Sepak Pojok Gibol 18 : Piala ku Pergi
PIALA
KU TELAH PERGI
Oleh
M. Anwar Siregar
Berhari-hari kau ku dekap mesra, ketika kau hadir di kehidupan kami melalui
perjuangan panjang akhirnya kau berlabuh ke jantung hatiku. Sungguh bahagia aku
karena kau hadir begitu indahnya, semua pelosok negeri menyambutnya penuh
kegembiraan, tiada seorang pun tidak bahagia kecuali dia memang kurang waras,
kau hadir bagaikan mentari yang menyinari hidupku, sungguh engkaulah dambaan
bagi semua pujaan bangsa.
Tidak sia-sia aku membuang waktuku hanya untuk mengejar, merebut dan
merasakan nikmatnya cintamu dan walau aku tahu, mungkin tidak selamanya kita
berjodoh namun aku tak peduli, segenap ragaku, untuk ku persembahkan hanya
untuk mu, hanya untuk cinta ku kepadamu wahai piala ku nan rupawan.
Aku tidak peduli akan banyak duri-duri yang menghalangi jalan ku,
untuk meningkatkan kemampuan ku agar engkau terpesona kepada ku, kurelakan aku
putus dengan kekasih lamaku hanya untuk merebut engkau dari berbagai bangsa,
aku tahu kalau peluang sangat tipis, dianggap remeh, dianggap pecundang,
dianggap tak ada apanya untuk meningkatkan kegemilangan diri demi mendekap tubuhmu
yang mungil, untuk ku dekap dalam buaian pelukan hangatku, biar kau rasakan
bagaimana cintaku kepadamu.
Tiba saatnya untuk membuktikan diri, kau benar benar ku buat
terpesona, lihat lah kami, mampu menghajar mereka, mampu kami buat mereka gigit
jari untuk mendapatkanmu. Sungguh bahagia aku merasakan kehangatanmu, engkau
bersamaku selama bertahun-tahun, harum semerbak selalu menemani hari-hariku
karena engkau telah ku genggam, namun ada waktunya untuk berpisah, seperti
dalam kehidupan nyata ini akan selalu ada yang pergi dan ada yang selalu hadir,
ada yang lahir, ada kesegaran dan ada kelayuan, seperti itulah yang kami alami
sekarang.
Dia mampu memikatmu, kadang aku berpikir apa salahnya jika engkau
bersama sampai akhir zaman? Namun
bisakah itu terjadi? Karena siklus kehidupan terus bergulir bersama sang waktu.
Ya, bersama sang waktu dia hadir terus mengharapkan engkau, ku tahu rasanya
ini, akan selalu ada kerinduan untuk selalu bersama mu pialaku sayang, ku harap
ada penerusku untuk menjagamu, namun engkau belum sudi untuk memberikan cinta
mu pada pelosok negeri ini.
Dia tampil segar, penuh tenaga, penuh wibawa, dan
penuh makna cinta untuk mu, Gejolak demi gejolak penuh pertentangan sehingga
kita seperti ada ruang yang tak terpecahkan untuk menguraikan berbagai
kesalahan, masing-masing berjalan dengan ego. Hari demi hari tak terasa sudah
jauh melangkah, dan sudah berapa lama kah kita membuai cinta kita? Sang waktu terus
bergulir demi menyambut hari-hari yang selalu berbeda rasanya.
Sang waktu tak bisa ditolak, hadirlah sebuah
penantian yang menyakitkan bagi kami, engkau pergi tinggalkan kami tanpa
permisi, rasa pahit menyergah relung hati dan tubuhku, gemetar rasa itu,
seperti juga ketika kita bersua dalam kegembiraan. Namun kenapakah engkau
begitu?
Lalu kepada siapakah engkau akan berlabuh? Bukan
kah negeri kami penuh dengan keindahan yang menabjukan, bukankah kami penuh
rasa cinta untukmu? Kenapa engkau tidak memberikan kami sebuah semangat demi
untuk agar engkau bersama kami?
Perih hatiku melihat perselingkuhan ini, dia
sebentar lagi akan mendekap tubuhmu, aku cemburu, aku tak berdaya, aku tak
mampu lagi hidup karena aku tidak punya daya untuk kembali merebut hatimu,
namun dalam lubuh hatiku semoga dia bukan yang tebaik dan semoga ada yang
terbaik dan aku akan bahagia jika dia bersama engkau dalam lindungannya.
Sungguh aku berdoa semoga dia tidak mendapatkan yang menyebabkan kita bercerai,
semoga ada yang lebih indah memberikan cintanya demi sebuah kelanjutan sejarah
yang lebih hebat.
Aku, si Banteng yang terluka, Si Matador yang
tertusuk tepat di jantungku sebuah rasa pahit yang akan ku kenang dalam sejarah
hidup kami, dan dia Negeri Pisa itu akan ada tiba saatnya merasakan karma yang
seperti yang kami rasakan. Dendam demi dendam akan mewarisi keturunan kami,
siapa saja yang memperebutkan engkau, engkau memang adalah sebuah gambaran
selingkuhan sejati yang yang menabjukan, tidak betah disatu tempat, di gilir
dari satu bangsa ke bangsa lain hanya untuk merasakan kebanggaan rasa cinta
yang akan tertelan di bawa sang waktu.
Dan siapakah yang memberikan rasa karma, rasa
kebanggaan atau rasa pahit dari pertaruhan panjang, apakah engkah mau bersudi
dengan sebuah pangeran berdarah biru? atau engkau selalu berpetulangan sejati
bersama tim yang tidak pernah berhenti melaju dengan panser penuh gairah untuk
menikmatik keindahan yang tidak membosankan, agar engkau betah ataukah engkau
lebih suka bersama si kuda-kuda hitam yang berjiwa muda dan berdarah penuh
gejolak? Siapakah selingkuhan berikutmu untuk mendekap dirimu dan
mengayun-ayung engkau ke udara? Ku tunggu beritamu, bukan undangan pestamu.
Sekarang aku memakluminya karena suatu sifatmu.
Sifat mu itu yang banyak tidak ku sukai, engkau adalah ”pasangan” yang tidak
bisa dipegang, sering berpindah pelukan, muak aku dibuatnya. Tetapi masa bodoh
katamu, yang terbaik diantara yang terbaik wajib memilikiku. Karena itulah aku,
tugasku membuat bangsa bahagia, sedih, marah dan kalau perlu gaduh dan rusuh.
Sudahlah, sampai ketemu lagi, aku pastikan kau tak
akan kemana-mana selama aku bertapa untuk menghadirkan keturunan berikut
dengan talenta yang luar biasa yang akan merebutmu kembali dan menjagamu
selama-lamanya.
Selamat jalan sang juara lama, selamat datang sang
juara baru dengan penuh kehangatan cinta dengan kebahagian yang membara dalam
segenap jiwa raga. kami menantimu... dilain kehidupan waktu.
Sang Matador permisi, sang Pisa melanggang
tertatih-tatih, sang panser menunggu dengan amunisi membara, dan sang kuda-kuda
hitam mendengus penuh gairah untuk mendapatkanku, dan sang pangeran biru
memprsiapkan hidangan pesta bagi para tamu atau dia yang menikmatiku???
Komentar
Posting Komentar