibol) di blog ini.
Komentar
Posting Komentar