Sepak Pojok Gibol 5
ANARKIS SEPAKBOLA
Oleh M. Anwar Siregar
Perhelatan pesta Copa America dan Euro kini masih
berlangsung, berbagai kejutan terjadi dan disertai tingkah suporter yang banyak
berulah dan kadang membahayakan atau telah membahayakan keselamatan diri dan
orang lain, dan merasa tidak menyesal disebabkan euforia yang tidak terkendali.
Belum sehari Euro 2016 di Prancis sudah terjadi
bentrokan antara pendukung Rusia dan Inggris. Gejolak itu juga ada dalam
hubungan diplomatik dengan Rusia mengirim kapal selam perang ke laut Inggris.
Vladimir Putin sedang memanasi situasi Eropa jelang pertandingan antara Inggris
dan Rusia dan kebetulan memang keduanya berada di dalam grup yang sama. Situasi
itu jika dilihat jauh ke belakang sudah ada gesekan lebih keras, karena banyak
tudingan yang disorot ke Rusia ketika pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan
terpilihnya Rusia dan gagalnya Inggris yang sudah memdapat dukungan oleh Calon
Mahkota Kerajaan Inggris, Pangeran William. Gesekan itu mungkin adalah
pemanasan bagi laga pertama Euro di grup B yang juga di huni Wales dan
Slovakia.
Jadi tidak mengherankan kalau ada kondukvitas yang
mengantarkan panas bagi situasi kedua negara ini. Pendukung Rusia seperti
pemerintah mereka juga langsung lakukan serangan ke pendukung Inggris yang memang
terkenal tukang onar, mudah meledak dan terkenal suka mabuk jika ada
pertandingan sepekabola di mana saja bila ada Tim dan Klub Inggris, sanksi yang
pernah diberikan tidak pernah memberikan efek jera, euforia malah semakin
menjadi-jadi jika kunkungan sanksi itu dicabut dan terlihat ketika klub Inggris
mendapat kesempatan lagi untuk ikut liga UEFA setelah Liverpool menghajar
pendukung Juventus di era 1990-an yang banyak menelan korban jiwa. Pendukung
Inggris oleh media massa menyebutnya para Hoodligans. Lihatlah, bagaimana
mereka selalu mencari kesempatan bikin gaduh setiap ada turnamen EUFA EURO dan
Piala Dunia atau Liga Champions.
Kini bentrokan itu dipicu oleh pendukung Rusia
yang menyerang pendukung Inggris di dalam stadion dan berlanjut ke luar stadion
sehingga suasana EURO mirip perang dan membuat kondisi Prancis seperti mengalami
teror model baru berupa perang pendukung.
BAHASA PERANG
Kalau bentrokan dan anarkis itu memang sering
penulis lihat jika di Indonesia, baik dalam pertandingan suatu sepak bola liga
Indonesia maupun unjuk rasa demonstrasi di jalanan, anarkis akan selalu hadir,
lantas apa yang menyebabkan anarkis dalam sepak bola? sebuah pertanyaan yang
berkecamuk dalam masyarakat penggila bola dan non gila bola (gibol). Dalam
pandangan masyarakat adalah Bahasa yang digunakan dalam spanduk mereka usung,
simbol-simbol bahasa kekerasan akan selalu ada walau sudah disteril oleh pihak
keamanan, para pecandu bola itu tetap saja lolos dan karena mereka bukan
kumpulan orang bodoh. Itu terlihat dari kreatifivitas yang mereka buat atau
mereka lakukan selama pertandingan, banyak inovasi untuk menghidupkan suasana
stadion dan membangkitkan permainan ke dua tim untuk tampil rancak, cepat dan
bersemangat.
Bahasa kekerasan adalah bahasa perang, baik halus
maupun kasar, halus dalam bentuk ejekan bahasa tubuh dan kasar dalam ucapan
kata-kata langsung maupun tidak langsung, langsung dalam bentuk makian kepada
pendukung baik sadar tanpa alkohol maupun sadar karena tidak peka dengan bahasa
spanduk yang memang sudah dirancang jauh hari sebelum pertandingan dimulai,
tidak ada asap pun mereka sudah pasti semangat untuk mengobarkan bentrokan,
Tidak langsung, juga melalui bahasa kekerasan
spanduk tanpa ucapan kata suara, bahasa tubuh yang menantang secara kasar,
untuk beradu fisik, dan diantara semua adalah bahasa kekerasan verbal yang
paling dominan lalu bahasa spanduk yang memancing semakin jauh kontra perbedaan
untuk bentrok anarkis yang menelan korban kerusakan prasarana umum dan jiwa ke
dunia lain.
Bahasa perang seharusnya dihindarkan dengan
mengikuti aturan yang ditetapkan pihak keamanan demi kenyamanan menyaksikan
pertandingan sepakbola dengan baik.
BENTROK ANARKIS?
Kenapa kekerasan sepak bola tidak pernah berakhir?
Provokator adalah intelektual yang paling cerdas karena mampu membaca situasi
dan kemampuan mental para pendukung umumnya masih labil dan apabila ada sumber
pemicu cadangan seperti minuman keras maka waktu gejolak akan menghasilkan bom
waktu, dan seperti itulah sering penulis melihatnya jika ada pertandingn lokal
maupun kelas dunia dalam sepak bola dan itu banyak dilakukan kedua tim
bentrokan Inggris dan Rusia dan walau Rusia di klaim sumber pemicu penyerangan
lebih dulu namun pihak yang diserang sudah memiliki kebiasaan mudah meledak dan
”oli pemanas” telah ada berupa minuman keras seperti alkohol dan Bir serta
Vodka, kontrol diri dalam bahasa tubuh tidak bisa dikendalikan maka berakhirlah
dengan perang batu diluar dan di dalam stadion.
Maka tidak salah jika pihak keamaman EURO melarang
penonton membawa minuman keras dalam stadion agar tidak menimbulkan efek bentrokan
fisik karena minuman itu adalah bahasa tidak langsung menimbulkan keributan.
Bentrokan dapat dihindarkan selama budaya minuman
keras masih ada maka bahasa perang kata-kata akan terus ada, apalagi jika ada
perbedaan kultur dan ras akan menimbulkan pemicu lebih cepat terjadinya perang
bentrokan dan anarkis cepat menjalar ke wilayah lain dan hal itu dapat saja
terjadi sekali lagi bagi pendukung Inggris dan Rusia dan gejalanya juga mulai
diikuti oleh suporter Jerman dan Ukraina.
Budaya Barat yang masih mengizinkan minuman keras
seperti alkohol, vodka dan minuman keras lainnya sebelum masuk stadion akan
selalu ada keributan, karena pengendalian mental akibat minuman ini sangat
susah.
Jadi, faktor kekerasan sepakbola adalah minuman
keras yang melebihi overdosis, pengendalian diri dalam berucap, bahasa spanduk
dan sok tahu soal jalannya pertandingan dalam berucap kata-kata bagi penonton
dan pemain itu sendiri serta official tim di bangku cadangan. Harus ada
pengendalian diri yang kuat.
Kekerasan antar pendukung bisa dicegah dengan
lakukan steril kebiasaan minum, membawa spanduk, tidak membawa benda tajam dan
tiket masuk harus asli dan riwayat pendukung tim tidak termasuk memiliki
sejarah kriminal.
Mari kita saksikan permainan indah sepak bola
tanpa anarkis, racis dan radikalisme dan menjunjung tinggi sportivitas olahraga
dengan lapang dada menerima kekalahan.
Tunggu berita
tulisan selanjutnya.
Komentar
Posting Komentar